Pembentukan perilaku manusia tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk lingkungan dan latar belakang individu. Namun sebetulnya perilaku manusia sebagian besar ialah berupa perilaku yang dibentuk atau dipelajari (Saleh, 2018, hlm. 139). Oleh karena itu, kita dapat melakukan suatu stimulus untuk membentuknya, baik dengan cara belajar mandiri maupun mengadakan pembelajaran dan pelatihan untuk meningkatkannya.

Intinya, karena perilaku sebagian besar dibentuk atau dipelajari, maka kita dapat mengatur bagaimana cara membentuk perilaku agar sesuai dengan yang diharapkan. Yakni dengan menggunakan pendekatan atau model yang sesuai dengan keadaan individu dan lingkungannya baik berupa lembaga pendidikan maupun organisasi pekerjaan. Beberapa pendekatan atau model pembentukan perilaku yang sudah banyak diterapkan di antaranya adalah sebagai berikut.

Pembentukan Perilaku dengan Conditioning (Pembiasaan)

Pembentukan perilaku dengan pembiasaan atau conditioning adalah pembentukan perilaku dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan, akhirnya akan terbentuk perilaku tersebut. Contohnya, kita dapat membiasakan anak untuk bangun pagi, atau menggosok gigi sebelum tidur, mengucapkan terima kasih jika ditolong oleh orang lain, tidak terlambat ke sekolah, dan sebagainya.

Cara conditioning ini ini didasarkan atas teori psikologi behaviorisme yang didasarkan atas penelitian Pavlov mengenai conditioned dan unconditioned refleks, maupun oleh teori operant conditioning dari Skinner. Eksperimen Pavlov membuktikan bahwa ketika dibiasakan mendengar lonceng sebelum melihat makanan, lama-lama anjing akan mengeluarkan air liur cukup dengan membunyikan lonceng saja, tanpa ada makanan sekalipun. Sementara itu, Skinner membuktikan bahwa lama-lama tikus dapat mengetahui bahwa dengan menekan tombol ia bisa mendapatkan makanan, dan menekan tombol itu disebut sebagai perilaku operant.

Classical Conditioning

Pembiasaan berdasarkan penelitian Pavlov selanjutnya disebut sebagai classical conditioning atau pengondisian klasik. Pengondisian klasik dipandang sebagai respons spontan yang terbangun melalui paparan dan penguatan yang berulang. Seperti pandangan sederhana tersebut, proses yang dilakukan untuk pengondisian klasik ini juga sama sederhananya, yakni melalui pengulangan, asosiasi, atau generalisasi stimulus.

Teori ini lebih menekankan pada pelatihan yang bersifat terus menerus atau kontinu. Dalam pelatihan, pembelajaran, atau umumnya pembentukan perilaku individu, teori ini mengharuskan kita untuk melatih refleks-refleks individu dengan sedemikan rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai. Artinya, kondisioning ini dapat mencipatakan stimulus dan respons yang dapat diamati dan dapat membantu individu dalam menguasai suatu kompetensi atau keterampilan.

Melalui penelitiannya Pavlov menyimpulkan beberapa konsep utama untuk classical conditioning berupa: pemerolehan (acquisition), penghapusan (extinction), generalisasi (generalization), diskriminasi (discrimination), dan kondisioning tandingan. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing konsep classical conditioning.

  1. Pemerolehan (Acquisition)
    Setiap penyajian berpasangan antara stimulus yang dikondisikan (lonceng) dan stimulus yang tidak terkondisikan (daging/makanan) proses itu disebut sebuah percobaan, dan periode selama organisme belajar mengasosiasikan antara kedua stimulus (stimulus netral dengan stimulus tak bersyarat) secara berulang-ulang sehingga muncul respons bersyarat, proses itu dinamakan tahap pemerolehan pengondisian (acquisition stage of conditioning).
  2. Penghapusan (Extinction) dan Pemulihan
    Suatu hal yang telah terbiasa lama-lama akan hilang (extinct) jika tidak dilakukan kembali. Proses ini disebut penghapusan atau pemunahan (extinction). Akan tetapi tanggapan yang hilang bisa kembali secara spontan, apabila rangsangan terkondisi diberikan lagi ke organisme, proses ini dinamakan pemulihan spontan.
  3. Generalisasi (Generalization)
    Generalisasi adalah proses inti dari transfer belajar, di mana respons yang terkondisi mentransfer ke rangsangan lain yang serupa dengan rangsangan terkondisi aslinya. Generalisasi digunakan untuk menjelaskan transfer suatu respons dari satu situasi ke situasi lainnya.
  4. Diskriminasi (Discrimination)
    Diskriminasi merupakan kebalikan dari generalisasi. Diskriminasi adalah suatu proses belajar yang dilakukan untuk menciptakan satu respons terhadap satu stimulus dan proses membedakan respons atau bukan respons terhadap beberapa stimulus.

Baca juga: Classical Conditioning: Konsep, Eksperimen & Penguatan (+/-)

Operant Conditioning

Penelitian Skinner berlabuh pada simpulan bahwa dengan diciptakan kondisi tertentu, kita dapat membuat individu melakukan perilaku operant yakni bentuk interaksi langsung terhadap lingkungannya. Berbeda dengan classical conditioning yang menekankan respons spontan, operant conditioning melibatkan respons operatif yang dilakukan oleh individunya untuk meraih suatu stimulus yang dibutuhkannya. Menurut Skinner (1938) prosedur pembentukan perilaku melalui operant conditioning adalah sebagai berikut.

  1. Melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat atau reinforcer berupa hadiah-hadiah atau reward bagi perilaku yang akan dibentuk.
  2. Melakukan analisis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang membentuk perilaku yang dikehendaki, kemudian komponen- komponen tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada terbentuknya perilaku yang dimaksud.
  3. Menggunakan secara urut komponen-komponen itu sebagai tujuantujuan sementara, mengidentifikasi reinforcer atau hadiah untuk masing-masing komponen tersebut.
  4. Melakukan pembentukan perilaku dengan menggunakan urutan komponen yang telah tersusun itu. Apabila komponen pertama telah dilakukan, maka hadiahnya diberikan. Hal ini akan mengakibatkan komponen perilaku yang kedua yang kemudian diberi hadiah (komponen pertama tidak memerlukan hadiah lagi). Demikian berulang-ulang sampai komponen kedua terbentuk, setelah itu dilanjutkan dengan komponen selanjutnya sampai seluruh perilaku yang diharapkan terbentuk.

Pembahasan lebih lanjut mengenai operant conditioning dapat disimak pada artikel di bawah ini:

Baca juga: Operant Conditioning : Eksperimen, Pengertian, Proses & Aplikasi

Pembentukan Perilaku dengan Pengertian (insight)

Pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan pengertian atau insight. Misal datang kuliah jangan sampai terlambat karena dapat mengganggu teman yang lain. Naik motor harus pakai helm, karena helm tersebut untuk keamanan diri. Cara berdasarkan atas teori belajar kognitif yaitu belajar disertai adanya pengertian. Bila dalam eksperimen Thorndike dalam belajar yang dipentingkan adalah soal latihan, maka dalam eksperimen Kohler dalam belajar yang penting adalah pengerian atau insight. Kohler adalah salah seorang tokoh dalam psikologi Gestalt dan termasuk dalam aliran kognitif (Hergenhahan, 1976 dalam Saleh, 2018, hlm. 140).

Menurut Notoatmodjo dalam Damayanti (2017) dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari dengan pengetahuan. Roger mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru di dalam diri orang tersebut tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni sebagai berikut.

  1. Awareness : Individu menyadari dalam arti dapat mengetahui stimulus (obyek) terlebih dahulu.
  2. Interest : Individu sudah mulai tertarik kepada stimulus yang diberikan. Sikap subyek sudah mulai timbul.
  3. Evaluation: individu tersebut mulai menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya sendiri. Berarti sikap responden sudah mulai lebih baik.
  4. Trial: Orang (subjek) mulai mencoba perilaku baru sesuai dengan apa yang dikehendaki stimulus.
  5. Adoption: Individu tersebut telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

Apabila penerimaan perilaku baru melalui tahap seperti yang dikemukakan di atas atau yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng.

Pembentukan Perilaku dengan Menggunakan Model

Pembentukan perilaku masih dapat ditempuh dengan menggunakan model atau contoh. Kalau orang bicara bahwa orang tua sebagai contoh anak-anaknya, pemimpin sebagai panutan yang dipimpinnya, hal tersebut menunjukkan pembentukan perilaku dengan menggunakan model. Pemimpin dijadikan model atau contoh oleh orang yang dipimpinnya. Cara ini didasarkan atas teori belajar sosial atau observational learning theory yang dikemukakan oleh Albert Bandura di tahun 1977.

Referensi

  1. Saleh, A.A. (2018). Pengantar psikologi. Makassar: Penerbit Aksara Timur.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *