Manajemen strategik merupakan salah satu rangkaian proses untuk menetapkan cetak biru dan rencana untuk menentukan berbagai hal yang dibutuhkan dalam implementasi pencapaian tujuan dari suatu organisasi. Cakupan perencanaan strategik dapat diawali dengan pengukuhan filosofi sehingga dapat diketahui strategi dan cara seperti apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan.

Tujuan utama yang unik dan menjelaskan ruang lingkup operasi suatu perusahaan dapat didefinisikan dalam bentuk misi perusahaan. Misi itu sendiri merupakan pernyataan yang menjabarkan maksud dari suatu organisasi/perusahaan. Misi juga dapat didefinisikan sebagai kumpulan langkah yang ditempuh oleh suatu organisasi/perusahaan untuk mencapai visinya.

Visi sendiri merupakan harapan atau keinginan jangka panjang yang akan ditempuh dengan cara mewujudkan misi perusahaan. Dengan demikian, meskipun tujuan merupakan inti dari dibentuknya suatu organisasi, hal tersebut bukanlah titik final, masih terdapat visi yang harus terwujud baik secara langsung maupun tidak langsung berdasarkan tujuan unik atau misi yang terlaksana dengan baik.

Berbagai uraian di atas merupakan gambaran umum namun tidak membatasi mengenai seperti apa manajemen strategik dilakukan dalam suatu pengelolaan organisasi. Untuk lebih jelasnya, berbagai perincian mengenai teori dan konsepsi manajemen strategik akan diuraikan pada pemaparan-pemaparan di bawah ini.

Pengertian Manajemen Strategik

Istilah “Manajemen Strategik” berasal dari dua suku kata, yaitu “Manajemen” dan “Strategik”. Manajemen dalam pengertian lembaga (korporasi), merupakan individu atau sekelompok orang yang bertanggung jawab menganalisa, membuat keputusan, dan mengerahkan tindakan yang tepat untuk mencapai tujuan organisasi, sementara itu “strategi” berarti “keputusan dan tindakan untuk mencapai tujuan lembaga pada setiap level organisasi”.

Dengan demikian, menurut Susanto (2014, hlm. 4) manajemen strategik adalah proses untuk memastikan arah dan tujuan organisasi dalam jangka panjang dan pemilihan metode untuk mencapai tujuan tersebut melalui pengembangan formulasi strategi dan implementasi yang terencana dan sistematis. Tentunya proses tersebut melibatkan anggota manajemen dan manajemen dalam artian pengelolaan suatu organisasi pula.

Selanjutnya, menurut Krisnandi dkk (2019, hlm. 109) perencanaan strategik atau manajemen strategik adalah serangkaian proses penetapan tujuan organisasi, strategi, kebijakan dan berbagai program untuk mencapai tujuan yang dimaksud, serta penentuan metode yang menjamin pengimplementasian strategi dan kebijakan dengan baik. Artinya, manajemen strategik tak lain merupakan kumpulan berbagai strategi yang dicanangkan dalam berbagai aspek pengelolaan untuk memaksimalkan berbagai implementasinya.

Sementara itu, menurut Assauri (2017) manajemen Strategi adalah merupakan suatu proses pengambilan keputusan untuk memanfaatkan sumber daya perusahaan secara efektif dan efisien dalam kondisi lingkungan perusahaan yang selalu berubah-ubah. Seperti aspek atau fungsi manajemen yang lainnya, pemaksimalan sumber daya selalu menjadi tujuan utama yang ingin dicapai.

Berdasarkan pengertian manajemen strategi menurut para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen strategik adalah serangkaian proses penetapan atau penentuan formulasi arah, metode, kebijakan, tujuan, dan berbagai aspek lain dalam suatu manajemen organisasi untuk memastikan implementasi dan aktualisasi manajemen dan organisasi dapat terlaksana dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.

Hierarki Manajemen Strategik

Hierarki pengambilan keputusan perusahaan mencakup tiga jenjang, yakni tingkat korporasi, strategi kompetitif, dan fungsional (Krisnandi dkk, 2019, hlm. 109). Puncak dari hierarki pengambilan keputusan adalah tingkat korporasi, yakni tingkatan pada sekelompok unit bisnis strategis (Strategic Business Unit) yang relatif independen.

Tingkat Korporasi

Strategi di tingkat korporasi berkaitan dengan rasionalitas dalam suatu korporasi. Tingkat korporasi itu sendiri mencakup dewan direksi dan eksekutif. Pada tingkat korporasi, manajer bertanggung jawab terhadap upaya peningkatan kinerja perusahaan, pemeliharaan citra perusahaan, dan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan. Manajer di tingkat ini juga melakukan penetapan sasaran dan perumusan strategi yang meliputi bidang kegiatan dan fungsional dari berbagai bisnis yang dijalaninya.

Tingkat Strategik

Di bagian tengah hierarki, pengambilan keputusan dilakukan di tingkatan bisnis dengan strategi yang dinamakan sebagai strategi kompetitif atau strategi SBU (Strategic Business Unit). Pada dasarnya, strategi SBU berkaitan dengan persaingan produk di pasar. Manajer yang terlibat dalam pengambilan keputusan di tingkatan ini disebut sebagai manajer bisnis dan korporasi.

Manajer bisnis dan korporasi akan menginterpretasikan rumusan arah, serta visi, misi dan tujuan di tingkat korporasi ke dalam bentuk sasaran dan strategi konkret di setiap unit bisnis. Strategi kompetitif harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Di mana perusahaan akan bersaing? (Di pasar mana dan di segmen mana perusahaan akan berfokus?)
  2. Produk apa yang akan ditawarkan oleh perusahaan di tengah persaingan yang terjadi di dalam pasar yang dimaksud?
  3. Bagaimana perusahaan dapat memperoleh keunggulan kompetitif di pasar yang dimaksud?

Tingkat Fungsional

Di bagian bawah hierarki, pengambilan keputusan strategi di lakukan di tingkatan fungsional. Strategi di tingkat fungsional ini berhubungan dengan penginterpretasian peran dari fungsi ataupun departemen dalam pengimplementasian strategi kompetitif, sehingga setiap strategi fungsional itu sendiri akan diarahkan oleh strategi kompetitif yang telah ditetapkan.

Berdasarkan hal tersebut, setiap strategi kompetitif akan ditranslasikan ke dalam bentuk strategi pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, dan bidang-bidang fungsional lainnya. Manajer yang melakukan pengambilan keputusan di tingkat fungsional disebut sebagai manajer fungsional, seperti manajer pemasaran, manajer produk, dsb.

Proses Manajemen Strategik

Suatu proses manajemen strategik mencakup lima tahapan yang secara berurutan meliputi: analisis lingkungan, penetapan misi dan tujuan, perumusan strategi, implementasi strategi, evaluasi dan pengendalian (Krisnandi dkk, 2019, hlm. 111). Untuk lebih jelasnya, berikut adalah pemaparan mengenai masing-masing tahapan proses manajemen strategik.

Bagan ilustrasi proses manajemen strategik (Krisnandi dkk, 2019, hlm. 111)

Analisis Lingkungan

Hal pertama yang harus dilakukan oleh pimpinan adalah mengidentifikasi peluang (opportunity) dan ancaman (threats) yang dihadapinya. Dalam menganalisis lingkungan usaha, perlu diidentifikasi variabel-variabel pokok yang memberikan dampak terhadap kinerja perusahaan. Dalam hal ini, perusahaan akan menganalisis beberapa variabel yang relevan dalam jumlah terbatas, bukan dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya (infinite).

Pimpinan juga harus mampu menganalisis kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) yang dimiliki oleh organisasi. Analisis yang mencakup identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman ini sering disebut sebagai analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threats). Namun demikian banyak ahli yang berpendapat bahwa urutan yang lebih tepat adalah TOWS, yakni dimulai dengan identifikasi peluang dan ancaman terlebih dahulu, seperti yang telah diungkapkan di atas.

Dalam analisis lingkungan, terdapat dua komponen pokok yang harus diperhatikan. Dua komponen pokok dalam analisis lingkungan tersebut adalah lingkungan eksternal dan internal.

  1. Lingkungan eksternal perusahaan mencakup lingkungan umum, lingkungan industri dan lingkungan operasional.
  2. Sementara itu, lingkungan internal perusahaan mencakup sumber daya, kemampuan dan kompetensi inti.

Analisis lingkungan dapat turut membantu perusahaan dalam menyusun strategi bisnis yang dapat mengantisipasi lingkungan bisnis yang dimaksud.

Misi dan Tujuan Perusahaan

Misi dan tujuan perusahaan merupakan proses yang dilakukan setelah melakukan analisis lingkungan. Artinya, saat kita menentukan misi dan tujuan perusahaan, maka hal ini haruslah dilakukan berdasarkan berbagai simpulan yang dapat diambil dari proses analisis lingkungan. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah pemaparan mengenai keduanya.

Misi

Misi merupakan suatu tujuan khas yang membedakan suatu perusahaan dari perusahaan lainnya dan mengidentifikasi cakupan operasi dari perusahaan itu sendiri (Krisnandi, 2019, hlm. 112). Misi biasanya menguraikan karakteristik produk, pasar dan teknologi perusahaan. Dengan misi, perusahaan mampu mengoptimalisasi seluruh potensinya untuk mencapai tujuan yang dikehendakinya secara efektif dan efisien.

Perumusan misi memiliki komponen utama berupa spesifikasi sebagai berikut.

  1. Produk
    Misi organisasi harus mencerminkan produk yang dihasilkannya agar konsumen dapat mengetahuinya.
  2. Pasar
    Misi organisasi juga harus mencerminkan pasar yang disasarnya untuk menawarkan produk agar organisasi dapat berfokus pada pasar sasarannya saja.
  3. Teknologi
    Informasi ini mencakup material, mesin, peralatan, proses dan teknik yang digunakan oleh suatu organisasi yang juga mencerminkan keunggulannya (Krisnandi dkk, 2019, hlm. 113).

Suatu misi akan dapat dicapai jika secara spesifik diuraikan ke dalam bentuk pernyataan tujuan. Oleh karena itu, suatu organisasi perlu menetapkan misinya sebelum menetapkan tujuan, sehingga kegiatan lainnya baru dapat dijalankan setelah penetapan misi.

Tujuan

Glueck (1997 dalam Krisnandi, 2019, hlm. 119) mendefinisikan tujuan sebagai hasil akhir yang dicari ataupun dicapai oleh organisasi dengan kemampuan dan berbagai aktivitasnya.Tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh suatu perusahaan yang kemudian dijadikan sebagai landasan perusahaan tersebut dalam menyusun kebijakan, arah dan strategi agar dapat mewujudkan pencapaiannya (Krisnandi, 2019, hlm. 112). Seperti misi, merumuskan tujuan juga adalah hal yang penting dan harus dirumuskan secara jelas.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penetapan tujuan perusahaan adalah sebagai berikut.

  1. Tujuan sebelumnya
    Tingkat keberhasilan dari tujuan sebelumnya dapat dipertimbangkan dalam menentukan tujuan organisasi di masa mendatang.
  2. Sumber ekonomi
    Semakin besar sumber ekonomi suatu organisasi, maka akan semakin bebas organisasi tersebut dalam menentukan tujuannya jika dibandingkan dengan organisasi kecil yang cenderung bergantung pada lingkungan luar.
  3. Sistem penilaian eksekutif puncak
    Salah satu kesulitan dalam penentuan arah organisasi adalah pemahaman dampak perubahan strategi bisnis terhadap nilai-nilai dasar manajemen puncak, dan pemahaman hubungan baru dengan berbagai pihak yang berkepentingan.
  4. Kekuatan lingkungan
    Lingkungan yang dimaksud antara lain stockholders, organisasi karyawan, pemasok, pesaing, pemerintah, dan sebagainya.

Perumusan Strategi

Strategi merupakan sekelompok tindakan terkoordinasi dan terintegrasi yang dijalankan untuk memberdayakan kompetensi inti dan memperoleh keunggulan bersaing (Krisnandi dkk, 2019, hlm. 114). Strategi ditentukan agar organisasi mampu memiliki daya saing strategis dan mendapatkan laba yang tinggi. Untuk menetapkan strategi yang tepat, perusahaan perlu menganalisis lingkungan eksternalnya, mengidentifikasi peluang dan tantangan di dalamnya, menentukan kompetensi inti dari sumber daya dan kemampuan yang dimilikinya, serta menetapkan strategi yang tepat baginya (strategic formulation).

Penerapan Strategi

Penerapan strategi merupakan suatu tindakan mengelola beragam sumber daya organisasi serta mengarahkan dan mengendalikan pemanfaatannya melalui beberapa strategi tertentu yang telah ditetapkan. Kesuksesan penerapan strategi akan ditentukan oleh kemampuan dan keterampilan manajer yang bersangkutan.

Dalam menerapkan strategi, manajer memiliki tanggung jawab utama sebagai berikut.

  1. Melakukan pembagian tugas dan urutan kegiatan dalam pelaksanaan kebijakan dan strategi untuk mencapai tujuan.
  2. Menentukan penanggung jawab dari setiap tugas, langkah yang harus dijalankan dan keputusan yang harus ditetapkan.
  3. Menetapkan struktur pokok dari organisasi di mana strategi akan diimplementasikan, misalnya departemen fungsional atau divisi produk yang didesentralisasikan.
  4. Menentukan sumber daya yang diperlukan dalam penerapan strategi dan kebijakan serta menjamin ketersediaan sumber daya tersebut.
  5. Menetapkan berbagai prestasi yang perlu dicapai oleh organisasi dan individu di dalamnya serta waktu harus diselesaikannya beberapa kegiatan khusus.
  6. Menentukan motivasi yang akan dipergunakan.
  7. Menganalisis hubungan antar-orang, unit organisasi, dan kegiatan dalam unit tersebut yang perlu dikoordinasikan serta menentukan sistem yang tepat untuk membangun koordinasi.
  8. Menjamin keikutsertaan dalam perumusan, pengoperasian sistem dan pengimplementasian.
  9. Mengembangkan sistem informasi yang dapat menjamin ketepatan pengukuran prestasi berdasarkan standar-standar tertentu sehingga memungkinkan dilakukannya berbagai tindakan korektif yang diperlukan.
  10. Mengembangkan pelatihan untuk meningkatkan berbagai keterampilan terkait pengimplementasian strategi.
  11. Memastikan efektivitas kepemimpinan manajemen dalam memotivasi dan mengarahkan organisasi terkait pengimplementasian strategi dan kebijakan demi tercapainya tujuan organisasi secara efektif dan efisien (Krisnandi dkk, 2019, hlm. 115).

Pengevaluasian

Pengevaluasian merupakan tahapan di mana manajemen berupaya memastikan bahwa strategi yang telah ditetapkan dapat dijalankan secara tepat untuk mencapai tujuan yang dikehendaki (Krisnandi, 2019, hlm. 115). Pengevaluasian strategi ialah proses pembandingan hasil dari pengimplementasian strategi dengan tingkat ketercapaian tujuannya. Pada umumnya, evaluasi meliputi hal-hal berikut.

  1. Penetapan sasaran prestasi kerja, standar, batas toleransi tujuan, strategi, dan rencana pelaksanaan.
  2. Pengukuran ketercapaian tujuan dan sasaran pada waktu tertentu yang telah ditentukan. Apabila ketercapaian tujuan dan sasaran masih berada di luar batas toleransi yang telah ditetapkan, maka perlu diambil tindakan korektif.
  3. Menganalisis deviasi dari batas toleransi.
  4. Memodifikasi strategi jika diperlukan.

Pengendalian

Pengendalian strategik merupakan suatu tindakan mengendalikan strategi yang diimplementasikan, mengidentifikasi masalah ataupun perubahan yang timbul, dan melakukan penyesuaian jika diperlukan. Pengendalian strategi itu sendiri memiliki empat jenis utama, yakni pengendalian asumsi, pengendalian implementasi, pengawasan strategi, dan pengendalian peringatan khusus.

Model Manajemen Strategik

Terdapat banyak model yang dapat digunakan untuk menyusun suatu manajemen strategik. Beberapa model manajemen strategik tersebut meliputi namun tidak terbatas pada beberapa model di bawah ini.

Blue Ocean Strategy

Blue ocean strategy pada dasarnya merupakan sebuah siasat untuk menaklukan pesaing melalui tawaran fitur produk yang inovatif, dan selama ini diabaikan oleh para pesaing (Kim & Mauborgne, 2014). Fitur produk ini biasanya juga berbeda secara radikal dengan yang selama ini sudah ada di pasar. Blue ocean adalah kebalikan dari red ocean, di mana semua kompetitor memberikan tawaran fitur produk yang seragam, sama, dan semua saling memperebutkan pasar yang juga sama.

Penyusunan manajemen strategik berdasarkan model Blue Ocean dapat dilakukan dengan langkah menyusun kanvas strategi. Kanvas strategi adalah kerangka aksi sekaligus diagnosis untuk membangun strategi Blue Ocean yang baik. Pada intinya, kanvas strategi merangkum situasi terkini dalam ruang pasar yang sudah dikenal, dan jika kurva nilai organisasi memenuhi berbagai kriteria tertentu, maka organisasi dapat dikatakan sebagai Blue Ocean. Beberapa kriteria dari kanvas strategi Blue Ocean adalah sebagai berikut.

  1. Jika kurva nilai memenuhi tiga kriteria yang mendefinisikan strategi samudra biru, yaitu fokus, divergensi, dan mempunyai motto/tagline maka hal ini menunjukkan perusahaan berada di samudra biru.
  2. Jika kurva nilai suatu perusahaan bertemu dengan kurva nilai pesaingnya, menunjukkan bahwa perusahaan terperangkap dalam kompetisi samudra merah.
  3. Jika kurva nilai menunjukkan tingkat nilai yang tinggi dalam semua faktor, maka harus dipertanyakan apakah pangsa pasar dan profitabilitas perusahaan mencerminkan investasi. Jika tidak, berarti perusahaan mungkin memberikan pasokan berlebih atau memberikan penawaran terlalu banyak kepada pelanggannya.
  4. Jika kurva nilai suatu perusahaan terlihat tanpa pola yang jelas, di mana penawaran bisa digambarkan sebagai “naik-turun-naik-turun”, maka menunjukkan perusahaan tidak mempunyai strategi yang koheren (Kim & Mauborgne, 2014).

SWOT

Analisis SWOT merupakan salah satu metode untuk menggambarkan kondisi dan mengevaluasi suatu masalah, proyek atau konsep bisnis yang berdasarkan faktor internal (dalam) dan faktor eksternal (luar) yaitu Strengths, Weakness, Opportunities, dan Threats. Metode ini paling sering digunakan dalam metode evaluasi bisnis untuk mencari strategi yang akan dilakukan. Analisis SWOT hanya menggambarkan situasi yang terjadi bukan sebagai pemecah masalah.

Berdasarkan model strategi SWOT, suatu perusahaan dapat menetapkan strategi menggunakan matriks yang paling dibutuhkan. Misalnya, jika hasil analisis SWOT menentukan bahwa perusahaan tengah menghadapi persaingan yang ketat, maka dapat dibuat strategi untuk mengatasi ancaman (ST). Untuk lebih jelasnya, beberapa strategi yang dapat digunakan pada SWOT adalah sebagai berikut.

  1. Strategi SO (Strength, Opportunity)
    Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar–besarnya.
  2. Strategi ST (Strength, Threat)
    Strategi ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.
  3. Strategi WO (Weakness, Opportunity)
    Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
  4. Strategi WT (Weakness, Threat)
    Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.

Kerangka Kerja Empat Langkah

Kerangka kerja atau skema empat langkah adalah model manajemen strategik yang berusaha mendorong perusahaan untuk mengimplementasikan keempat pernyataan yang ada pada atribut-atribut tertentu untuk menciptakan suatu kurva nilai baru dan tidak hanya menanyakan empat pertanyaan dalam kerangka kerja empat langkah. Beberapa atribut-atribut aksi yang dapat dilakukan pada model skema empat langkah adalah sebagai berikut.

  1. Hapuskan
    Faktor apa saja yang harus dihapuskan dari faktor-faktor yang telah diterima begitu saja oleh industri? Dalam industri Anda, fitur apa yang sebenarnya tidak begitu penting namun karena kebiasaan, selalu ditawarkan kepada pelanggan.
  2. Kurangi
    Faktor apa saja yang harus dikurangi hingga di bawah standar industri? Dalam industri Anda, fitur apa yang sebaiknya dikurangi karena tidak memberikan nilai yang tinggi kepada pelanggan.
  3. Tingkatkan
    Faktor apa saja yang harus ditingkatkan hingga di atas standar industri? Dalam industri Anda, fitur apa yang sebaiknya diberikan karena mampu memberikan value yang sangat tinggi kepada pelanggan; meski mungkin fitur ini sudah ditawarkan oleh para pesaing.
  4. Ciptakan
    Faktor apa saja yang belum pernah ditawarkan industri sehingga harus diciptakan? Dalam industri Anda, fitur baru apa yang sebaiknya diciptakan; fitur baru yang mampu memberikan nilai tinggi kepada pelanggan, dan selama ini belum pernah ditawarkan oleh pelanggan.

Referensi

  1. Assauri, Sofjan. (2017). Manajemen pemasaran. Jakarta: Rajawali Pers.
  2. Kim, W . Chan dan Mauborgne, Renee. (2014). Bluce ocean strategy. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.
  3. Krisnandi H., Efendi S., Sugiono E. (2019). Pengantar manajemen. Jakarta: LPU-UNAS.
  4. Susanto, AB. (2014). Manajemen strategik komprehensif untuk mahasiswa dan praktisi. Jakarta: Erlangga.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.