Sejarah Kerajaan Majapahit

Majapahit merupakan kerajaan yang berdiri sekitar tahun 1293 hingga 1500 M yang berhasil menguasai sebagian besar wilayah nusantara. Pendiri kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya yang dinobatkan dengan nama Kertarajasa Jaya Wardana.

Berdirinya Kerajaan Majapahit

Disebutkan dalam dalam kitab Pararaton dan Nagarakertagama bahwa asal mula kerajaan Majapahit diawali dengan pembukaan hutan Tarik oleh Raden Wijaya (Adrisijanti, 2014, hlm. 30). Hutan tersebut terletak di Delta Sungai Brantas dan peristiwa itu terjadi pada tahun 1293.

Sebelum berdirinya Majapahit, Singhasari telah lebih lama berdiri menjadi kerajaan paling kuat di Jawa (Mukarrom, 2014, hlm. 33). Hal tersebut kemudian menarik perhatian Kubilai Khan, Kerajaan Mongol penguasa Tiongkok. Akhirnya Kubilai Khan pun mengirim utusan ke Singhasari untuk menuntut upeti.

Maharaja Kertanagara, penguasa kerajaan Singhasari menolak untuk membayar upeti dan bahkan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya. Kubilai Khan pun marah kemudian memberangkatkan ekspedisi besar ke tanah Jawa pada tahun 1293 (Purwadi, 2010, hlm. 67).

Keruntuhan Singhasari

Namun sebelum Mongol tiba, Kediri telah membawa petaka terhadap Singhasari. Kerajaan Keidiri melakukan Pemberontakan kepada Kerajaan Singhasari. Pemberontakan Kediri tersebut bahkan berhasil menaklukkan  Kertanagara dan meruntuhkan kerajaan Singhasari. Kekuasaan Singhasari akhirnya diambil alih oleh Prabu Jayakatwang yang merupakan Raja dari Kerajaan Kediri.

Dalam pemberontakan tersebut, Raden Wijaya yang merupakan menantu Kertanagara penguasa Singhasari berhasil melarikan diri dari kejaran pasukan Jayakatwang dari Kediri (Purwadi, 2010, hlm. 83). Ia mencari perlindungan dari Aria Wiraraja yang masih setia pada kerajaan Singhasari.

Raden Wijaya disambut dengan baik oleh Wiraraja. Dalam suatu penjamuan makan oleh Wiraraja ada sebuah dialog panjang yang dilakukan oleh Wiraraja dengan Raden Wijaya bahwa ia ingin menaklukkan Jayakatwang dan mendirikan kerajaan baru di tanah Jawa. Jika ia berhasil menggulingkan Prabu Jayakatwang dan mendirikan kerajaan baru maka ia bernjanji akan memberikan Wiraraja setengah dari kekuasaan Raden Wijaya.

Mendengar hal tersebut Aria Wiraraja menyatakan kesediaannya untuk membantu Raden Wijaya. Ia memberikan saran kepada Raden Wijaya untuk berpura-pura menyerahkan diri kepada Prabu Jayakatwang. Ia juga berpesan agar Raden Wijaya menyelidiki kekuatan Kediri selama di sana dan mengajukan permohonan untuk membuka tanah di hutan tandus di Tarik.

Melalui bantuan Wiraraja yang mengirimkan utusan ke Kediri dan meyakinkan bahwa Raden Wijaya menyerahkan diri dalam waktu singkat hutan Tarik berhasil dibuka dan menjadi perkampungan baru dengan nama Majapahit (Muljana, 2014, hlm. 187).

Kedatangan Mongol & Kebangkitan Majapahit

Raden Wijaya pun mulai mempersiapkan pemberontakannya kepada Jayakatwang. Pada saat itu pula pasukan Mongol yang dikirim oleh Kubilai Khan telah datang untuk membalaskan dendamnya kepada Singhasari yang sebetulnya sudah runtuh.

Tanpa mengetahui pergolakan politik yang telah terjadi di Jawa, Raden Wijaya berhasil meyakinkan Mongol untuk menyerang Kediri (Jayakatuwang) yang disebutnya sebagai penerus Singhasari pada 1289 (Irawan, 2013, hlm. 2).

Setelah Kediri dikalahkan dan Jayakatwang berhasil ditaklukkan, Raden Wijaya meminta izin pulang ke Majapahit dengan alasan untuk menyiapkan upeti untuk Kubilai Khan. Tanpa rasa curiga sedikit pun panglima Mongol mengizinkannya dan bahkan memberikannya 200 pasukan Mongol sebagai pengawal.

Pasukan Mongol yang mengawal Raden Wijaya ke Majapahit akhirnya dibunuh oleh pasukan Majapahit ketika mereka tiba di sana. Kemudian, Raden Wijaya memberangkatkan pasukannya untuk menyerang sisa pasukan Mongol yang sedang berkemah di Daha dan Canggu.

Kala itu, pasukan Mongol tengah mabuk-mabukan dan mengadakan pesta kemenangannya. Raden Wijaya dapat dengan mudah berhasil mendesak mereka mundur hingga akhirnya pasukan Mongol melarikan diri dan tak pernah kembali ke tanah Jawa (Cribb & Kahin, 2004, hlm. 278).

Akhirnya terbentuklah Kerajaan Majapahit di bawah kekuasaan Raden Wijaya yang mendirikannya di atas kekalahan Kediri dan Mongol.

Letak Kerajaan Majapahit

Lokasi kerajaan Majapahit terletak di Jawa Timur, Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya peninggalan Majapahit yang ditemukan di Jawa Timur. Pusat kerajaan Majapahit adalah di Trowulan, Mojokerto, seperti yang tertulis dalam kitab “Kakawin Nagarakretagama” tulisan Mpu Prapanca yang berarti “Sejarah Pembentukan Negara” (Muljana, 2012, hlm. 1).

Letak geografis kerajaan Majapahit di Trowulan sangatlah strategis. Daerah tersebut dapat diakses dari jalan darat maupun air. Letak Trowulan berada di daerah yang relatif datar dan dekat dengan pusat kerajaan terdahulu seperti Singhasari, Kediri, Panjalu, dan Jenggala.

Peta Kerajaan Majapahit

Peta Kerajaan Majapahit

Trowulan merupakan kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Kecamatan ini terletak di bagian barat Kabupaten Mojokerto, berbatasan langsung dengan Kabupaten Jombang. Trowulan terletak di jalan nasional yang menghubungkan Surabaya-Solo-Yogyakarta.

Di kecamatan ini terdapat puluhan situs seluas hampir 100 kilometer persegi berupa bangunan, temuan arca, gerabah, dan pemakaman peninggalan Kerajaan Majapahit. Bukti keberadaan Majapahit dapat ditelusuri melalui berbagai peninggalan sebagai berikut ini.

Peninggalan Kerajaan Majapahit

Peninggalan sejarah Majapahit yang merupakan sumber sejarah kerajaan Majapahit pula ditemukan dalam berbagai wujud seperti situs, karya sastra (kitab), prasasti, hingga candi.

Kitab peninggalan kerajaan Majapahit di antaranya adalah:

  1. Kitab Negara Kertagama (Mpu Prapanca)
  2. Kitab Arjunawiwaha (Mpu Kanwa)
  3. Kitab Sutasoma (Mpu Tantular)

Sementara itu, Candi yang ditinggalkan antara lain:

  1. Candi Panataran (Blitar)
  2. Candi Sumberjati
  3. Candi Sawentar
  4. Candi Tikusdi Trowulan
  5. Candi Jabung
  6. Candi Tiga wangi
  7. Candi Surawana (Kediri)

Silsilah Kerajaan Majapahit

Raja raja kerajaan Majapahit, termasuk pendiri kerajaan Majapahit adalah sebagai berikut.

  1. Raden Wijaya (1293- 1309), merupakan pendiri Kerajaan Majapahit.
  2. Kalagamet/Jayanegara (1309 – 1328), putra Raden Wijaya dari pihak selir, karena Raden Wijaya tidak memiliki putra dari permaisuri, maka putra dari selir yang diangkat menjadi penggantinya.
  3. Dyah Gitarja (1328-1350), adik dari Jayanegara yang diangkat menjadi raja karena Jayanegara tidak sempat memiliki keturunan akibat pemberontakan tabib istana, Ratanca yang membunuhnya.
  4. Hayam Wuruk (1350 – 1389), sosok yang berhasil membawa Majapahit ke puncak kejayaannya bersama dengan patihnya Gajah Mada.
  5. Wikaramawardhana (1389-1429), karena Hayam Wuruk tidak mendapatkan keturunan pria dari permaisurinya, maka kekuasaan Majapahit diserahkan kepada Kusumawardhani, putrinya. Ia kemudian menikahi sepupunya sendiri, yakni Wikramawardhana yang kemudian naik tahta menggantikannya sebagai ratu.
  6. Suhita (1429-1447), merupakan putri salah satu selir Wikramawardhana. Ia memimpin Majapahit bersama suaminya Bhatara Parameswara.
  7. Kertawijaya (1447-1451), putra dari Wikramawardhana dengan salah satu selirnya.
  8. Rajasawardhana (1451-1453), hubungannya dengan Kertawijaya tidak jelas bahkan diperkirakan ia adalah adiknya yang melakukan kudeta kepada Kertawijaya.
  9. Purwawisesa (1456-1466), mengisi tahta setelah kekosongan penguasa Majapahit selama tiga tahun.
  10. Bhre Pandanalas (1466-1468), kekuasaannya tidak bertahan lama karena diambil alih oleh sepupunya yang merupakan putra dari Rajasawardhana.
  11. Bhre Kertabumi (1468-1478), ia harus rela dikalahkan oleh putranya sendiri, yakni Jin Bun atau lebih dikenal Raden Fatah, pendiri kesultanan Demak.
  12. Girindrawardhana (1478-1498), menantu dari Kertabumi dan iipar dari Raden Fatah. dilantik oleh Raden Fatah menjadi penguasa Majapahit yang sudah dikuasai oleh Kesultanan Demak.
  13. Hudhara, merupakan pemegang kekuasaan terakhir dari puing-puing Majapahit yang kemudian dileburkan seutuhnya oleh Kesultanan Demak.

Kehidupan Politik Majapahit

Seperti yang dapat disimpulkan dari berbagai pemaparan kebangkitan hingga silsilah kerajaannya, dapat disimpulkan bahwa pergolakan politik di kerajaan Majapahit sangatlah pelik. Pendirian kerajaannya sendiri cukup dipenuhi intrik.

Sementara itu konflik internal pun sering terjadi terutama dalam perebutan tahta dari putra mahkotanya. Perebutan kekuasaan sering terjadi dalam dinastinya, termasuk putra selir dan permaisurinya.

Kehidupan Agama Majapahit

Rakyat Majapahit didominasi oleh agama Hindu. Rajanya yang paling tersohor yaitu Hayam Wuruk memeluk agama Hindu, akan tetapi patihnya Gajah Mada beragama Budha. Keadaan seperti ini memang sering terjadi di berbagai Kerajaan yang ada di Nusantara pada masa kerajaan Hindu-Buddha.

Kehidupan agama di kerajaan ini pun sangat semarak. Bahkan cita rasa seni dan sastra Majapahit sangatlah tinggi. Sistem ritual keagamaannya pun rumit, namun dua agama besar Hindu-Buddha yang di anut masyarakatnya hidup berdampingan dalam harmoni.

Masa Kejayaan Majapahit

Masa Kejayaan Kerajaan Majapahit dimulai pada zaman pemerintahan Ratu Tribhuwantunggadewi Jayawishnuwardhani pada tahun 1328-1350 masehi. Kemudian mencapai zaman keemasan (puncak kejayaan) pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389M) dengan Mahapatih Gajah Mada yang boleh dikatakan justru lebih tersohor di Nusantara pada masa itu.

Pada masa itu kemakmuran Majapahit benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat nusantara (Purwadi, 2010, hlm. 79). Berdasarkan kitab negara Kartagama, di masa keemasannya Majapahit adalah kerajaan dengan budaya keraton yang adiluhung, anggun dan canggih.

Kemajuan kerajaan Majapahit juga dapat dilihat dari wilayah kekuasaannya yang semakin meluas. Berawal dari desa kecil yang dibuka dari hutan mereka kemudian memperluasnya hingga Kediri, Singhasari, Jenggala dan Madura (Muljana, 2012, hlm. 141).

Tak berhenti di sana Majapahit juga menguasai penuh Jawa Timur dan akhirnya menguasai sebagian besar Jawa dan beberapa pulau di luar Jawa dan hampir seluruh Nusantara. Hal tersebut sejalan dengan Gajah Mada dikenal dengan sumpah palapa yang berbunyi “Tidak akan merasakan palapa (istirahat) sebelum menyatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit (Astriantha, 2010, hlm. 30).

Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Faktor penyebab runtuhnya kerajaan Majapahit adalah perang saudara yang terjadi karena perebutan tahta kekuasaan dari keturunan Hayam Wuruk. Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit lambat laun mulai melemah.

Setelah meninggalnya Hayam Wuruk pada tahun 1389M terjadi perebutan tahta antara putri mahkota Kusumawardhani yang menikahi sepupunya sendiri, pangeran Wikramawardhana dan putra dari selirnya yakni Wirabhumi.

Perebutan tahta antara Wikramawardhana dan Wirabhumi mengakibatkan terjadinya perang Paregreg yang diperkirakan terjadi pada tahun 1405-1406(Astriana, 2010, hlm. 31). Pada akhirnya perang tersebut dimenangkan oleh Wikramawardhana. Namun perang saudara ini melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah kekuasaannya, terutama teritorinya yang berada di luar Jawa.

Bersamaan dengan melemahnya kendali Majapahit, kedatangan islam juga semakin semarak di nusantara. Hal tersebut ditandai oleh kedatangan Laksamana Cheng Ho, seorang jenderal muslim dari Tiongkok yang membentuk komunitas Tiongkok dan Arab di beberapa kota pelabuhan pantai utara Jawa seperti Semarang, Demak, Tuban, dan Ampel.

Majapahit juga semakin tertekan akibat kebangkitan Kesultanan Malaka yang pada pertengahan abad ke-15 mulai menguasai Selat Malaka dan tak henti memperluas kekuasaannya ke pulau Jawa. Selain itu, Kesultanan Demak juga tumbuh dan semakin berkembang di tanah Jawa.

Keruntuhan Majapahit juga tidak lepas dari Kesultanan Demak. Hal ini dikarenakan salah satu penyebab runtuhnya Majapahit adalah adanya intervensi Demak yang melakukan islamifikasi ke seluruh penjuru pulau Jawa.

Dengan demikian, faktor kemunduran kerajaan Majapahit juga tak lepas dari kedatangan Islam yang posisinya semakin kuat di Nusantara termasuk tekanan dari Kesultanan Malaka dan Demak.

Referensi

  1. Adrisijanti, Inajati. (2014). Majapahit: batas kota dan jejak kejayaan di luar kota. Yogyakarta: Kepel Press.
  2. Asrianta, Gatot. (2010). Atlas Sejarah dunia dan Indonesia. Surabaya: Bima Peraga Nusantara.
  3. Gatot Astriantha, Gatot. (2010). Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia. Surabaya: Bima Peraga Nusantara.
  4. Cribb, R.B., Kahin, Audrey. (2004). Historical Dictionary of Indonesia. Lanham: Scarecrow Press.
  5. Irawan, Yudhi. Babad Majapahit Jilid 1: Kencanawungu Naik Tahta. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
  6. Mukarrom, Ahwan. (2014). Sejarah Islam Indonesia I: dari awal Islamisasi sampai periode kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Surabaya: IAIN Press.
  7. Muljana, Slamet. (2012). Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit). Yogyakarta: Lkis.
  8. Purwadi. (2010). The History of Javanese Kings (Sejarah Raja-Raja Jawa). Yogyakarta : Ragam Media.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *