Aspek perkembangan manusia, individu, maupun spesifik terhadap peserta didik merupakan berbagai sudut pandang yang dapat digunakan untuk mengkaji, meneliti, maupun sekedar memperhatikan perkembangan yang terjadi pada seorang individu. Perhatian terhadap berbagai aspek perkembangan ini penting dilakukan karena manusia adalah makhluk yang kompleks dan tidak dapat digeneralisir dari satu sisi saja.

Aspek perkembangan manusia juga merupakan bagian penting dalam studi khusus pada manusia terkait dengan perkembangannya, seperti pada psikologi perkembangan yang biasa diaplikasikan pada psikologi umum maupun pendidikan. Dengan demikian, aspek perkembangan amatlah krusial dan penting untuk benar-benar dipahami secara mendasar dan mendalam untuk menggeluti bidang psikologi, pendidikan, ilmu kesehatan, maupun manajemen sumber daya manusia agar kita mengerti potensi dari perkembangan manusia.

Perlu menjadi catatan bahwa sesungguhnya perkembangan tidaklah terjadi secara terpisah-pisah. Namun dalam rangka melakukan penelitian yang objektif dan analitis (rinci) para psikolog perkembangan memilah-milah perkembangan tersebut. Seperti bagaimana Dodge dkk (2002 dalam Maryati & Rezania, 2021, hlm. 8) yang membagi perkembangan menjadi empat aspek, yakni faktor sosial dan emosional pada seseorang, aspek tubuh atau yang disebut fisik, aspek daya pikir atau kognitif, dan juga kemampuan berbahasa atau linguistik.

Pendapat lain menyebut bahwa terdapat 6 aspek perkembangan individu yang terdiri atas: fisik-motorik, sosial-emosional, kognitif, bahasa, dan seni. Namun, secara umum, para ahli banyak yang sepakat bahwa perkembangan manusia terdiri atas 8 aspek yang dimaksud meliputi: perkembangan fisik, inteligensi, emosi, bahasa, sosial, kepribadian, moral, bahkan hingga kesadaran beragama (Ajhuri, 2019, hlm. 29). Untuk lebih jelasnya, berikut adalah penjelasan lengkap mengenai aspek-aspek perkembangan manusia mulai dari perkembangan fisik terlebih dahulu.

Perkembangan Fisik Motorik

Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan terbentuk pada periode prenatal (sebelum dilahirkan). Kuhlen dan Thompson (dalam Hurlock, 1956 dalam Ajhuri, 2019, hlm. 29) berpendapat bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu:

  1. sistem syaraf yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi;
  2. otot yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik;
  3. kelenjar endokrin yang menyebabkan munculnya pola tingkah laku baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis; dan
  4. struktur fisik atau tubuh yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi.

Aspek fisiologis lainnya yang sangat penting adalah otak. Otak dapat dikatakan sebagai pusat perkembangan dan fungsi kemanusiaan. Berdasarkan fungsinya otak dibedakan menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kiri dan kanan.

  1. Otak Kiri,
    berfungsi untuk berpikir rasional, ilmiah, logis, kritis, linier, analitis, referensial, dan konvergen.
  2. Otak Kanan,
    digunakan untuk berpikir non-linier, non-verbal, intuitif, imajinatif, nonrefensial, divergen dan bahkan mistik.

Pertumbuhan otak yang normal akan berpengaruh positif bagi perkembangan aspek-aspek lainnya. Sedangkan apabila pertumbuhan otak tidak normal cenderung akan menghambat perkembangan aspek-aspek tersebut.

Perkembangan Kognitif dan Inteligensi

Perkembangan kognitif berkaitan dengan pengolahan dan pemrosesan informasi pada manusia yang meliputi berpikir, belajar, mengingat, bernalar, dan sebagainya. Seperti yang diungkapkan oleh Mariyati & Rezania (2021, hlm. 8) bahwa perkembangan kognitif berhubungan dengan perhatian, memori, bahasa, berpikir, berargumen, dan kreativitas individu.

Menurut Piaget, perkembangan manusia melalui empat tahap perkembangan kognitif dari lahir sampai dewasa. Setiap tahap ditandai dengan munculnya kemampuan intelektual baru di mana manusia mulai mengerti dunia yang bertambah kompleks. Tahap perkembangan kognitif pada individu menurut Piaget adalah sebagai berikut.

  1. Sensori motor (0-2 tahun),
    Menunjuk pada konsep permanensi objek, yaitu kecakapan psikis untuk mengerti bahwa suatu objek masih tetap ada.
  2. Praoperasional (2-7 tahun),
    Perkembangan kemampuan menggunakan simbol-simbol yang menggambarkan objek yang ada di sekitarnya. Berpikir masih egosentris dan berpusat.
  3. Operasional konkret (7-11 tahun),
    Mampu berpikir logis. Mampu konkret memperhatikan lebih dari satu dimensi sekaligus dan juga dapat menghubungkan dimensi ini satu sama lain. Kurang egosentris. Belum bisa berpikir abstrak.
  4. Operasional formal (11-dewasa),
    Mampu berpikir abstrak dan dapat menganalisis masalah secara ilmiah dan kemudian menyelesaikan masalah (Thahir, 2018, hlm. 19).

Intelegensi

Intelegensi adalah bagian atau dapat disebut sebagai saudara kandung aspek kognitif yang spesifik meninjau berbagai unsurnya dalam beradaptasi untuk memecahkan suatu generalisasi, pattern recognition, atau permasalahan tertentu lainnya. Menurut C.P. Chaplin (1975 dalam Yusuf dalam Ajhuri, 2019, hlm. 30) intelegensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.

Melalui Test intelegensi, kita dapat mengklasifikasikan intelegensi individu berdasarkan skor IQ yang didapatkannya. Klasifikasi intelegensi berdasarkan Test IQ tersebut adalah sebagai berikut.

Skor IQ (Intelligence Quotient) Klasifikasi
140 – ke atas Jenius

Merupakan kelompok yang memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah dan menemukan sesuatu yang baru, walaupun mereka tidak bersekolah. Namun demikian sering kali kelompok ini menemukan kesulitan sosial karena memiliki paradigma yang cenderung berbeda dengan orang lain.

130 – 139 Sangat cerdas
Merupakan kelompok yang lebih cakap dalam membaca, mempunyai pengetahuan tentang bilangan yang sangat baik, perbendaharaan kata yang sangat luas dan cepat memahami pengertian yang abstrak.
120 – 129 Cerdas
Merupakan kelompok yang sangat berhasil dalam pekerjaan sekolah atau akademik. Mereka sering kali terdapat dalam kelas biasa dan mereka menjadi pemimpin di kelas tersebut.
110 – 119 Di atas normal
Merupakan kelompok yang normal tetapi berada pada tingkat yang tinggi.
90 – 109 Normal
Merupakan kelompok yang normal atau rata-rata yang terbesar presentasenya dalam populasi penduduk.
80 – 89 Di bawah normal
Merupakan kelompok yang agak lambat dalam belajarnya. Mereka dapat menyelesaikan sekolah menengah tingkat pertama tetapi agak kesulitan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
70 – 79 Bodoh
Kelompok ini dapat melaksanakan sekolah lanjutan pertama tetapi sukar sekali untuk dapat menyelesaikan kelas-kelas akhir sekolah menengah pertama.
50 – 69 Terbelakang (moron atau debil)
merupakan kelompok yang sampai tingkat tertentu dapat belajar membaca, menulis, dan membuat perhitungan-perhitungan sederhana, dapat diberikan pelajaran rutin tertentu yang tidak memerlukan perencanaan dan pemecahan.
49 ke bawah Terbelakang (imbecile dan idiot)
Imbecile dapat belajar bahasa, dan dapat mengurus dirinya sendiri. Kecerdasannya sama dengan anak normal berumur 3 sampai 7 tahun. Sedangkan idiot tidak dapat berbicara atau hanya dapat mengucapkan beberapa kata saja. Rata-rata perkembangan intelegensinya sama dengan anak normal usia 2 tahun. Badannya kurang tahan terhadap penyakit.

Perkembangan Emosi

Emosi adalah perasaan jiwa yang meliputi perasaan bahagia, duka, cinta atau suka, benci, dll (Colman, 2009 dalam Ajhuri, 2019, hlm. 33). Aspek emosi berkembang seiring dengan usia manusia. Perkembangan emosi banyak dipengaruhi oleh perkembangan fisik sistem syaraf yang terdapat dalam otak.

Emosi adalah respons terhadap stimulus tertentu, misalnya saat seseorang merasa bahagia karena telah mendapatkan pencapaian seperti lulus sekolah atau kuliah, dia akan meluapkan emosi kegembiraannya ada yang berteriak bahkan ada juga yang menangis karena luapan emosi kegembiraannya (Syah dalam Ajhuri, 2019, hlm. 33).

Emosi dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu:

  1. Emosi sensoris,
    yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar.
  2. Emosi psikis,
    yaitu emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan. Yang termasuk emosi ini, di antaranya adalah:
      1. Perasaan intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran. Perasaan ini diwujudkan dalam bentuk,rasa yakin dan tidak yakin terhadap suatu karya ilmiah, rasa gembira karena mendapat suatu kebenaran, rasa puas karena dapat menyelesaikan persoalan-persoalan ilmiah yang harus dipecahkan.
      2. Perasaan sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok.
      3. Perasaan susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral).
      4. Perasaan keindahan, yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian. Perasaan ketuhanan, yaitu perasaan untuk mengenal tuhannya.

Perkembangan Bahasa

Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa merupakan faktor hakiki yang membedakan manusia dengan hewan. Bahasa juga merupakan anugerah dari tuhan yang dengannya manusia dapat mengenal atau memahami dirinya, sesama manusia, dan alam.

Bahasa erat kaitannya dengan perkembangan berpikir individu. Perkembangan pikiran individu tampak dalam perkembangan bahasannya, yaitu kemampuan membentuk pengertian, menyusun pendapat, dan menarik kesimpulan.

Tugas-tugas perkembangan bahasa di antaranya:

  1. Pemahaman, yaitu kemampuan memahami makna ucapan orang lain.
  2. Pengembangan perbendaharaan kata.
  3. Penyusunan kata-kata menjadi kalimat.
  4. Hubungan keluarga , yaitu hubungan dari proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga.

Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial merupakan proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi serta meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama (Yusuf dalam Ajhuri, 2019, hlm. 36).

Salah satu hal yang penting dalam perkembangan sosial adalah pentingnya pengalaman sosial awal. Pengalaman sosial awal cenderung menetap. Mempelajari sikap dan perilaku sosial dengan baik atau buruk pada pengalaman sosial awal akan memudahkan atau menyulitkan perkembangan sosial anak selanjutnya. Seperti, anak yang lebih berinteraksi dengan manusia akan mengembangkan keterampilan sosial yang lebih baik daripada anak yang bermain sendiri dengan benda dan alat permainannya (Rochmah dalam Ajhuri, 2019, hlm. 36).

Perkembangan aspek sosial diawali pada masa kanak-kanak usia 3 tahun yang akan berinteraksi dengan teman-teman sepermainannya. Perkembangan sosial individu akan berkembang seiring dengan pertambahan usia dan pergaulannya. Faktor perkembangan sosial individu di antaranya adalah orang tua, pendidikan formal maupun informal, lingkungan sehari-hari, dan teman (Syah dalam Ajhuri, 2019, hlm. 37).

Bentuk-bentuk tingkah laku sosial di antarannya adalah sebagai berikut.

  1. Pembangkangan, yaitu suatu bentuk tingkah laku melawan.
  2. Agresi, yaitu perilaku menyerang balik secara fisik maupun kata-kata.
  3. Berselisih atau bertengkar, yaitu apabila seseorang merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap dan perilaku orang lain.
  4. Menggoda, yaitu sebagai bentuk tingkah laku yang agresif.
  5. Persaingan, yaitu keinginan untuk melebihi atau menandingi apa yang dimiliki orang lain.
  6. Kerja sama, yaitu sikap mau bekerja sama dengan orang lain.
  7. Tingkah laku berkuasa, yaitu tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi untuk berkuasa di suatu kelompok.
  8. Mementingkan diri sendiri, yaitu sikap egosentris dalam memenuhi keinginan.
  9. Simpati, yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain.

Perkembangan Kepribadian

Kepribadian adalah kualitas perilaku individu yang tampak dalam melakukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan secara unik (Makmun dalam Ajhuri, 2019, hlm. 38). Keunikan penyesuaian tersebut sangat berkaitan dengan aspek-aspek kepribadian, yang meliputi:

  1. Karakter, yaitu ciri khas yang dimiliki individu, misalnya dia berkarakter lembut, suka marah, dll.
  2. Tempramen, yaitu cepat atau lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
  3. Sikap, yaitu respon terhadap objek baik yang bersifat positif maupun negatif.
  4. Responsibilitas (tanggung jawab), yaitu kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan (Yusuf dalam Ajhuri, 2019, hlm. 38).
  5. Kawan sebaya, yaitu jika seseorang berkawan dengan anak yang baik kemungkinan besar ia akan berkepribadian baik pula (Syah dalam Ajhuri, 2019, hlm. 38).

Karakteristik kepribadian yang sehat ditandai dengan mampu menilai diri secara realistik, mampu menilai situasi secara realistik, mampu menilai prestasi yang diperoleh, menerima tanggung jawab, kemandirian, dapat mengontrol emosi, berorientasi tujuan, berorientasi keluar, penerimaan sosial, bahagia.

Karakteristik kepribadian yang tidak sehat ditandai dengan mudah marah, menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan, seiring merasa tertekan, bersikap kejam, ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang, dll.

Perkembangan Moral

Istilah moral berasal dari kata latin “mos” (moris) yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan atau nilai-nilai kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Nilai moral itu, seperti seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban, keamanan dan larangan untuk berbuat jahat (Yusuf dalam Ajhuri, 2019, hlm. 39).

Tingkatan tertinggi dalam perkembangan moral adalah melakukan sesuatu perbuatan bermoral, karena panggilan hati nurani, tanpa perintah, tanpa harapan akan sesuatu imbalan atau pujian. Secara potensial tingkatan moral ini dapat dicapai oleh individu pada akhir masa remaja, tetapi faktor-faktor dalam diri dan lingkungan individu sangat berpengaruh terhadap pencapaiannya (Rocmah dalam Ajhuri,, 2019, hlm. 39).

Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan moral:

  1. Konsisten dalam mendidik anak.
  2. Sikap orang tua dalam keluarga.
  3. Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut (Yusuf dalam Ajhuri, hlm. 40).

Perkembangan Kesadaran Beragama

Fitrah beragama ini merupakan disposisi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan untuk berkembang. Namun, mengenai arah dan kualitas perkembangan beragama anak sangat bergantung kepada proses pendidikan yang diterimanya. Norma keagamaan juga mengandung ajaran moral sebagaimana yang tercermin dalam pelajaran akhlak. Menurut Barbara Jones memandang bahwa merosotnya moral suatu bangsa terjadi saat agama kehilangan pengaruh dan kekuatannya (Syah dalam Ajhuri, hlm. 40).

Referensi

  1. Ajhuri, K.F. (2019). Psikologi perkembangan pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Yogyakarta: Penebar Media Pustaka.
  2. Mariyati, L.I., Rezania, V. (2021). Psikologi perkembangan sepanjang hidup manusia. Sidoarjo: Umsida Press.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.