Pengertian Kritik Tari

Kritik tari sering diartikan penghargaan terhadap karya seni yang di tonton. Ya, hal ini justru terbalik dari istilah “kritik’ secara umum yang sering disemati konotasi negatif yakni kecaman atau bahkan celaan. Padahal pada dasarnya pengertian kritik sendiri sebetulnya adalah uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengertian kritik tari adalah uraian analisis terhadap baik buruk terhadap suatu karya tari.

Mungkin saja suatu karya memiliki banyak kekurangan, namun bukan berarti kita hanya mengecamnya saja. Pada saat melakukan kritik tari, kita juga harus mampu menangkap kelebihannya. Oleh karena itu, kritik tari sangat diperlukan oleh koregrafer sebagai bagian dari sebuah evaluasi untuk meningkatkan kualitas kreativitas koreografinya, karena kritik adalah tanda penghargaan penonton terhadap proses kreatifnya.

Istilah kritik juga dapat diartikan sebagai kriteria atau dasar penilaian. Edy Sedyawati (dalam Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 145) berpendapat bahwa kritik menjadi bagian yang tumbuh secara beriringan untuk meningkatkan proses kreatif. Artinya kritik sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas karya tari.

Sementara itu, ahli lainnya, yakni R.C Kwan dalam bukunya Mens en Kritiek (dalam Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 145) mengartikan kritik sebagai penilaian atas kenyataan yang dihadapi dalam sorotan norma. Konsep tersebut menunjukan bahwa di dalam kritik harus ada norma-norma tertentu yang berfungsi sebagai dasar penilaian atau pembahasan terhadap sesuatu yang kita hadapi.

Dapat disimpulkan bahwa pengertian kritik tari adalah uraian pembahasan serta penilaian suatu kenyataan unsur-unsur karya tari untuk mempertimbangkan baik buruknya sehingga dapat menjadi bahan evaluasi bagi koreografer maupun bagi khalayak seni tari pada umumnya.

Bentuk Kritik Tari

Kritik tari dapat muncul karena adanya kegiatan apresiasi karya seni tari. Seorang penonton yang memiliki bekal pengetahuan dan apresiasi yang baik akan mendapatkan pengalaman batin yang lebih banyak sehingga ia mampu melihat karya tari tersebut dengan lebih kritis.

Mengkritik karya seni tari tidak hanya dilihat dari sisi tariannya saja, melainkan banyak aspek lain juga yang harus di amati, seperti musik pengiring, penghayatan dalam menari, koreografer, properti tari yang digunakan, kostum dan tata rias dan juga artistik.

Sementara itu dilihat dari segi bentuk, dan bentuk kritik tari antara dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan. Namun bentuk komunikasi yang digunakan bukanlah satu-satunya pembeda dari bentuk kritik tari. Kritik tari juga dapat dibagi menjadi bentuk positif dan bentuk negatif.

  1. Kritik yang positif dapat memberikan dampak yang positif pula terhadap karya yang di tontonnya, namun dapat berisiko memberikan akibat yang kurang baik. Mengapa? Karena jika kekurangan dalam karya seni tersebut tidak ditunjukkan, maka tidak akan ada perbaikan. Karya seni yang dibuat tidak akan mengalami peningkatan baik untuk koreografer, penari, pemusik dan pihak lain yang terlibat di dalamnya.
  2. Sementara itu kritik negatif dapat menimbulkan kesalahpahaman atau bahkan perselisihan antara kritikus dengan koreografernya. Karena kritik negatif hanya berisi kekurangan dan kelemahan karya seni tersebut.

Mak dari itu, bentuk kritik yang baik adalah kritik yang di dalamnya terdapat hal positif dan negatif terhadap karya seni tari tersebut. Karena dengan begitu isi di dalam kritik tidak hanya menyampaikan kekurangan dan kelemahan karya seni tetapi juga memberikan solusi atau saran kepada koreografer sehingga dapat meningkatkan kualitas yang lebih baik pada karya seni yang akan dipentaskan berikutnya.

Jenis Kritik Tari

Sem C Bangun (2004 dalam Tim kemdikbud, 2018, hlm. 147) mengemukakan bahwa terdapat empat jenis kritik seni, yaitu kritik jurnalistik, pedagogik, ilmiah, dan populer. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing jenis kritik.

1. Kritik jurnalistik

Kritik jurnalistik adalah kritik yang dilakukan secara mendalam, namun disampaikan dengan lebih ringan agar lebih mudah dipahami. Hal tersebut karena kritik jurnalistik ini ditujukan kepada khalayak pada suatu media masa seperti koran, majalah, maupun media elektronik (website).

2. Kritik pendagogik

Kritik pedagogik atau kritik pendidikan adalah kritik yang ditujukan untuk meningkatkan kepekaan artistik peserta didiknya. Jenis kritik ini umumnya digunakan di lembaga-lembaga pendidikan untuk meningkatkan kualitas karya seni rupa yang dihasilkan peserta didiknya.

3. Kritik Ilmiah

Kritik ilmiah erupakan kritik yang disampaikan mengikuti kaidah-kaidah atau metodologi kritik secara akademis. Hasil tanggapan melalui kritik keilmuan sering kali dijadikan referensi bagi para penulis karya ilmiah lain atau kolektor, kurator, galeri dan institusi seni yang lainnya.

4. Kritik populer

Kritik populer adalah jenis kritik seni yang ditujukan untuk konsumsi masyarakat pada umumnya. Tanggapan yang disampaikan melalui kritik jenis ini bersifat pengenalan karya secara umum. Biasanya kritik yang dilakukan juga spesifik terhadap hal-hal yang akan menarik perhatian massa, seperti hal yang cukup kontroversial maupun yang berbeda dari yang lainnya.

Selain pembagian di atas, jenis kritik seni dapat pula dibagi menjadi dua yaitu kritik intrinsik dan ekstrinsik.

  1. Kritik Intrinsik berarti menganalisis suatu karya berdasarkan bentuk dan gayanya, atau membandingkan sebuah genre dengan genre lainnya (membandingkan bedaya dengan srimpi, membandingkan wireng dengan sendratari). Jenis kritik ini mengupas unsur-unsur karya, menilai, dan menyimpulkan kelemahan dan kelebihan dalam karya seni tersebut.
  2. Kritik Ekstrinsik menghubungkan karya seni dengan seniman pencipta, penikmat, dan masyarakat. Artinya kritik ini menghubungkan karya seni dengan hal-hal di luar karya seni tersebut. Kritik ekstrinsik ini melibatkan disiplin ilmu lain seperti sejarah, sosiologi, antropologi, ekonomi, filsafat, agama, dsb (Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 148).

Nilai Estetik dalam Kritik Tari

Nilai estetis dalam karya seni tari adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Hal itu karena dari nilai inilah seorang penonton dapat menikmati hal yang sulit diartikan. Mengapa? Karena hal yang sulit diartikan tersebut justru memberikan tantangan yang menggelitik nalar seseorang untuk mencoba menebaknya dengan cara yang menyenangkan. Hal itu pada akhirnya memberikan kesenangan bagi penikmatnya, di luar keindahan gerak dan pementasannya sendiri pun telah secara otomatis membuat penonton merasa senang dan takjub.

Nilai estetis dalam karya seni tari tidak hanya dilihat dari gerak tari itu sendiri melainkan dilihat dari berbagai aspek seni yang lain sebagai unsur pendukungnya. Pemahaman dari seorang kritikus seni nilai estetis sangat dipengaruhi dari kepekaan rasa bagaimana penari dapat membawakan tarian dengan penuh penghayatan atau penjiwaan.

Seorang penari dapat terlihat menarik karena kostum yang digunakan menarik, memiliki teknik menari yang baik, memiliki penampilan pribadi yang mengesankan, memiliki kepekaan yang baik dalam ritme dan musik keberhasilan koreografi yang tepat dan dapat menggugah emosi baik pada penari maupun bagi penonton.

Kepekaan estetis dapat kita latih melalui praktk tari atau mengapresiasi dan mengkritik gerakan yang dilakukan oleh penari. Kita bisa mendapatkan pengetahuan dari praktisi atau pelatih tari. Seorang guru atau penata tari mengajarkan bagaimana seorang penari dapat melakukan gerak dengan baik dengan penuh penjiwaan, saling mengisi dengan iringan musik. Bagaimana menari sambil menghayati dialog dan iringan musik yang disertai adanya nyanyian dari seorang sinden atau vokalis. Bagaimana memilih bentuk dan warna kostum yang sesuai dengan tarian tersebut, merias wajah, properti tari yang digunakan. Melalui merasakan sendiri bagaimana rasanya, kita akan memiliki bekal untuk dapat memberikan penilaian terhadap karya seni orang lain.

Cara Membuat Tulisan Kritik Tari

Banyak orang yang menduga bahwa bekal seorang kritik adalah hanya pengetahuan. Naun, sebetulnya kepekaan estetis merupakan sarana yang terpenting bagi seorang kritikus tari dalam melakukan tugasnya. Seorang kritikus seni harus dapat menulis dari hasil pengamatnnya secara langsung apa yang terjadi di atas panggung atau pentas. Jika tidak maka tidak dapat disebut kritik tari, melainnya hanya sebuah esai atau artikel tari. Berbagai pengamatan langsung terhadap apa yang terjadi di panggung dapat dituangkan pada beberapa kerangka penulisan kritik tari berikut ini.

Deskripsi

Deskripsi adalah suatu proses pengumpulan data karya seni yang tersaji langsung kepada pengamat. Dalam mendeskripsikan karya seni, kritikus dituntut menyajikan keterangan secara objektif yang bersumber pada fakta yang terdapat dalam karya seni. Dalam seni tari, kritikus akan menguraikan bagaimana aspek penari, gerak, ekspresi, dan ilustrasi musik yang mengiringinya.

Analisis

Pada tahap analisis, tugas kritikus adalah menguraikan kualitas elemen seni. Paada seni tari akan menguraikan mengenai gerak, ruang, waktu, tenaga dan ekspresi pada karya seni tari tersebut.

Interpretasi

Interpretasi dalam kritik seni adalah proses mengemukakan arti atau makna karya seni dari hasil deskripsi dan analisis yang cermat. Kegiatan ini tidak bermaksud menemukan nilai verbal yang setara dengan pengalaman yang diberikan karya seni. Juga bukan dimaksudkan sebagai proses penilaian.

Evaluasi

Evaluasi karya seni dengan metode kritis berarti menetapkan rangking sebuah karya dalam hubungannya dengan karya lain yang sejenis, untuk menentukan kadar artistik dan faedah estetiknya.

Pendekatan Kritik Tari

Tentunya terdapat berbagai pisau analisis, kacamata, atau pendekatan yang dapat dilakukan saat kita membuat kritik tari. Menurut Tim kemdikbud (2018, hlm. 152) beberapa pendekatan yang dapat digunakan sebagai asas penulisan kritik tari adalah sebagai berikut.

Pendekatan Formalistik

Kriteria kritik formalis untuk menentukan ekselensi karya seni adalah significant form, yakni kapasitas bentuk seni yang melahirkan emosi estetik bagi pengamat seni. Artinya tari akan dilihat dari bentuk konkretnya yang meliputi unsur tari seperti gerak, level, pola lantai, hingga pada berbagai unsur pendukungnya seperti iringan, tata rias, tata busana, dsb.

Pendekatan Ekspresivisme

Kritik seni ekpresivisme menentukan kadar keberhasilan seni atas kemampuannya membangkitkan emosi secara efektif, intensif, dan penuh gairah. Intensitas pengalaman mengandung makna, bahwa karya seni yang baik dapat menggetarkan perasaan yang lebih kuat daripada perasaan keseharian pada saat kita melihat relitas yang sama.

Pendekatan Instrumentalistik

Para kritikus instrumentalis berpendapat bahwa kreasi artistik tidak terletak pada kemampuan seniman untuk mengolah material seni ataupun pada masalah internal karya seni. Dapat dikatakan bahwa teori seni instrumentalistik menganggap seni sebagai sarana untuk memajukan dan mengembangkan tujuan moral, agama, politik, dan berbagai tujuan psikologis dalam kesenian. Seni dipandang sebagai instrumen untuk mencapai tujuan tertentu, nilai seni terletak pada manfaat dan kegunaannya bagi masyarakat.

Referensi

  1. Tim Kemdikbud. (2017). Seni Budaya X, semester 2. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *