Obedience atau kepatuhan adalah suatu bentuk pengaruh sosial di mana seseorang melakukan suatu tindakan karena diperintah oleh individu lain (Baron & Byrne dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 10). Kepatuhan ini lebih jarang terjadi dibandingkan dengan konformitas (berubah karena kemauan sendiri) dan compliance (patuh karena kesepakatan).

Kepatuhan biasanya hanya terjadi pada setting tertentu seperti pada gaya kepemimpinan komando di angkatan bersenjata. Seperti yang diungkapkan oleh McLeod (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 10) bahwa kepatuhan merupakan bentuk pengaruh sosial di mana kegiatan atau tindakan yang dilakukan oleh individu merupakan sebuah respons dari perintah individu lain yang berposisi sebagai figur otoritas.

Secara etimologis, kepatuhan berasal dari kata “obedience” dalam bahasa Inggris. Obedience sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu “obedire” yang berarti untuk mendengar terhadap. Dengan demikian, arti dari obedience adalah mematuhi, patuh pada perintah atau aturan. Dapat disimpulkan bahwa obedience atau kepatuhan adalah suatu pengaruh sosial di mana seorang individu patuh atau taat pada individu atau otoritas tinggi lain untuk melakukan suatu perilaku.

Aspek-Aspek Obedience/Kepatuhan

Sebagai pengaruh sosial, kepatuhan dapat terjadi apabila terdapat tiga aspek utama yang membentuknya. Aspek-aspek dari kepatuhan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Pemegang Otoritas
    Status yang tinggi dari figur yang memiliki otoritas memberikan pengaruh penting terhadap perilaku kepatuhan pada individu, kelompok, atau masyarakat pada umumnya.
  2. Kondisi yang terjadi
    Kondisi yang terjadi data menyebabkan terbatasnya peluang untuk tidak patuh dan meningkatnya situasi yang menuntut kepatuhan.
  3. Orang yang mematuhi
    Adanya kesadaran individu atau masyarakat sendiri untuk mematuhi peraturan karena ia mengetahui bahwa hal itu benar dan penting untuk dilakukan.

Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan/Obedience

Menurut Taylor (2006) faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan, ketaatan, atau obedience seseorang terhadap otoritas atau norma sosial adalah sebagai berikut.

  1. Informasi
    Merupakan faktor utama dalam pengaruh sosial. Seseorang terkadang ingin melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan hanya setelah kepada mereka diberikan sejumlah informasi, seseorang sering memengaruhi orang lain dengan memberikan mereka informasi atau argumen yang logis tentang tindakan yang seharusnya mereka lakukan.
  2. Imbalan
    Salah satu basis kekuasaan adalah kemampuan untuk memberi hasil positif bagi orang lain, membantu orang lain mendapatkan tujuan yang diinginkan atau menawarkan imbalan yang bermanfaat. Beberapa imbalan bersifat sangat personal, seperti senyum persetujuan dari teman. Imbalan lainnya seperti uang adalah impersonal.
  3. Keahlian
    Pengetahuan khusus, training, dan ketrampilan juga dapat menjadi sumber kekuasaan. Seseorang tunduk pada ahli dan mengikuti nasehatnya karena mereka percaya bahwa pengetahuan penguasa akan membantu kita mencapai tujuan kita.
  4. Kekuasaan rujukan
    Basis pengaruh dengan relevansi pada relasi personal atau kelompok adalah kekuasaan rujukan. Kekuasaan ini ada ketika seseorang mengidentifikasi atau ingin menjalin hubungan dengan kelompok atau orang lain. Seseorang mungkin bersedia meniru perilaku mereka atau melakukan apa yang mereka minta karena ingin sama dengan mereka atau menjalin hubungan baik dengan mereka.
  5. Otoritas yang sah
    Salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah bahwa seseorang memiliki otoritas yang sah dalam situasi itu, sesuai dengan norma sosial yang berlaku.
  6. Paksaan
    Dapat berupa paksaan fisik sampai ancaman hukuman atau tanda ketidaksetujuan. Misalnya, setelah gagal meyakinkan anak untuk tidur siang, sang ayah mungkin secara paksa memasukkan anak ke dalam kamar, lalu ia keluar dan mengunci pintu.

Dimensi Kepatuhan

Obedience atau kepatuhan terjadi melalui beberapa proses atau dimensi yang dilalui. Dimensi dari kepatuhan ini adalah sebagai berikut.

  1. Mempercayai (Belief)
    Kepercayaan individu terhadap tujuan dari peraturan, perintah atau otoritas yang memerintah, terlepas dari nilai-nilai atau norma yang berlaku di masyarakat.
  2. Menerima (Accept)
    Individu dikatakan patuh apabila menerima baik kehadiran norma-norma, perintah, maupun peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis. Penerimaan adalah kecenderungan individu yang mau dipengaruhi oleh komunikasi persuasif yang berasal dari tokoh masyarakat yang berpengetahuan luas atau tokoh masyarakat yang disukai, dan juga merupakan tindakan yang dilakukan dengan senang hati karena percaya terhadap tekanan atau norma sosial yang ada.
  3. Melakukan (Act)
    Melakukan sesuatu atas suatu anjuran atau peraturan memiliki arti bahwa individu telah mengindahkan norma-norma atau nilai-nilai dalam kehidupan. Dengan kata lain, individu dikatakan patuh apabila norma-norma atau nilai-nilai dari suatu peraturan diwujudkan dalam perbuatan atau tindakan.

Penelitian Mengenai Kepatuhan/Obedience

Stanley Milgram merupakan salah satu tokoh ternama yang berhasil melakukan penelitian dan eksperimen penting dalam perihal obedience atau kepatuhan. Penelitian Milgram yang paling memiliki pengaruh adalah eksperimennya untuk menjawab pertanyaan “Apakah orang-orang akan mematuhi perintah jika diminta meski harus menyakiti seseorang yang tidak bersalah?” (Maryam, 2018, hlm. 42).

Untuk menjawab pertanyaan tersebut Milgram menempatkan partisipan penelitian dalam situasi khusus di mana seorang partisipan diperintah untuk memberikan sengatan listrik pada seseorang yang mereka pikir hanyalah partisipan lainnya. Padahal orang itu sebetulnya merupakan seseorang yang merupakan konfederasi dari penelitian (aktor), dan alat penyengat listriknya sebetulnya tidak dapat benar-benar mengeluarkan aliran listrik.

Hasilnya, banyak partisipan eksperimen yang mengalami kecemasan dan stres karena memperdebatkan apakah mereka seharusnya tidak mematuhi perintah atau justru harus mematuhinya meskipun menyakiti orang lain. Tentunya dapat ditebak bahwa orang-orang tidak akan mudah untuk mematuhi perintah apalagi jika perintah tersebut tidak sesuai dengan nilai dan norma yang ia pegang yang dalam konteks penelitian Milgram ini adalah untuk menyakiti orang lain yang tidak bersalah.

Namun pada akhirnya penelitian Milgram juga mengindikasikan bahwa banyak orang bersedia untuk mematuhi perintah dari sumber otoritas yang bahkan relatif tidak berkuasa. Dengan demikian, untuk membuat seseorang mematuhi perintah tidaklah diperlukan gaya komando atau perintah otoriter yang semena-mena.

Prinsip Kepatuhan

Lebih lanjut menurut Hogg dan Abrams (1998 dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 10-11), terdapat beberapa hal yang penting untuk diketahui mengenai obedience

ini yang di antaranya adalah sebagai berikut.
  1. Secara nalar, kepatuhan adalah bentuk paling langsung dari pengaruh sosial.
  2. Kepatuhan lebih jarang terjadi dibandingkan konformitas dan kesepakatan.
  3. Obedience lebih sering terjadi dalam setting khusus dalam institusi tertentu seperti sekolah hingga ke militer.
  4. Penelitian Stanley Milgram mengindikasikan bahwa banyak orang bersedia untuk mematuhi perintah dari sumber otoritas yang relatif tidak berkuasa, bahkan jika perintah tersebut meminta mereka menyakiti orang asing yang tidak bersalah.
  5. Kepatuhan yang merusak sangat memainkan peran dalam kehidupan nyata. Contohnya adalah kepatuhan tentara Jerman dalam melenyapkan jutaan warga sipil dari ras tertentu saat Perang Dunia Dua.
  6. Sejumlah strategi dapat membantu mengurangi terjadinya kepatuhan yang merusak. Termasuk di antaranya adalah mengingatkan individu bahwa mereka turut bertanggung jawab atas segala kerusakan yang ditimbulkan, mengingatkan bahwa kepatuhan melebihi kewajaran tidak tepat, mempertanyakan motif figur otoritas.

Referensi

  1. Maryam, E.W. (2018). Psikologi sosial. Sidoarjo: UMSIDA Press.
  2. Mulyadi, S., Rahardjo, W., Asmarany, A.I, Pranandari, K.(2016). Psikologi sosial. Jakarta: Penerbit Gunadarma.
  3. Taylor, S.E. 2006. Health Psychology. Singapore: McGraw-Hill Companies.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.