Dewasa ini soft skills merupakan faktor penting yang dipertimbangkan oleh banyak organisasi dalam proses rekrutmen, selain keterampilan teknis yang harus dimiliki (hard skills). Tentunya, hard skills merupakan kemampuan konkret yang manfaatnya dapat dibutuhkan langsung oleh berbagai industri maupun lembaga pemerintahan. Akan tetapi, kemampuan teknis yang hebat namun tidak diiringi soft skills yang baik akan menjadi percuma.

Bagaimana tidak, secara umum soft skill/life skill adalah sekelompok sifat kepribadian ataupun kemampuan yang diperlukan seseorang agar secara efektif dapat bekerja ditempat kerja dan meningkatkan diri (Sumar & Razak, 2016, hlm. 79). Tanpa diiringi sifat, sikap, dan kepribadian yang mumpuni, kemampuan teknis tidak akan mampu dimanfaatkan dengan optimal dalam suatu organisasi, karena kemampuan pada akhirnya harus dikelola, dikoordinir, dan dikolaborasikan dengan berbagai kemampuan lain yang dimiliki oleh anggota-anggota organisasi lainnya.

Berdasarkan kebutuhan industri tersebut, bidang pendidikan yang menjadi garda depan dalam pengembangan kompetensi dan keterampilan individu juga semakin memperhatikan fenomena ini. Bahkan, jauh sebelum kemampuan ini “naik daun” dunia pendidikan juga sudah sepenuhnya menyadari bahwa soft skills merupakan penentu yang lebih tinggi dalam menyukseskan seseorang, jika dibandingkan dengan kemampuan teknis semata.

Berdasarkan hasil penelitian di Universitas Harvard, kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill), tetapi lebih ditentukan oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini menjelaskan bahwa, faktor hard skill berpengaruh hanya sebesar 20 persen saja terhadap kesuksesan seseorang, dan sisanya 80 persen adalah faktor soft skill (Irawan & Suprapti, 2018, hlm. 33-34).

Oleh karena itu, soft skills merupakan fenomena penting yang harus ditelaah dan teliti dalam berbagai bidang, baik untuk memaksimalkan potensi pribadi, maupun potensi bersosial seseorang. Berikut adalah berbagai uraian mengenai soft skills mulai dari definisi, klasifikasi kemampuannya, dan sebagainya.

Pengertian Soft Skills

Menurut Wibowo & Hamrin (2017, hlm. 130) soft skills adalah sebuah kemampuan di luar kemampuan teknis dan akademis yang dimiliki seseorang yang lebih mengutamakan kemampuan intrapersonal dan interpersonal. Dengan kata lain, soft skills merupakan berbagai kemampuan kebalikan atau komplemen dari hard skills yang berhubungan langsung dengan kemampuan dan keterampilan khusus seperti menulis, menggambar, menyelesaikan persamaan matematika, dan sebagainya.

Senada dengan pengertian di atas, Irawan & Suprapti (2018, hlm. 38) berpendapat bahwa soft skill adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal. Artinya soft skill merupakan kecakapan dasar yang dimiliki seseorang untuk mengelola diri, baik secara pribadi maupun secara sosial.

Sementara itu, menurut Elfindri dkk (2011, hlm. 67) soft skills merupakan keterampilan dan kecakapan hidup, baik untuk sendiri, berkelompok, atau bermasyarakat yang membuat keberadaan seseorang akan semakin terasa di tengah masyarakat melalui keterampilan akan berkomunikasi, keterampilan emosional, keterampilan berbahasa, keterampilan berkelompok, memiliki etika dan moral, santun, dan sebagainya. Definisi ini merinci lebih dengan lebih detail berbagai contoh kecakapan hidup yang dilingkupi oleh soft skills.

Selain untuk memiliki hubungan interpersonal dan intrapersonal yang berdampak langsung pada pada sosialisasi dan komunikasi dengan anggota masyarakat, soft skills juga erat kaitannya dengan kemampuan kepemimpinan dan keprofesian tertentu. Seperti yang diungkapkan oleh Mulyono (2011, hlm. 99) bahwa soft skills merupakan bagian dari kecerdasan intelektual seseorang, dan sering dijadikan syarat untuk memperoleh jabatan atau pekerjaan tertentu.

Soft skills memang merupakan bagian dari kecerdasan intelektual seseorang, akan tetapi, soft skills lebih berkaitan dengan EQ atau Emotional Intelligence Quotient), bukan IQ. EQ yang dimaksud adalah kumpulan karakter kepribadian, rahmat sosial, komunikasi, bahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimisme yang menjadi ciri hubungan dengan orang lain.

Dapat disimpulkan bahwa soft skills adalah kemampuan dan kecakapan dasar yang meliputi kemampuan interpersonal dan intrapersonal yang dapat membuat seseorang mampu berkomunikasi, berkoordinasi, dan berkolaborasi dengan lebih baik secara individu maupun berkelompok dengan cara memiliki keterampilan emosional, berbahasa, berkolaborasi, beretika, bertanggung jawab, serta memiliki kepekaan moral untuk mengelola diri, baik secara pribadi maupun secara sosial.

Kemampuan Intrapersonal dan Interpersonal

Seperti yang telah banyak dibahas dari pengertian soft skills dari para ahli di atas, soft skills terdiri atas dua kemampuan utama, yaitu intrapersonal dan interpersonal. Intrapersonal berhubungan dengan kemampuan yang mampu mengatur dirinya sendiri, seperti tanggung jawab, pengendalian diri dan kepercayaan diri. Sementara itu, Interpersonal merupakan kemampuan dalam bersosialisasi seperti kemampuan beradaptasi dengan orang lain, berbagi ilmu dengan orang lain, bekerja dalam tim dan kemampuan dalam memimpin. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah penjabaran kedua kemampuan ini.

Intrapersonal

Kemampuan Intrapersonal mencakup dua aspek utama, yaitu aspek kesadaran diri (self a wareness) dan kemampuan diri (self skill). Aspek kesadaran diri meliputi:

  1. Kepercayaan diri (self confident),
  2. Kemampuan untuk melakukan penilaian diri (self assesment),
  3. Pembawaan (trait & prefence), dan
  4. Kemampuan mengendalikan emosional (emotional a warness).

sedangkan aspek kemampuan meliputi:

  1. Upaya peningkatan diri (improvement),
  2. Kontrol diri dapat dipercaya (self control),
  3. Dapat mengelola waktu dan kekuatan (time management),
  4. Proaktif (proactivity), dan
  5. Konsisten (conscience) (Marzuki, 2015, hlm. 4).

Interpersonal

Sementara itu, kemampuan interpersonal mencakup kesadaran sosial (sosial a wareness) dan kemampuan sosial (sosial skill) untuk aspek kesadaran social, yang meliputi:

  1. Kemampaun kesadaran politik (political a warness).
  2. Pengembangan aspek-aspek yang lain (developing others).
  3. Berorientasi untuk melayani (service orientation).
  4. Empati (empaty) Sedangkan untuk aspek kemampuan sosial meliputi: a. Kemampuan memimpin (leadership), b. Mempunyai pengaruh (influence), c. Dapat berkomunikasi (communication), d. Mampu mengolah konflik (conflict management), e. Kooperatif dengan siapapun (cooperation), f. Dapat bekerja sama dengan tim (team work), g. Bersinergi (synergy) (Marzuki, 2015, hlm. 4).

Gabungan Interpersonal dan Intrapersonal Skill

Beberapa soft skills mengharuskan kita untuk menggabungkan kemampuan interpersonal dan intrapersonal skill. Beberapa keterampilan ini khususnya meliputi: kejujuran, tanggung jawab, berlaku adil, kemampuan bekerja sama, kemampuan beradaptasi, kemampuan berkomunikasi, toleran, hormat terhadap sesama, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan memecahkan masalah.

Dengan demikian, meskipun diklasifikasikan berbeda, kemampuan interpersonal dan intrapersonal merupakan kesatuan integral yang tidak dapat dipisahkan. Soft skills pada intinya merupakan gabungan keduanya yang harus disinkronisasikan pula.

Penguatan Soft Skills

Penguatan atau pengembangan soft skills terhadap suatu individu atau siswa merupakan persoalan yang sangat rumit. Hal ini karena soft skills sendiri merupakan kemampuan abstrak yang sulit untuk dilihat kriteria konkretnya. Mungkin Taksonomi Bloom kategori keterampilan karakter dapat membantu visualisasinya, akan tetapi pengaruh secara nyatanya tetaplah sulit untuk dievaluasi.

Soft skill sebenarnya dimiliki oleh setiap orang akan tetapi jumlah kadar yang dimiliki berbeda-beda. Hal ini bisa berubah kapan pun jika masing-masing individu mau memperbaiki dan mengubah kemampuan soft skill yang dimilikinya. Cara untuk mengembangkan soft skills sendiri adalah dengan cara dipraktekkan dan diasah terus menerus melalui berbagai pembelajaran di kelas, atau melalui pekerjaan real yang ada di lingkungan industri.

Misalnya, salah satu model pembelajaran yang efektif dalam mengasah kemampuan soft skills adalah Project Based Learning. Proyek merupakan kegiatan rumit yang melibatkan banyak pekerjaan dan “pekerja” yang melibatkan sistematika dan kolaborasi yang rumit pula dalam pelaksanaannya, terutama dalam aspek evaluasi.

Project based learning memerlukan pendampingan dan controlling ketat untuk terus memastikan bahwa semua orang bekerja sesuai dengan porsi dan bagian masing-masing. Padahal, sebagian besar siswa yang menjadi pasif adalah salah satu kendala terbesarnya. Terkadang, tugas berkelompok saja dapat menjadi one man show tanpa sepengetahuan guru atau dosennya, apalagi proyek yang melibatkan anggota dan waktu yang lebih banyak dalam penyelesaiannya. Dengan demikian, penguatan atau pengembangan softskills merupakan hal rumit yang harus dilakukan secara teliti, konstan, dan konsisten dalam pelaksanaan tindakannya.

Persiapan dan Pelaksanaan Pembelajaran untuk Meningkatkan Soft Skills

Elfindri dkk menyusun beberapa langkah persiapan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan soft skills. Menurut Elfindri dkk (2011, hlm. 137) beberapa persiapan dan langkah pembelajaran yang dapat menguatkan soft skills adalah sebagai berikut.

  1. Susun tujuan instruksional umum, dan tujuan instruksional khusus.
    Dalam kaitan ini yang menjadi kebutuhan adalah kemampuan untuk merumuskan kompetensi. Guru dan dosen mesti mampu merumuskan apa saja yang akan dicapai, sesuai dengan ranah pendidikan yang disampaikan sebelumnya.
  2. Masukan pada masing-masing sesi pelajaran soft skills apa yang akan dihasilkan.
    Setelah kompetensi masing-masing sesi dirumuskan, kemudian dapat pula memasukkan bagaimana cara pembelajaran yang menumbuhkan masing-masing soft skills yang diharapkan.
  3. Rencanakan bagaimana metode operasional melaksanakannya, baik pada masing-masing sesi ajar, maupun pada beberapa pertemuan.
  4. Lakukan uji coba pada suatu kelas atau sekelompok anak.
    Lakukan pengamatan-pengamatan terhadap anak-anak agar kemudian kita bisa melihat antara sebelum dan sesudah dilakukan uji coba dapat menghasilkan perbedaan yang nyata. Jika para guru ingin mempraktekkan suatu kaidah penelitian tindakan kelas, maka secara objektif mesti pula diukur seberapa berubah soft skills anak-anak dengan adanya salah satu perlakuan treatment yang diberikan.
  5. Review hasil uji coba untuk perbaikan.
    Sebuah proses penerapan metode menerapkan soft skills tidaklah semudah membalik telapak tangan. Kita perlu sabar, dan selalu memperbaiki bagaimana sebaiknya antara satu tahap ke tahap perbaikan pembelajaran.
  6. Finalisasi metoda pembelajaran.
    Setelah dilakukan cara berulang, maka kemudian dapat dituliskan dalam bentuk teaching manual sebuah pelajaran. Berisikan secara lengkap isi bahan ajar, metode mengajarkan, aspek soft skills dan metode mengajarkannya. (Elfindri dkk, 2011, hlm. 137).

Referensi

  1. Elfindri, Rumengan, J., Wello,M.B., Tobing,P., Yanti,F., Zein, Eriyani, E., dan Indra,R. (2011). Soft skills untuk pendidik. Cetakan Kedua. Penerbit: Baduose Media.
  2. Irawan, D.A., Suprapti, W. (2018). Revolusi soft skill memandu pembelajaran efektif dengan metode 7 m. Mojokerto: CV. Sepilar Publishing House.
  3. Marzuki. (2015). Pengembangan soft skill berbasis karakter melalui pembelajaran ips sekolah dasar. Jurnal UN, 4(2).
  4. Mulyono, I. (2011). Dari karya tulis ilmiah sampai dengan soft skills. Bandung: Yrama Widya.
  5. Warni Tune Sumar dan Intan Abdul Razak, Strategi Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Soft Skill, (Yogyakarta: Deepublish, 2016)
  6. Wibowo, A. & Hamrin. (2017). Menjadi guru berkarakter (strategi membangun kompetensi dan karakter guru. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *