Asosiasi adalah proses mental yang dengannya, suatu perasaan, kesan, atau gambaran ingatan cenderung untuk menimbulkan kesan atau gambaran ingatan respons atau konsep lain yang sebelumnya berkaitan dengannya. Misalnya, kita dapat mengasosiasikan asap dengan api, karena asap ada ketika suatu benda terbakar oleh api. Beberapa gejala jiwa dapat terjadi karena adanya asosiasi, misalnya tanggapan yang berasosiasi cenderung melakukan proses mental yang produktif atau memproduksi sesuatu. Contohnya adalah proses mental belajar.

Menurut Dahar dalam (Purwanto 2017, hlm. 41) belajar adalah aktivitas untuk mengubah perilaku yang dapat diamati melalui kaitan antara stimulasi dan respons menurut prinsip yang mekanistik, dengan demikian dasar belajar adalah asosiasi antara kesan (impression) dengan dorongan untuk berbuat (impluse to action). Oleh karena itu asosiasi merupakan gejala jiwa atau proses mental yang penting untuk diperhatikan.

Bahkan, Wundt, seorang tokoh psikologi klasik percaya bahwa asosiasi adalah mekanisme yang terpenting dalam jiwa, yang menghubungkan elemen-elemen kejiwaan satu sama lainnya sehingga membentuk satu struktur kejiwaan yang utuh. Melalui pendapatnya tersebut, Wundt juga dikenal sebagai psikolog asosiatif.

Asosiasi juga dapat diartikan sebagai tanggapan yang memiliki sangkut-paut antara anggapan satu dengan yang lain di dalam jiwa (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 89). Tanggapan mengenai benda-benda di sekitar diri kita itu selalu terasosiasi dengan nama-nama dari bendanya. Misalnya, tempat duduk itu selalu terasosiasi dengan “kursi” yakni kode yang mewakili “tempat duduk” dalam Bahasa Indonesia. Dengan demikian, setiap asosiasi selalu menyertakan reproduksi dari benda atau hal yang diwakilinya.

Hukum Asosiasi

Dari uraian mengenai asosiasi di atas, dapat diketahui bahwa asosiasi selalu menyertakan reproduksi dan memiliki formula atau generalisasi yang digunakan dalam proses reproduksinya. Oleh karena itu, psikologi klasik menyimpulkan bahwa terdapat hukum yang mengatur asosiasi. Beberapa hukum asosiasi menurut psikologi klasik tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Hukum persamaan waktu,
    Asosiasi persamaan waktu adalah tanggapan-tanggapan yang muncul pada saat yang sama dalam kesadaran, akan terasosiasi bersama. Misalnya, benda dengan namanya, kampus dengan jalannya, barang dengan bahannya, dan lain-lain.
  2. Hukum perurutan,
    benda atau peristiwa yang mempunyai perurutan, akan terasosiasi bersama. Misalnya: huruf-huruf Alfabet, melodi, sajak, dan lain-lain.
  3. Hukum persamaan (persesuaian),
    tanggapan- tanggapan yang hamper sama, akan terasosiasi bersama. Misalnya: potret dangan orangnya, Surabaya dan Jakarta, lautan dengan lautan pasir, dan lain-lain.
  4. Hukum kebalikan (lawan),
    tanggapan-tanggapan yang berlawanan akan terasosiasi bersama. Misalnya: kaya miskin, tuamuda, besar-kecil, dan lain-lain.
  5. Hukum galur tau pertalian logis,
    tanggapan-tanggapan yang mempunyai perkaitan yang logis atau satu sama lain, akan terasoisasi bersama. Misalnya, liburan dengan pesiar, musim pancaroba dengan penyakit, dan lain-lain (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 90).

Asosiasi dalam Psikologi Modern

Sementara itu, psikologi modern hanya mengenal satu hukum asosiasi saja, yaitu hukum kontiguitas (berbatasan, berdampingan). Bunyi hukum kontiguitas adalah:

Tanggapan-tanggapan akan terasosiasi satu sama lain apabila mereka itu kontigu, berdampingan atau berbatasan satu sama lain, karena mereka timbul bersamaan (konsisten), atau tersusun dekat di dalam kesadaran.

Pada proses asosiasi, bisa berlangsung hambatan emosional. Misalnya berupa rasa malu, kecemasan, rasa minder, rasa takut, yang menghambat proses reproduksi dan asosiasi. Oleh karena itu, demi berhasilnya pendidikan, semua emosi yang hebat dan negatif sifatnya harus disingkirkan. Dan diperlukan sekali ialah: suasana tenang untuk menumbuhkan perasaan-perasaan yang seimbang.

Proses Asosiasi

Proses asosiasi menghubungkan informasi yang baru didapat dengan pengetahuan yang sudah didapat sebelumnya. Untuk menjelaskan bagaimana proses asosiasi terbentuk, kita dapat melacaknya pada eksperimen atau percobaan yang dilakukan oleh Pavlov mengenai conditioned dan unconditioned refleks pada seekor anjing.

Percobaan yang dilakukan oleh Pavlov pada intinya membuktikan bahwa saat dikondisikan atau dilatih dengan kondisi tertentu seperti membunyikan lonceng sebelum memperlihatkan makanan pada anjing, lama-lama anjing itu akan mengeluarkan air liur sebelum makanannya sendiri sebelum melihat makanannya sendiri. Artinya, bunyi lonceng telah diasosiasikan dengan makanan.

Padahal unconditioned refleks dari anjing adalah ia akan mengeluarkan air liur ketika melihat makanan saja. Setelah dikondisikan, ia dapat mengeluarkan air liur dengan sesuatu yang diasosiasikan dengan makanan, baik berupa bunyi bel atau lonceng, hingga ke lampu yang dinyalakan. Dalam tahap selanjutnya, para psikolog behavioris mengembangkan hasil penelitian Pavlov tersebut menjadi beberapa konsep proses asosiasi. Proses asosiasi tersebut adalah sebagai berikut.

  1. UCS (Unconditioned Stimulus): objek atau kejadian yang menyebabkan respons emosional atau fisiologis yang tidak dipelajari (instingtif/reflek). Contohnya adalah makanan.
  2. UCR (Unconditioned response): respons emosional atau fisiologis yang tidak dipelajari (instingtif/reflek) yang disebabkan oleh unconditioned stimulus (UCS). Contohnya adalah keluarnya air liur anjing setiap ada makanan.
  3. CS (Conditioned Stimulus): objek atau event yang diasosiasikan dengan UCS. Contohnya adalah petugas laboratorium yang mengadakan penelitian air liur anjing.
  4. CR (Conditioned Response): respons fisiologis atau emisional yang sama dengan UCR. Contohnya adalah air liur anjing yang keluar ketika melihat petugas laboratorium (Suralaga, 2021, hlm. 92).

Referensi

  1. Purwanto, Ngalim. (2017). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  2. Suralaga, F. (2021). Psikologi pendidikan: implikasi dalam pembelajaran. Depok: Rajagrafindo Persada.
  3. Warsah, I., Daheri, M. (2021). Psikologi: suatu pengantar. Yogyakarta: Tunas Gemilang Press.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *