Pengertian Aliran Futurisme

Futurisme adalah aliran seni rupa yang ingin melupakan masa lalu dan menyongsong masa depan (future) melalui sudut pandang Dinamisme Universal yang tidak hanya mengotakan suatu konsep atau tema dalam satu sisi saja seperti seni klasik, melainkan menggambarkannya dari seluruh sudut, seperti gerak, suara, pencahayaan, hingga aspek internal subjek karya seperti benak pikiran manusia.

Sebagai contoh konkretnya, binatang kuda akan digambarkan memiliki empat kaki saja dalam karya seni klasik. Sementara itu dalam aliran futurisme, mereka akan menggambarkan 20 kaki atau lebih karena realitas dinamisnya, kuda tidak dapat digambarkan sebagai subjek yang diam. Saat tidak diam, bisa jadi kuda akan tampak memiliki banyak kaki.

Dalam perspektif dinamisme universal ala futurisme, ketika seekor kuda berlari kencang, kaki yang dimilikinya akan dianggap bertambah banyak, energi yang dihasilkannya menggema di sekitar menghasilkan aura yang riuh, tubuh dan rambutnya akan memiliki berbagai bentuk yang tidak sama dengan keadaannya saat diam.

Manifesto dari aliran ini memiliki nuansa pemikiran yang sama dengan salah satu konsep dasar fisika kuantum. Terutama pada bagian superposition yang berarti posisi tengah di antara dua keadaan utama yang dapat kita terka. Contohnya, suatu pintu sejatinya tidak hanya memiliki keadaan terbuka dan tertutup saja. Terdapat posisi lain antara keadaan terbuka dan tertutup yang disebut sebagai superposition;  terbuka – superposition – tertutup.

Kebangkitan Aliran Futurisme

Futurisme pertama kali dikumandangkan oleh seorang sastrawan Italia yang bernama Filippo Tommaso Marinetti pada tahun 1909 (Prawira, 2016, hlm. 91). Dalam manifesto futurisme yang ditulisnya, ia  berkata bahwa “bangsa Italia telah memasuki babak modern laksana mobil berkecepatan tinggi”. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam berekspresi seni ia mengharapkan bahwa:

“…seni dapat melupakan masa lampau dan menyongsong kecepatan dan energi mekanik; keindahan baru menambah semaraknya dunia; keindahan gerak, lajunya mobil yang dihiasi oleh pipa-pipa besar menyerupai ular dengan desir nafasnya..”

Futurisme berawal dari pergerakan sastra, kemudian menyebar dan merasuk ke bidang senian lain, seperti seni lukis, seni patung, musik, desain, dan arsitektur. Futurisme juga dapat dianggap muncul sebagai akibat dari situasi yang ditimbulkan oleh perang dunia ke-1.

Gerakan seni dan kebudayaan ini memiliki misi untuk meninggalkan kenangan pahit dan rasa pesimistis yang ditimbulkan oleh peristiwa mengerikan tersebut sekaligus berusaha untuk meninggalkan nilai-nilai lama yang mengiringinya.

Konsep & Tema Futurisme

Konsep karya futurisme didasari pemikiran bahwa energi alam harus ditampilkan dalam karya seni sebagai sensasi dinamis yang dapat menimbulkan kesatuan realitas (Prawira, 2016, hlm. 95). Salah satu cara untuk menampilkannya adalah melalui penggunaan gerak dan cahaya.

Selain itu, cara lainnya adalah dengan mengubah keterbatasan menjadi sesuatu yang dinamis, menerapkan bentuk-bentuk kubis (terinspirasi dari kubisme) dan menyusun teks atau kata melalui ilmu tipografi. Tipografi yang justru menyusun keelokan teksnya sendiri, bukan hanya menghiasinya dengan bentuk dekoratif semata.

Tema utama manifesto futurisme adalah “Dinamisme Universal” yang mencari sensasi-sensasi gerak, optik, dari kehebatan eksistensi mesin, industri, dan pencapaian manusia terhadap teknologi di masa itu. Semua itu adalah bagian yang selama ini lalai diperhatikan oleh seniman (klasik).

Sebagai contoh, untuk menggambarkan seorang perempuan di jendela, sang seniman harus memasukkan unsur sekitarnya pula seperti: bisingnya kendaraan yang melintas, keramaian kehidupan yang terlihat dari jendela, hingga asosiasi yang dihasilkan dalam pemikiran perempuan tersebut.

Ciri Aliran Futurisme

Berdasarkan pengertian, konsep, dan tema yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri aliran ini adalah sebagai berikut.

  1. Menanggalkan tradisi seni klasik
  2. Menggunakan berbagai gaya dan teknik baru yang mengikuti arus perkembangan zaman
  3. Melawan sisa-sisa kehancuran batin dari dampak perang dunia
  4. Menerapkan dinamisme universal yang berarti tidak hanya melihat suatu konsep dari satu sisi saja, namun dari semua aspek termasuk hal yang sering terabaikan.
  5. Mengandung berbagai elemen-elemen keseharian modern baru seperti industri, mobil, dan berbagai teknologi mekanik lain yang sedang berkembang pesat pada tahun 1900-an.

Tokoh Futurisme

Seperti yang telah dikemukakan di atas, futurisme merupakan aliran pergerakan seni dan budaya secara umum. Sehingga tidak ada salahnya untuk mencantumkan berbagai seniman dalam disiplin ilmu seni lainnya seperti sastrawan dan desainer. Beberapa tokoh yang paling berpengaruh dalam aliran ini adalah sebagai berikut.

Fortunato Depereo

Merupakan seorang pelukis sekaligus pujangga yang berfokus pada aliran futurisme. Selain sastra dan seni lukis, ia juga merupakan seorang seorang desainer grafis yang mencari nafkah dengan mendesain gambar komersial untuk majalah-majalah dan koran.

Ia beraktivitas di kota New York dan merupakan pengelola periklanan bagi banyak perusahaan. Depereo juga merupakan salah satu ilustrator legendaris yang membuat cover majalah Vogue dan The Newyorker dalam berbagai publikasi. Hingga saat ini The Newyorker masih menggunakan gaya ilustrasi seni sejenis.

Gambar futurisme berupa poster karya Depereo.

Lucio Venna

Lucio Venna terlahir di Venice kemudian pindah ke Florence pada tahun 1912. Ia bekerja dengan ilustrator Emilio Notte, dan bertemu dengan pencetus futurisme Filippo Marinetti di sana. Karya-karyanya meliputi cover-cover “Grand Sport” (1930-1932), periklanan untuk Debenham & Freebody, London, dan sempat berkolaborasi sebagai direktur artistik di Scena Illustrata.

Pada tahun 1917, Ia dan Emilio Notte menulis buku “The Basic Linear Geometrics”. Kemudian dimulai dari tahun 1922 Venna lebih banyak menelurkan karya seni lukis. Berikut ini adalah beberapa lukisan futurisme karya Venna.

Contoh Lukisan Futurisme

contoh-lukisan-futurisme-alberi-lucio-venna
Contoh lukisan futurisme: “Alberi” oleh Lucio Venna
contoh-lukisan-futurisme-luna-park-lucio-venna
Lukisan futurisme dengan judul “Luna Park” oleh Lucio Venna

Poster Gambar Futurisme

poster-futurisme-3-corsa-automobilistica-venna
Poster futurisme: 3 Corsa Automobilistica, oleh Venna

Nocolay Diuldherof

Seorang tipografer yang lahir di Bulgaria. Ia menempuh studi di Vienna School of Arts and Craft dari tahun 1920-1921, The New School of Art di Dresdenn (1922) dan sempat menghabiskan beberapa bulan di Johannes Itten, Bauhaus (Jerman).

Ia adalah seorang desainer ternama yang merancang berbagai produk mulai dari lampu, keramik, dan kaca. Seperti anggota pergerakan ini pada umumnya, Ia juga bekerja di firma periklanan untuk Cinzano, Unica, dan Campari.

Diuldherof ikut andil dalam salah satu event terbesar Futurisme dalam Turin International Exhibition pada tahun 1929. Pada tahun yang sama, penguasaan futurisme dalam seni grafisnya dipamerkan di Turin dalam jangka waktu yang lama.

Filippo Tommaso Marinetti

Merupakan penyair yang lahir di Mesir pada tahun 1876. Ia adalah tokoh utama yang menginisiasi aliran futurisme. Salah satu pernyataannya yang paling terkenal dalam mengumandangkan futurisme adalah sebagai berikut.

“Menyerang masa lalu dan menjunjung tinggi kehidupan masa kini yang telah diubah secara nyata oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern”

Carlo Carra

Merupakan pelukis studio yang sempat menyaksikan karya-karya Post Impressionist seperti Cezanne, Gauguin, Turner, dan Constable. Ia merupakan pendukung tradisi seni Italia dan pernah belaka melukis pada Giotto. Namun dapat ditebak pada akhirnya ia memutuskan untuk ikut andil dalam pergerakan futurisme.

Lukisan Futurisme yang Paling Terkenal

contoh-lukisan-futurisme-the-red-horseman-1913-carlo-carra
Contoh lukisan futurisme “The Red Horseman” (1913) oleh Carlo Carra
futurisme-pengertian-contoh-lukisan-tokoh-carlo-carra-funerali-dell-anarchico
“Funerali dell Anarchico” oleh Carlo Carra

Gino Severini

Seniman yang memiliki perhatian besar terhadap cahaya dan kubisme. Seperti Carlo Carra, ia juga sempat belajar langsung dengan para pelukis impresionis. Ia sempat mempelajari bagaimana teori warna mengubah persepsi para pelukis impresionis mengenai kebebasan warna sebagai unsur mandiri yang tidak hanya sekedar menjadi label untuk benda lain semata; baju warna kuning, kuning adalah unsur seni, bukan hanya mewarnai baju.

Referensi

  1. Prawira, N.G. (2016). Benang Merah Seni Rupa Modern. Bandung: Sarana Tutorial Nurani Sejahtera.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *