Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Mataram Kuno diperkirakan berdiri pada abad ke-8 di Jawa bagian tengah. Kerajaan ini sempat dipimpin oleh dua dinasti. Artinya, terdapat dua Wangsa atau keluarga turun-temurun yang memimpinnya secara bersamaan.

Dinasti pertama adalah dinasti Sanjaya yang beragama Hindu, sementara yang kedua adalah Dinasti Syailendra yang bercorak agama Budha.

Meskipun begitu, kedua dinasti diketahui memimpin berdampingan secara damai. Strategi pemerintahan yang digunakan biasanya kedua dinasi saling mengisi kekosongan namun terkadang juga memerintah secara bersama.

Letak Kerajaan Mataram Kuno

Lokasi kerajaan mataram kuno diperkirakan berada di sekitar Medang dan terletak di Poh Pitu. Hal tersebut diambil dari sumber sejarah yang berisi mengenai letak kerajaan Mataram Kuno. Namun, letak Poh Pitu sendiri sampai sekarang belum jelas di mana lokasinya.

Lokasi kerajaan kemungkinan berada di sekeliling pegunungan atau sungai yang di sebelah utaranya terdapat Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro. Sementara itu di sebelah barat terdapat Pegunungan Serayu. Lalu, di sebelah timur terdapat Gunung Lawu.

Kemudian, di sebelah selatan kerajaan ini berdekatan dengan Laut Selatan dan Pegunungan Seribu. Perihal sungai yang berada di sekitar sana meliputi Sungai Bogowonto, Elo, Progo, Opak, dan Bengawan Solo.

Intinya, letak Mataram Kuno diperkirakan berada di Jawa Tengah di antara Kedu hingga Prambanan (Kemdikbud, 2017, hlm. 111). Sementara itu, lokasi pastinya sendiri memang belum dapat ditentukan dengan jelas.

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Candi Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno menjadi salah satu peninggalan kerajaan yang paling penting. Namun karena pada dasarnya kerajaan ini terdiri dari dua Dinasti yang terbagi menjadi keluarga Hindu dan Buddha, peninggalannya pun terbagi menjadi candi Hindu dan candi Buddha.

Keluarga Syailendra yang beragama Hindu meninggalkan candi-candi di Jawa bagian utara. Candi-candi tersebut meliputi kompleks candi di Pegunungan Dieng (Candi Dieng) dan kompleks Candi Gedongsongo.

Candi-candi dalam Kompleks Candi Dieng menggunakan nama-nama tokoh pewayangan seperti Candi Bima, Puntadewa, Arjuna, dan Semar.

Sementara itu keluarga yang beragama Buddha meninggalkan candi-candi seperti Candi Mendut, Ngawen, Pawon, dan Borobudur. Candi Borobudur diperkirakan mulai dibangun oleh Samaratungga pada tahun 824 M.

Pembangunan candi Borobudur kemudian dilanjutkan pada zaman kekuasaan Pramudawardani dan Pikatan.

Sumber sejarah Kerajaan Mataram Kuno adalah beberapa candi-candi yang ditinggalkan oleh kerajaan Mataram Kuno, termasuk dua yang paling terkenal yakni Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Candi Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Berikut adalah beberapa candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang dipilah berdasarkan candi Hindu dan Buddha.

Candi Hindu

  1. Candi Gatotkaca
    Lokasinya berada di Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Tepatnya di sebelah barat kompleks Candi Arjuna, tepi jalan menuju Candi Bima. Nama Gatotkaca diambil dari tokoh pewayangan di cerita Mahabarata.
  2. Candi Arjuna
    Candi Arjuna memiliki bentuk yang mirip dengan candi di kompleks Gedong Songo. Bentuk umumnya adalah persegi dengan luas kurang lebih 4 meter kubik.
  3. Candi Bima
    Candi Bima ditemukan di Desa Dieng Kulon, Kec. Batur, Kab, Banjarnergara, Jawa Tengah. Candi ini berada di kompleks Candi paling selatan. Bentuknya memiliki emiripan dengan arsitektur beberapa candi di India. Bagian atap hampir sama dengan shikara yang berbentuk seperti mangkuk terbalik. Di bagian atap ini juga ditemukan relung dan relief kepala yang disebut Kudu.
  4. Candi Puntadewa
    Candi ini terletak di kompleks candi Arjuna, Dieng. Dimensi Candi ini berukuran kecil namun memiliki panjang bangunan yang
  5. Candi Semar
    Candi Semar terletak di hadapan candi Arjuna. Bentuknya persegi dan membujur ke arah utara-selatan.
  6. Candi Prambanan
    Merupakan candi yang megah, indah dilengkapi dengan berbagai relief yang cantik. Candi ini juga terkadang disebut sebagai Candi Rara Jonggrang. Dibangun pada sekitar abad ke-9 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi ini didedikasikan untuk Trimūrti, sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pengubah.

Candi Buddha

  1. Candi Mendut
    Candi Mendut merupakan candi agama Budha yang dibangun sejaka Mataram Kuno dipimpin oleh Raja Idna dari dinasti Syailendra. Sama seperti Candi Borobudur, Candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah.
    Candi Mendut merupakan candi Buddha yang dibangun ketika Mataram Kuno tengah dipimpin oleh Raja Idna. Lokasinya dekat dengan Candi Borobudur, di Magelang, Jawa Tengah.
  2. Candi Ngawen
    Merupakan candi Buddha yang lokasinya berada kira-kira 5 km sebelum candi Mendut dari arah Yogyakarta, yaitu di desa Ngawen, kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Menurut perkiraan, candi ini dibangun oleh wangsa Syailendra pada abad ke-8.
  3. Candi Pawon
    Candi ditemukan di Magelang, Jawa Tengah. Candi ini berada dalam satu garis lurus dengan Candi Borobudur dan Candi Mendut jika di lihat dari atas.
  4. Candi Borobudur
    Merupakan Candi peninggalan Mataram Kuno yang paling terkenal dan telah mendunia. Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Selain candi, Kerajaan Mataram Kuno juga meninggalkan beberapa prasasti yang menjadi sumber sejarah utama lainnya dari kerjaan ini. Berikut adalah beberapa prasasti peninggalan kerajaan Mataram Kuno

  1. Prasasti Sojomerto (Abad ke-7)
    Prasasti berbahasa Melayu Kuno, ditemukan di desa Sojomerto, kabupaten Pekalongan. Isi Prasasti menjelaskan bahwa Syailendra merupakan penganut agama Budha.
  1. Prasasti Canggal (732 M)
    Berbentuk Candrasangkala, ditemukan di Gunung Wukir, Desa Canggal. Isi prasasti menyatakan peringatan pembuatan Lingga di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya.
  1. Prasasti Kalasan (778 M)
    Prasasti ini menggunakan aksara pranagari (dari India Utara) dalam bahasa Sansekerta, ditemukan di desa Kalasan Yogyakarta. Isi dari prasasti ini adalah mengenai kabar Raja Syailendra yang membujuk Rakai Panangkaran untuk mendirikan bangunan suci untuk Dewi Tara yang merupakan vihara bagi para pendeta Buddha.
  1. Prasasti Kelurak (782 M)
    Prasasti Kelurak ditemukan di desa Prambanan. Prasasti ini ditulis dengan huruf Pranagari dan bahasa Sansekerta. Isinya menceritakan pembangunan arca Manjusri sebagai wujud sang Budha, Dewa Wisnu dan Sanggha. Prasasti ini juga menyebutkan mengenai Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya sebagai raja yang berkuasa saat itu.
  1. Prasasti Ratu Boko (856 M)
    Prasasti menceritakan tentang kekalahan Balaputradewa dalam perang melawan kakaknya yaitu Rakai Pikatan atau Pramodhawardani dalam perebutan kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno.
  1. Prasasti Mantyasih (907 M)
    Prasasti Mantyasih ditemukan di Mantyasih, Kedu, Jawa Tengah. Prasasti berisi silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Baliti, yakni Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Warak, Rakai Panunggalan, Rakai Garung, Rakai Watuhmalang, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi dan Rakai Watukara Dyah Balitung.

Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno terhitung unik, karena terdiri dari dua dinasti yang memiliki perbedaan dalam pandangan agama namun tetap dapat saling berdampingan memimpin rakyatnya.

Tentu saja hal tersebut tidak tercipta dengan sendirinya. Pada mulanya timbul persoalan dalam keluarga Syailendra setelah kekuasaan Raja Penangkaran berakhir. Penyebabnya adalah adanya perpecahan antara anggota keluarga yang memeluk agama Buddha yang sebelumnya memeluk agama Hindu.

Hal tersebut menimbulkan perpecahan di dalam pemerintahan Mataram Kuno pula. Satu pemerintahan dipimpin oleh tokoh-tokoh kerabat kerajaan yang memeluk Hindi di Jawa bagian utara. Kemudian tokoh-tokoh keluarga yang sudah memeluk Buddha berkuasa di daerah Selatan.

Meskipun begitu perpecahan keluarga Syailendra tidak berlangsung lama. Keluarga ini akhirnya bersatu kembali ditandai oleh perkawinan Rakai Pikatan dari keluarga yang beragama Hindu dengan Pramudawardani, putri dari Samaratungga.

Perkawinan tersebut terjadi pada sekitar tahun 832 M. Akhirnya, Kerajaan Mataram Kuno bersatu kembali di bawah kepemimpinan Raja Pikatan sebagai dwipemerintahan yang damai.

Kehidupan Politik Kerajaan Mataram Kuno

Raja yang paling terkenal dari kerajaan Mataram Kuno adalah Sanjaya. Sebelum Sanjaya berkuasa di Mataram Kuno, Jawa sudah dikuasai oleh Raja Sanna.

Dalam prasasti Canggal (732 M), disebutkan bahwa Raja Sanna telah digantikan oleh Sanjaya. Raja Sanjaya adalah putra dari Sanaha yang merupakan saudara perempuan Raja Sanna.

Sementara itu, dalam Prasasti Sojomerto yang ditemukan di Desa Sojomerto, Kabupaten Batang, disebutkan nama Dapunta Syailendra yang beragama Hindu (Syiwa) yang diperkirakan berasal dari Kerajaan Sriwijaya dan menurunkan Dinasti Syailendra yang berkuasa di Jawa bagian tengah.

Simpulannya, Dapunta Syailendra diperkirakan yang mengangkat Sanna sebagai raja di Jawa. Tampaknya terdapat hubungan erat antara Mataram Kuno dengan Sriwijaya yang belakangan akan menguasai laut Nusantara.

Kehidupan Agama Mataram Kuno

Mulanya kehidupan agama Mataram Kuno didominasi olah agama Hindu (Syiwa). Namun setelah Raja Sanjaya wafat, ia digantikan oleh putranya bernama Rakai Panangkaran.

Raja Panangkaran mendukung adanya perkembangan agama Buddha di kerajaan ini. Dalam Prasasti Kalasan (berangka 778 M), ia memberikan hadiah tanah dan memerintahkan untuk membangun candi untuk Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta agama Buddha.

Tanah dan bangunan tersebut terletak di Kalasan. Prasasti Kalasan juga menerangkan bahwa Raja Panangkaran disebut dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran.

Tanah dan bangunan yang diberikan oleh Panangkaran tersebut berada di sekitar Kalasan. Prasasti Kalasan juga menyebutkan bahwa raja Panangkaran disebut juga Sri Maharaja Dyah Pacapana Rakai Panangkaran.

Raja Panangkaran kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke arah timur karena telah berhasil menaklukkan musuh-musuh kerajaan yang sebelumnya menguasai kawasan tersebut.

Kemudian setelah Raja Panangkaran wafat, sempat terjadi perpecahan antara keluarga yang masih menganut Hindu dan sebagian yang sudah menganut agama Buddha. Namun perpecahan tersebut tidak berlangsung lama dan di kerajaan Mataram Kuno penganut agama Hindu dan Buddha hidup rukun.

Masa Kejayaan Mataram Kuno

Raja Kerajaan Mataram Kuno yang paling terkenal adalah Raja Sanjaya. Dalam meneruskan kekuasaan Sanna, Sanjaya bersikap arif, adil dalam memerintah, dan memiliki pengetahuan luas.

Buktinya para pujangga dan raja sangat hormat terhadap Sanjaya. Di bawah pemerintahan Raja Sanjaya rakyat hidup makmur, kerajaan menjadi aman dan tenteram. Di bawah kerajaan Sanjaya Mataram kuno mengalami masa keemasannya. Sanjaya juga dikenal sebagai raja yang benar-benar paham isi kitab suci.

Ia juga banyak membangun bangunan suci seperti bangunan pemujaan lingga di atas Gunung Wukir, sebagai lambang telah ditaklukannya raja-raja kecil (minor) di sekitarnya.

Selain itu, kerajaan ini juga sempat mengalami masa kejayaan di bawah kekuasaan Raja terbesar lainnya yakni Raja Balitung. Ia memerintah pada tahun 898 – 911 M dengan gelar Sri Maharaja Rakai Wafukura Dyah Balitung Sri Dharmadya Mahasambu.

Pada pemerintahan Balitung bidangbidang politik, pemerintahan, ekonomi, agama, dan kebudayaan mengalami kemajuan. Ia telah membangun Candi Prambanan sebagai candi yang anggun, megah dengan relief-relief yang sangat indah. Namun tak lama setelah kekuasaannya berakhir, kerajaan ini mengalami kemunduran.

Keruntuhan Kerajaan Mataram Kuno

Sesudah pemerintahan Balitung berakhir, Kerajaan Mataram mulai mengalami kemunduran. Raja yang berkuasa setelah Balitung adalah Daksa, Tulodong, dan Wawa. Beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran Mataram Kuno antara lain adanya bencana alam dan ancaman dari musuh yaitu Kerajaan Sriwijaya.

Awal mulanya adalah terjadi perpecahan lagi dalam Kerajaan Mataram Kuno tak lama setelah Samaratungga wafat. Anak Samaratungga dengan Dewi Tara yang bernama Balaputradewa menunjukkan sikap menentang terhadap Pikatan (pewaris tahta).

Pertentangan itu akhirnya melahirkan perang perebutan kekuasaan antara Pikatan dengan Balaputradewa. Dalam perang tersebut Balaputradewa sempat membuat benteng pertahanan di perbukitan di sebelah selatan Prambanan.

Benteng tersebut sekarang kira kenal dengan Candi Boko. Pada akhirnya Balaputradewa terdesak dan melarikan diri ke Sumatra. Kemudian Balaputradewa kemudian menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Pertentangan di antara keluarga Mataram yang terjadi dari Balaputradewa dan Pikatan tampaknya terus berlangsung hingga masa pemerintahan Mpu Sindok pada tahun 929 M.

Kerajaan Siwijaya tak henti menyerang Mataram Kuno hingga Mpu Sindok terpaksa memindahkan ibu kota kerajaan dari Medang ke Daha (Jawa Timur) dan mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti Isyanawangsa.

Pertikaian berhenti pada masa pemerintahan Airlangga yang bahkan sempat membantu Sriwijaya ketika mendapatkan serangan dari Kerajaan Colamandala dari India.

Pada tahun 1037 M, Airlangga berhasil mempersatukan kembali daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Dharmawangsa, meliputi seluruh Jawa Timur. Pada tahun 1042, Airlangga mengundurkan diri dari takhta kerajaan, lalu hidup sebagai pertapa dengan nama Resi Gentayu (Djatinindra).

Airlangga memerintahkan Mpu Bharada untuk membagi dua kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan itu adalah Kediri dan Janggala. Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya perang saudara di antara kedua putranya yang lahir dari selir (Kemdikbud, 2017, hlm. 124).

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Sejarah Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *