Contoh fabel dalam artikel ini ditulis dengan singkat namun tetap mengikuti struktur dan kaidah yang harus diikuti dalam menulis teks fabel. Berikut adalah beberapa contoh teks fabel dengan berbagai tema dan bentuk seperti: fabel pendek (singkat), panjang, adaptasi, alami, dsb.

Contoh Fabel Pendek

Singa dan Tikus

Orientasi

Suatu ketika, seekor singa tengah tertidur di hutan dengan pose kepalanya yang besar bertumpu pada kedua cakarnya. Tiba-tiba, seekor tikus kecil yang pemalu tidak sengaja menghampirinya.

Komplikasi

Dengan ketakutan dan tergesa-gesa untuk melarikan diri, ia malah berlari melintasi hidung Sang Singa.

Terbangun dari tidurnya, Singa itu dengan marah meletakkan kakinya yang besar di atas makhluk kecil itu.

Klimaks

“Ampuni aku wahai Singa!” pinta Tikus yang malang itu.

“Tolong biarkan aku pergi dan suatu hari aku pasti akan membala budimu.”

Singa itu lalu tertawa terbahak-bahak karena berpikir bahwa Tikus itu tidak mungkin dapat membantunya.

“Memangnya makhluk sekecil kamu bisa bantu apa?” ucap Singa sambil tertawa. Namun karena iba, sang Singa akhirnya tetap melepaskan Tikus itu.

Resolusi

Beberapa hari kemudian, saat sedang mengintai mangsanya di hutan, Singa tersebut ternyata masuk ke dalam jebakan seorang pemburu. Ia tidak dapat membebaskan dirinya sendiri, dan meraung karena marah. Tikus dengan segera mengetahui suara itu dan berhasil menemukan Singa yang terperangkap di jarring pemburu.

Sang tikus berlari ke salah satu tali besar yang mengikatnya, dia menggerogotinya sampai terputush, dan dengan segera Singa itu dapat bebas.

“Kamu tertawa saat kubilang aku akan membalas budi kamu,” kata Tikus.

“Sekarang kamu tahu kan, bahwa Tikus pun dapat membantu seekor Singa.”

Koda

Sekecil apa pun itu kebaikan tetaplah kebaikan. Bahkan meskipun tampaknya kecil seperti tikus jika dibandingkan dengan singa, kebaikan itu tak akan pernah berujung sia-sia.

Contoh Fabel Adaptasi

Fabel adaptasi adalah fabel yang mengubah watak asli binatang pada dunia nyata dan menggunakan watak atau latar manusia sebagai latarnya, misalnya tikus memiliki rumah dan melakukan aktivitas rapat seperti manusia. Berikut adalah salah satu contohnya.

Rapat Para Tikus

Orientasi

Suatu ketika, para Tikus mengadakan rapat di balai desa Tikus untuk menyusun rencana dalam rangka membebaskan diri dari musuh mereka,  yakni sang Kucing. Setidaknya, mereka ingin menemukan cara untuk mengetahui kapan dia akan datang, jadi mereka memiliki waktu untuk melarikan diri.

Sesungguhnya, sesuatu harus dilakukan, karena mereka hidup dalam ketakutan terus-menerus terhadap cakarnya sehingga mereka hampir tidak berani bergerak dari sarang mereka siang atau malam.

Konflik

Banyak rencana dibahas, tetapi tidak satupun yang dianggap cukup baik. Akhirnya, seekor Tikus yang sangat muda bangkit dan berkata:

“Saya punya rencana yang tampaknya sangat sederhana, tetapi saya yakin ini akan berhasil,”

“Yang harus kita lakukan adalah menggantungkan lonceng kecil di leher Kucing. Saat kita mendengar lonceng berbunyi, maka kita akan segera tahu bahwa musuh kita akan datang. ”

Para warga desa Tikus merespons ide tersebut dengan antusias. Mayoritas dari mereka sangat setuju dengan ide yang brilian tersebut.

Klimaks

Semua Tikus benar-benar sangat terkejut karena tidak satu pun dari mereka yang pernah memikirkan rencana seperti itu sebelumnya. Tetapi di tengah kegembiraan atas keberuntungan mereka, seekor tikus tua muncul dan meminta izin untuk berbicara di depan mimbar balai desa.

Resolusi

“Mohon maaf sebelumnya, izinkan saya untuk mengemukakan pendapat,”

“Sebetulnya saya juga setuju bahwa rencana Tikus muda itu sangatlah bagus. Tapi izinkan saya mengajukan satu pertanyaan: Siapa yang akan membunyikan Kucing?”

Semua Tikus dalam rapat tersebut kini saling memandang dan mengerutkan alisnya. Mereka baru sadar bahwa tidak akan ada yang berani melakukannya. Karena mendekati kucing untuk menggantungkan kalung lonceng di lehernya adalah sama dengan bunuh diri.

Koda

Mengatakan bahwa sesuatu harus dilakukan adalah satu hal yang sangat baik. Mengkritik atau mengajukan ide bisa menjadi sangat mudah. Namun, dalam praktiknya, untuk mampu melakukan sesuatu dan benar-benar dapat memberikan perubahan adalah hal yang sangat sulit dan harus dipikirkan lebih matang lagi.

Contoh Fabel Alami

Seperti namanya, fabel alami memberikan watak sebagaimana binatang itu di alam, latar yang digunakan juga alamiah seperti: hutan, sungai, danau, dsb. Berikut adalah salah satu contoh fabel alami.

Kucing & Rubah

Orientasi

Suatu ketika seekor Kucing dan Rubah bepergian bersama. Dalam perjalanan, mereka menyempatkan diri untuk mempersiapkan bekal di jalan. Mereka berburu tikus liar di sini, ayam gemuk di sana yang pada akhirnya malah memercikan pertengkaran pertengkaran mengenai hasil buruannya.

Konflik

Mereka mendebatkan mengenai jatah bekal dan siapa yang berburu lebih banyak. Seperti yang biasa terjadi saat teman sedang berseteru, pembicaraan mulai bersifat personal.

“Kamu pikir kamu pinter banget ya, Kucing?” kata si Rubah.

“Kamu mau pura-pura tau lebih banyak daripada aku? Jangan macam-macam, Aku ini lebih cerdik dan licik darimu!”

“Yah,” balas si Kucing, “Kuakui aku hanya punya satu keahlian, tapi biar kuberitahu, satu keahlian ini jauh lebih hebat dari ratusan akalmu!”

Klimaks

Saat itu juga, di dekat mereka, mereka mendengar terompet pemburu dan gonggongan sekelompok anjing. Dalam sekejap Kucing itu naik ke atas pohon, dan bersembunyi di antara dedaunan.

“Inilah kemampuanku,” serunya pada si Rubah. “Sekarang aku ingin tahu, bagaimana akalmu mampu melewati pemburu dan ajing itu”

Resolusi

Seperti yang dikatakannya sendiri, Rubah memiliki begitu banyak rencana untuk melarikan diri. Namun, sayangnya hal itu justru membuatnya tidak dapat memutuskan mana yang akan dicoba terlebih dahulu.

Dia mengelak di sana-sini dengan anjing-anjing di belakangnya. Dia melipatgandakan jejaknya, dia berlari dengan kecepatan tinggi, dia memasuki selusin liang, tetapi semuanya sia-sia. Anjing-anjing itu menangkapnya, dan segera mengakhiri bualanl dan semua tipu-dayanya.

Koda

Banyak jalan menuju Roma, namun kita hanya akan baru sampai ketika teguh pada satu jalan. Satu akal sehat yang bekerja akan selalu lebih berharga daripada banyak kecerdikan apalagi kelicikan.

Contoh Cerita Fabel Panjang

Burung Hantu dan Belalang

Orientasi

Burung hantu selalu tidur di siang hari. Kemudian setelah matahari terbenam, ketika cahaya kemerahan memudar dari langit dan bayang-bayang perlahan-lahan naik melalui hutan, dia muncul dengan gemetar dan berkedip dari pohon tua yang berlubang.

Sesaat setelah bangun, tanpa keluhan dan berlama-lama, biasanya Burung Hantu akan terbang dan mulai berburu mencari makanan kesukaannya, yakni serangga, kumbang, katak, tikus, dan binatang kecil apa pun yang ia temukan.

Konflik

Namun, ada Burung Hantu tertentu yang memiliki tabiat buruk dan sering marah-marah seiring bertambahnya usia, terutama jika ada mengganggu tidur siangnya.

Suatu sore, saat Burung Hantu tua itu masih tertidur di sarangnya, Belalang di dekatnya memulai nyanyian yang riang tapi sangat berisik. Kepala burung hantu tua itu keluar dari lubang pohon yang menjadi sarangnya itu.

Klimaks

“Tolong jangan berisik, pergi dari sini, wahai Belalang!” katanya pada Belalang.

“Apakah kau tidak punya sopan santun? Setidaknya kau harus menghormatiku yang sudah tua ini dan biarkan aku tidur dengan tenang!”

Tetapi Belalang menjawab dengan lugas bahwa dia berhak atas tempatnya di sana sebagai sesama penghuni hutan. Bahkan, ia dengan sengaja bernyanyi lebih keras lagi.

Resolusi

Burung hantu tua yang bijak tahu betul bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan Belalang itu. Selain itu, matanya tidak cukup tajam di siang hari untuk mampu berbuat apa-apa kepada sang Belalang. Jadi dia mengesampingkan semua kata-kata Belalang yang kasar itu dan justru berbalik berbicara dengan sangat ramah kepadanya.

“Baiklah, wahai Belalang,” katanya, “jika saya harus tetap terjaga, saya akan menetap untuk menikmati nyanyianmu,”

“Lama-lama saya merasa kalau nyanyianmu itu ternyata merdu sekali,”

“Lagi pula, kalau dipikir-pikir, rasanya sayang jika jika harus tertidur di sore yang indah ini”.

“O ya, saya juga kebetulan memiliki beberapa sisa biji-bijian yang sepertinya kamu sangat suka,”

“Saya hanya memakan biji-bijian ini sesekali saja sebagai pelengkap saja”

“Kalau mau, silakan mampir ke sarangku dan mari kita nikmati sore yang indah ini dengan menyantap biji-bijian ini ini bersamaku.”

Belalang itu terpesona oleh kata-kata rayuan dan sanjungan Burung Hantu. Dia melompat ke atas sarang Burung Hantu, tetapi begitu dia cukup dekat sehingga Burung Hantu tua itu dapat melihatnya dengan jelas, dan akhirnya dia menerkam sang Belalang.

Koda

Sanjungan bukanlah bukti kekaguman sejati. Jangan biarkan sanjungan membuatmu lengah terhadap musuh.

Gabung ke Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *