Pengertian Penalaran

Penalaran adalah mengubah informasi yang diperoleh agar menghasilkan kesimpulan (Matlin, 2016, hlm. 257). Ada dua tugas penalaran yaitu penalaran bersyarat dan silogisme. Penalaran bersyarat menggambarkan hubungan “jika… maka…”. Sementara itu silogisme menggunakan kata-kata kuantitatif seperti semua, beberapa, dan tak seorang pun.

Reasoning (Bahasa Inggris) atau penalaran berasal dari kata “nalar” yang memiliki pengertian “kegiatan yang memungkinkan seseorang berpikir logis”. Oleh karena itu terkadang penalaran juga disebut sebagai penalaran logis. Artinya, penalaran dapat didefinisikan sebagai bentuk khusus dari berpikir dalam upaya pengambilan, penyimpulan, konklusi yang digambarkan premis yang berbeda-beda namun saling berhubungan untuk mengambil simpulan dari berbagai pengetahuan dan keyakinan mutakhir serta menstransformasikan informasi yang diberikan untuk menelaah dan menghasilkan konklusi.

Sementara itu menurut Surajiyo dkk (2017, hlm. 20) penalaran merupakan konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain (proposisi) yang telah diketahui. Dengan demikian, penalaran adalah cara berpikir logis dengan langkah-langkah tertentu berdasarkan hubungan proposisi yang memiliki sifat dan hukum yang diketahui kebenarannya untuk menarik suatu kesimpulan atau konklusi.

Ciri-Ciri Penalaran

Penalaran sebagai salah satu aktivitas berpikir memiliki ciri-ciri atau karakteristik tertentu yang di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika. Dapat dikatakan bahwa tiap bentuk penalaran memiliki logikanya sendiri.
  2. Adanya sifat analitik dari proses berfikirnya. Penalaran merupakan proses berpikir yang menyandarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berpikir yang dipergunakan untuk analisisnya adalah logika penalaran yang bersangkutan (Qamar & Salle, 2018, hlm. 25).

Jenis-Jenis Penalaran

Penalaran terbagi atas dua jenis, yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif yang akan dijelaskan sebagai berikut.

Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku berdasarkan fakta-fakta yang bersifat khusus. Sementara itu menurut Sumarmo (2008) penalaran induktif (inductive reasoning) diartikan sebagai penarikan kesimpulan yang bersifat umum atau khusus berdasarkan data yang teramati. Nilai kebenaran dalam penalaran induktif dapat bersifat benar atau salah. Dengan kata lain, Penalaran deduktif adalah penarikan kesimpulan berdasarkan aturan yang disepakati sedangkan penalaran induktif adalah penarikan kesimpulan berdasarkan pengamatan terhadap data terbatas.

Sumarmo (2008) mengemukakan beberapa kegiatan yang tergolong penalaran induktif yang di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Transduktif, yaitu menarik kesimpulan dari suatu kasus atau sifat khusus yang satu diterapkan pada kasus yang khusus lainnya.
  2. Analogi, yakni penarikan kesimpulan berdasarkan keserupaan data atau proses.
  3. Generalisasi, yaitu penarikan kesimpulan umum berdasarkan sejumlah data yang teramati.
  4. Memperkirakan jawaban, solusi atau kecenderungan, interpolasi, dan ekstrapolasi.
  5. Memberi penjelasan terhadap model, fakta, sifat, hubungan, atau pola yang ada.
  6. Menggunakan pola hubungan untuk menganalisis situasi dan menyusun konjektur.

Dalam penalaran induktif, sebuah kesimpulan biasanya dinyatakan secara implicit atau eksplisit dalam konteks pernyataan kemungkinan. Dalam kehidupan shari-hari, kita biasa membuat keputusan yang tidak terlalu mencerminkan hasil paradigma silogistik yang keputusannya berdasarkan pengalaman masa lalu dan kesimpulannya berdasarkan yang dirasa sebagai pilihan terbaik dari sejumlah alternatif.

Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif adalah penarikan kesimpulan berdasarkan aturan yang disepakati. Nilai kebenaran dalam penalaran deduktif bersifat mutlak benar atau salah dan tidak keduanya bersama-sama (Sumarmo, 2008). Penalaran deduktif atau deductive reasoning juga dapat diartikan sesederhana penalaran yang dilakukan terhadap data (pernyataan) umum kemudian ditarik kesimpulan yang khusus.

Johnson-Laird (1995 dalam ) telah mengidentifikasi 4 kemungkinan dalam studi ilmiah tentang logika deduktif yan di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Kesimpulan relasional berdasarkan perangkat logis dari hubungan sebagai: lebih dari, di sebelah kanan dari, dan setelah.
  2. Kesimpulan preposisional berdasarkan negasi dan dalam koneksi seperti jika, atau, dan dan.
  3. Silogisme berdasarkan pasangan premis yang masing-masing berisi peberi sifat tunggal seperti seluruh atau sebagian.
  4. Menjumlahkan kesimpulan kuantitatif berdasarkan premis yang berisi lebih dari satu kesimpulan.

Keempat kemungkinan tersebut terlibat dalam pengambilan keputusan dan telah diformalisasikan oleh para ilmuwan logis ke dalam sejenis kalkulus predikat (yaitu, cabang dari logika simbolis yang menguraikan relasi antara preposisi dan struktur internalnya-simbol digunakan untuk menggambarkan sebjek dan predikat preposisi).

Penalaran Bersyarat dan Silogisme serta Contohnya

Telah diungkapkan sebelumnya bahwa tugas utama dalam penalaran adalah penalaran bersyarat, dan silogisme. Dengan demikian contoh penalaran juga haruslah disajikan berdasarkan dari tugas atau jenis utama penalaran yang digunakan. Berikut adalah pemaparannya.

Penalaran Bersyarat

Penalaran bersyarat menggambarkan hubungan “jika…maka…”. Saat melakuan penalaran bersyarat, seseorang sering membuat beberapa kesalahan dalam tugas-tugas penalaran bersyarat, misalnya sering gagal menilai semua interpretasi dari premis-premis yang dihubungkan dengan tepat. Contoh penalaran bersyarat misalnya adalah:

Jika bulan bersinar, saya bisa melihat tanpa lampu senter

Saya tidak bisa melihat tanpa lampu senter

Untuk itu bulan tidak bersinar

Contoh penalaran ini ini mengilustrasikan penalaran bersyarat. Masalah-masalah penalaran bersyarat atau propositional penalaran mengatakan tentang hubungan antara kondisi, seperti hubungan antara bulan bersinar dan keperluan lampu senter. Hal pada penalaran bersyarat dipertimbangkan dalam bagian yang melibatkan hubungan “jika…,maka…” situasi penalaran bersyarat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sacara mengherankan sulit untuk diselesaikan secara benar. Hukum-hukum formal dari didistribusikan dengan penalaran bersyarat telah ditemukan, tetapi orang sering menentang prinsip hukum ini.

Silogisme menggunakan kata-kata kuantitatif seperti semua, beberapa dan tak seorang pun. Dalam silogisme ini, individu dapat membuat beberapa kesalahan pada tugas silogisme, misalnya malah lebih mempercayai latar belakang pengetahuannya dari pada argumen logis. Contoh penalaran silogisme adalah: “beberapa A adalah B Beberapa B adalah C, jadi, beberapa A adalah C.

Empat situasi penalaran bersyarat yang terjadi adalah sebagai berikut.

  1. Mempertegas arti anteseden, kamu mengatakan bahwa “jika…” bagian kalimat adalah benar. Hal ini untuk penalaran penting peranannya agar valid atau kesimpulan benar.
  2. Mempertegas arti konsekuen yang mengatakan bahwa “maka…” bagian kalimat adalah benar. Hal ini pada penalarannya pada kesimpulan yang tidak benar. Kita bisa dengan mudah melihat mengapa orang tergoda untuk menegaskan akibat. Dalam kehidupan riel kita sering benar kita membuat hal ini dari penalaran yang salah (Bell & Staines, 1981 ; Nickerson et al., 1985 dalam Maltin, 2016, hlm. 261). Misalnya mempertimbangkan proposisi “jika seorang lelaki bermain sepak bola, maka dia memiliki leher kebal” dan John memiliki leher lebar. Itu adalah baik tidak usah sangsi bahwa john dimasukkan pemain sepakbola, walaupun dalam penalaran logika kita tidak bisa mengandalkan pernyataan seperti “itu adalah lebih tinggi mungkin bahwa…” seperti tema 2 menekankan, beberapa kesalahan kognitif bisa berpindah ke strategi yang biasanya kerja dengan baik.
  3. Meniadakan anteseden berarti mengatakan bahwa “jika…” bagian dari kalimat salah meniadakan antiseden juga penting peranannya untuk kesimpulan yang tidak benar.
  4. Meniadakan konsekuen berarti mengatakan bahwa “maka…”bagian dari kalimat adalah salah. Hal ini pada penalaran penting peranannya untuk kesimpulan yang benar (Maltin, 2016, hlm. 261).

Penalaran Sylogime

Orang-orang biasanya memiliki akurasi yang kurang saat mereka bekerja pada tuga-tugas logika yang melibatkan silogisme. Silogisme terdiri dari dua premis, atau pernyataan yang harus diterima benar, ditambah satu kesimpulan. Silogisme melibatkan kuantitatif dan menggunakan semua (all), tak seorang pun (none) beberapa (some), atau istilah lain yang mirip. Pada penalaran bersyarat, pernyataan sering ditunjukan dengan huruf p dan q. Dalam penalaran silogisme simbol-simbol tradisional adalah A, B dan C. Oleh karena itu contoh dari silogisme yang menggunakan simbol ini adalah:

Beberapa A adalah B

Beberapa B adalah C

Jadi, beberapa A adalah C

Apakah kesimpulan di atas benar? Sepintas kesimpulan tersebut akan menjadi benar, namun apakah demikian?

Contoh lain dari penalaran silogisme adalah sebagai berikut.

Beberapa wanita adalah demokrat

Beberapa demokrat adalah laki-laki

Jadi, beberapa wanita adalah laki-laki

Melalui contoh kedua ini, dapat dilihat jelas bahwa penalaran pertama ternyata memiliki kesalahan yang hampir dapat dikatakan sangatlah fundamental.

Kadang-kadang kesimpulan pada silogisme adalah benar atau salah. Bila menarik kesimpulan dari tidak silogisme, kesimpulan mungkin benar untuk beberapa hubungan dan salah untuk yang lainnya. Dalam contoh A, B dan C di atas menyimpulkan kita “tidak bisa mengatakan”. Awalnya kelihatan sederhana untuk menentukan apakah itu “benar atau “tidak bisa mengatakan”, tetapi bagaimana sukarnya bila jadi beberapa dan semua, ? orang mengalami kesulitan menyelesaikan problem penalaran ini.

Dalam hal ini penting untuk menekankan bahwa kebenaran dari kesimpulan tidak tergantung pada kebenaran dari premis. Kita bisa membuat beberapa premis lucu, tetapi kesimpulan akan benarselama bentuk dari silogisme adalah benar. Misalnya, karena logika yang mendasarinya adalah benar, kesimpulan dari silogisme ini benar:

Semua gajah adalah gemar minum martini

Semua orang yang gemar minum martini adalah bankir

Jadi, semua gajah adalah bankir

Satu cara yang efektif untuk mewakili informasi dalam premis pada silogisme adalah pada istilah dari lingkaran Euler menunjukkan bagaimana dua set dari item, katakana A dan B, saling berhubungan. Menunjukkan lingkaran Euler dari empat kemungkinan hubungan, atau mood dalam silogisme. Setiap pernyataan dalam satu silogisme bisa ditunjukkan dalam istilah dari setiap pada empat hal dari mood : (1) semua A adalah E, (2) tidak ada A ada B, (3) beberapa A adalah B, dan (4) beberapa A tidak B.

Referensi

  1. Matlin, Margaret W. (2016). Kognitif (edisi ke-3). Bandar Lampung: Harakindo Publishing.
  2. Sumarmo, U. dkk. (2008). Rujukan Filsafat, Teori dan Praksis Ilmu Pendidikan. Bandung: UPI Press.
  3. Surajiyo, dkk. (2017). Dasar-dasar logika. Jakarta: Bumi Aksara.
  4. Qamar, N & Salle. Logika dan penalaran dalam ilmu hukum. Makassar: SIGn.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *