Pengertian Teks Persuasif

Teks persuasif adalah varian teks yang berisi ajakan atau bujukan untuk mendorong seseorang mengikuti harapan dan keinginan yang disampaikan dalam teks melalui pendapat yang diperkuat oleh argumen (seperti dalam teks eksposisi).

Ya, teks ini memanfaatkan pendapat yang disertai alasan kuat, seperti yang diungkapkan oleh Tim Kemdikbud (2017, hlm. 184) bahwa teks persuasif mengungkapkan pendapat-pendapat yang disertai alasan logis seperti halnya teks argumentatif.

Sementara itu, masih senada dengan pendapat di atas, Waluyo (2018, hlm. 193) mengemukakan bahwa teks persuasi adalah ragam teks yang berisi pendapat terhadap suatu permasalahan aktual yang dibarengi oleh argumen dan data untuk mendukung pendapat dengan tujuan mengarahkan pembaca agar mengikuti apa yang disampaikan dalam teks.

Definisi teks persuasi di atas juga diperkuat oleh pendapat Mulyadi, dkk (2016, hlm. 23) yang mengatakan bahwa teks persuasi adalah teks yang berisi bujukan untuk mengajak seseorang mengikuti harapan dan keinginan penulis.

Struktur Teks Persuasif

Struktur teks persuasif adalah berbagai unsur atau bagian yang membangun teks persuasif. Tim Kemdikbud (2017, hlm. 186) memaparkan bahwa struktur teks persuasif terdiri dari:

  1. Pengenalan isu, yaitu pengantar umum atau penyampaian masalah yang menjadi dasar teks.
  2. Rangkaian argumen, yakni sejumlah pendapat atau argumen yang terkait dengan isu yang telah diperkenalkan sebelumnya. Bagian ini juga biasanya diperkuat oleh pengungkapan fakta untuk menyokong pendapat atau argumen yang disajikan.
  3. Ajakan-ajakan, merupakan inti dari teks yang memberikan dorongan kepada pembaca atau pendengar agar melakukan sesuatu baik secara tersirat maupun tersurat.
  4. Penegasan kembali, yakni menegaskan kembali inti pernyataan, fakta, dan ajakan yang sebelumnya telah dipaparkan melalui simpulan dan rangkuman untuk memastikan bahwa persuasi telah tersampaikan dan dapat diingat lalu memengaruhi pembaca atau pendengar untuk benar-benar mengikutinya.

Sementara itu, dengan pendapat yang serupa tapi cukup tak sama, Mulyadi (2016, hlm. 223) secara lebih singkat dan padat berpendapat bahwa struktur teks persuasi terdiri dari:

  1. Pengenalan isu
    Penyampaian mengenai dasar dari masalah tulisan atau pembicaraan.
  2. Rangkaian argumen
    Berisi sejumlah pendapat atau argumen mengenai isu yang dikemukakan dan diperkuat oleh bagian fakta untuk mendukungnya.
  3. Pernyataan ajakan
    Merupakan bagian yang berisi dorongan kepada pembaca atau pendengar untuk mengikuti pendapat dari teks.
  4. Penegasan kembali
    Meyakinkan kembali pembaca terhadap pernyataan pendapat, dan ajakan yang telah disampaikan sebelumnya

Jenis Teks Persuasif

Berdasarkan genre atau jenis teks yang menggunakan persuasi, teks persuasif dapat dibagi menjadi sesederhana:

  1. Persuasi propaganda, yang berusaha menggiring pembaca/pendengar terhadap opini tertentu.
  2. Persuasi politik, berusaha untuk mengajak pembaca/pendengar untuk memilih partai atau calon pemimpin dalam kegiatan kampanye politik.
  3. Persuasi advertensi, merupakan teks yang berusaha untuk membujuk pembaca/penontonnya untuk membeli barang atau jasa yang ditawarkan.
  4. Persuasi pendidikan, teks persuasif yang berusaha agar pembacanya mengikuti atau mau mempelajari dan bersikap sesuai dengan pendidikan yang tengah diberikan.

Sementara itu, jika dibedakan berdasarkan teknik atau metode persuasi, Keraf (12011, hlm. 124) mengemukakan. bahwa metode-metode yang bisa dipergunakan dalam persuasi mencakup beberapa poin berikut ini.

  1. Persuasi rasionalisasi, yaitu pembuktian mengenai suatu kebenaran dalam bentuk yang agak lemah, dan berdasarkan suatu dasar pembenaran kepada suatu persoalan saja, di mana dasar atau alasan itu tidak merupakan sebab langsung dari masalah itu;
  2. Persuasi identifikasi , persuasi yang berusaha menghadiri situasi konflik sehingga penulis atau pembicara menganalisa hadirin/pembaca dan seluruh situasi yang dihadapinya dengan seksama untuk membuat gagasan persuasifnya.
  3. Persuasi sugesti, berarti membujuk atau mempengaruhi orang lain untuk menerima suatu keyakinan atau pendirian tertentu tanpa memberi suatu dasar kepercayaan yang logis pada orang yang ingin dipengaruhi.
  4. Persuasi konformitas, yakni persuasi yang dilakukan melalui mekanisme mental untuk menyesuaikan diri atau mencocokkan diri dengan suatu yang diinginkannya itu.
  5. Persuasi kompensasi, merupakan suatu tindakan atau suatu hasil dari usaha untuk mencari suatu pengganti bagi susatu hal yang tak dapat diterima, atau suatu sikap atau keadaan yang tidak dapat diperhatikan, sehingga pembaca atau pendengar merasa “terpuaskan” oleh kompensasi yang diberikan.
  6. Persuasi penggantian (displacement), persuasi dengan cara menggantikan suatu maksud atau hal yang mengalami rintangan dengan suatu maksud atau hal lain yang dapat menggantikannya.
  7. Persuasi proyeksi, yaitu suatu teknik untuk menjadikan sesuatu yang tadinya adalah subyek menjadi objek, sehingga rasa kepemilikian pendengar atau pembaca menjadi lebih kuat. Misalnya: “sekotak hati nurani ini adalah milik kita bersama”.

Ciri Ciri Teks Persuasif

Berdasarkan berbagai penjelasan pengertian dan strukturnya, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri teks persuasi adalah sebagai berikut.

  1. Berisi ajakan atau dorongan untuk melakukan sesuatu yang dibahas dalam teks.
  2. Terdapat argumentasi atau pendapat penulis agar ajakan dapat dipertimbangkan oleh pendengar atau pembaca.
  3. Berisi fakta yang berusaha membuktikan salah satu kebenaran sebagaimana yang digariskan dari penalaran penulis.
  4. Sasaran proses berpikir teks berorientasi kepada pembacanya, bukan kepada penulisnya sendiri seperti dalam teks argumentasi.
  5. Ide pokoknya biasanya menghindari konflik atau berusaha untuk senetral mungkin agar kepercayaan pembaca tidak hilang karena teks terlalu menjurus pada hal yang spesifik.

Kaidah Kebahasaan Teks Persuasif

Tim Kementerian dan Kebudayaan Republik Indonesia (2017, hlm. 188) mengungkapkan bahwa ciri bahasa atau kaidah kebahasaan teks persuasi adalah sebagai berikut.

  1. Menggunakan kata-kata teknis atau peristilahan yang berkenaan dengan topik yang dibahas. Contohnya jika teks berkenaan dengan permasalahan remaja, maka persuasi akan menggunakan kata: internet, narkoba, reproduksi
    .
  2. Menggunakan kata-kata penghubung argumentatif seperti: sebab, karena, jika, dengan demikian, akibatnya, oleh karena itu.
  3. Untuk membuat penulis seolah-olah berada di pihak yang sama dengan pembaca dan “sepakat” sehingga lebih terbujuk oleh penulis, biasanya teks menggunakan kata ganti kita, contoh kalimat: kita harus berjuang bersama melawan permasalahan ini.
  4. Menggunakan kata kerja mental, seperti: memprihatinkan, memperkirakan, mengagumkan, diharapkan, menduga, berpendapat, berasumsi, dan menyimpulkan.
  5. Menggunakan kata-kata perujukan dalam pemaparan fakta, seperti: berdasarkan itu, merujuk pada pendapat.
  6. Menggunakan kata kerja imperatif seperti: penting, harus, sepantasnya, jadikanlah.

Sebagai pembanding, berikut adalah pendapat Mulyadi (2016, hlm. 224) yang menjelaskan kaidah kebahasaan sebagai berikut.

  1. Pernyataan yang bersifat bujukan ditandai dengan kata harus, sepantasnya, sebaiknya, hendaknya, dan kata kerja imperatif.
  2. Adanya penggunaan kata ganti “kita” yang bertujuan agar penulis seolah-olah mewakili keinginan pembicara.
  3. Penggunaan kata teknis atau istilah yang berkenaan dengan topik yang dibahas.
  4. Adanya penggunaan kata penghubung yang argumentatif. Misalnya, jika, maka, sebab, karena, dengan demikian, akibatnya, oleh karena itu.
  5. Penggunaan kata kerja mental, seperti diharapkan, memprihatinkan, mengagumkan, berpendapat, dan menyimpulkan.
  6. Untuk meyakinkan dan memperkuat bujukan yang telah dibahas sebelumnya, penulis menggunakan kata-kata perujukan. Misalnya berdasarkan pada…, merujuk pada pendapat…

Langkah Langkah Menyusun Teks Persuasi

Langkah-langkah menyusun atau menulis teks persuasi merupakan tahapan mengungkapkan pikiran dan seseorang yang dituangkan ke dalam sebuah teks atau gagasan umum. Tim Kemdikbud mengungkapkan bahwa langkah-langkah teks menulis teks persuasi terdiri dari poin-poin berikut ini.

  1. Menentukan tema yang berisi dorongan atau bujukan utama.
  2. Menyusun rincian yang berisi pengenalan isu dan rangkaian pendapat atau argumentasi.
  3. Mengumpulkan bahan penguat pendapat atau argumentasi berupa data dan fakta.
  4. Mengembangkan teks dengan memperhatikan struktur dan kaidah kebahasaannya.

Sementara itu, Suparno dan Yunus (2008, hlm.150), berpendapat bahwa ada beberapa langkah untuk menyusun teks persuasi, yakni:

  1. Menentukan tema atau topik teks.
  2. Menentukan tujuan yang mendasari suatup permasalahan yang akan dibawakan.
  3. Mengumpulkan data yang mendukung keseluruhan gagasan teks, dapat diperoleh dari pengalaman empiris atau pengamatan (observasi) kita sendiri pula.
  4. Membuat kerangka teks, kerangka teks disusun berdasarkan struktur dan kalimat-kalimat utamanya.
  5. Mengembangkan kerangka menjadi teks sempurna.
  6. Membuat judul.

Menariknya, judul justru ditentukan di akhir tahap. Hal ini memang salah satu teknik yang sering digunakan oleh penulis profesional seperti jurnalis. Mengapa? Karena judul sangat menentukan ketertarikan utama dari suatu teks.

Hal ini sama dengan bagaimana para pemengaruh sosial media yang membuat judul mereka seagitatif mungkin (click bait). Namun para jurnalis dan sastrawan yang menjunjung tinggi kode etiknya tidak memanfaatkan daya tipu semacam itu dan hanya berusaha untuk membuat judul yang semenarik mungkin.

Referensi

  1. Keraf, Gorys (2011). Argumentasi dan narasi. Jakarta: Gramedia.
  2. Mulyadi, Yadi dkk. (2016). Intisari tata bahasa Indonesia untuk SMP dan SMA. Bandung; Yrama Widya.
  3. Suparno, Yunus Muhamad. (2008). Keterampilan dasar menulis. Jakarta; Universitas Terbuka.
  4. Waluyo, Budi. (2018). Bahasa dan sastra Indonesia untuk kelas VIII SMP dan MTs. Solo; Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *