Pengertian Majas Innuendo

Majas innuendo adalah gaya bahasa yang mengecilkan hal yang sebenarnya lebih besar. Contohnya adalah: Dia berhasil naik pangkat dengan sedikit menyuap. Tentunya menyuap adalah hal besar yang tidak boleh dilakukan, selain itu angka finansial yang dilibatkan juga kemungkinan tidak sedikit.

Pendapat Ahli

Sejalan dengan pengertian di atas, Keraf (2010, hlm. 144) menyatakan bahwa majas innuendo adalah gaya bahasa sindiran yang mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Artinya, gaya bahasa ini menciptakan ungkapan yang mengecilkan kenyataan hal yang sebenarnya dimaksud.

Senada dengan Keraf, Nurdin, Maryani & Mumu (2004, hlm. 27) mengemukakan bahwa innuendo adalah gaya bahasa sindiran yang mengecilkan maksud yang sebenarnya. Dapat disimpulkan bahwa majas ini adalah gaya bahasa yang mengecilkan kenyataan yang sebenarnya tidak sepele dan biasanya dilakukan untuk menyindir.

Contoh Majas Innuendo

Untuk lebih jelasnya berikut adalah beberapa contoh kalimat majas innuendo.

  1. Jangan terlalu dipikirkan, besok pagi juga musibah ini hanya akan menjadi mimpi buruk semalam saja.
  2. Tidak usah takut, disuntik itu sakitnya hanya seperti digigit semut.
  3. Gubuk kecil kami berada di perumahan pondok hijau di bagian terpencil Bandung Utara.
  4. Tak usah terlalu dipikirkan, akhir dari hubungan percintaanmu itu hanya secuil kisah sebenarnya dalam hidupmu.
  5. Saya tidak pandai, hanya sedikit lebih bekerja keras dari yang lain saja.
  6. Konon katanya Pak Tommy berhasil memasuki instansi tersebut hanya dengan sedikit uang pelicin saja.
  7. Berkali-kali kami tekankan bahwa kondisi ekonomi negara kita sangatlah aman, hanya ada sedikit gangguan dari pandemi saja.
  8. Berhenti memberikannya secercah harapan, kalau tidak ia akan semakin terluka.
  9. Tujuan kita berada di belakang bukit ini, tinggal beberapa langkah lagi maka kita akan sampai di negeri di atas awan.
  10. Dampak dari bencana ini akan segera kita lewati, tinggal menghitung hari saja.

Karakteristik Majas Innuendo

Boleh dibilang majas ini merupakan kebalikan dari majas hiperbola yang justru melebih-lebihkan suatu kenyataan. Lalu, mengapa majas ini termasuk dalam kategori majas sindiran yang memayungi satire dan sarkasme pula? Karena innuendo memang ditujukan untuk menyindir.

Sementara itu, jika gaya bahasa mengecilkan kenyataan tanpa bermaksud menyindir, maka gaya bahasa tersebut disebut dengan majas litotes. Namun, bisa jadi kita tidak menyadari bahwa tulisan tersebut sebetulnya sedang berusaha untuk menyindir. Terkadang sulit untuk membedakannya, karena bahasa juga akan dipengaruhi oleh konteks penggunaannya.

Ironisnya, terkadang saat kita ingin merendahkan diri melalui litotes, orang lain justru dapat merasa tersindir karenanya. Apalagi jika kenyataan yang direndahkan terlalu berlebihan, dan orang yang mendengarnya memiliki sensitivitas tinggi karena bahkan apa yang direndahkan itu saja ia tidak punya. Itulah sebabnya, kedua majas yang serupa tak sama ini harus digunakan dengan hati-hati. Terkadang seseorang dapat merendah namun justru tampak sombong karenanya.

Hal tersebut sebetulnya bukan hal baru dari dampak tumpang tindih kategori dan dikotomi yang dilakukan dalam ilmu pengetahuan. Nyatanya banyak majas lain yang dapat mencakup beberapa kategori pula, tidak hanya innuendo dan litotes saja.

Referensi

  1. Keraf, Gorys. (2010). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  2. Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu. (2004). Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMU. Bandung: CV. Pustaka Setia.

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *