Pengertian Model Pembelajaran NHT

Model Pembelajaran NHT (numbered head together) adalah tipe pembelajaran kooperatif yang mengelompokan peserta didik menjadi beberapa kelompok, kemudian setiap anggota kelompok diberi nomor dan diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan guru, saat terdapat kelompok yang ingin menjawab pertanyaan, maka guru akan memilih secara acak salah satu siswa dari anggota kelompok tersebut dengan cara mengocok nomor yang telah dimiliki masing-masing anggota kelompok penjawab.

Intinya, melalui pembelajaran ini, setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok dot menjawabnya. Seperti yang diungkapkan oleh Shoimin (2017, hlm. 108) bahwa model pembelajaran NHT atau numbered head together adalah suatu model pembelajaran berkelompok yang setiap anggota kelompoknya bertanggung jawab atau tugas kelompoknya, sehingga tidak ada pemisahan antara siswa yang satu dengan siswa yang lain dalam satu kelompok untuk saling memberi dan menerima antara satu dengan yang lainnya.

Sementara itu, Lestari & Yudhanegara (2015, hlm. 44) menjelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mengondisikan siswa untuk berpikir bersama secara berkelompok di mana masing-masing siswa diberi nomor dan memiliki kesempatan yang sama dalam menjawab permasalahan yang diajukan oleh guru melalui pemanggilan nomor secara acak.

Lebih dalam lagi menjelaskan cara kerja mendasar dari sistem pembelajaran ini, Hosnan (2014, hlm. 252) menjelaskan bahwa NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik.

Sintak Model Pembelajaran NHT

Menurut Suprijono (2015, hlm. 69) sintaks/ sintak model pembelajaran NHT adalah sebagai berikut.

No. Fase Perilaku Guru
1. Establishing set
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik.
Menjelaskan tujuan pembelajaran, informasi latar belakang pelajaran, mempersiapkan peserta didik untuk belajar.
2. Demonstrating
Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
Mendemonstarsikan keterampilan yang benar, menyajikan informasi tahap demi tahap
3. Guided Practice
Membimbing pelatihan
Merencanakan dan memberi pelatihan awal.
4. Feedback
Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
Mengecek apakah peserta didik telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberikan umpan balik
5. Extended practice
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan
Mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan pelatihan khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah Langkah Model Pembelajaran NHT

Menurut Huda (2015, hlm. 245), langkah-langkah yang dilakukan dalam penerapan metode pembelajaran Kooperatif tipe NHT adalah sebagai berikut.

  1. Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada peserta didik sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
  2. Memberikan kuis secara individual kepada peserta didik untuk mendapatkan skor dasar atau awal.
  3. Pendidik membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5 peserta didik, setiap anggota kelompok diberi nomor yang akan menjadi identitasnya ketika ditunjuk secara acak sebagai perwakilan yang menjawab.
  4. Guru mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama dalam kelompok.
  5. Mengecek pemahaman peserta didik dengan memanggil salah satu nomor anggota kelompok untuk menjawab. Jawaban salah satu peserta didik yang ditunjuk oleh guru merupakan wakil jawaban dari kelompok.
  6. Guru memfasilitasi peserta didik dalam membuat rangkuman, mengarahkan dan memberikan penegasan ulang pada akhir pembelajaran.
  7. Memberikan tes atau kuis pada peserta didik secara individual.
  8. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok melalui penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individu dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.

Sementara itu, langkah-langkah pembelajaran NHT menurut Trianto (2014, hlm 131) adalah sebagai berikut.

  1. Penomoran Pendidik membagikan peserta didik jadi kelompok-kelompok kecil dan setiap anggota kelompok diberikan nomor antara 1 sampai 5
  2. Mengajukan Pertanyaan Pendidik memberikan pertanyaan kepada peserta didik. Pertanyaan dapat sangat khusus dan dalam bentuk kalimat tanya.
  3. Berpikir Bersama Peserta didik menggabungkan pendapat tentang jawaban pertanyaan tersebut dan memastikan setiap anggotanya mengetahui jawabannya.
  4. Menjawab Pendidik memanggil satu nomor, lalu peserta didik yang memiliki nomor tersebut maju ke depan dan menjawab pertanyaannya.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran NHT

Menurut Kurniasih (2015, hlm. 30) kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) yaitu sebagai berikut.

Kelebihan

  1. Dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
  2. Mampu memperdalam pemahaman peserta didik.
  3. Melatih tanggung jawab peserta didik.
  4. Menyenangkan peserta didik dalam belajar.
  5. Mengembangkan rasa ingin tahu peserta didik.
  6. Meningkatkan rasa percaya diri peserta didik.
  7. Mengembangkan rasa saling memiliki dan bekerja sama.
  8. Setiap peserta didik termotivasi untuk menguasai materi.
  9. Menghilangkan kesenjangan antara yang pintar dan yang tidak pintar.
  10. Terciptanya suasana gembira dalam belajar.

Kelemahan

  1. Ada peserta didik yang akan takut atau merasa terintimidasi bila memberi nilai jelek kepada anggotanya (bila kenyataannya peserta didik lain kurang mampu menguasai materi).
  2. Terdapat peserta didik yang mengambil jalan pintas dengan meminta tolong pada temannya untuk mencarikan jawabannya. Solusinya mengurangi poin pada peserta didik yang membantu dan dibantu.
  3. Apabila pada suatu nomor kurang maksimal mengerjakan tugasnya, tentu saja memengaruhi pekerjaan pemilik tugas lain pada nomor selanjutnya.

Sementara itu, menurut handayana (2014, hlm. 177) kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT) sebagai berikut:

Kelebihan

  1. Membiasakan peserta didik agar mampu bekerjasama dan menghormati ide orang lain.
  2. Melatih peserta didik agar mampu menjadi tutor sebaya.
  3. Memupuk rasa kebersamaan.
  4. membuat peserta didik menjadi terbiasa dengan perbedaan.

Kelemahan

  1. Peserta didik yang sudah terbiasa dengan cara konvensional akan sedikit kewalahan.
  2. Pendidik harus memfasilitasi peserta didik.
  3. Tidak semua siswa akan mendapat giliran.

Referensi

  1. Hosnan, T. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.
  2. Hamdayana, Jumanta. (2014). Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter. Bogor: Ghalia Indonesia.
  3. Huda, Miftahul. (2015). Cooperative Learning: Metode, Teknik, Struktur, dan Model Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  4. Kurniasih, Imas. (2015). Ragam Pengembangan Model Pembelajaran. Jakarta: Kata Pena
  5. Lestari, K. E., & Yudhanegara, M. R. (2015). Penelitian Pendidikan Matematika. Bandung: PT Refika Aditama.
  6. Shoimin, A. (2017). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
  7. Suprijono, Agus. (2015). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  8. Trianto. (2014). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual. Jakarta: Prenamedia Group.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *