Pengertian Pola Komunikasi

Pola komunikasi adalah cara kerja atau struktur yang cenderung tetap seorang individu atau kelompok dalam berkomunikasi (Purwasito, 2015, hlm. 96). Dalam suatu komunikasi akan terdapat suatu sistem dan langkah kerja yang mirip satu sama lain yang membentuk pola yang serupa. Dengan demikian, dapat dikatakan pula bahwa suatu komunikasi dapat dilakukan dengan model yang sama. Oleh karena itu, pola komunikasi ini juga belakangan lebih sering disebut dengan istilah model komunikasi.

Sedangkan menurut Effendy (2017, hlm. 133) pola komunikasi adalah suatu proses yang dirancang untuk mewakili kenyataan keterpautannya unsur-unsur yang dicakup beserta keberlangsungannya guna memudahkan pemikiran secara sistematik dan logis dalam komunikasi. Artinya, pola komunikasi adalah suatu gambaran abstrak atau sederhana dari proses komunikasi yang memperlihatkan kaitan antaraunsur komunikasi seperti komunikan, komunikator, dan media penghantarnya.

Apabila disederhanakan, pola komunikasi adalah bagaimana kebiasaan dari suatu kelompok untuk berinteraksi, bertukar informasi, pikiran dan pengetahuan. Lebih dari itu, menurut Pace & Faules (2018, hlm. 171) pola komunikasi juga dapat diartikan sebagai cara seseorang atau kelompok berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol yang telah disepakati sebelumnya.

Dapat disimpulkan bahwa pola komunikasi adalah struktur yang cenderung tetap berdasarkan kebiasaan suatu kelompok dalam berinteraksi, bertukar informasi, pikiran, maupun pesan lainnya yang digambarkan dalam pola sederhana yang sistematis.

Jenis-Jenis Pola Komunikasi

Terdapat banyak model pola komunikasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai keterhubungan unsur dan proses komunikasi yang terjadi. Menurut Effendy (2017, hlm. 135) beberapa pola komunikasi yang paling dasar adalah sebagai berikut.

  1. Pola komunikasi satu arah,
    merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan baik menggunakan media maupun tanpa media dan tanpa adanya umpan balik dari komunikan. Jadi di sini komunikan hanya sebagai pihak pendengar saja.
  2. Pola komunikasi dua arah,
    merupakan pola komunikasi timbal balik di mana komunikator dan komunikan saling tukar fungsi dan menjalani fungsi mereka secara bergantian.
  3. Pola komunikasi multi-arah,
    merupakan proses komunikasi yang terjadi dalam satu kelompok di mana komunikator dan komunikan saling bertukar pikiran secara dialogis.

Selain itu, beberapa pola komunikasi lainnya di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Pola Komunikasi Primer

Pola komunikasi primer adalah suatu proses penyampaian pikiran oleh komunikator menggunakan simbol sebagai media atau saluran. Dengan kata lain, komunikasi primer adalah jenis komunikasi yang paling dasar dan hanya menyampaikan suatu hal melalui simbol seperti bahasa kepada orang lain.

Pola komunikasi primer ini merupakan model dasar yang dikembangkan oleh Aristoteles (Cangara, 2021, hlm. 41). Pada masa itu, seni berpidato merupakan suatu keterampilan yang penting, sehingga dalam komunikasi publik ini melibatkan unsur persuasi. Aristoteles tertarik menelaah sarana persuasi yang paling efektif dalam pidato.

Berdasarkan pengalaman itu, Aristoteles mengembangkan idenya untuk merumuskan suatu model komunikasi yang didasarkan atas tiga unsur yaitu: komunikator, pesan, dan komunikan. Fokus komunikasi yang ditelaah Aristoteles adalah komunikasi retoris, yang kini lebih dikenal dengan komunikasi publik (public speaking) atau pidato.

Dalam pola ini, simbol komunikasi terbagi menjadi dua lambang, yaitu verbal dan non-verbal.

  1. Lambang verbal atau bahasa yang telah terbentuk dan dikuasai oleh banyak orang adalah lambang yang paling sering digunakan dalam berkomunikasi, karena bahasa mampu mengungkapkan pikiran komunikator dengan lebih mudah.
  2. Lambang non-verbal adalah lambang yang digunakan dalam berkomunikasi selain bahasa, yaitu isyarat dengan anggota tubuh antara lain mata, kepala, bibir, dan tangan. Selain itu, gambar juga sebagai lambang komunikasi non-verbal dengan memadukan keduanya, maka proses komunikasi lebih efektif (Effendy, 2017, hlm. 135).

Masalah penggunaan bahasa dalam pola komunikasi ini, dapat kita lihat dari pandangan Aristoteles yang memberitahukan bahwa bahasa sebagai penentu utama keberhasilan komunikasi. Dengan bahasa ini pula, kita dapat menyampaikan dan mengetahui informasi dari orang lain yang berupa ucapan. Bahasa sangat penting dalam berkomunikasi antar manusia, karena bahasa tersebut akan dapat mengungkapkan maksud tertentu.

Selain itu, bahasa juga dapat menimbulkan dua macam pengertian, yaitu makna denotatif yang berarti makna sesungguhnya dan makna konotatif yang memiliki makna ganda dan terkadang bersifat emosional atau evaluatif yang mengarahkan ke arah negatif.

2. Pola Komunikasi Sekunder

Pola komunikasi secara sekunder adalah penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang pada media pertama. Komunikator menggunakan media kedua ini karena yang menjadi sasaran komunikasi jauh tempatnya, atau banyak jumlahnya.

Dalam proses komunikasi secara sekunder ini semakin lama akan semakin efektif dan efisien, karena didukung oleh teknologi komunikasi yang semakin canggih. Pola komunikasi ini didasari atas model sederhana yang dibuat Aristoteles, sehingga mempengaruhi Harold D. Lasswell, seorang sarjana politik Amerika yang kemudian membuat model komunikasi yang dikenal dengan formula Lasswell pada tahun 1984 (Cangara, 2021, hlm. 42).

Dalam formula Lasswell ini, ada lima unsur yang dibahas, yaitu:

  1. siapa,
  2. mengatakan apa,
  3. melalui apa,
  4. kepada siapa, dan
  5. apa akibatnya (Mulyana, 2017, hlm. 136).

Dengan adanya unsur-unsur tersebut, memberi pengertian bahwa proses komunikasi ini menyangkut siapa, yaitu siapa yang menyampaikan pesan atau memberikan informasi, dan siapa juga yang menerima serta mendapatkan akibatnya.

Tipe komunikasi yang menggunakan pola ini adalah komunikasi massa karena merupakan komunikasi yang mengutamakan saluran sebagai alat menyampaikan pesan komunikasi. Selain itu, komunikasi yang bermedia baik cetak maupun elektronik juga cocok menggunakan pola ini.

Sementara itu, dalam komunikasi organisasi, pola penjuru merupakan bagian dari pola sekunder ini, karena dapat menerapkan komunikasi yang sifatnya terbuka, sehingga dapat dengan mudah melakukan komunikasi dengan berbagai macam hierarki dalam organisasi tersebut (Effendy, 2017, hlm. 35).

3. Pola Komunikasi Linear

Linear dalam konteks komunikasi linear mengandung makna perjalanan dari satu titik ke titik lain secara lurus, yang berarti penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dapat dikatakan sebagai titik terminal. Pola komunikasi linear dapat terjadi dalam komunikasi tatap muka (face to face), akan tetapi ada kalanya komunikasi ini juga menggunakan media. Dalam komunikasi ini, pesan yang disampaikan akan efektif apabila ada perencanaan yang matang.

Pada tahun 1969, Shannon bersama Weaver menerapkan proses komunikasi manusia (human communication) yang berakar dari teori matematik dalam komunikasi permesinan (engineering communication), dan model matematikal tersebut menggambarkan komunikasi sebagai suatu proses yang linear (Effendy, 2017, hlm. 257).

Berdasarkan perspektif tersebut, pola komunikasi linear memandang komunikasi sebagai suatu pengalihan informasi dari sumber kepada penerima. Model linear (satu arah) yang digunakan di sini bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Perspektif transmisi memberi tekanan pada peran media serta waktu yang digunakan dalam menyalurkan informasi.

4. Pola Komunikasi Sirkuler

Salah satu pola yang digunakan untuk menggambarkan proses komunikasi adalah pola sirkuler yang dibuat oleh Osgood dan Schramm. Kedua tokoh ini mencurahkan perhatian mereka pada peran sumber dan penerima sebagai pelaku utama komunikasi.

Pola ini menggambarkan komunikasi sebagai proses yang dinamis, di mana pesan ditranmisi melalui proses encoding dan decoding. Encoding adalah translasi yang dilakukan oleh sumber atas sebuah pesan, dan decoding adalah translasi yang dilakukan oleh penerima terhadap pesan yang berasal dari sumber.

Hubungan antara encoding dan decoding adalah hubungan antara sumber dan penerima secara simultan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Sebagai proses yang dinamis, maka interpreter pada pola sirkular ini bisa berfungsi ganda sebagai pengirim dan penerima pesan. Pada tahap awal, sumber berfungsi sebagai encorder dan penerima sebagai decorder.

Akan tetapi, pada tahap berikutnya penerima berfungsi sebagai pengirim (encorder) dan sumber sebagai penerima (decoder), dengan kata lain sumber pertama akan menjadi penerima kedua dan penerima pertama berfungsi sebagai sumber kedua, dan begitu seterusnya.

Referensi

  1. Cangara, H. (2021). Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  2. Effendy, O. U. (2017). Ilmu komunikasi (teori dan praktek). Bandung: Remaja Rosdakarya.
  3. Mulyana, D. (2017). Ilmu komunikasi suatu pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  4. Pace R.W., & Faules, D.F. (2018). Komunikasi organisasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  5. Purwasito, A. (2015). Komunikasi multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *