Pengertian Drama

Pengertian drama adalah karya sastra yang menggunakan dialog sebagai unsur utama dalam mengkisahkan suatu cerita, kisah atau peristiwa yang dibalut menggunakan berbagai macam jenis seni lainnya, termasuk seni peran, seni musik dan seni rupa.

Secara etimologi drama berasal dari bahasa Yunani draomai yang berarti berbuat, bertindak, berlaku, beraksi, dsb (Nurhayati, 2019: 162). Pernyataan serupa namun menggunakan asal kata yang berbeda diutarakan oleh Endraswara (2011: 180) yang mengatakan bahwa drama adalah salah satu genre sastra yang secara etimologi berasal dari bahasa Yunani dran yang berarti melakukan sesuatu.

Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), drama memiliki beberapa pengertian yang menunjang pengertian sebelumnya, yaitu: drama adalah syair atau prosa yang menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting/seni peran) atau dialog yang dipentaskan. Kedua, drama berarti cerita tau kisah yang melibatkan konflik/emosi yang khusus disusun untuk pertunjukan teater

.

Sementara itu Nurhayati (2019: 161) berpendapat bahwa Drama adalah lakon atau cerita suatu kisah kehidupan dalam dialog dan lakuan tokoh yang berisi konflik. Drama dapat mencakup dua hal, yakni drama sebagai karya sastra dan drama sebagai sebuah seni pementasan.

Menanggapi berbagai sedikit perbedaan yang ada tersebut, sebaiknya kita menelusuri pendapat ahli yang membahas mengenai pengerian sastra. Untuk mengkonkretkan pengertian yang lebih matang dan sesuai dengan konvensi yang terbentuk di masa ini.

Pengertian Drama Menurut Para Ahli

Suyoto

Suyoto (2006: 1) berpendapat bahwa drama adalah kisah kehidupan manusia yang dikemukakan di pentas berdasarkan naskah, menggunakan percakapan, gerak laku, unsur-unsur pembantu sepeerti tatat panggung, serta disaksikan oleh penonton.

Waluyo

Menurut Waluyo (2006: 1) drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas.

Budianta

Drama adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialog atau percakapan antara tokoh-tokoh yang ada (Budianta dkk., 2002: 95).

Esser

Sementara menurut Esser, (2007: 122) drama diartikan sebagai Handlung atau lakon yang lebih mengarah pada bagian dari pentasan (Theater).

Jenis-Jenis Drama (Pengertian Drama berdasarkan Jenis)

Berbicara drama tidak dapat hanya mengacu pada satu jenis saja. Karena akan terdapat perbedaan pengertian berdasarkan jenis dramanya. Drama tidak hanya mencakup satu entitas saja, karena drama juga memiliki beberapa genre yang berbeda.

Menurut Nurhayati (2019: 162) Drama dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan bentuk sastra cakapannya, sajian isi, kuantitas kecakapan, besaran pengaruh unsur seni lain dan bentuk lainnya. Jenis-jenis drama tersebut adalah sebagai berikut ini:

Jenis Drama Berdasarkan Bentuk Sastra Cakapannya

  1. Drama Prosa, Merupakan drama yang cakapannya disusun dalam bentuk prosa.
  2. Drama Puisi, Yaitu drama yang sebagian besar cakapannya disusun oleh puisi atau berdasarkan unsur-unsur (ciri) puisi.

Jenis Drama Berdasarkan Sajian Isi

  1. Tragedi, yaitu drama yang menampilkan tokoh sedih dan muram yang melibatkan situasi dan peristiwa duka atau tidak menguntungkan bagi tokoh didalamnya. Konflik antar tokoh menjadi bumbu utama dalam jenis drama ini dan biasanya berakhir dengan malapetaka atau kesedihan.
  2. Komedi, yaitu drama yang tidak bersifat menghibur dan berakhir dengan bahagia, meskipun dapat berisi satir atau menyindir.
  3. Tragikomedi, seperti namanya, merupakan gabungan dari tragedi dan komedi yang dapat menggunakan alur dukacita dan berakhir dengan kebahagiana (happy ending).

Jenis Drama Berdasarkan Kuantitas Cakapannya

  1. Pantomim, Drama tanpa kata-kata atau komunikasi verbal namun mengutamakan bahasa tubuh dan mimik muka sebagai media komunikasi.
  2. Minikata, yaitu drama yang menggunakan komunikasi verbal yang terbatas (sedikit sekali kata-kata).
  3. Dialog-monolog, merupakan drama yang mengutamakan dan banyak menggunakan komunikasi verbal baik dalam dialog (komunikasi dua atau banyak arah) maupun monolog (berbicara satu arah).

Jenis Drama Berdasarkan Besarnya Pengaruh Unsur Seni Lainnya

  1. Opera, yaitu drama yang menguatamakan seni suara atau seni musik pada umumnya.
  2. Sendratari, yakni drama yang menonjolkan seni tari.
  3. Tablo, adalah drama yang biasanya tidak menggunakan gerak atau dialog.

Jenis Drama Bentuk Lainnya (Khas/Alternatif)

  1. Drama absurd, yaitu drama yang sengaja mengabaikan atau melanggar konvensi-konvensi utama dari struktur atau unsur drama seperti: alur, penokohan dan tema.
  2. Drama baca, naskah yang hanya lebih cocok untuk dibacakan, bukan untuk dipentaskan.
  3. Drama borjuis, drama yang spesifik bertema tentang kehidupan kaum borjuis (bangsawan abad -18) yang sering menjadi bahan satir di masa itu.

Pengertian Drama Berdasarkan Unsur Drama (Struktur Drama)

Pengertian drama tercipta dari satuan unsur-unsur pembentuknya pula. Sehingga tercipta kesatuan yang dapat dikategorikan sebagai drama. Sebetulnya drama memiliki unsur-unsur atau struktur yang hampir serupa dengan karya sastra lainnya. Unsur-unsur pembentuk atau struktur dari drama tersebut adalah sebagai berikut ini.

1. Tema

Tema adalah gagasan umum yang menjalin keseluruhan dari struktur isi drama yang ingin dikisahkan atau disampaikan oleh penulis naskah kepada penonton. Tema merupakan muara dari pemikiran Penulis atau Sutradara dalam merangkai cerita yang diciptakannya.

Tema dapat dikelompokan menjadi dua jenis, yaitu tema utama dan tema tambahan.

  1. Tema utama, adalah tema secara keseluruhan yang menjadi landasan pokok dari suatu lakon drama
  2. Tema tambahan, yaitu tema-tema kecil lain yang terdapat dalam drama untuk mendukung tema utama.

2. Tokoh dan Penokohan

Tokoh dalam drama dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Tokoh idaman, yaitu tokoh terpuji dengan karakter yang adil, gagah dan cenderung mengusung kebenaran.
  2. Tokoh gagal / tokoh badut , merupakan tokoh yang memiliki pendirian yang bertentangan dengan tokoh lain (tokoh idaman/protagonis). Tokoh ini berfungsi untuk menegaskan dan memperkuat sosok tokoh yang bertentangan dengannya.
  3. Tokoh berkembang, adalah tokoh atau karakter yang mengalami perkembangan karakter, misalnya awalnya ia adalah orang yang naif dan polos, namun karena telah mengalami berbagai peristiwa yang menyulitkan, ia berubah menjadi sosok yang kelam.
  4. Tokoh statis, tokoh yang tidak mengalami perubahan baik secara pendirian maupun fisik dari awal hingga akhir kisah drama.

3. Latar

Latar adalah keterangan mengenai tempat, waktu dan suasana di dalam suatu naskah drama.

  1. Latar tempat, adalah penggambaran tempat kejadian dalam suatu naskah drama seperti nama Kota, di rumah, di meja makan hingga di medan pertempuran/perang.
  2. Latar waktu adalah waktu kejadian, tahun berapa rangkaian dalam peristiwa itu terjadi, misalnya, drama diawali dari hari senin 16 desember 2019.
  3. Latar suasana/budaya, yaitu penggambaran suasana dan budaya yang melatarbelakangi terjadinya suatu adegan atau peristiwa dalam drama; budaya jawa, sumatera, dsb.

4. Plot / Alur

Sebagian ahli membedakan plot dalam drama menjadi “Bagian dalam Drama”. Hal itu karena drama menggunakan Dialog pula sebagai pengatur alur atau plot kisah yang terdapat didalamnya. Namun intinya sama saja; terdapat plot dalam drama. Berikut adalah pengaluran dalam drama:

  1. Orientasi, adalah bagian dimana cerita menentukan aksi dalam waktu dan tempat, mengenalkan tokoh dan mulai memperkenalkan konflik yang mulai muncul.
  2. Komplikasi, atau bagian tengah cerita yang berisi pengembangan konflik hingga ke puncak konflik atau biasa disebut dengan klimaks.
  3. Resolusi (denouement) merupakan bagian penyelesaian konflik. Bagian ini menyelesaikan berbagai konflik yang telah terjadi di masa komplikasi.

Yang perlu menjadi catatan adalah plot atau alur drama tidak harus selalu berurutan. Bisa jadi konflik atau klimaks dimunculkan terlebih dahulu, baru kemudian orientasi dimulai dan akhirnya resolusi diberikan.

5. Dialog

Dialog adalah berbagai percakapan yang terjadi antar tokoh dalam suatu drama. Dalam drama, dialog adalah hal utama yang menjadi pencerita suatu kisah. Drama biasanya tidak memiliki narasi atau narator tepatnya, namun sebagian drama masih menggunakannya. Baik ada ataupun tidak ada narator, dialog tetap menjadi pokok pengisahan dalam drama.

6. Amanat

Amanat atau biasa disebut dengan pesan adalah ajaran atau moral didaktif yang disampaikan drama kepada Penonton. Amanat biasanya tidak disampaikan secara langsung, tetapi tersirat dengan sendirinya dari keseluruhan isi drama.

Langkah Menulis Naskah Drama

Menulis naskah drama dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama, menulis naskah dari karya sastra lain yang sudah ada, misalnya adaptasi dari dongeng, cerpen atau novel yang telah ada. Kedua, menciptakan naskah dari awal berdasarkan imajinasi, pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

Meskipun kita memilih cara pertama yang berarti merujuk pada dongeng atau cerpen yang telah ada sebelumnya, kita akan tetap melakukan transformasi cerita tersebut kedalam naskah. Pada akhirnya, kita harus melalukan langkah-langkah yang harus dilakukan pada cara kedua. Berikut adalah cara membuat naskah drama dari awal tanpa referensi karya sastra

yang telah ada:
  1. Buat daftar pengalaman-pengalaman dan imajinasi menarik yang pernah kita alami sendiri atau berdasarkan pengamatan terhadap pengalaman orang lain atau fenomena sosial tertentu yang menarik. Jika perlu, buat mind-map-nya terlebih dahulu.
  2. Pilihlah satu dari list atau salah satu daftar yang telah dibuat sebelumnya. Pemilihan dapat didasarkan oleh konflik yang paling kuat atau fenomena yang paling menarik atau memiliki urgensi tinggi (misalnya: fenomena perusakan lingkungan di daerah tertentu).
  3. Mulai catat dan kembangkan nama-nama serta tokoh yang terlibat dalam pengalaman, imajinasi atau fenomena sosial tersebut.
  4. Catat dan bila perlu gambarkan juga latar, waktu, tempat dan suasana yang dapat menyokong naskah drama.
  5. Cari, kembangkan dan catat pula topik-topik yang dapat dikembangkan dari drama yang akan dibuat jika memungkinkan.
  6. Mulai kembangkan dan gubah berbagai daftar-daftar diatas menjadi dialog yang konkret. Bila merasa diperlukan, buat narasinya terlebih dahulu dalam bentuk narasi sederhana yang bisa disertai oleh storyboard

Referensi

  1. Endraswara, Suwardi. (2005). Metode dan Teori Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Buana Pustaka.
  2. Budianta, Melani. (2002). Membaca sastra: pengantar memahami sastra untuk perguruan tinggi. Yogyakarta: Indonesia Tera.
  3. Endraswara, Suwardi. (2011). Metode PembelajaranDrama: Apresiasi, Ekspresi, dan Pengkajian. Yogyakarta: KAPS.
  4. Waluyo, Herman J. (2006). Drama: Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya.
  5. Rolf Esser. (2007). Das grosse Arbeitsbuch Literaturunterricht: Lyrick, Epik, Dramatik. Mülheim: Verlag an der Ruhr.
  6. Suyoto, Agustinus. (2008.) Dasar-Dasar Apresiasi Drama. https://agsuyoto.files.wordpress.com/2008/08/pengantar-dr… . Diakses
    pada 14 Desember 2019.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *