Fonemik merupakan salah satu sub-bidang dari fonologi yang terdiri dair fonetik dan fonemik. Fonetik menganalisis cara manusia mengeluarkan bunyi-bunyi Bahasa tanpa memperhatikan perbedaan maknanya. Sementara itu fonemik menganalisis bunyi-bunyi Bahasa berdasarkan kemampuannya dalam memanipulasi makna dan perannya dalam Bahasa secara keseluruhan (Clark, 1995, hlm. 1-2). Bidang fonetik dan fonemik saling mempengaruhi secara mutual.

Sebagai catatan, fonemik terkadang disebut sebagai Fonologi apabila sedang digunakan untuk menganalisis satu bahasa secara individual, misalnya Fonologi Bahasa Indonesia, atau Fonologi Bahasa Jepang. Hal ini karena fonemik merupakan sub-bidang fonologi yang paling relevan dengan studi kebahasaan. Sementara itu fonetik hanya akan dipelajari dari sudut pandang artikulatoris saja, yakni studi mengenai bagaimana alat-alat ucap bekerja dalam menghasilkan bunyi ujaran dan bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.

Pengertian Fonemik

Fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan jika bunyi-bunyi tersebut berfungsi sebagai pembeda makna (Triadi & Emha, 2021, hlm. 4). Sementara itu menurut Muslich (2018, hlm. 2) fonemik adalah sub-bidang fonologi yang memandang bunyi-bunyi ujar sebagai bagian dari sistem bahasa lazim. Lazim tentunya merujuk pada konteks yang sudah umum dari bahasa individu yang dikajinya.

Selanjutnya, menurut Keraf (2004) fonemik adalah ilmu yang mempelajari bunyi ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti. Misalnya perbedaan bunyi [p] dan [b] yang terdapat pada kata [paru] dan [baru]. Dapat disimpulkan bahwa fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa atau bunyi ujaran dengan memperhatikan fungsinya sebagai pembeda arti dari suatu sistem bahasa.

Fonem

Fokus utama dalam sub-bidang fonemik adalah fonem (phonem). Fonem adalah kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna (Triadi & Emha, 2021, hlm. 12). Kenneth L. Pike (1947, hlm. 63 dalam Triadi & Emha, 2021, hlm. 12) mengungkapkan bahwa “a phoneme is one of the significant units of sounds, or a contranstive sound unit. Artinya, fonem adalah salah satu unit bunyi yang penting atau sesuatu yang menunjukkan kontras makna dari unit bunyi.

Pernyataan tesebut menimbulkan pernyataan tentang bagaimana mengetahui kesatuan bunyi terkecil tersebut berfungsi membedakan makna. Pembuktiannya hanya dapat ditempuh secara empiris, yaitu dengan membandingkan bentuk-bentuk bahasa yang diteliti.

Sebelumnya, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa fonem atau suatu transkripsi fonem dilambangkan dengan simbol “/ /”, misalnya fonem /t/, /k/, /m/, /d/, dsb. Untuk menemukan pembuktian empiris mengenai suatu fonem yang dapat membedakan makna, maka kita dapat melakukan contoh pembandingan bentuk dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.

Contoh fonem yang akan digunakan adalah /k/, /t/, /j/, /m/, /d/, /g/. Saat fonem tersebut digunakan pada kata yang berbeda, maka kata tersebut berubah maknanya seperti pada contoh di bawah ini.

[ka#lang] penyangga atau penunjang

[ta#lang] saluran air (dari buluh, seng, dan sebagainya) pada cucuran atap

[ja#lang] liar atau tidak dipelihara orang (tentang binatang) atau nakal (melanggar susila)

[ma#lang] bernasib buruk/celaka

da#lang] orang yang memainkan wayang

[ga#lang] menghimpun

Berdasarkan bukti empiris di atas, dapat diketahui bahwa fonem /k/, /t/, /j/, /m/, /d/, dan /g/ berfungsi membedakan makna terhadap bentuk satuan linguistik yang lebih besar, meskipun fonem-fonem itu sendiri tidak memiliki makna.

Setidaknya terdapat empat premis untuk mengenali sebuah fonem, yakni:

  1. bunyi bahasa dipengaruhi lingkungannya;
  2. bunyi bahasa itu simetris;
  3. bunyi bahasa yang secara fonetis mirip, harus digolongkan ke dalam kelas fonem yang berbeda;
  4. bunyi bahasa yang bersifat komplementer harus dimasukkan ke dalam kelas fonem yang sama.

Alofon

Alofon adalah sebuah varian fonem berdasarkan posisi dalam kata, misal fonem pertama pada kata makan dan makna secara fonetis berbeda (Triadi & Emha, 2021, hlm. 99). Variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti dinamakan alofon. Alofon dituliskan diantara dua kurung siku […]. Apabila [b] yang lepas kita tandai dengan [b] saja, sedangkan [b] yang tak lepas kita tandai dengan [b>]. Maka kita dapat berkata bahwa dalam Bahasa Indonesia fonem /b/ mempunyai dua alofon, yakni [b] dan [b>].

Fonemisasi, Realisasi, dan Variasi Fonem

Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem juga dapat dibatasi sebagai unit bunyi yang bersifat distingtif atau unit bunyi yang signifikan. Dengan demikian diperlukan adanya fonemisasi yang ditujukan untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut. Fonemisasi adalah perubahan alofon-alofon menjadi fonem dalam lingkungan fonologis tertentu.

Fonemisasi bertujuan untuk:

  1. menentukan struktur fonemis sebuah bahasa, dan
  2. membuat ortografi yang praktis atau ejaan sebuah bahasa.

Untuk mengenal dan menentukan bunyi-bunyi bahasa yang bersifat fungsional atau fonem, biasanya dilakukan melalui “kontras pasangan minimal”. Pasangan minimal ialah pasangan bentuk-bentuk bahasa yang terkecil dan bermakna dalam sebuah bahasa (biasanya berupa kata tunggal) yang secara ideal sama, kecuali satu bunyi berbeda. Bunyi yang berbeda itu saling bertentangan dalam posisi atau distribusi yang sama. Contohnya adalah sebagai berikut:

/seru/ —- /deru/ -> /s/ /d/

/dara/ —- /tara/ -> /d/ /t/

/serang/ —- /terang/ -> /s/ /t/

/batuk/ —- /patuk/ -> /b/ /p/

Realisasi Fonem

Realisasi fonem adalah pengungkapan yang sebenarnya dari ciri atau satuan fonologis, yakni fonem menjadi bunyi bahasa. Realisasi fonem erat kaitannya dengan variasi fonem. Variasi fonem merupakan salah satu wujud pengungkapan dari realisasi fonem. Secara segmental fonem bahasa Indonesia dibedakan atas vokal dan konsonan.

Variasi Fonem

Variasi fonem adalah wujud berbagai manifestasi bersyarat maupun tak bersyarat dari fonem. Wujud variasi suatu fonem yang ditentukan oleh lingkungannya dalam distribusi yang komplementer disebut varian alofonis atau alofon.

Fonem Suprasegmental

Sebagai satuan bunyi linguistik terkecil yang membedakan makna, wujud fonem tidak hanya berupa bunyi-bunyi segmental (baik vokal maupun konsonan) tetapi juga berupa unsur-unsur suprasegmental yang meliputi nada, tekanan, durasi, maupun jeda. Hal tersebut karena unsur suprasegmental yang masih bisa membedakan makna secara tetap disebut sebagai fonem.

Contohnya, fonem /t/ apabila letaknya berada di awal kata atau suku kata pertama, dilafalkan secara lepas. Misal, pada kata [to#pi], fonem /t/ dilafalkan lepas. Namun hal itu akan berbeda jika fonem /t/ berada di akhir kata, fonem /t/ tidak diucapkan lepas. Bibir kita masih tetap rapat tertutup saat mengucapkan bunyi, misal pada kata [bu#at], [sa#bit] dan [kar#bit]. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa unsur suprasegmental tersebut tetaplah mampu membedakan makna secara empiris.

Beberapa unsur suprasegmental adalah sebagai berikut.

  1. Jangka, yaitu panjang pendeknya bunyi yang di ucapkan. Tanda […]
  2. Tekanan, yaitu penonjolan suku kata dengan memperpanjang pengucapan, meninggikan nada dan memperbesar intensitas tenaga dalam pengucapan suku kata tersebut.
  3. Jeda atau sendi, yaitu cirri berhentinya pengucapan bunyi
  4. Intonasi, adalah cirri suprasegmental yang berhubungan dengan naik turunnya nada dalam pelafalan kalimat.
  5. Ritme, adalah ciri suprasegmental yang berhubungan dengan pola pemberian tekanan pada kata dalam kalimat.

Sebagai catatan, pada tataran kata, tekanan, jangka, dan nada dalam bahasa Indonesia tidak membedakan makna. Namun, pelafalan kata yang menyimpang dalam hal tekanan, dan nada kan terasa janggal. Jenis-jenis perubahan fonem bunyi tersebut berupa asimilasi, disimilasi, modifikasi vokal, netralisasi, zeroisasi, metatesis, diftongisasi, monoftongisasi, dan anaptiksis, yang akan dijelaskan pada uraian-uraian di bawah ini.

Asimilasi

Asimilasi adalah perubahan bunyi dari dua hal bunyi yang tidak sama menjadi bunyi yang sama atau hampir sama. Hal ini terjadi karena bunyi-bunyi bahasa itu diucapkan secara berurutan sehingga berpotensi untuk saling mempengaruhi atau dipengaruhi.

Dalam bahasa Indonesia, asimilasi fonetis terjadi pada bunyi nasal pada kata tentang dan tendang. Bunyi nasal pada kata “tentang” diucapkan apiko-dental karena bunyi yang mengikutinya, yaitu [t], juga apiko-dental. Bunyi nasal pada tendang diucapkan apiko-alveolar karena bunyi yang mengikutinya, yaitu [d], juga apiko-alveolar. Perubahan bunyi nasal tersebut masih dalam lingkup alofon dari fonem yang sama.

Disimilasi

Disimilasi adalah perubahan bunyi dari dua bunyi yang sama atau mirip menjadi bunyi yang tidak sama atau berbeda. Contohnya, kata bahasa Indonesia belajar [bǝlajar] berasal dari penggabungan prefix ber [bǝr] dan bentuk dasar ajar [ajar]. Mestinya, kalau tidak ada perubahan menjadi berajar [bǝrajar]. Tetapi, karena ada dua bunyi [r], maka [r] yang pertama diperbedakan atau didisimilasikan menjadi [l] sehingga menjadi [bǝlajar]. Karena perubahan tersebut sudah menembus batas fonem, yaitu [r] merupakan alofon dari fonem /r/ dan [l] merupakan alofon dari fonem /l/, maka disebut disimilasi fonemis.

Modifikasi vokal

Modifikasi vokal adalah perubahan bunyi vokal sebagai akibat dari pengaruh bunyi lain yang mengikutinya. Perubahan ini sebetulnya dapat dikategorikan ke dalam peristiwa asimilasi. Akan tetapi karena kasus ini tergolong khas, maka perlu disendirikan.

Netralisasi

Netralisasi adalah perubahan bunyi fonemis sebagai akibat pengaruh lingkungan. Contohnya, dengan cara pasangan minimal [baraƞ] ‘barang’−[parang] ‘paraƞ’ bisa disimpulkan bahwa dalam bahasa Indonesia ada fonem /b/ dan /p/. Akan tetapi dalam kondisi tertentu, fungsi pembeda antara /b/ dan /p/ bisa batal setidak-tidaknya bermasalah karena dijumpai yang sama. Minsalnya, fonem /b/ pada silaba akhir pada kata adab dan sebab diucapkan [p’]: [adap] dan [sǝbab’], yang persis sama dengan pengucapan fonem /p/ pada atap dan usap: [atap’] dan [usap’].

Mengapa terjadi demikian? Karena konsonan hambatan letup bersuara [b] tidak mungkin terjadi pada posisi koda. Ketika dinetralisasikan menjadi hambatan tidak bersuara, yaitu [p’], sama dengan realisasi yang biasa terdapat dalam fonem /p/.

Zeroisasi

Zeroisasi adalah penghilangan bunyi fonemis sebagai akibat upaya penghematan atau ekonomisasi pengucapan. Peristiwa ini biasa terjadi pada penuturan bahasa-bahasa di dunia, termasuk bahasa Indonesia, asal saja tidak menggangu proses dan tujuan komunikasi. Peristiwa ini terus dikembangkan karena secara diam-diam telah didukung dan disepakti oleh komunitas penuturnya.

Dalam bahasa Indonesia sering dijumpai pemakaian kata “tak” atau “undak” untuk “tidak”, “tiada” untuk “tidak ada”, “gimana” untuk “bagaimana”, “tapi” untuk “tetapi”. Padahal, penghilangan beberapa fonem tersebut dianggap tidak baku dalam bahasa Indonesia. Tetapi, karena demi kemudahan dan kehematan, gejala itu terus berlangsung. Zeroisasi dengan model penyingkatan ini biasa disebut kontraksi. Apabila diklasifikasikan, zeroisasi ini paling tidak ada tiga jenis, yaitu : aferesis, apokop, dan sinkop.

Metatesis

Metatesis adalah perubahan urutan bunyi fonemis pada suatu kata sehingga menjadi dua bentuk kata yang bersaing. Dalam bahasa Indonesia, kata-kata yang mengalami gejala metatesis ini tidak banyak.

Diftongisasi

Diftongisasi adalah perubahan bunyi vokal tunggal (monoftong) menjadi dua bunyi vokal atau vokal rangkap (diftong) secara berurutan. Perubahan dari vokal tunggal ke vokal rangkap ini masih diucapkan dalam satu puncak kenyaringan sehingga tetap dalam satu silaba.

Monoftongisasi

Monoftongisasi yaitu perubahan dua bunyi vokal atau vokal rangkap (diftong) menjadi vokal (monoftong) (Muslich 2018, hlm. 126). Peristiwa penunggalan vokal ini banyak terjadi dalam bahasa Indonesia sebagai sikap pemudahan pengucapan terhadap bunyi-bunyi diftong (Chaer 2012, hlm. 104). Dapat dikatakan pula bahwa monoftongisasi adalah proses perubahan bentuk kata yang berwujud sebuah diftong berubah menjadi sebuah monoftong. Dengan demikian, monoftongisasi adalah proses perubahan dua bunyi vokal menjadi sebuah vokal. Contoh monoftongisasi adalah sebagai berikut:

  1. kalao menjadi (kalo),
  2. kamai menjadi (rame),
  3. damai menjadi (dame),
  4. sungai menjadi (sunge).

Anaptiksis

Anaptiksis atau suara bakti adalah perubahan bunyi dengan jalan menambahkan bunyi vokal tertentu di antara dua konsonan untuk memperlancar ucapan. Bunyi yang biasa ditambahkan adalah bunyi vokal lemah. Dalam bahasa Indonesia, penambahan bunyi vokal lemah ini biasa terdapat dalam kluster (Muslich 2018, hlm. 126).

Anaptiksis adalah proses penambahan bunyi vokal di antara dua konsoan dalam sebuah kata; atau penambahan sebuah konsonan pada sebuah kata tertentu (Chaer 2012, hlm. 105). Anaptiksis (suara bakti) merupakan proses perubahan bentuk kata yang berujud penambahan satu bunyi antara dua fonem dalam sebuah kata guna melancarkan ucapan. Dengan demikian, anaptikis adalah perubahan bentuk kata dengan menambahkan bunyi vokal tertentu di antara dua konsonan.

Anaptiksis dapat dibedakan menjadi tiga macam, meliputi profesi, epentesis, dan paragog yang akan dijelaskan di bawah ini.

  1. Protesis
    adalah proses penambahan bunyi ada awal kata. Misalnya: Mas menjadi emas, Mpu menjadi empu, Tik menjadi ketik, Lang menjadi elang.
  2. Epentesis
    adalah proses penambahan bunyi pada tengah kata. Contohnya: Kapak menjadi kampak, Sajak menjadi sanjak, Upama menjadi umpama, Beteng menjadi benteng.
  3. Paragog
    adalah proses penambahan bunyi pada posisi akhir kata. Misalnya: Huubala menjadi hulubalang.

Gejala Fonologi Bahasa Indonesia

Vokal dalam bahasa Indonesia meliputi: /a/, /i/, /u/, /e/, / Ə/, dan /o/. Fonem vokal ini dapat diproduksi dengan bentuk bibir tertentu, karena bentuk bibir dapat mempengaruhi kualitas vokal. Sementara itu terdapat 23 konsonan dalam bahasa Indonesia yang meliputi: /p/, /t/, /c/, /k/, /b/, /d/, /j/, /g/, /?/, /f/, /s/, /x/, /h/, /z/, /m/, /n/, /r/, /l/, /w/, /y/, /Š/, /ŋ/, dan /ñ/. Konsonan dibentuk berdasarkan:

  1. keadaan pita suara,
  2. daerah artikulasi,
  3. cara artikulasi,
  4. jalan keluar udara, dan
  5. strukturnya.

Sebagai bahasa individu yang memiliki fonemnya sendiri, bahasa Indonesia memiliki gejala-gejala fonologi unik yang berbeda dengan bahasa lain. Beberapa gejala fonologi bahasa Indonesia tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Penambahan Fonem
    Penambahan fonem pada suatu kata pada umumnya berupa penambahan bunyi vokal. Penambahan ini dilakukan untuk kelancaran ucapan.
  2. Penghilangan Fonem
    Penghilangan fonem adalah hilangnya bunyi atau fonem pada awal, tengah dan akhir sebuah kata tanpa mengubah makna. Penghilangan ini biasanya berupa pemendekan kata.
  3. Perubahan Fonem
    Perubahan fonem adalah berubahnya bunyi atau fonem pada sebuah kata agar kata menjadi terdengar dengan jelas atau untuk tujuan tertentu.
  4. Kontraksi
    Kontraksi adalah gejala yang memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem yang dihilangkan. Terkadang ada pula perubahan atau penggantian fonem.
  5. Analogi
    Analogi adalah pembentukan suatu kata baru berdasarkan suatu contoh yang sudah ada (Keraf, 2004, hlm. 133).

Referensi

  1. Chaer, Abdul. (2012). Linguistik umum (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta
  2. Clark, John E., Yallop, Colin. (1995). An introduction to phonetics and phonology (second edition). Oxford: Blackwell Publisher.
  3. Keraf, Gorys. (2004). Komposisi: sebuah pengantar kemahiran bahasa. Flores: Nusa Indah.
  4. Muslich, Masnur. (2018). Fonologi bahasa Indonesia: tinjauan deskriptif sistem bunyi bahasa indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
  5. Triadi, R.B., Emha, R.J. (2021). Fonologi bahasa Indonesia. Tangerang: Unpam Press.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.