Konfromitas merupakan salah satu pengaruh sosial yang dapat mengubah individu menjadi lebih sesuai dengan kelompok sosialnya. Tokoh psikologi sosial Muzafer Sherif pernah melakukan eksperimen mengenai konformitas menggunakan eksperimen titik sinar. Ketika individu melihat sendiri, titik sinar tersebut dipersepsi diam, akan tetapi ketika dilihat bersama-sama kelompoknya, titik itu dipersepsi bergerak. Padahal kenyatannya titik sinar itu sebetulnya tidak pernah bergerak dan tetap diam, namun pendapat kelompok telah mengubah pendapat individu bahwa seakan-akan titik tersebut kini bergerak (Suryanto dalam Maryam, 2018, hlm. 3).

Inilah yang disebut sebagai konformitas, seorang individu dapat berubah persepsinya ketika ia tengah berada dalam lingkungan sosial. Untuk lebih jelasnya berikut adalah beberapa pemaparan pengertian konformitas menurut para ahli-ahli lainnya.

Pengertian Konformitas

Konformitas adalah suatu jenis pengaruh sosial di mana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada (Baron & Byrne dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 1). Selanjutnya, menurut Cialdini & Goldstein (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 1) konformitas adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh individu untuk mengubah perilakunya agar sesuai dengan respons orang lain. Terdapat keinginan individu untuk menyesuaikan responsnya dengan orang lain merupakan salah satu insting manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.

Bahkan lebih lanjut Myers (dalam Vatmawati, 2019) mengatakan bahwa konformitas adalah perubahan perilaku ataupun kepercayaan yang sama dengan orang lain. Artinya bukan hanya sikap atau respons saja yang diubah, melainkan bisa jadi berpengaruh pada kepercayaan atau pribadi seseorang pula. Konformitas tidak sekedar bertindak sesuai dengan perilaku yang dilakukan orang lain, akan tetapi juga berarti dipengaruhi oleh bagaimana orang lain tersebut berperilaku.

Konformitas adalah bentuk perilaku sama dengan orang lain yang didorong oleh keinginan individu itu sendiri. Adanya perilaku konformitas dapat dilihat dari perubahan perilaku serta keyakinan dikarenakan adanya tekanan dari kelompok yang menuntut individu tersebut untuk berperilaku sama dengan kelompoknya. Bentuk nyata konformitas dapat dilihat pada pengertian konformitas menurut Sovitriana dkk (2020) yang menyatakan bahwa konformitas adalah kecendrungan individu untuk mengikuti pendapat, arahan, nilai, hobi, kegemaran atau keinginan dari teman sebayanya.

Dapat disimpulkan bahwa konformitas adalah jenis pengaruh sosial yang dapat mengubah keyakinan, sikap, dan tingkah laku individu agar sesuai atau sama dengan norma dan nilai-nilai orang lain atau kelompok sosial yang tengah ia ikuti.

Konformitas dan Norma Sosial

Menurut Brown (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 1), tekanan dari lingkungan agar individu melakukan konformitas pada dasarnya berasal dari kenyataan bahwa di beberapa konteks terdapat aturan-aturan, baik yang sifatnya eksplisit maupun yang implisit. Aturan-aturan ini kemudian mengindikasikan bagaimana individu seharusnya dan sebaiknya bertingkah laku.

Aturan-aturan yang mengatur bagaimana individu seharusnya dan sebaiknya berperilaku disebut dengan norma sosial (social norms) (Brown dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 1). Aturan-aturan ini juga sering kali memberikan efek yang kuat pada tingkah laku yang dilakukan oleh individu. Pada dasarnya terdapat beberapa jenis norma sosial. Namun demikian, ada satu norma sosial yang amat berkaitan erat dengan konformitas, yaitu norma injungtif. Norma injungtif adalah suatu jenis norma yang memberi tahu individu mengenai apa yang seharusnya dilakukan pada situasi-situasi tertentu.

Beberapa contoh dari norma sosial injungtif adalah:

  1. peraturan untuk tidak bersuara berisik saat menonton bioskop,
  2. tidak mengebut di jalanan kampung,
  3. jangan berdiri terlalu dekat dengan orang asing, dan lain-lain.

Norma injungtif juga disebut sebagai norma yang membuat orang tidak memedulikan apakah norma sosial itu eksplisit atau implisit namun satu kenyataan tampak dengan jelas, yaitu sebagian besar orang mematuhi norma-norma tersebut hampir setiap saat.

Semua orang mematuhi norma-norma tersebut karena terdapat kecenderungan yang kuat terhadap konformitas ini, di mana individu diharapkan bahkan “terpaksa” mampu mengikuti keinginan masyarakat atau kelompok tertentu mengenai bagaimana seharusnya bertindak di berbagai situasi. Namun demikian, dalam beberapa kasus konformitas ini juga dapat dilakukan oleh individu dengan sengaja secara sengaja untuk menghindari konflik atau kekacauan sosial.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konformitas

Selain norma, terdapat bermacam faktor lain yang mempengaruhi konformitas individu. Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi konformitas tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Pengaruh dari orang-orang yang disukai
    Orang-orang yang disukai akan memberikan pengaruh lebih besar. Perkataan dan perilaku mereka cenderung akan diikuti atau diamini oleh orang lain yang menyukai dan dekat dengan mereka.
  2. Kekompakan kelompok
    Kekompakan kelompok sering disebut sebagai kohesivitas. Semakin kohesif suatu kelompok maka akan semakin kuat pengaruhnya dalam membentuk pola pikir dan perilaku anggota kelompoknya.
  3. Ukuran kelompok dan tekanan sosial
    Konformitas akan meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah anggota kelompok. Semakin besar kelompok tersebut maka akan semakin besar pula kecenderungan individu untuk ikut serta, walaupun mungkin individu akan menerapkan sesuatu yang berbeda dari yang sebenarnya diinginkan.
  4. Norma sosial deskriptif dan norma sosial injungtif
    Norma deskriptif adalah norma yang hanya mendeskripsikan apa yang sebagian besar orang lakukan pada situasi tertentu. Norma ini akan memengaruhi tingkah laku individu dengan cara memberi tahu mengenai apa yang umumnya dianggap efektif atau bersifat adaptif dari situasi tertentu tersebut. Sementara itu, norma injungtif akan memengaruhi individu dalam menetapkan apa yang harusnya dilakukan dan tingkah laku apa yang diterima dan tidak diterima pada situasi tertentu (Brown dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 3).

Alasan untuk Melakukan atau Menolak Konformitas

Terdapat beberapa alasan yang dikedepankan oleh individu ketika mereka memilih untuk melakukan atau menolak konformitas. Menurut Brown (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 4) beberapa alasan mengapa individu memilih untuk melakukan konformitas adalah sebagai berikut.

  1. Keinginan untuk disukai
    Sebagai akibat internalisasi dan proses belajar di masa kecil, maka banyak individu melakukan konformitas untuk membantunya mendapatkan persetujuan dengan banyak orang. Persetujuan diperlukan agar individu mendapatkan pujian. Oleh karena pada dasarnya banyak orang senang akan pujian maka banyak orang berusaha untuk konform dengan keadaan.
  2. Rasa takut akan penolakan
    Konformitas penting dilakukan agar individu mendapatkan penerimaan dari kelompok atau lingkungan tertentu. Jika individu memiliki pandangan dan perilaku yang berbeda maka dirinya akan dianggap bukan termasuk dari anggota kelompok dan lingkungan tersebut.
  3. Keinginan untuk merasa benar
    Banyak keadaan menyebabkan individu berada dalam posisi yang dilematis karena tidak mampu mengambil keputusan. Jika ada orang lain dalam kelompok atau kelompok ternyata mampu mengambil keputusan yang dirasa benar maka dirinya akan ikut serta agar dianggap benar.
  4. Konsekuensi kognitif
    Banyak individu berpikir melakukan konformitas adalah konsekuensi kognitif akan keanggotaan mereka terhadap kelompok dan lingkungan di mana mereka berada.

Sementara itu, alasan mengapa individu tidak melakukan konformitas di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Deindividuasi
    Deindividuasi terjadi ketika individu ingin dibedakan dari orang lain. Individu akan menolak konform karena tidak ingin dianggap sama dengan yang lain.
  2. Merasa menjadi orang bebas
    Individu juga menolak untuk konform karena dirinya memang tidak ingin untuk konform. Menurutnya, tidak ada hal yang bisa memaksa dirinya untuk mengikuti norma sosial yang ada (Brown dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 4).

Pengaruh Konformitas pada Berbagai Aspek

Konformitas adalah persoalan atau tepatnya pengaruh sosial yang banyak dipelajari oleh berbagai bidang sekaligus karena memiliki pengaruh besar. Misalnya, bidang pendidikan memerhatikan konformitas karena menemukan hal ini adalah kesempatan besar untuk dijadikan suatu metode atau model pendidikan yang membuat pembelajaran sejawat atau sebaya menjadi lebih efektif.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa perilaku konform yang dilakukan individu sering kali terkait dengan beberapa hal spesifik lainnya. Beberapa keterkaitan konformitas dengan hal-hal lain tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Keragaman Budaya

Kecenderungan melakukan konformitas akan lebih rendah pada budaya yang menekankan individualitas atau budaya individualis dibandingkan budaya yang menekankan keanggotaan kelompok atau budaya kolektivis. Studi milik Jiang, Bong, dan Kim (2015 dalam Mulyadi, 2016, hlm. 5) di Korea Selatan menemukan bahwa budaya kolektivis yang mengedepankan kebersamaan memperkuat konformitas pada pelajar sehingga memberikan persepsi positif akan dukungan sosial yang kuat dari teman dan guru sehingga meningkatkan prestasi akademik.

2. Pendidikan

Di dalam bidang psikologi pendidikan, konformitas kelompok teman sebaya berkaitan dengan motivasi berprestasi pada remaja akhir (Sari dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 5). Temuan menarik lainnya juga mengungkapkan bahwa konformitas teman sebaya pada pelajar tingkat akhir di SMA ternyata memiliki pengaruh terhadap pemilihan jurusan saat kuliah kelak (Priastuti, Pratiwi, & Supriyono dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 5).

3. Agresivitas

Di dalam banyak situasi sosial tertentu kekompakan kelompok dapat memperkuat agresivitas kelompok sehingga kemudian memicu munculnya suatu perilaku tertentu. Studi Simangunsong (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 5) menyatakan bahwa konformitas berkaitan dengan perilaku agresi kelompok seperti tawuran di mana norma sosial khas kelompok yang menanggap tawuran sebagai sesuatu yang normatif dan dianggap sebagai kebenaran kelompok. Perilaku tawuran didominasi oleh remaja atau pria dewasa sebagai pelakunya.

Selanjutnya, penelitian Sears (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 6) menemukan bahwa persoalan ideologi maskulinitas memang kerap mendorong konformitas kelompok yang dianggotai oleh 6 pria untuk melakukan agresevitas. Sementara itu, studi menarik lain milik Apriliawati (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 6) juga menemukan bahwa konformitas dan regulasi diri yang buruk memengaruhi agresivitas di media sosial seperti Facebook.

4. Perilaku Ekonomi

Konformitas memiliki keterkaitan dengan beberapa perilaku ekonomi, khususnya dalam perilaku konsumen seperti perilaku konsumtif pada produk kosmetik pada remaja putri (Zulfitriah dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 6). Studi yang sangat menarik milik Tsao, Hsieh, Shih, dan Lin (2015 dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 6) menemukan bahwa semakin positif reviu dari konsumen hotel yang menjadi testimoni di laman booking hotel menjadi pendorong yang kuat bagi konsumen untuk memesan kamar dari hotel yang bersangkutan.

5.Perilaku Menyimpang

Konformitas juga berkaitan dengan perilaku seks pranikah di mana remaja akan melakukan perilaku seks pranikah karena prinsip sexual achievement dalam kelompok teman sebayanya (Rahardjo dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 6). Konformitas juga memiliki kaitan dengan perilaku negatif lainnya seperti perilaku minumminuman beralkohol karena pengaruh lingkungan sekitarnya (Sumarlin dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 6).

Referensi

  1. Maryam, E.W. (2018). Psikologi sosial. Sidoarjo: UMSIDA Press.
  2. Mulyadi, S., Rahardjo, W., Asmarany, A.I, Pranandari, K.(2016). Psikologi sosial. Jakarta: Penerbit Gunadarma.
  3. Sovitriana, Sianturi. (2020). Kematangan emosi dan konformitas teman sebaya dengan perilaku agresif pada remaja di kelurahan x kabupaten bekasi. Jurnal Universitas Persada Indonesia Y.A.I, 5(2), 118-126.
  4. Vatmawati, S. (2019). Hubungan konformitas siswa dengan pengambilan keputusan karir. Jurnal Bimbingan Dan Konseling Empati, 6(1), 55–70.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.