Teori perkembangan merupakan berbagai asumsi dasar yang akan digunakan dalam berbagai penelitian psikologi perkembangan, baik untuk kepentingan ilmiah, akademik, maupun terapis atau konseling. Tentunya banyak ahli yang telah mengungkapkan hasil penelitian dan teori-teorinya yang hingga kini digunakan oleh cendekia, konselor, pendidik, maupun praktisi psikologi perkembangan lainnya untuk menjawab berbagai persoalan-persoalan mengenai psikologi perkembangan baik untuk peserta didik, anak, maupun individu lain pada umumnya.

Perkembangan dapat ditinjau dari berbagai aspek, baik itu pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, sosial, moral, maupun mentalitas atau keadaan psikologis secara umum. Berikut adalah berbagai teori-teori yang biasa digunakan untuk mengkaji psikologi perkembangan, mulai dari teori kepribadian Erikson, perkembangan moral Kohlberg, maturitas Gesell, kognitif Piaget, dan lain-lain.

Teori Perkembangan Erikson

Pusat dari teori Erikson mengenai perkembangan adalah perkembangan ego, yakni sebuah asumsi mengenai perkembangan setiap manusia yang merupakan suatu tahap yang telah ditetapkan secara universal dalam kehidupan setiap manusia. Proses yang terjadi dalam setiap tahap yang telah disusun sangat berpengaruh terhadap “Epigenetic Principle” yang sudah dewasa/matang.

Erikson berdalil bahwa setiap tahap menghasilkan epigenetic. Epigenetic berasal dari dua suku kata yaitu epi yang artinya “upon” atau sesuatu yang sedang berlangsung, dan genetic yang berarti “emergence” atau kemunculan. Gambaran dari perkembangan cermin mengenai ide dalam setiap tahap lingkaran kehidupan sangat berkaitan dengan waktu, yang mana hal ini sangat dominan dan karena itu muncul, dan akan selalu terjadi pada setiap tahap perkembangan hingga berakhir pada tahap dewasa, secara keseluruhan akan adanya fungsi/kegunaan kepribadian dari setiap tahap itu sendiri.

Dengan kata lain, Erikson mengemukakan persepsinya pada saat itu bahwa pertumbuhan berjalan berdasarkan prinsip epigenetic, yaitu:

  1. Pada dasarnya setiap perkembangan dalam kepribadian manusia mengalami keserasian dari tahaptahap yang telah ditetapkan sehingga pertumbuhan pada tiap individu dapat dilihat/dibaca untuk mendorong, mengetahui, dan untuk saling mempengaruhi, dalam radius soial yang lebih luas.
  2. Masyarakat, pada prinsipnya, juga merupakan salah satu unsur untuk memelihara saat setiap individu yang baru memasuki lingkungan tersebut guna berinteraksi dan berusaha menjaga serta untuk mendorong secara tepat berdasarkan dari perpindahan didalam tahaptahap yang ada.

Poin kedua adalah alasan mengapa teori perkembangan erikson sering disebut sebagai teori perkembangan sosial pula.

Tahap Perkembangan Erikson

Dalam bukunya yang berjudul “Childhood and Society” tahun 1963, Erikson membuat sebuah bagan untuk mengurutkan delapan tahap secara terpisah mengenai perkembangan ego dalam psikososial, yang biasa dikenal dengan istilah “delapan tahap perkembangan manusia”.

Delapan tahap/fase perkembangan kepribadian menurut Erikson memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat biologis dan di lain pihak bersifat sosial, yang berjalan melalui krisis diantara dua polaritas. Adapun tingkatan dalam delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia menurut Erikson adalah sebagai berikut.

Tahap Perkembangan Komponen Dasar
Infancy (0-1 tahun) Trust vs Mistrust
Early childhood (1-3 thn) Autonomy vs Shame, Doubt
Preschool age (4-5 thn) Initiative vs Guilt
School age (6-11 thn) Industry vs Inferiority
Adolescence (12-10 thn) Identity vs Identity Confusion
Young adulthood ( 21-40 thn) Intimacy vs Isolation
Adulthood (41-65 thn) Generativity vs Stagnation
Senescence (+65 thn) Ego Integrity vs Despair

Penjelasan lebih lanjut mengenai teori perkembangan Erikson dapat disimak di artikel dengan link di bawah ini.

Baca juga: Teori Perkembangan Erikson: 8 Tahapan dan Rinciannya

Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg

Menurut Kohlberg (dalam Thahir, 2018, hlm. 61) pendidikan moral harus mengacu pada perkembangan penalaran moral peserta didik, karena seiring dengan perkembangan anak mereka menjadi kurang bergantung pada hadiah (reward) dan hukuman (punishment) dalam pemberian penguatan (reinforcement), dan lebih bergantung pada satu rasa pribadi tentang benar dan salah. Hal ini dianggap mencerminkan internalisasi mereka atas kode moral masyarakat, perubahan dari kode moral eksternal ke internal ini merupakan fokus utama dalam kajian pendidikan moral. Tahap-tahap perkembangan moral menurut Kohlberg tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tingkat Tahap Deskripsi
Tingkat I Tahap 1: Moralitas Heteronomus

 

Perilaku moral dikaitkan dengan hukuman. Apapun yang dihargai adalah baik, apapun yang dihukum adalah buruk, anak-anak mematuhinya karena mereka takut dihukum.
Tahap 2: Individualisme tujuan dan Pertukaran Instrumental Mengejar kepentingan-kepentingan individual dipandang sebagai hal yang benar untuk dilakukan. Oleh karena itu, perilaku dikatakan baik apabila memenuhi kepentingan pribadi.
Tingkat II Tahap 3: Ekspektasiekspektasi antar pribadi timbal balik, keselarasan hubungan dan antar pribadi Rasa percaya dan kasih sayang dan kesetiaan dihargai dan dipandang sebagai basis penilaian moral. Anak-anak dan remaja mungkin mengadopsi standar2 moral orang tua mereka agar dianggap sebagai anak yang baik.
Tahap 4: Moralitas sistem-sistem Sosial “Baik” ditentukan oleh hukum2 masyarakat, dengan melakukan tugas asing2 . Hukum harus dipatuhi, bahkan jika itu tidak adil. Aturan dan hukum dipatuhi karena diperlukan untuk menjaga tatanan sosial. Keadilan dipandang sebagai hal yang harus ditegakkan.
Tingkat III Tahap 5: Kontrak Sosial dan hak-hak individual Nilai-nilai, hak-hak, dan prinsip-prinsip melampaui hukum. “Baik” dipahami dalam kaitan dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang telah disepakati masyarakat. Validitas hukum dievaluasi dan diyakini bahwa itu harus diubah jika tidak mempertahankan dan melindungi hak-hak dan nilai-nilai dasar.
Tahap 6: Prinsip-prinsip etika universal Pada tahap ini individu telah mengembangkan satu kode moral internal yang didasarkan pada nilai-nilai universal dan hak-hak manusia yang mendahului aturan2 dan hukum2 sosial. Ketika dihadapkan pada konflik antara hukum dan nurani, nurani akan diikuti meski ini dapat melibatkan risiko pribadi.

Sumber: Thahir (2018, hlm. 61)

Teori Perkembangan Maturitas Arnold L Gessel

Menurut Gessel, perkembangan manusia bergerak maju melalui suatu urutan teratur. Sejarah biologis dan evolusi spesies menentukan urutan tersebut. Tingkat kemajuan anak dalam melangkah melalui urutan genotip anak menentukan individu, yaitu nenek moyangnya mempengaruhi latar belakang keturunan anak. Seorang anak yang berkembang dengan kecepatan lambat bila dibandingkan dengan anak lain tidak dapat diubah dari arah yang sedang ditempuhnya, begitu juga dengan anak yang berkembang lebih cepat tidak bisa diubah arahnya (Salkind, 2009, hlm. 79 dalam Thahir, 2018, hlm. 6).

Lingkungan juga dapat mempengaruhi kecepatan perkembangan seorang anak. Menurut Salkind, bahwa tingkat kecepatan perkembangan bisa dipengaruhi oleh kekurangan gizi atau sakit, akan tetapi faktor-faktor biologi sepenuhnya berada dalam kendali.

Konsep Pematangan (Maturity)

Pertumbuhan dan perkembangan menurut Gessel dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni:

  1. Anak adalah produk dari lingkungannya.
  2. Perkembangan anak berasal dari dalam, yaitu dari aksi gen-gen tubuhnya.

Kedua proses di atas disebut sebagai “konsep pematangan” atau “kematangan” (Crain, 2007, hlm. 30 dalam Thahir, 2018, hlm. 56).

Perkembangan kematangan menurut Gessel selalu terjadi dalam urutan tertentu. Misalnya embrio, jantung menjadi organ yang pertama berkembang dan berfungsi. Selanjutnya sel-sel yang berbeda-beda mulai membentuk sistem saraf utama dengan cepat yaitu otak dan saraf tulang belakang. Berikutnya adalah perkembangan otak dan kepala secara utuh baru dimulai setelah bagian-bagian lain terbentuk seperti tangan dan kaki. Urutan ini yang diarahkan oleh cetak biru genetik, tidak pernah berjalan terbalik (Crain, 2007, hlm. 30 dalam Thahir, 2018, hlm. 7).

Pola Perkembangan Kematangan

Menurut Gessel, pada proses pematangan terdapat pola yang terlihat pada visi dan koordinasi tangan-mata yang meliputi:

  1. Gerakan tanpa tujuan pada saat lahir;
  2. Bertahap kemampuan untuk berhenti dan menatap;
  3. 1 bulan – fokus pada objek dekat wajah;
  4. 4 bulan – koordinasi visual fokus dan tangan bergerak dengan objek yang besar (misalnya kerincingan);
  5. 6 bulan – koordinasi visual fokus dan tangan bergerak dengan sebuah benda kecil; dan
  6. 10 bulan – kemampuan untuk melihat dan mengambil sebuah benda kecil dengan menjepit atau pegangan.

Prinsip-prinsip Dasar perkembangan Gessel

Gessel menggambarkan secara lengkap mengenai perkembangan dengan menyatukan prinsip-prinsip dasar pertumbuhan morfologis dengan prinsip-prinsip dasar pertumbuhan behavioral untuk menunjukkan bagaimana pertumbuhan terjadi. Prinsip-prinsip dasar perkembangan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

  1. Prinsip arah perkembangan (principle of developmental direction).
    Perkembangan tidak berlangsung acak, melainkan dalam pola yang teratur.
  2. Prinsip jalinan timbal balik (principle of reciprocal interweaving).
    Prinsip ini didasarkan pada prinsip fisiologis Sherrington yaitu pengencangan dan peregangan otot-otot yang berbeda-beda sama-sama saling melengkapi untuk menghasilkan gerakan tubuh yang efisien.
  3. Prinsip asimetri fungsional (principle of functional asymmetry).
    Perilaku berlangsung melalui periode-periode perkembangan yang bersifat asimetris (tidak seimbang) agar organisme bisa mencapai kadar kematangan pada tahap selanjutnya.
  4. Prinsip maturasi individu (principle of individual maturation).
    Pematangan (maturasi) merupakan proses yang dikendalikan oleh faktor-faktor endrogen atau internal.
  5. Prinsip fluktuasi teratur (principle of self-regulatory).
    Prinsip ini mengandung arti bahwa perkembangan bergerak naik turun seperti papan jungkit, antara periode stabil dan periode tidak stabil, dan antara periode pertumbuhan aktif dan periode konsolidasi.

Teori Perkembangan Ekologi Urie Brofenbrenner

Teori ekologi dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner (1917) yang fokus utamanya adalah pada konteks sosial di mana anak tinggal dan orang-orang yang memengaruhi perkembangan anak. Lima sistem lingkungan teori ekologi Bronfenbrenner terdiri dari lima sistem lingkungan yang merentang dari interaksi interpersonal sampai ke pengaruh kultur yang lebih luas. Lima sistem tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Mikrosistem,
    adalah setting di mana individu menghabiskan banyak waktu. Beberapa konteks dalam sistem ini antara lain adalah keluarga, teman sebaya, sekolah, dan tetangga. Dalam mikrosistem ini, individu berinteraksi langsung dengan orang tua, guru, teman seusia, dan orang lain. Menurut Bronfenbrenner, murid bukan penerima pengalaman secara pasif di dalam setting ini, tetapi murid adalah orang yang berinteraksi secara timbal balik dengan orang lain dan membantu mengonstruksi setting tersebut.
  2. Mesosistem,
    adalah kaitan antar-mikrosistem. Contoh adalah hubungan antara pengalaman dalam keluarga dengan pengalaman di sekolah, dan antara keluarga dan teman sebaya. Misalnya, salah satu mesosistem penting adalah hubungan antara sekolah dan keluarga. Dalam sebuah studi terhadap seribu anak kelas delapan (atau setingkat kelas 3 SMP ke awal SMA (Epstein, 1983). murid yang diberi kesempatan lebih banyak untuk berkomunikasi dan mengambil keputusan, entah itu di rumah atau di kelas, menunjukkan inisiatif dan nilai akademik yang lebih baik.
  3. Eksosistem (exosystem),
    terjadi ketika pengalaman di setting lain (di mana murid tidak berperan aktif) memengaruhi pengalaman murid dan guru dalam konteks mereka sendiri. Misalnya, ambil contoh dewan sekolah dan dewan pengawas taman di dalam suatu komunitas. Mereka memegangi peran kuat dalam menentukan kualitas sekolah, taman, fasilitas rekreasi, dan perpustakaan. Keputusan mereka bisa membantu atau menghambat perkembangan anak.
  4. Makrosistem,
    adalah kultur yang lebih luas. Kultur adalah istilah luas yang mencakup peran etnis dan faktor sosioekonomi dalam perkembangan anak. Kultur adalah konteks terluas di mana murid dan guru tinggal, termasuk nilai dan adat istiadat masyarakat. Misalnya, beberapa kultur (seperti si negara Islam semacam Mesir atau Iran), menekankan pada peran gender tradisional. Kultur lain (seperti di AS) menerima peran gender yang lebih bervariasi. Di kebanyakan negar Islam, sistem pendidikannya mempromosikan dominasi pria. Di Amerika, sekolah-sekolah semakin mendukung nilai kesetaraan antara pria dan wanita.
  5. Kronosistem,
    adalah kondisi sosiohistoris dari perkembangan anak. Misalnya, murid-murid sekarang ini tumbuh sebagai generasi yang tergolong pertama (Louv, 1990). anak-anak sekarang adalah generasi pertama yang mendapatkan perhatian setiap hari, generasi pertama yang tumbuh di lingkungan elektronik yang dipenuhi oleh komputer dan bentuk media baru, generasi pertama yang tumbuh dalam revolusi seksual, dan generasi pertama yang tumbuh di dalam kota yang semrawut dan tak terpusat, yang tidak lagi jelas batas antara kota, pedesaan atau pinggiran kota.

Teori Perkembangan Piaget

Piaget (1964 dalam Thahir, 2018, hlm. 18) berpendapat karena manusia secara genetik sama dan mempunyai pengalaman yang hampir relatif sama saat dilahirkan. Teori perkembangan kognitif Piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dengan dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian di sekitarnya.

Bagaimana anak mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek, seperti mainan, perabot, dan makanan, serta objek-objek sosial seperti diri, orang tua dan teman. Menurut Piaget, perkembangan manusia melalui empat tahap perkembangan kognitif dari lahir sampai dewasa. Setiap tahap ditandai dengan munculnya kemampuan intelektual baru di mana manusia mulai mengerti dunia yang bertambah kompleks.

  1. Sensori motor (0-2 tahun)
    Menunjuk pada konsep permanensi objek, yaitu kecakapan psikis untuk mengerti bahwa suatu objek masih tetap ada.
  2. Praoperasional (2-7 tahun)
    Perkembangan kemampuan menggunakan simbol-simbol yang menggambarkan objek yang ada di sekitarnya. Berpikir masih egosentris dan berpusat.
  3. Operasional konkret (7-11 tahun)
    Mampu berpikir logis. Mampu konkret memperhatikan lebih dari satu dimensi sekaligus dan juga dapat menghubungkan dimensi ini satu sama lain. Kurang egosentris. Belum bisa berpikir abstrak.
  4. Operasional formal (11-dewasa)
    Mampu berpikir abstrak dan dapat menganalisis masalah secara ilmiah dan kemudian menyelesaikan masalah.

Penjelasan lengkap mengenai teori perkembangan kognitif Piaget dapat disimak pada artikel di bawah ini.

Baca juga: Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Referensi

  1. Thahir, A. (2018). Psikologi perkembangan. Lampung: Aura Publishing.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.