Saat memilih bidang studi untuk dipelajari, pasti terlintas di benak kita bahwa bidang studi yang akan membawa kita pada kesuksesan adalah bidang terapan yang banyak dibutuhkan oleh industri.

Informatika, teknik mesin, manajemen, dan keterampilan teknis yang spesifik lainnya menjadi program studi yang paling banyak dipilih.

Bahkan beberapa di antara kita mungkin sudah menentukannya lebih awal, sehingga memilih untuk belajar di sekolah vokasi atau SMK sedari menempuh pendidikan menengah.

Tujuannya adalah agar mendapatkan skill atau keterampilan teknis yang memang akan terpakai dan dapat digunakan langsung di industri kerja, sehingga kesuksesan akan menghampiri dengan lebih cepat tanpa mengalami permasalahan yang berarti.

Sayangnya, pandangan tersebut kurang tepat.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Harvard University (dalam Irawan & Suprapti, 2018, hlm. 33-34) keterampilan teknis atau hard skills hanyalah memegang porsi sebanyak 20% saja dalam menentukan kesuksesan seseorang. Sisanya, yaitu 80% ditentukan oleh soft skills.

Melalui pengaruhnya yang sebesar itu, dapat dikatakan bahwa kita bisa menjadi sukses tanpa memiliki keterampilan teknis apa pun, selama soft skills yang kita miliki amatlah baik.

Ya, keterampilan teknis tidaklah menjamin kesuksesan. Soft skills atau kemampuan mengelola diri adalah kuncian sukses yang sebenarnya.

Pengertian Soft Skills

Menurut Wibowo & Hamrin (2017, hlm. 130) soft skills adalah sebuah kemampuan di luar kemampuan teknis dan akademis yang lebih mengutamakan kemampuan intrapersonal dan interpersonal.

Intrapersonal adalah kemampuan untuk mengatur diri, seperti kemampuan untuk bertanggung jawab, berdisiplin, menilai diri, mengendalikan emosi, dan lain-lain.

Sementara itu Interpersonal merupakan kemampuan dalam bersosialisasi, seperti kemampuan beradaptasi dengan orang lain, berbagi ilmu, bekerja dalam tim, hingga kemampuan untuk memimpin.

Keterampilan atau skill seseorang diibaratkan sebagai gunung es di tengah laut, di mana puncak yang tampak adalah hard skills atau keterampilan teknis, sementara itu bagian bawah yang tertutupi lautan adalah soft skills yang sebetulnya berukuran jauh lebih besar dari puncaknya sendiri.

Sebetulnya keterampilan teknis juga merupakan hal penting, karena hal inilah yang dapat dilihat secara konkret oleh orang-orang. Belum lagi, hard skills juga adalah modal utama yang harus dimiliki agar kita dapat menggeluti suatu profesi.

Akan tetapi, hard skills yang tidak diimbangi oleh soft skills yang baik adalah percuma.

Tanpa mampu mendisiplinkan diri dan bertanggungjawab terhadap pekerjaan, seseorang yang piawai menulis kode tidak akan pernah bisa menyelesaikan aplikasi yang ia kembangkan.

Tanpa bisa mengomunikasikan penelitiannya dengan baik, seorang ilmuwan hebat tidak akan pernah bisa melakukan perubahan bermakna di dunia melalui riset dan penemuannya.

Tanpa landasan soft skills yang kuat, keterampilan teknis yang kita miliki tak akan pernah bisa muncul ke permukaan dan digunakan untuk hal yang berdampak besar.

Persoalan Soft Skills

Apalagi, berbeda dengan hard skilsl yang tidak harus dikuasai oleh semua orang, semua orang justru wajib memiliki soft skill yang baik. Hal ini adalah konsekuensi dari sifat manusia sebagai makhluk nalar dan sosial yang tidak bisa bertahan hidup tanpa mengandalkan akal dan bantuan orang lain.

Soft skills sendiri sebetulnya secara otomatis telah dimiliki oleh setiap orang, akan tetapi kadarnya sangatlah berbeda-beda.

Sebagian orang mungkin tidak memiliki kemampuan untuk mengutarakan pikiran atau gagasannya dengan baik. Ada juga beberapa orang yang merasa tidak nyaman untuk berinteraksi dengan orang yang belum ia kenal.

Sementara itu ada pula orang yang pandai bergaul namun sulit untuk mengondisikan diri agar konsisten berdisiplin secara mandiri untuk menyelesaikan suatu persoalan yang sebetulnya ia sangat piawai dalam melakukannya.

Soft skills juga dapat berubah kapan pun, tidak paten, ia akan berfluktuasi berdasarkan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi oleh seseorang, dan sayangnya, hingga kini, satu-satunya cara yang paling efektif untuk melatih soft skills adalah dengan mengasahnya di lapangan secara langsung.

Mungkin terdapat beberapa model pembelajaran yang dapat mengasah soft skill. Misalnya, tugas kelompok dan presentasi yang sering diberikan di sekolah adalah salah satu upaya untuk mengasah soft skills.

Namun perkara peningkatan soft skill ini tetaplah amat bergantung pada individunya sendiri. Bahkan tak jarang metode ini malah menjadi one man show karena kenyataannya hanya satu atau beberapa orang saja yang mengerjakan tugasnya.

Meningkatkan Soft Skills

Oleh karena itu, keinginan dan kemauan untuk terjun langsung ke lapangan dalam rangka mengembangkan disiplin diri, cara komunikasi, dan ketahanan mental untuk menangkal afeksi negatif seperti rasa malas dan minder dalam kehidupan sehari-hari adalah cara yang paling konkret untuk meningkatkan soft skills.

Dengan kata lain cara terbaik untuk mengembangkan soft skills adalah secara sadar dan terencana melatihnya sendiri secara mandiri. Caranya dapat sesederhana mendobrak segala keraguan kita untuk mencoba dan melakukan sesuatu.

Contohnya daripada meresapi rasa malas yang kita hadapi, lebih baik ketik huruf pertama untuk memulai tugas atau proyek yang kita harus selesaikan. Setelah memberanikan diri untuk memulai, hanya tinggal perkara waktu saja hingga akhirnya tanpa disadari pekerjaan yang tengah kita lakukan telah selesai.

Sementara itu dalam melatih kemampuan interpersonal, hadapilah rasa cemas saat berinteraksi atau saat harus berkenalan dengan orang baru, karena semua orang pasti mengalaminya, perbedaannya adalah pengalaman dan tingkat keterbiasaannya saja.

Bahkan merasa memiliki kepribadian introvert pun bukanlah alasan. Introversi adalah spektrum yang tidak mendefinisikan kemampuan sosial seseorang. Hanya saja seorang introvert akan membutuhkan energi lebih untuk melakukannya. Inilah mengapa ada beberapa selebriti yang mengaku introvert padahal pekerjaannya melibatkan banyak aktivitas interpersonal.

Tentunya gangguan mental seperti social anxiety adalah pengecualian. Dalam hal ini, maka harus dilakukan langkah konkret dengan mengunjungi Psikolog atau bahkan Psikiatris untuk mendapatkan pertolongan yang tepat.

Hal tersebut juga membawa kita pada upaya lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan soft skills. Yaitu, jika kita merasa sangat kesulitan dalam meningkatkan soft skills secara mandiri, bisa jadi terdapat hal lain yang membendungnya dan selama ini kita tidak menyadarinya.

Hal yang membendung itu dapat berupa suatu tekanan jiwa, masalah ekonomi, merasa kesepian, dan lain-lain.

Cobalah berkaca dan ketahui masalah apa yang harus kita pecahkan agar kita bisa mendapatkan kekuatan psikis dan rasa percaya diri untuk melakukan semua aktivitas intrapersonal dan interpersonal yang mau tidak mau harus kita hadapi.

Baca juga: Soft Skills: Pengertian, Intra dan Interpersonal, serta Penguatannya

Referensi

  1. Irawan, D.A., Suprapti, W. (2018). Revolusi soft skill memandu pembelajaran efektif dengan metode 7 m. Mojokerto: CV. Sepilar Publishing House.
  2. Wibowo, A. & Hamrin. (2017). Menjadi guru berkarakter (strategi membangun kompetensi dan karakter guru. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *