Postnatal adalah periode setelah kelahiran atau bayi 12-24 minggu, di mana kehidupan manusia dan khususnya kebutuhan dasar seperti terpenuhinya makanan dan sumber nutrisi, perlindungan tubuh yang digunakan berupa pakaian, tempat untuk bernaung dan merasa aman, dapat melakukan aktivitas dan menumbuhkan afeksi sangat bergantung pada orang di sekitarnya khususnya orang dewasa (Mariyati & Rezania, 2021, hlm. 4).

Sementara itu menurut Ajhuri (2019, hlm. 88) postnatal adalah masa yang pertama di mana bayi masih sangat lemah, padahal harus melakukan penyesuaian diri secara radikal, supaya dapat melangsungkan hidupnya. Periode post-natal juga sering disebut sebagai neo-natal, pasca-natal, atau sesederhana perkembangan masa bayi. Namun sebagian ahli menganggap bahwa post-natal spesifik mengacu pada masa kelahiran, sementara itu neo-natal adalah periode 0-2 minggu bayi baru saja lahir.

Yang jelas, pada masa ini akan terjadi jalinan ikatan dengan orang lain yang diakibatkan proses interaksi sosial pertama kalinya dalam kehidupannya. Satu tahun pertama semenjak kelahiran bayi adalah perkiraan lamanya periode perkembangan pada bayi. Banyak ahli yang menyebut masa bayi sebagai masa vital, karena kondisi masa bayi merupakan fondasi kokoh pada tumbuh kembang selanjutnya.

Bayi Baru Lahir

Masa bayi dimulai dengan kelahiran yang diikuti dengan tangis pertama. Sis Heyster (dalam Ajhuri, 2019, hlm. 88) mengungkapkan bahwa tangis bayi yang pertama sebagai tanda adanya kesadaran jiwa pada seorang anak. Dengan adanya kesadaran (conciousnes) itu berarti fungsi-fungsi kejiwaan telah mulai bekerja sebagaimana mestinya.

Misalnya menyesuaikan dengan suhu di luar kandungan, bernafas lewat paru-paru, makan dengan cara menghisap dan menelan, dan buang air besar lewat anus. Selama penyesuaian, tidak ada kemajuan pertumbuhan dan perkembangan, bahkan terjadi kemunduran. Bayi neo-natal yang lemah banyak yang gagal dalam penyesuaian diri yang radikal ini, hingga dapat meninggal (Sundari dalam Ajhuri, 2019, hlm. 88).

Bayi baru lahir hanya dapat bertahan hidup secara fisik dan psikologisnya melalui bantuan orang dewasa. Secara jasmani, bayi baru lahir memiliki pendengaran yang cukup baik walaupun belum bekerja optimal. Bayi juga memiliki reaksi terhadap aroma dan rasa berbeda. Penglihatan bayi belum cukup jelas. Bayi hanya mampu melihat jarak 30cm dari matanya.

Walaupun bayi belum bisa melihat dengan jelas, namun bayi dapat mengenali sentuhan dengan cukup baik, sehingga bayi dapat menangis jika merasa tidak nyaman seperti pada saat popoknya basah (Thahir, 2018, hlm. 80). Bayi baru lahir pada umumnya tidur hingga 16 jam dalam sehari. Namun, ada juga yang tidur hanya 11 jam atau bahkan sampai 21 jam. Semakin bertambah umur bayi, maka kebutuhan tidurnya pun akan semakin berkurang.

Pertumbuhan dan Perkembangan Postnatal

Kebanyakan para ahli menyepakati bahwa postnatal adalah periode perkembangan manusia dari kelahiran atau usia 0 hingga 12-24 minggu. Beberapa ahli juga menilai bahwa periode ini dapat mencakup usia 3 tahun. Dengan demikian, dalam periode ini juga bayi akan mengalami fase baru lahir. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah pemaparan mengenai pertumbuhan dan perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial pada periode postnatal (masa bayi).

Perkembangan Fisik Bayi

Selama periode postnatal, anak tumbuh lebih cepat daripada masa yang lain sepanjang hidupnya. Pada tahun pertama, biasanya bayi laki-laki berkembang tiga kali lipat dari berat lahir. Pada usia 3 tahun, tinggi anak laki-laki telah mencapai 92,5 dan berat badan mencapai 16kg. Anak laki-laki rata-rata lebih besar dan lebih berat daripada perempuan, namun perbedaannya tidak terlalu jauh.

Pada tahapan ini, perkembangan dialami seorang individu dimulai pada saat bayi sampai mencapai umur 3 tahun. Pertumbuhan gigi dimulai di usia 3 atau 4 bulan, tapi biasanya gigi pertama baru akan muncul pada usia 5-9 bulan, atau bahkan lebih lama. Diusia 3 tahun, semua gigi utama telah tumbuh dan anak dapat makan apapun dan mengunyah makan apapun. Berikut adalah tabel pertumbuhan anak dari usia 0-3 tahun berdasarkan penambahan berat harian, panjang tubuh, dan pertumbuhan lingkar kepala.

Umur Penambahan berat harian (g) Pertumbuhan panjang (cm/bulan) Pertumbuhan lingkar kepala (cm/bulan)
0-3 bulan 30 3,5 2,00
3-6 bulan 20 2,0 1,00
6-9 bulan 15 1,5 0,50
9-12 bulan 12 1,2 0,50
1-3 tahun 8 1,0 0,25

Sumber: Thahir (2018, hlm. 80-81).

Perilaku Otak dan Refleks

Mengapa seorang bayi dapat merespon puting ibu?Apa yang memerintahkan mereka untuk memulai gerakan menghisap yang mengizinkan mereka mengontrol cairan yang masuk? Semua ini adalah kerja sistem saraf sentral-otak dan spinal cord, yakni sekelompok saraf yang bekerja sepanjang tulang belakang dan pertumbuhan jaringan luar saraf yang mengembang ke setiap bagian dari tubuh (Thahir, 2018, hlm. 81). Melalui jaringan ini, pesan sensoris berjalan ke otak dan saraf motor memberikan perintah untuk kembali.

Pada saat lahir,berat otak hanya sekitar 25 persen dari berat akhirnya di periode dewasa yatu 1,75kg. Otak mendapatkan 70% dari berat tersebut pada usia 1 tahun dan hampir 90 persen pada usia 3 tahun. Pada usia enam tahun, ukuran otak hampir sebesar otak orang dewasa, akan tetapi pertumbuhan dan perkembangan fungsinya terjadi secara tak teratur. Dengan kata lain, berbagai bagian yang berbeda dari otak tumbuh dengan pesat pada waktu yang berbeda-beda.

Bayi juga telah memiliki refleks awal (early reflexes), yakni respons otomatis dan alami terhadap rangsangan luar (seperti saat menutup mata saat melihat lampu yang sangat terang). Perilaku refleks diatur oleh inti otak bagian bawah yang mengatur proses otomatis lain, seperti menghirup udara dan detak jantung. Terdapat bagian dari otak yang dieliminasi secara penuh pada saat kelahiran. Perilaku refleks memainkan peran penting dalam merangsang perkembangan awal sistem saraf pusat dan otot.

Kemampuan Sensori Awal

Indra bayi berkembang dengan cukup signifikan dalam beberapa bulan setelah kelahirannya. Berikut ini perkembangan sensori awal pada bayi.

Sentuhan dan Rasa Sakit

Sentuhan merupakan indra pertama yang berkembang, dan dalam beberapa bulan pertama, sentuhan merupakan sistem sensor paling matang daripada yang lainnya. Dalam sebuah tes, Ketika pipi dekat mulut seorang bayi yang baru lahir disentuh, ia akan beraksi dengan mencoba mencari puting susu ibu. Isyarat awal dan refleks dasar ini terjadi dua bulan setelah kehamilan. Pada usia 8 bulan dari kehamilan, seluruh bagian tubuh seorang bayi sangat sensitif terhadap sentuhan, dan sensitivitas ini akan semakin meningkat selama lima hari pertama setelah kelahiran.

Mencium dan Merasa

Indra penciuman dan perasa ini juga mulai berkembang di rahim. Rasa dan bau makanan yang dikonsumsi calon Ibu dapat ditransmisikan kepada janin melalui cairan amniotik. Setelah melahirkan, transmisi yang sama juga terjadi melalui ASI.

Bayi yang baru lahir lebih memilih rasa manis dibandingkan rasa-rasa yang lainnya. Seorang bayi berumur enam hari yang mengonsumsi ASI lebih memilih aroma susu ibunya ketimbang ibu lain yang juga menyusui, tetapi bayi berusia 2 hari tidak demikian. Hal ini menunjukkan bahwa bayi membutuhkan beberapa hari pengalaman untuk belajar bau tubuh ibu mereka. Pemilihan rasa tertentu tampaknya merupakan hal yang alami.

Pendengaran

Indra pendengaran telah berfungsi sebelum kelahiran. Bayi tiga hari dapat mengetahui suara dari mereka yang telah mereka dengar sebelumnya. Pendengaran merupakan kunci dari perkembangan bahasa, kekurangan dalam pendengaran seharusnya diidentifikasi dan ditangani sedini mungkin, dengan cara bayi dipindai untuk mengetahui kelainan pendengaran dalam tiga bulan pertama (Thahir, 2018, hlm. 83).

Pengenalan dini terhadap suara dan bahasa yang didengar di dalam rahim merupakan fondasi hubungan antara orang tua dan anak. Bayi tiga hari dapat mengetahui suara dari mereka yang telah mereka dengar sebelumnya.

Penglihatan

Penglihatan merupakan indra yang baru berkembang tepat ketika seorang bayi dilahirkan. Mata seorang bayi yang baru lahir, lebih kecil dibandingkan mereka yang dewasa, struktur retinanya belum sempurna, dan saraf optiknya masih sedang berkembang. Bayi yang baru lahir buta di cahaya yang terang. Peralatan penglihatan mereka sangat sempit, dan akan menjadi dua kali lipat lebih luas pada usia 2 hingga 10 minggu.

Kemampuan untuk mengikuti target bergerak, dan juga persepsi terhadap warna, berkembang dengan cepat pada bulan pertama. Penglihatan menjadi semakin bagus pada tahun-tahun pertama. Penglihatan binokular atau penggunaan bola mata untuk fokus dan memungkinkan persepsi yang dalam dan jauh biasanya baru akan berkembang pada bulan ke-4 dan ke-5.

Perkembangan Motoris

Bayi tidak perlu diajarkan keterampilan motor dasar seperti merangkak, menggenggam, dan berjalan. Hal tersebut karena secara alami mereka hanya membutuhkan ruang gerak untuk bereksperimen dalam tingkahnya. Oleh karena itu, bayi membutuhkan kebebasan untuk melihat, merasakan, dan melatih sendiri apa yang bisa mereka lakukan, tentunya di bawah pengawasan orang tua.

Kontrol Kepala

Setelah lahir, sebagian besar bayi dapat menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan ketika ditidurkan terlentang. Ketika ditidurkan tengkurap, banyak yang dapat mengangkat kepala mereka cukup tinggi untuk dapat diputarkan. Dalam dua atau tiga bulan pertama, mereka akan mengangkat kepala mereka semakin tinggi hingga suatu ketika sampai pada titik di mana mereka kehilangan keseimbangan dan berguling. Pada usia 4 bulan, hampir semua bayi dapat menjaga kepala mereka tetap tegak ketika digendong dalam posisi duduk.

Kontrol Tangan

Bayi dilahirkan dengan refleks menggenggam. Apabila telapak tangan seorang bayi ditekan maka tangannya akan menggenggam dengan kuat. Pada usia 3 ½ bulan, sebagian bayi dapat menggenggam benda berukuran sedang seperti mainan, tapi kesulitan untuk memegang objek berukuran kecil. Antara 7-11 bulan, tangan mereka sudah cukup terkoordinasi untuk mengambil benda kecil seperti daun dengan menggunakan pincer grasp (cengkraman mencubit).

Locomotion

Setelah 3 bulan bayi akan mulai berguling dengan sengaja (bukan karena kebetulan seperti sebelumnya), duduk tanpa sandaran pada usia 6 bulan, dan bisa duduk tanpa bantuan sekitar 2 ½ bulan kemudian. Antara 6 dan 10 bulan, sebagian bayi sudah mulai merangkak dan merayap dengan kekuatan mereka sendiri. Dengan bertumpu pada tangan atau perabot, bayi normal dapat berdiri di usia 7 bulan ke atas. Kurang lebih 4 bulan kemudian bayi sudah dapat berdiri sendiri.

Perkembangan Kognitif Bayi (Postnatal)

Kognitif adalah daya untuk memproses dan mengatur informasi, baik itu kemampuan mengingat, belajar, dan sebagainya. Perkembangan kognitif bayi dapat dilihat dari tiga sudut pandang yang berbeda sesuai dengan landasan asumsi dasarnya. Beberapa pandangan tersebut adalah psikologi behavioristik, psikometrik, kognitif Piaget, dan pendekatan kontamporal. Salah satu yang paling banyak disepakati oleh para ahli adalah perkembangan kognitif Piaget yang akan disampaikan sebagai berikut.

Perkembangan Kognitif Bayi menurut Piaget

Piaget adalah tokoh besar dalam psikologi perkembangan dan kognitif. Dalam pendekatannya mengenai perkembangan anak, Piaget melihat adanya perubahan, tingkatan, di dalam kualitas suatu kognitif yang berfungsi. Beberapa tahap atau tingkatan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Tahap Sensorimotorik

Tahap pertama dari empat tahap Piaget tentang perkembangan kognitif adalah tahap sensorimotorik. Pada tahap ini (pada usia 2 tahun), bayi belajar tentang mereka dan dunianya melalui aktivitas sensor dan motorik yang sedang berkembang.

2. Sub-Tahap Sensorimotorik

Tahap sensorimotorik terdiri dari 6 sub-tahap, yang bergerak dari tahap satu ke tahap berikutnya sejalan dengan skema (schemes) seorang bayi, dan pola yang rumit dari tingkah laku, yang menjadi semakin terperinci. Berikut adalah sub-tahap sensorimotorik menurut Piaget (dalam Thahir, 2018, hlm. 91-94).

  1. Sub-tahap pertama (usia 1 bulan),
    bayi baru lahir mulai berlatih untuk mengambil alih refleks-refleks yang sudah ada sejak lahir, melibatkan diri dalam tingkah laku meskipun tidak ada stimulus normal pada saat itu. Contohnya adalah bayi yang baru lahir mulai menghisap secara refleks ketika bibir mereka disentuh.
  2. Sub-tahap kedua (usia 1-4 bulan),
    bayi mulai belajar untuk mengulangi perilaku-perilaku yang menghasilkan sensasi yang menyenangkan yang pada awalnya terjadi secara spontan, seperti menghisap jari. Mereka mulai tertarik pada bunyi, dan mulai menunjukkan kemampuan mengordinasi sebagai informasi sensorik (penglihatan dan pendengaran).
  3. Sub-tahap ketiga (umur 4-8 bulan),
    bersamaan dengan ketertarikan baru dalam memanipulasi objek dan mempelajari bagian tubuh mereka.Pada sub-tahap ini terjadi circular reaction sekunder, dimana bayi tersebut mengulang sebuah tindakan bukan karena dia mampu tetapi karena dia ingin mendapatkan hasil yang melampaui kemampuan tubuh bayi itu sendiri. Contohnya adalah bayi yang berusaha memainkan mainannya hanya untuk mendengarkan bunyi mainan tersebut.
  4. Sub-tahap keempat (8-12 bulan),
    bayi belajar menggeneralisasikan dari pengalaman lalu untuk memecahkan masalah. Bayi akan merangkak untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, menggenggamnya atau menjauhkan benda yang menghalangi sesuatu yang mereka inginkan (misalnya tangan orang lain).
  5. Sub-tahap kelima (12-18 bulan),
    bayi mulai mencoba perilaku baru untuk melihat apa yang terjadi. Setelah mereka mulai berjalan, maka mereka dapat lebih mudah mengeksplorasi lingkungan mereka. Mereka sekarang memasuki reaksi sirkular tersier, memvariasikan tindakan untuk mendapatkan hasil yang serupa, ketimbang hanya mengulang perilaku menyenangkan yang secara tidak sengaja mereka temukan. Misalnya, seorang balita mungkin akan meremas bebek plastiknya yang berbunyi ketika ia menginjaknya, untuk melihat apakah benda tersebut berbunyi kembali.
  6. Sub-tahap keenam (18- 2 tahun),
    merupakan transisi ketahap pra-operasional masa kanak-kanak awal.Kemampuan representasional (representational ability) kemampuan secara mental menghadirkan kembali objek dan tingkah laku dalam ingatan, cukup banyak melalui simbol seperti kata, angka, dan gambar mental – membebaskan anak dari pengalaman langsung. Mereka bisa berpura-pura, dan kemampuan representasional mereka mempengaruhi kepuasan mereka dalam berpura-pura.

Perkembangan Psikososial Bayi

Dasar dari perkembangan psikososial adalah emosi atau afeksi (perasaan) secara umum. Emosi, seperti kesedihan, sukacita, dan rasa takut, adalah reaksi subjektif terhadap pengalaman yang diasosiasikan dengan perubahan fisiologis dan tingkah laku. Misalnya, rasa takut akan disertai dengan gejala detak jantung lebih cepat dan berbagai tindakan melindungi diri seperti mata yang melotot untuk meningkatkan pandangannya.

Bayi yang baru lahir akan menunjukkan ekspresi ketika mereka tidak bahagia. Mereka menangis dengan kencang, menggerak-gerakkan tangan dan kaki, dan mengakukan tubuh. Sangat sulit untuk mengetahui kapan mereka sedang senang. Pada bulan pertama, mereka menjadi tenang ketika mendengar suara seseorang atau ketika digendong, dan mereka tersenyum ketika tangan mereka digerakkan bersama untuk bermain. Seiring dengan berjalannya waktu, bayi lebih merespons terhadap orang-orang di sekitarnya.

Menangis

Menangis adalah cara yang paling ampuh, dan kadang-kadang satu-satunya cara bayi untuk dapat mengomunikasikan kebutuhan mereka. Beberapa penelitian telah membedakan empat pola menangis: tangisan lapar (tangisan yang beritme, yang tidak selalu berhubungan dengan rasa lapar); tangisan marah (variasi tangisan beritme, di mana banyak udara dipaksakan melewati pita suara); tangisan sakit (tangisan tiba-tiba tanpa didahului rintihan, kadang-kadang diikuti dengan menahan napas), dan tangis frustrasi (dua atau tiga tangis, tanpa menahan napas panjang).

Tersenyum dan Tertawa

Senyum kecil paling dini terjadi secara spontan segera setelah lahir, yang ternyata adalah hasil dari aktivitas sistem saraf subkortikal. Senyuman involuntari ini sering muncul pada periode tidur REM. Senyum ini berkurang pada usia tiga bulan pertama . Senyum sadar paling dini dapat ditimbulkan oleh sensasi halus, seperti menggoyangkan dan meniup kulit bayi. Pada minggu kedua, bayi mungkin tersenyum mengantuk setelah diberi makan. Pada minggu ketiga, sebagian besar bayi mulai tersenyum ketika mereka terjaga dan memperhatikan anggukan kepala pengasuh dan suara pengasuh. Pada sekitar 1 bulan, senyum umumnya menjadi lebih sering dan lebih sosial.

Empati

Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri sendiri di posisi orang lain dan merasakan yang dirasakan orang tersebut, atau diharapkan merasakan, dalam situasi tertentu. Seperti perasaan bersalah, empati berkembang seiring dengan berjalannya usia. Makin anak mampu membedakan keadaan mentalnya dengan orang lain, mereka mampu merespons distres anak lain seperti distres mereka sendiri.

Empati berbeda dengan simpati, yang hanya melibatkan kesedihan atau kepedulian terhadap penderitaan orang lain. Baik empati dan simpati dapat menimbulkan tingkah laku sosial, seperti memberi kembali mainan.

Tempramen

Temperamen dideskripsikan sebagai bagaimana seseorang bertingkah laku. Namun, para peneliti memandang temperamen secara lebih luas, di mana mereka menganggap bahwa temperamen juga berkaitan dengan bagaimana mereka mengatur fungsi mental, emosional, dan perilaku mereka sendiri.

Perkembangan Psikososial Erikson

Erik Erikson adalah satu di antara para ahli yang melakukan ikhtiar itu, dari perspektif psikologi, ia menguraikan manusia dari sudut perkembangannya sejak dari masa 0 sampai usia lanjut. Kelebihan dari teori Erikson adalah bahwa ia mengurai seluruh siklus hidup manusia, tidak seperti freud yang hanya sampai masa remaja. Termasuk Erikson memasukkan faktor-faktor sosial yang mempengaruhi perkembangan tahapan manusia tidak hanya faktor libidinal sosial.

Selama perkembangan postnatal, menurut Erikson terdapat dua tahap yang mempengaruhi, yaitu:

  1. Trust Vs Mistrust (Percaya melawan Tidak percaya)
    Terjadi pada usia 0 s.d. 18 bulan Tingkat Pertama teori perkembangan psikososial Erickson antara kelahiran sampai satu tahun dan merupakan tingkatan hidup paling dasar. Oleh karena itu bayi sangat bergantung pada kepercayaan di dasarkan pada ketergantungan dan kualitas dari pengasuh kepada anak. Jika anak berhasil membangun kepercayaan, dia akan merasa selamat dan aman dalam dunia. Pengasuh yang tidak konsisten, tidak tersedia secara emosional, atau ,menolak dapat mendorong perasaan tidak percaya diri pada anak yang diasuh. Kegagalan dalam mengembangkan kepercayaan akan menghasilkan ketakutan dan kepercayaan bahwa dunia tidak konsisten dan tidak dapat di tebak.
  2. Autonomy vs Shame (Otonomi melawan Malu-malu)
    Terjadi pada usia 18-36 bulan Tingkat kedua dari teori perkembangan psikososial ini terjadi selama masa awal kanak-kanak berfokus pada perkembangan besar dari pengendalian diri. Erikson percaya bahwa latihan penggunaan toilet adalah bagian yang penting sekali dalam proses ini. Karena Erikson percaya bahwa belajar mengontrol fungsi tubuh seseorang akan membawa pada perasaan mengendalikan diri dan kemandirian, Kejadian-kejadian penting lain meliputi pemerolehan pengendalian lebih yakni atas pemilihan makanan mainan yang disukai, dan juga pemilihan pakaian Anak yang berhasil melewati tahap ini akan merasa aman dan percaya diri sementara yang gagal akan merasa tidak cukup dan ragu-ragu terhadap diri sendiri (Thahir, 2018, hlm. 113).

Referensi

  1. Ajhuri, K.F. (2019). Psikologi perkembangan pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Yogyakarta: Penebar Media Pustaka.
  2. Mariyati, L.I., Rezania, V. (2021). Psikologi perkembangan sepanjang hidup manusia. Sidoarjo: Umsida Press.
  3. Thahir, A. (2018). Psikologi perkembangan. Lampung: Aura Publishing.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.