Nirmana Dwimatra – Unsur,Asas,Contoh & Penjelasan Lengkap

nirmana-dwimatra-asas-unsur-penjelasan-referensi

Nirmana Dwimatra adalah asas atau prinsip kebenaran yang dapat digunakan untuk menyusun unsur rupa menjadi komposisi desain atau karya dua dimensi yang baik. Intinya Nirmana adalah penerapan terhadap Penggunaan prinsip-prinsip desain pada unsurnya yang dapat dimodifikasi juga. Penjelasan mengenai pengertian dan fungsi nirmana yang lebih lanjut dapat disimak disini: Nirmana – Pengertian, Unsur, Asas, Fungsi & Studi Kasus.

Nirmana Dwimatra banyak menggunakan terminologi dan istilah-istilah yang jarang didengar, padahal sebetulnya istilah tersebut merepresentasikan sesuatu yang sederhana. Penggunaan terminologi rumit tersebut dimaksudkan untuk memperuncing istilah yang terlalu umum menjadi lebih spesifik pada disiplin ilmu desain dan seni rupa. Namun tidak jarang istilah-istilah tersebut hanya menghambat proses pemahaman kita pada materi yang ingin kita pelajari.

Maka dari itu artikel ini menggunakan referensi buku berbahasa Inggris dan menerjemahkan sebagian istilahnya dengan Bahasa Indonesia yang lebih mudah untuk dipahami. Sebagian istilah juga dibiarkan berbahasa Inggris agar tidak menghambat pemahaman pembaca. Buku yang digunakan sebagai referensi adalah: “Principles of Two-Dimensional Design” yang ditulis oleh Wucius Wong. Setelah memahami konsepnya disini, Anda dapat membaca buku terjemahannya, yaitu: “Beberapa Asas Merancang Nirmana Dwimatra” untuk membandingkan istilah-istilah bakunya.

Unsur-unsur Nirmana Dwimatra

Unsur-unsur nirmana adalah bagian terkecil dari suatu objek atau komposisi. Unsur tersebut adalah objek untuk menerapkan asas atau prinsip nirmana. Sehingga penting bagi kita untuk mengetahui objek dua dimensi apa saja yang dapat diterapkan asas-asas Nirmana Dwimatra. Menurut Wucius Wong (1972: 7) Unsur-unsur Nirmana terbagi menjadi empat grup, yaitu:

  1. Unsur Konseptual
  2. Unsur Visual
  3. Unsur Relasional (Relational Element)
  4. Unsur Praktis (Practical Element, Praktik, bukan “ringkas” atau “mudah”)

Berikut ini adalah penjelasan mengenai masing-masing grup unsur dan unsur-unsur yang dibawahinya:

1. Unsur Konseptual

Unsur Konseptual tidak terlihat secara kasat mata. Sebetulnya unsur ini tidak benar-benar ada namun tetap hadir secara maya untuk membentuk Unsur Visual atau unsur yang tampak. Unsur-unsur Konseptual Nirmana Dwimatra tersebut adalah sebagai berikut:

a. Titik

Titik menandakan posisi. Titik tidak memiliki panjang dan tidak memakan area atau ruang. Tititk adalah awal dan akhir dari suatu garis. Titik juga dapat ditemui ketika dua garis saling bersilangan.

Titik
Titik salah satu unsur Nirmana Dwimatra

b. Garis

Ketika titik bergerak, medan yang dilaluinya menjadi garis. Garis memiliki panjang namun tidak memiliki lebar. Garis memiliki posisi dan arah. Pada hakikatnya garis dibentuk oleh titik dan dapat membentuk bidang.

Garis
Ilustrasi garis, salah satu unsur Nirmana Dwimatra

c. Bidang (Plane)

Bidang atau Plane adalah Medan atau garis pergerakan yang dihasilkan oleh suatu garis. Bidang memiliki panjang dan lebar namun tidak memiliki ruang (tidak memiliki dimensi Z, hanya X dan Y saja). Bidang memiliki posisi dan arah.

Bidang
Ilustrasi bidang, salah satu unsur Nirmana Dwimatra

d. Volume (Gempal)

Volume adalah bidang yang memiliki ruang. Berbeda dengan bidang, volume memiliki tiga dimensi lengkap yaitu X, Y dan Z. Dalam Nirmana Dwimatra, volume hanya bersifat ilusi dan bukan objek tiga dimensi yang sebenarnya.

Gempal/Volume/Bentuk
Gempal / Volume / salah satu unsur-unsur Nirmana

2. Unsur Visual

Unsur Visual adalah ketika unsur konsepsual tampak menjadi bentuk yang nyata. Ketika kita menggambar objek nyata pada kertas, kita menggunakan garis yang sebetulnya masih konseptual. Garis yang tampak pada kertas sudah tidak dalam ranah konsep lagi, melainkan sudah hadir visualisasinya. Warna dan teksturnya bergantung dari alat gambar dan bahan yang kita gunakan untuk membuatnya.

Maka, saat unsur konseptual telah menjadi tampak, unsur tersebut memiliki: Bentuk, Ukuran, Warna dan Tekstur atau bahasa bakunya: barik. Unsur visual memiliki peranan yang paling penting dalam karya desain atau seni murni, karena unsur inilah yang sebetulnya tampak. Unsur-unsur Visual Nirmana Dwimatra yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Bentuk (Shape)

Sesuatu yang kita lihat dan dapat diterima oleh persepsi kita menyerupai sesuatu disebut Bentuk. Bentuk biasanya hanya berupa bidang geometris saja seperti: bujur sangkar, lingkaran, garis menyilang, dll). Pada wujud murninya bentuk belum memiliki makna atau tidak dijadikan simbol untuk suatu hal.

b. Ukuran

Semua bentuk atau unsur lain memiliki ukuran. Ukuran tersebut relatif terhadap ruang yang ditempati dan konteks disekitarnya. Bentuk dianggap besar jika memakan banyak ruang pada media gambarnya. Bentuk juga dapat menjadi besar jika dideretkan dengan bentuk lain yang lebih kecil.

c. Warna

Warna adalah pantulan cahaya terhadap benda yang memiliki pigmen tertentu. Sebuah benda berwarna merah karena  benda tersebut memiliki pigmen yang memantulkan warna merah dan menyerap gelombang warna lainnya. Warna yang dimaksud disini adalah termasuk warna yang sebetulnya bukan warna seperti abu-abu, hitam dan putih.

3. Unsur Relasional

Unsur-unsur relasional mengatur penempatan dan keterhubungan antar bentuk dalam komposisi. Beberapa unsur dapat dilihat dan tampak nyata seperti Arah dan Posisi. Sementara itu sebagian unsur hanya hadir untuk dirasakan seperti Ruang dan Gravitasi. Unsur-unsur Relasional Nirmawan Dwimatra adalah:

a. Arah

Arah adalah kemana bentuk atau wujud yang kita buat mengarah. Arah sangat relatif terhadap bentuknya sendiri, persepsi pengamat, media karya dan konteks disekitar unsurnya.

b. Posisi

Posisi juga sangat bergantung pada ruang di media karya (frame karya). Posisi juga tergantung pada struktur desain. Posisi dapat saling berderet atau saling tumpang tindih.

c. Ruang (Space)

Bentuk sekecil apapun akan mengambil ruang pada suatu komposisi. Ruang adalah sisa dari apa yang telah ditempati oleh unsur lain seperti bentuk. Ruang dapat berbentuk datar atau memiliki ilusi kedalaman tiga dimensi dalam Nirmana Dwimatra.

d. Gravitasi

Gravitasi tidak dapat tampak pada Nirmana Dwimatra. Sifatnya lebih ke perasaan psikologis. Objek yang ditempatkan dibagian bawah frame komposisi akan terasa berat atau tampak lebih stabil. Sementara objek yang ditempatkan dibagian atas frame akan tampak ringan atau sedang melayang melawan gravitasi.

4. Unsur Praktis

Elemen praktis mendasari konten dan perluasan fungsi desain yang dihasilkan ketika suatu desain telah diciptakan.

a. Representasi (Representation)

Representasi adalah ketika bentuk atau wujud dibuat untuk menirukan sesuatu yang terdapat di alam. Misalnya Gambar pohon, ilustrasi pasar, foto binatang, dan sebagainya.

b. Makna/Arti (Meaning)

Makna terdapat pada desain atau karya ketika desain memang ditujukan untuk menyampaikan pesan.

c. Fungsi (Function)

Fungsi hadir ketika karya desain ditujukan untuk suatu tujuan fungsional tertentu.

Wujud (Form)

Seperti yang telah dibahas diatas, unsur konseptual tidak terlihat kasat mata. Namun jika kita menggambar titik, garis atau bidang diatas kertas, maka unsur konsepsual itu menjadi tampak dan berubah menjadi Wujud (form). Titik, garis atau bidang yang digambar pada kertas dapat dilihat dan sudah diluar ranah konsepnya saja.

Sebetulnya istilah “wujud” ini memang agak bias dengan istilah bentuk. Jangankan pada Bahasa Indonesia, Shape dan Form juga memiliki kebiasan yang hampir sama. Karena alasan seperti inilah Nirmana menggunakan istilah-istilah rumit baru agar lebih spesifik pada maksud yang dituju. Namun selama pemahaman terhadap materinya dapat dilakukan, istilah menjadi tidak sepenting itu dan dapat diperbaiki dengan melihat glosarium baku pada buku terjemahan baku.

Berdasarkan unsur konseptual yang berubah menjadi tampak saat diwujudkan, maka wujud-wujud tersebut dapat berupa:

  1. Wujud berupa Titik
  2. Wujud berupa Garis
  3. Wujud berupa Bidang
  4. Wujud berupa Volume (Gempal)

Pada hakikatnya, Unsur konseptual Nirmana dalam bentuk wujudnya juga sama dengan unsur tersebut pada saat masih berada di ranah konsepnya. Namun karena unsur tersebut sekarang tampak dan mewujud, maka unsur-unsur tersebut memilki keterhubungan dengan ruang atau frame yang menyelubunginya. Wujud tersebut juga memiliki keterhubungan dengan unsur lain yang terdapat disekitarnya.

Wujud Positif dan Wujud Negatif

Wujud biasanya dibentuk melalui bentuk yang menempati ruangnya. Misalnya lingkaran hitam diatas kertas putih. Namun wujud juga dapat digunakan untuk membentuk wujud negatif. Jika kita mengapitkan empat lingkaran hitam diatas kertas putih dengan posisi dua lingkaran diatas dan dua lingkaran dibawah, maka ditengah-tengah empat lingkaran tersebut akan terbentuk wujud negatif yang bentuknya mirip belah ketupat. Itulah yang disebut wujud negatif. Sementara empat lingkaran hitam yang diapitkannya adalah wujud positif. Istilah wujud positif dan negatif juga dikenal sebagai ruang positif dan negatif.

Distribusi Warna pada Wujud

Wujud dapat memiliki berbagai pendistribusian warna di dalamnya. Misalnya:

  1. Wujud hitam diatas ruang putih
  2. Wujud putih diatas ruang hitam
  3. Wujud hitam diatas ruang hitam
  4. Wujud putih diatas ruang putih

Pada contoh (a), wujud memilki wujud positif berwarna hitam dan wujud negatif berwarna putih. Sedangkan  dengan contoh (b) wujud memiliki wujud positif berwarna putih dan wujud negative berwarna hitam. Sedangkan pada contoh (c) dan (d) wujud tidak terlihat karena tidak memiliki kontras untuk menampakan sosoknya.

Keterkaitan antar Wujud-wujud

Wujud dapat bertemu dengan wujud lainnya dalam beberapa cara. Masing-masing cara pertemuan memberikan dampak yang berbeda. Baik itu dideretkan, ditumpuk, dan sebagainya. Beberapa cara bertemunya wujud adalah:

  1. Detachment (Detasemen)
    Adalah ketika dua wujud saling berdekatan namun tetap memisahkan diri dan tidak menyentuh satu sama lain.
    nirmana-keterkaitan-bentuk-detachment-serupa.id
  2. Touching (Bersentuhan)
    Ketika dua wujud berdekatan, menyentuh satu sama lain namun tidak menumpuk
    nirmana-keterkaitan-bentuk-touching-serupa.id
  3. Overlapping (Bertumpuk)
    Wujud bersentuhan dan menumpuk satu sama lain lain tetap tampak terpisah oleh sesuatu: misalnya wujud merupakan bentuk yang memiliki garis putih. Akan terdapat wujud yang berada lebih atas dari wujud yang lainnya.
    nirmana-keterkaitan-bentuk-overlapping-serupa.id
  4. Penetration
    Posisi yang sama dengan Overlapping, namun bagian pertemuan antar tumpukan dibuat menjadi negatif space atau transparan.
    nirmana-keterkaitan-bentuk-penetration-serupa.id
  1. Union
    Masih sama dengan overlapping namun kedua wujud tidak memiliki tanda pemisah dan tampak bersatu menjadi satu wujud.
    nirmana-keterkaitan-bentuk-union-serupa.id
  1. Substraction
    Ketika suatu wujud ditumpuk oleh wujud lain yang tak terlihat dan terpotong oleh wujud kedua itu.
    nirmana-keterkaitan-bentuk-substraction-serupa.id
  1. Intersection
    Sama seperti Overlapping, namun yang disisakan hanyalah wujud negatif yang terbentuk ditengah-tengah kedua wujud yang saling bertumpuk tersebut.
    nirmana-keterkaitan-bentuk-intersection-serupa.id

Asas-asas Nirmana Dwimatra

Perlu diketahui bahwa asas-asas atau prinsip-prinsip seni rupa dan desain tidak memiliki patokan yang absolut. Terdapat beberapa set prinsip dan pendapat yang berbeda dari setiap Ahli yang membahasnya. Asas-asas Nirmana Dwimatra yang dibahas disini adalah asas yang dinyatakan oleh Wucius Wong. Asas-asas nirmana lain menurut Sanyoto dan Terry Barret dapat disimak di: Prinsip Prinsip Seni Rupa dan Desain

1. Repetition (Repetisi/Pengulangan)

Repetisi adalah salah satu metode merancang yang paling sederhana. Repetisi banyak digunakan dalam bermacam hal. Motif pada kain tekstil sering melakukan repetisi, menjadikannya tampak sederhanan namun “berwarna” melalui pengulangan motifnya. Melakukan repetisi pada wujud yang sama tau mirip dapat memberikan keharmonisan dan variasi yang menarik secara sekaligus. Jenis-jenis Repetisi:

  1. Repetisi Bentuk
  2. Repetisi Ukuran
  3. Repetisi Warna
  4. Repetisi Tekstur
  5. Repetisi Arah
  6. Repetisi Posisi
  7. Repetisi Ruang
  8. Repetisi Gravitasi

Variasi Repetisi

Jika repetisi dirasa terlalu monoton, maka variasi dapat dilakukan pada masing-masing repetisi. Misalnya repetisi bentuk, namun dengan aturan ukuran yang berbeda. Lingkaran kecil dan lingkaran besar saling berderetan dan berulang dalam aturan yang sama pada proses repetisi. Atau buat aturan posisi yang saling bergantian satu sama lain, misalnya wujud pertama posisinya dibuat agak melenceng kebawah dan wujud kedua dibuat agak melenceng keatas.

Contoh asas nirmana : Repetisi/Repetition. Wucius Wong
Contoh asas nirmana : Repetisi/Repetition. Wucius Wong

2. Structure (Struktur)

Contoh Asas Nirmana: Struktur. Wucius Wong
Contoh Asas Nirmana: Struktur. Wucius Wong

Struktur digunakan untuk menentukan posisi wujud pada desain. Mengapa beberapa bentuk/raut pada grup yang sama ditempatkan berderet dan memiliki jarak yang sama satu sama lain? Struktur berkutat dengan aturan-aturan yang digunakan untuk menentukan posisi seperti itu. Struktur adalah aturan dasar yang kita buat sendiri untuk menentukan urutan dan keterhubungan antar wujud. Terdapat beberapa jenis struktur yang biasa digunakan, atau muncul dengan sendirinya tanpa dirancang terlebih dahulu, yaitu:

  1. Struktur Formal
    Struktur formal terdiri dari struktur yang rapi dan terkalkulasi. Garis struktur menjadi panduan keseluruhan desain. Jarak dibuat dan dibagi pada seluruh ruang yang ada, secara seimbang atau beritma.
  1. Struktur Semi-Formal
    Sifatnya biasa, tidak terlalu presisi namun tidak terlalu bebas juga. Struktur yang sangat umum digunakan dalam desain komersil.
  1. Struktur Informal
    Struktur informal tidak menggunakan garis untuk membagi-bagi divisi untuk menempatkan berbagai unsur pada komposisi. Grup wujud maupun bentuk satuan ditata secara bebas tanpa pengorganisasian yang tersusun.
  1. Struktur Pasif
    Struktur pasif berarti struktur yang hanya konseptual, dan tidak berinteraksi antar pemisahnya.
  1. Struktur Aktif
    Berbeda dengan struktur pasif, struktur aktif dapat membuat grup wujud yang diatur didalam masing-masing posisinya aktif, dinamis dan dapat berinteraksi satu sama lain antar garis pemisahnya.
  1. Struktur Tidak Tampak
    Kebanyakan desain menggunakan garis struktur yang tidak tampak. Artinya garis pemisah untuk mengatur struktur tidak diperlihatkan dan hanya menjadi pemandu pengorganisasian antar wujud saja.
  1. Struktur Tampak
    Desain dapat menggunakan struktur tampak dalam konteks tertentu. Garis pemisah dapat dimunculkan jika memang dirasa cocok dan membantu keterlihatan. Beberapa desain komunikasi visual juga mungkin cocok menggunakan garis struktur yang tampak.

3. Similarity (Kemiripan, Keharmonisan)

Contoh Asas Nirmana: Similarity. Wucius Wong
Contoh Asas Nirmana: Similarity. Wucius Wong

Wujud dapat memiliki kemiripan satu sama lain, namun tidak identik. Jika suatu grup wujud tidak identik namun diulang, unsur tersebut tidak sedang menerapkan asas repetisi, melainkan menerapkan asas Kemiripan. Kemiripan utamanya terdapat pada kemiripan bentuk sebelum diwujudkan pada grup. Meskipun kemiripan dapat digunakan juga pada grup wujud. Asas Similarity dapat dicapai dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Asosiasi
    Bentuk memiliki asosiasi atau kemiripan satu sama lain karena diorganisir bersama berdasarkan tipe, makna, atau fungsi yang mirip atau dalam ranah yang masih sama.
  1. Imperfection
    Kita dapat menentukan bentuk ideal yang akan kita gunakan, lalu menggunakan bentuk tidak sempurnanya pada komposisi. Bentuk ideal yang telah dipilih dapat sedikit diabstrakan, ditransformasi, dipotong-potong, dan sebagainya.
  1. Spatial Distortion
    Distorsi dapat digunakan untuk menciptakan kemiripan pada suatu bentuk yang sama. Bentuk yang di distorsi akan menghasilkan banyak variasi yang masih mirip satu sama lain.
  1. Union atau Subtraction
    Dengan menggurangi bentuk oleh bentuk lain, kita dapat menciptakan asas kemiripan. Begitu juga dengan menambahkan bentuk lain yang ditumpukan pada bentuk utama.
  1. Tension atau Compression
    Kemiripan juga dapat diraih dengan menarik atau mengkompres objek yang sama.

4. Gradasi

Gradasi tidak hanya menuntut perubahan yang bertahap, tetapi perubahan bertahap dengan cara yang teratur. Biasanya gradasi akan menghasilkan ilusi optik dan menciptakan perkembangan yang teratur dan mengarah ke sesuatu yang. Meskipun terdengar rumit, Gradasi sebetulnya adalah pengalaman visual harian. Hal-hal yang dekat dengan kita tampak besar, sementara yang jauh dari kita tampak kecil, dan begitu seterusnya. Hal seperti itu juga telah menunjukkan asas Gradasi. Gradasi dapat diterapkan pada setiap unsur Nirmana Dwimatra, sama seperti Asas Pengulangan dan Asas Kemiripan.

Contoh Asas Nirmana: Gradation/Gradasi. Wucius Wong
Contoh Asas Nirmana: Gradation/Gradasi. Wucius Wong

5. Radiation (Radial/Memancar)

Radial dapat digambarkan sebagai kasus khusus pengulangan. Bentuk atau grup wujud melakukan perulangan yang berputar secara teratur yang berpusat di satu titik yang sama. Asas radial atau memancar juga merupakan fenomena yang umum terjadi di alam. Pada bunga kita akan menemukan pola radial dalam kelopaknya. Melemparkan batu ke air yang tenang akan menghasilkan riak-riak yang memancar. Dengan cara yang lebih abstrak, matahari juga memancarkan pola radial. Asas ini juga dapat digunakan pada seluruh unsur Nirmana dengan masing-masing variasinya.

Contoh Asas Nirmana Radiation/Radial/Memancar. Wucius Wong
Contoh Asas Nirmana Radiation/Radial/Memancar. Wucius Wong

6. Anomaly

Anomali adalah munculnya ketidakteraturan dalam komposisi yang teratur. Terkadang anomali hanyalah unsur tunggal pada organisasi struktur dan unsur yang telah seragam. Contoh anomali di keseharian kita adalah: bunga di antara dedaunan, bulan di malam gelap, retakan di dinding yang mulus, dan bangunan tua di antara pencakar langit modern. Dalam desain, penggunaan anomali harus digunakan secara hati-hati. Asas Anomali harus memiliki tujuan yang pasti, seperti: untuk menarik perhatian atau menghilangkan kekakuan.

Contoh Asas Nirmana Anomaly. Wucius Wong
Contoh Asas Nirmana Anomaly. Wucius Wong

7. Kontras

Kontras terjadi sepanjang waktu, meskipun kehadirannya mungkin terabaikan diabaikan. Ada kontras ketika suatu bentuk dikelilingi oleh ruang kosong. Ada kontras ketika garis lurus bertemu dengan kurva. Ada kontras ketika satu bentuk jauh lebih besar daripada yang lain. Kita mengalami banyak macam Asas kontras dalam kehidupan sehari-hari. Siang kontras dengan malam, kursi tua kontras dengan sofa modern, dan sebagainya.

Kontras dapat memiliki beberapa level seperti ringan atau berat, jelas atau kabur, sederhana atau rumit. Bentuk A mungkin tampak kontras dengan bentuk B, tetapi ketika bentuk C hadir,  bisa jadi bentuk A dan B tidak lagi kontras. Kontras sangat bergantung pada konteks disekitarnya juga.

Contoh Asas Nirmana Kontras. Wucius Wong
Contoh Asas Nirmana Kontras. Wucius Wong

8. Concentration

Konsentrasi mengacu pada cara distribusi kelompok bentuk-bentuk yang berkumpul lebih banyak di bagian daerah tertentu. Sementara di daerah lain tidak seramai pada bagian tersebut. Distribusinya biasanya tidak merata, Asas Concentration dapat menjadi pusat perhatian yang lebih ringan, namun tetap dinamis dan tidak monoton dibandingkan dengan Asas kontras atau Anomali. Di lingkungan kita, kota adalah contoh Asas konsentrasi. Bangunan dan orang berkerumun di sekitar jantung disetiap kota, dan secara bertahap lebih sepi di daerah pinggiran kota.

Asas Nirmana Concentration. Wucius Wong
Asas Nirmana Concentration. Wucius Wong

9. Tekstur (Barik)

Tekstur mengacu pada karakteristik permukaan bentuk. Setiap bentuk memiliki permukaan dan setiap permukaan tentunya memiliki karakteristik tertentu, yang dapat digambarkan sebagai halus atau kasar, polos atau dekoratif, matt atau glossy, lembut atau keras. Meskipun pada umumnya kita menganggap bahwa permukaan datar yang di cat tidak mempunyai tekstur sama sekali, sebenarnya kerataan tembok dan cat tersebut adalah jenis tekstur juga. Tekstur pada Nirmana Dwimatra biasanya hanya berupa ilusi saja dan tidak benar-benar ada. Namun pada sebagian kasus seperti karya kolase, atau bahan kertas tertentu, tekstur dapat menjadi nyata.

Contoh Asas Nirmana Texture (Barik)
Contoh Asas Nirmana Texture (Barik)

Referensi

  1. Wong, Wucius. 1972. Principles of Two-Dimensional Design. Newyork: Van Nostrand Reinhold

 

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas