Alat penjernih air sederhana yang bekerja maksimal dapat dibuat menggunakan bahan alami. Kelebihan alat penjernih air yang menggunakan bahan alami adalah ramah lingkungan, murah, dan memberikan dampak penjernihan yang maksimal.

Mengapa kita harus membuat air menjadi jernih? Selain tampilan fisik yang indah, air jernih juga merupakan indikator kuat bahwa air berada dalam keadaan bersih dan tidak berbahaya untuk digunakan.

Fungsi dan Tujuan Penjernihan Air

Secara umum fungsi proses penjernihan air berguna untuk menghilangkan zat pengotor atau untuk memperoleh air yang kualitasnya memenuhi standar persyaratan kualitas air (Tim Kemdikbud, 2017, hlm. 53).

Selain itu, proses penjernihan air mempunyai tujuan-tujuan sebagai berikut.

  1. Menghilangkan gas-gas terlarut.
  2. Menghilangkan rasa yang tidak enak.
  3. Membasmi bakteri pathogen yang sangat berbahaya.
  4. Memperkecil sifat air yang menyebabkan terjadinya endapan pada pipa dan saluran air.

Lalu Seperti apa cara, teknis, alat, dan bahan yang dibutuhkan? Simak penjelasannya pada artikel ini.

Sistem Penjernihan Air dengan Bahan Alami

Sebelum membahas prosedur atau cara membuat alat penjernih air sederhana dari bahan alami, sebaiknya kita mengetahui dasar dari sistem penjernih air dari bahan alami. Air dapat dijernihkan melalui dua cara, yakni melalui penyaringan dan pengendapan.

Teknik Penyaringan Air menggunakan Bahan Alami

Teknik penyaringan air dilakukan dengan mengalirkan air melewati benda penyaring. Penyaringan air menggunakan bahan alami dapat dilakukan dengan beberapa teknik filtrasi dan bahan di bawah ini.

Saringan Kain Katun

Membuat saringan air dengan kain katun adalah teknik penyaringan yang paling sederhana. Air keruh disaring dengan menggunakan kain katun yang bersih. Saringan katun dapat membersihkan air dari kotoran dan sebagian kecil organisme kecil yang ada dalam air keruh tersebut. Air hasil saringan tergantung dari ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan.

Saringan Kapas

Teknik saringan air ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dari teknik sebelumnya. Seperti halnya penyaringan dengan kain katun, penyaringan dengan kapas juga dapat membersihkan air dari kotoran dan sebagian organisme kecil yang ada dalam air keruh. Hasil saringan juga tergantung pada ketebalan dan kerapatan kapas yang digunakan.

Aerasi

Aerasi adalah proses penjernihan air dengan cara mengisikan oksigen ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen ke dalam air maka zat-zat seperti karbon dioksida serta hidrogen sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dari air dapat dikurangi atau dihilangkan.

Selain itu partikel mineral yang terlarut dalam air seperti besi dan mangan akan teroksidasi dan secara cepat akan membentuk lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan melalui proses sedimentasi atau filtrasi.

Saringan Pasir Lambat (SPL)

Saringan pasir lambat adalah saringan air yang dibuat dengan menggunakan lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Disebut lambat karena air baku dialirkan dari lapisan pasir terlebih dahulu, baru kemudian melapisi kerikil.

Saringan Pasir Cepat (SPC)

Saringan pasir cepat terdiri atas lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah (kebalikan dari SPL). Air juga dialirkan dari bawah ke atas, atau dari bagian kerikil ke bagian pasir (up flow).

Gravity-fed filtering system

Gravity-fed filtering system merupakan gabungan dari Saringan Pasir Cepat (SPC) dan Saringan Pasir Lambat (SPL). Air bersih dihasilkan melalui dua tahap, yakni dalam tahap pertama air disaring menggunakan Saringan Pasir Cepat (SPC), selanjutnya disaring kembali menggunakan Saringan Pasir Lambat. Dua kali penyaringan tersebut dapat menghasilkan air bersih yang lebih baik.

Saringan arang

Saringan arang dapat dikatakan sebagai saringan pasir cepat atau lambat, dengan tambahan lapisan arang. Lapisan arang sangat efektif untuk menghilangkan bau dan rasa tidak sedap yang ada dalam air baku. Arang yang digunakan dapat berupa arang kayu atau arang batok kelapa. Untuk hasil yang lebih baik dapat digunakan arang aktif atau activated carbon, jenis arang yang dipanaskan kembali dalam suhu tertentu.

Saringan keramik

Air di saring melalui elemen filter berbahan keramik. Beberapa filter kramik menggunakan campuran perak yang berfungsi sebagai disinfektan dan membunuh bakteri. Saringan keramik dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama sehingga dapat dipersiapkan dan digunakan untuk keadaan darurat.

Ketika proses penyaringan, kotoran yang ada dalam air baku akan tertahan dan lama kelamaan akan menumpuk dan menyumbat permukaan filter. Sehingga penggunaan saringan keramik terbatas pada air yang tidak terlalu keruh. Filter keramik harus sering disikat dan dibersihkan agar tidak terjadi penyumbatan. Kecepatan penyaringan keramik relatif lebih lambat dari SPL, apalagi SPC.

Saringan cadas

Saringan cadas atau jempeng ini mirip dengan saringan keramik. Air disaring dengan menggunakan pori-pori dari batu cadas. Saringan ini umum digunakan oleh masyarakat desa Kerobokan, Bali. Saringan tersebut digunakan untuk menyaring air yang berasal dari sumur gali ataupun dari saluran irigasi sawah. Kecepatan air hasil saringan relatif rendah bila dibandingkan dengan SPL terlebih lagi SPC.

Teknik Pengendapan Air dengan Bahan Alami

Pengendapan maksudnya adalah membuat berbagai berbagai kotoran yang berada dalam air terpisah dan mengendap di bawah, sehingga air baku menjadi lebih jernih dan bersih. Beberapa teknik pengendapan untuk proses penjernihan air adalah sebagai berikut.

Biji Kelor

Biji buah kelor (Moringan oleifera) mengandung zat aktif rhamnosyloxybenzil-isothiocyanate, yang mampu mengadopsi dan menetralisir partikel-partikel lumpur serta logam yang terkandung dalam air limbah suspensi, dengan partikel kotoran melayang di dalam air.

Selain membuat air menjadi jernih, serbuk biji buah kelor juga ternyata cukup ampuh menurunkan dan mengendapkan kandungan unsur logam berat yang cukup tinggi dalam air, sehingga air tersebut memenuhi standar baku air minum dan air bersih.

Tawas

Tawas berfungsi untuk memisahkan dan mengendapkan kotoran dalam air. Lama pengendapan sekitar 12 jam. Fungsi tawas hanya untuk pengendapan, tidak berfungsi untuk membunuh kuman dan menaikkan pH dalam air.

Kaporit

Kaporit berfungsi untuk memisahkan dan mengendapkan kotoran dalam air. Lama pengendapan sekitar 12 jam.

Kapur Gamping

Kapur gamping berfungsi untuk pengendapan, namun membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni sekitar hingga 24 jam. Selain itu, kapur gamping juga dapat menaikkan pH air namun tidak dapat membunuh kuman, virus, dan bakteri.

Arang Batok Kelapa

Fungsi utama dari arang batok kelapa adalah untuk menghilangkan baud an rasa tidak enak dalam air. Selain itu arang juga tentunya dapat menjernih air melalu proses pengendapan.

Pembuatan Alat Penjernih Air Sederhana dengan Bahan Alami

Melalui berbagai pengetahuan mengenai kemampuan bahan alami yang mampu menyaring dan menjernihkan air di atas, kita dapat membuat alat penjernih air sederhana dengan bahan alami. Kita dapat mengombinasikan beberapa bahan alami untuk membuatnya lebih efektif. Berikut adalah cara pembuatan alat penjernih air sederhana menggunakan bahan-bahan alami, dimulai dari alat dan bahannya dahulu.

Bahan dan Alat Penjernih Air dengan Bahan Alami

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat alat penjernih air dengan bahan alami meliputi: arang, kerikil besar, kerikil kecil, pasir, ijuk, dan jerami. Sementara alat yang dibutuhkan adalah pisau, palu, alat pelubang seperti bor, dan alat pemotong seperti gunting atau gergaji.

Intinya, alat tersebut dibutuhkan untuk teknik yang dibutuhkan dalam membuat alat penjernih yang meliputi memotong, melubangi, dan menyambung. Prosedur atau tahapan dalam membuat alat penjernih air dengan bahan alami terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu perencanaan, perancangan, dan proses pembuatan.

Merencanakan Alat Penjernih Air dengan Bahan Alami

Hal pertama yang harus dilakukan dalam membuat alat penjernih air dengan bahan alami adalah perencanaan sebagai berikut.

  1. Menentukan atau memutuskan model bentuk dan ukuran alat penjernih air yang akan dibuat, setelah sebelumnya melakukan pengamatan alur cara kerja penjernih air, baik melalui pelatihan, internet atau informasi tentang alat penjernih air yang ada di daerah setempat.
  2. Membuat sketsa gambar benda yang akan dibuat dan gambar teknik yang dilengkapi dengan ukuran.
  3. Menentukan dan menyiapkan alat tangan (hand tools) yang akan digunakan dan bahan alam apa saja yang diperlukan sebagai penyaring serta sebagai wadah air, saluran penghubung pipa, selang atau bambu maupun keran yang dibutuhkan.
  4. Menentukan langkah membuat alat penjernih air, yaitu menentukan bagian mana yang akan dibuat terlebih dahulu.
  5. Membuat dan merakit alat penjernih air sesuai rencana.
  6. Menguji merupakan bagian penting dalam pembuatan alat penjernih air dan dilanjutkan dengan menyempurnakan.

Merancang Alat Penjernih Air dengan Bahan Alami

Tahap kedua dalam m yaitu membuat gambar dengan memperhatikan hal-hal berikut.

  1. Membuat desain/sketsa alat penjernih air yang akan dibuat, disesuaikan dengan kebutuhan.
  2. Membuat gambar teknik lengkap dengan ukurannya.
  3. Menentukan langkah kerja.
  4. Menuliskan alat yang akan digunakan.

Membuat Alat Penjernih Air dengan Bahan Alami

Prosedur atau tahapan dalam membuat alat penjernih air dengan bahan alami adalah sebagai berikut.

  1. Menyusun atau membuat pipa penyaringan.
  2. Membuat penampung air kotor.
  3. Membuat penyaring air yang berisi lapisan-lapisan bahan penyaring dengan urutan yang tepat. Bahan penyaring dapat disesuaikan dengan yang ada di daerah. Bahan-bahan yang biasanya digunakan adalah batu, pasir, kerikil, arang tempurung kelapa, arang sekam padi, tanah liat, ijuk, biji kelor, dan lain-lain. Peralatan yang digunakan juga dapat dipilih sesuai alat yang tersedia di sekolah atau rumah masing-masing.
  4. Menyiapkan penampungan air bersih, untuk hal itu tidak terlalu sulit untuk disiapkan yang penting tidak bocor dan ukurannya memadai.
Contoh susunan bahan alami pada penyaring alat penjernih air

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Prakarya SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *