Project Based Learning (PJBL) atau Pembelajaran Berbasis Proyek adalah salah satu model pembelajaran student centered anjuran Kurikulum 2013 bahkan kurikulum Merdeka Belajar sekalipun yang menggunakan proyek atau kegiatan nyata sebagai inti pembelajaran. Dalam pembelajaran project based learning, peserta didik akan melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintetis, dan pengolahan informasi lainnya untuk menghasilkan berbagai bentuk belajar yang sangat dekat dengan pekerjaan nyata di lapangan.

Namun sebetulnya seperti apa wujud konkret dari model pembelajaran ini? Bagaimana karakteristiknya, prinsip apa yang digunakan, dan yang paling penting, bagaimana sintaks serta langkah-langkahnya? Berikut adalah pemaparan-pemaparan yang akan menjawab berbagai pertanyaan tersebut.

Pengertian Project Based Learning

Menurut Fathurrohman (2016, hlm. 119) pembelajaran berbasis proyek atau project based learning adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek atau kegiatan sebagai sarana pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Proyek sendiri dapat diartikan sebagai kegiatan yang terdiri atas banyak pekerjaan dan membutuhkan koordinasi serta spesialisasi tenaga penunjang untuk menyelesaikannya.

Sementara itu Saefudin (2014, hlm. 58) berpendapat bahwa project based learning merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Implikasinya, proyek hanyalah menjadi suatu wahana yang akan menstimulus peserta didik untuk berkreasi dan belajar.

Dengan demikian, bukan proyeknya yang menjadi inti pokok model pembelajaran ini, melainkan pemecahan masalah dan mengimplementasikan pengetahuan baru yang dialami dari aktivitas proyek. Project based learning menekankan pada berbagai masalah-masalah kontekstual yang akan dialami oleh peserta didik secara langsung dari proyek atau kegiatan yang mereka lakukan.

Sedangkan menurut Isriani dan Puspitasari (2015, hlm. 5) pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan pada guru untuk mengelola pembelajaran di kelas dengan melibatkan kerja proyek. Pendapat ini secara implisit menyatakan bahwa project based learning merupakan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered) yang menetapkan guru sebagai fasilitator.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran project based learning adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa dan berangkat dari suatu latar belakang masalah untuk mengerjakan suatu proyek atau aktivitas nyata yang akan membuat siswa mengalami berbagai kendala-kendala kontekstual sehingga harus melakukan investigasi/inkuiri dan pemecahan masalah untuk dapat menyelesaikan proyeknya sehingga dapat mencapai kompetensi sikap, pengetahuan serta keterampilan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Karakteristik Project Based Learning

Model pembelajaran project based learning mempunyai karakteristik yang membuat guru menjadi fasilitator untuk memberikan permasalahan berupa proyek yang harus diselesaikan oleh peserta didik. Hal ini kemudian membuat peserta didik harus merancang proses dan kerangka kerja untuk membuat solusi dari permasalahan tersebut.  Karakteristik project based learning menurut Daryanto dan Rahardjo (2012, hlm. 162) adalah sebagai berikut.

  1. Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja.
  2. Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik.
  3. Peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan.
  4. Peserta didik secara kolaboratif bertanggung jawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan.
  5. Proses evaluasi dijalankan secara kontinu (berlanjut).
  6. Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan.
  7. Produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif.
  8. Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.

Kelebihan dan Kekurangan Project Based Learning

Setiap model, metode, atau rancangan pembelajaran lainnya sudah tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Begitu juga dengan metode project based learning. Sebagai gambaran umumnya, project based learning adalah model sapu jagat (serba ada/serba bisa) yang melibatkan pembelajaran kontekstual, investigasi/inkuiri, dan problem solving yang akan berdampak sangat baik untuk kompetensi peserta didik secara keseluruhan (sikap, pengetahuan, dan keterampilan).

Sayangnya pembelajaran ini membutuhkan waktu persiapan yang tidak sedikit dan siswa membutuhkan waktu yang cukup lama pula untuk mengerjakannya. Belum lagi akan ada biaya yang dikeluarkan dalam proses pelaksanaan proyek. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah penjabaran kelebihan dan kekurangan model pembelajaran project based learning.

Kelebihan Project Based Learning

Menurut Daryanto dan Rahardjo (2012, hlm. 162) model pembelajaran project based learning mempunyai kelebihan sebagai berikut.

  1. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar, mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu untuk dihargai.
  2. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
  3. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem kompleks.
  4. Meningkatkan daya kolaborasi.
  5. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi.
  6. Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber.
  7. Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
  8. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dengan dunia nyata.
  9. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.

Kelemahan Project Based Learning

Menurut Widiasworo (2016, hlm. 189) project based learning memiliki kelemahan sebagai berikut.

  1. Pembelajaran berbasis proyek memerlukan banyak waktu yang harus disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks
  2. Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan karena menambah biaya untuk memasuki sistem baru.
  3. Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana instruktur memegang peran utama di kelas. Ini merupakan tradisi yang sulit, terutama bagi instruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi.
  4. Banyaknya peralatan yang harus disediakan. Oleh karena itu, disarankan untuk menggunakan team teaching dalam pembelajaran.
  5. Peserta didik memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
  6. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.
  7. Apabila topik yang diberikan pada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak memahami topik secara keseluruhan.

Mengatasi Kelemahan Project Based Learning

Berbagai kelemahan dalam pembelajaran berbasis proyek, dapat diatasi dengan beberapa langkah berikut.

  1. Memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi masalah.
  2. Membatasi waktu peserta didik dalam menyelesaikan proyek.
  3. Meminimalisir biaya.
  4. Menyediakan peralatan sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar.
  5. Memilih lokasi penelitian yang mudah dijangkau.
  6. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga guru dan peserta didik merasa nyaman dalam pembelajaran (Widiasworo, 2016, hlm. 189).

Sintaks Project Based Learning

Sintaks atau pedoman dasar dalam menentukan langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran PJBL (Project Based Learning) menurut Mulyasa (2014, hlm. 145) adalah sebagai berikut.

  1. Menyiapkan pertanyaan atau penugasan proyek,
    tahap ini sebagai langkah awal agar peserta didik mengamati lebih dalam terhadap pertanyaan yang muncul dari fenomena yang ada.
  2. Mendesain perencanaan proyek,
    sebagai langkah nyata menjawab pertanyaan yang ada disusunlah suatu perencanaan proyek bisa melalui percobaan.
  3. Menyusun jadwal sebagai langkah nyatadari sebuah proyek,
    penjadwalan sangat penting agar proyek yang dikerjakan sesuai dengan waktu yang tersedia dan sesuai dengan target.
  4. Memonitor kegiatan dan perkembangan proyek,
    peserta didik mengevaluasi proyek yang sedang dikerjakan.

Langkah-Langkah Project Based Learning

Langkah-langkah model pembelajaran project based learning menurut Widiarso (2016, hlm. 184) dapat diterapkan atau diaplikasikan melalui langkah berikut ini.

1. Penentuan pertanyaan mendasar

Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan kepada peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Topik penugasan sesuai dengan dunia nyata yang relevan untuk peserta didik. dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam.

2. Mendesain perencanaan proyek

Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.

3. Menyusun jadwal

Guru dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain:

  1. membuat timeline (alokasi waktu) untuk menyelesaikan proyek,
  2. membuat deadline (batas waktu akhir) penyelesaian proyek,
  3. membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru,
  4. membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan
  5. meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan.

4. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek

Guru bertanggung jawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain guru berperan menjadi mentor bagiaktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.

5. Menguji hasil

Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

6. Mengevaluasi pengalaman

Pada akhir pembelajaran, guru dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok.

Pedoman Bimbingan dalam Project Based Learning

Salah satu kendala utama dari project based learning adalah peserta didik kebingungan dan mengalami kesulitan dalam percobaan, pengumpulan informasi, atau tahap pengerjaan proyek yang lainnya. Oleh karena itu, bimbingan guru adalah kunci utama untuk menghadapinya. Berbagai strategi pengelolaan, evaluasi, dan pembimbingan juga diperlukan untuk memastikan pembelajaran berbasis proyek dapat berjalan seperti seharusnya.

Menurut Isriani dan Puspitasari (2015, hlm. 132-134) dalam membimbing peserta didik pada pembelajaran project based learning, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pijakan tindakan, yakni sebagai berikut.

Keautentikan

Maksudnya, kita harus memastikan keaslian dan kesahihan pembelajaran yang terjadi dalam pengerjaan proyek. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi sebagai berikut.

  1. Mendorong dan membimbing peserta didik untuk memahami kebermaknaan dari tugas yang dikerjakan.
  2. Merancang tugas peserta didik sesuai dengan kemampuannya sehingga ia mampu menyelesaikannya tepat waktu.
  3. Mendorong dan membimbing peserta didik agar mampu menghasilkan sesuatu dari tugas yang dikerjakannya.

Ketaatan Terhadap Nilai-Nilai Akademik

Ketaatan terhadap nilai-nilai akademik dapat memastikan peserta didik belajar secara maksimal dan bernilai berdasarkan cara belajar yang terarah. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa strategi berikut.

  1. Mendorong dan mengarahkan peserta didik agar mampu menerapkan berbagai pengetahuan/ disiplin ilmu dalam menyelesaikan tugas yang dikerjakan.
  2. Merancang dan mengembangkan tugas-tugas yang dapat memberi tantangan pada peserta didik untuk menggunakan berbagai metode dalam pemecahan masalah.
  3. Mendorong dan membimbing peserta didik untuk mampu berpikir tingkat tinggi (HOTS) dan memecahkan masalah (Problem Solving).

Belajar Pada Dunia Nyata

Konteks dunia nyata yang abad ini selalu berbasis proyek adalah salah satu keunggulan utama dari Project Based Learning. Oleh karena itu, memastikan peserta didik belajar pada dunia nyata adalah suatu keharusan. Hal ini dapat dilakukan dengan strategi sebagai berikut ini.

  1. Mendorong dan membimbing peserta didik untuk mampu bekerja pada konteks permasalahan yang nyata yang ada di masyarakat.
  2. Mendorong dan mengarahkan agar peserta didik mampu bekerja dalam situasi organisasi yang menggunakan teknologi tinggi.
  3. Mengarahkan dan mendorong agar peserta didik mampu mengelola keterampilan pribadinya.

Aktif mandiri

Project based learning adalah pembelajaran yang terpusat pada peserta didik. Oleh karena itu keaktifan dan kemandirian masing-masing siswa adalah hal yang harus dijaga. Hal ini dapat dilakukan dengan strategi sebagai berikut.

  1. Mendorong dan mengarahkan peserta didik agar dapat menyelesaikan tugasnya sesuai dengan jadwal yang telah dibuatnya.
  2. Mendorong dan mengarahkan peserta didik untuk melakukan penelitian dengan berbagai macam metode, media, dan berbagai sumber.
  3. Mengarahkan dan mendorong peserta didik agar mampu berkomunikasi dengan oranng lain, baik melalui presentasi ataupun media lain.

Hubungan dengan Ahli

Dalam project based learning yang melibatkan eksperimen dan studi pustaka, peserta didik harus sudah lebih sadar akan sumber yang dikemukakan oleh para ahli. Strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hubungan dengan ahli adalah sebagai berikut.

  1. Mendorong dan mengarahkan peserta didik untuk mampu belajar dari orang lain yang mewakili pengetahuan yang relevan.
  2. Mendorong dan mengarahkan peserta didik bekerja berdiskusi dengan orang lain / temannya dalam memecahkan masalah.
  3. Mengarahkan dan mendorong peserta didik untuk mengajak/ meminta pihak luar untuk terlibat dalam menilai unjuk kerjanya.

Penilaian

Penilaian tidak hanya dapat dilakukan pada evaluasi akhir saja. Kita juga harus memastikan bahwa siswa dapat menilai sendiri hasil pekerjaannya, agar proyek yang mereka kerjakan selesai dengan hasil yang lebih baik. Upaya penerapannya dapat dilakukan dengan strategi sebagai berikut.

  1. Mendorong dan mengarahkan peserta didik agar mampu melakukan evaluasi diri terhadap kinerjanya dalam mengerjakan tugasnya.
  2. Mengarahkan dan mendorong peserta didik untuk mengajak pihak luar terlibat dalam mengembangkan standar kerja terkait tugasnya.
  3. Mendorong dan mengarahkan peserta didik untuk menilai unjuk kerjanya.

Referensi

  1. Daryanto dan Rahardjo, M. (2012). Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Gava Media.
  2. Fathurrohman, M. (2016). Model Pembelajaran Inovatif: Alternatif desain Pembelajaran yang Menyenangkan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group.
  3. Isriani & Puspitasari, D. (2015). Strategi Pembelajaran Terpadu: Teori, Konsep & Implementasi. Yogyakarta: Relasi Inti Media Group.
  4. Mulyasa, E. (2014). Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  5. Saefudin, A & Berdiati, I. (2014). Pembelajaran Efektif. Bandung: PT Remaja Roskadarya.
  6. Widiasworo, E. (2016). Strategi Dan Metode Mengajar Siswa Diluar Kelas (Outdoor Leaning) Secara Aktif, Kreatif, Inspiratif, Dan Komunikatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *