Analisis Seni Musik sebetulnya sudah sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat kita sedang mendengar lagu, terdengar melodi yang sangat merdu dan memberikan perasaan menyenangkan bagi kita. Hanya saja saat kita ingin mempelajarinya, maka hal tersebut harus dilakukan secara sadar serta dilakukan dengan lebih teliti dan sistematis. Hal itu karena esensi dari pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk melakukan perubahan (tidak tahu menjadi tahu, buruk menjadi baik).

Jika saat mendengar istilah analisis seni musik yang kita bayangkan hanyalah not balok dan susunan nada yang harus dipilah-pilah saja, maka hal tersebut sebetulnya kurang tepat. Kita juga harus mampu memaknai konsep serta proses kreasi musik itu sendiri. Hal ini karena seni musik sejatinya memiliki sifat dasar seni pada umumnya.

Not balok hanyalah alat untuk membantu kita dalam mengomunikasikan kreasi antarmusisi. Oleh karena itu materi seni musik ini akan diawali dengan konsep dan makna proses kreasi di bawah ini.

Konsep dan Makna Proses Kreasi Musik

Pada umumnya proses kreasi identik diberlakukan di dalam aktivitas bidang seni manapun. Hal ini karena kreasi merupakan kegiatan yang bermuara pada lahirnya karya seni, di mana proses kreasi bertujuan menghadirkan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Salah satu wujud seni dapat berupa karya seni musik.

Karya seni musik sendiri adalah objek kasat indra dengar yang bersifat auditory (bunyi/suara). Sebuah karya seni musik sebagai objek pengamatan berlaku buat siapa pun. Sebuah karya musik pada dasarnya memiliki maksud dan tujuan yang ingin disampaikan kepada penikmat musik.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa karya musik hadir karena adanya kreativitas dari hasil penciptaan seseorang serta dapat berasal dari pengungkapan gagasan dari proses kreatif yang terinspirasi dan tercipta dari fenomena-fenomena kehidupan manusia dan alam.

Proses kreatif sendiri akan meliputi beberapa tahapan, yakni :

  1. persiapan, meliputi mencari referensi baik dari alam, teori, riset, maupun dari karya lain serta pembuatan draf kasar atau prototype;
  1. inkubasi, yakni tahap menciptakan dengan mengalir tanpa menghiraukan rasa takut atau perfeksionisme lalu meninggalkannya (menginkubasinya) agar hal yang tidak terlihat menjadi terlihat ketika diperhatikan kembali;
  2. iluminasi, adalah tahap mendapatkan inspirasi kembali setelah mendapatkan inspirasi baru setelah melewati kedua proses di atas; dan
  1. verifikasi,
    adalah proses pengujian serta penjabaran ide kreasi menjadi karya utuh yang terperinci (Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 88).

Pengertian Kreativitas

Munandar (2002, hlm. 9), menyatakan bahwa kreativitas sebagai dimensi fungsi kognitif yang relatif bersatu yang dapat dibedakan dari intelegensi tetapi berpikir divergen atau kreatif. Kreativitas juga dapat menunjukkan hubungan yang bermakna dengan berpikir konvergen (intelegensi). Sifat kreatif merupakan ciri dari kreativitas. Kreasi-kreasi seni adalah produk dari buah karya seni seseorang. Sehingga dapat dikatakan bahwa produktivitas kreatif dipengaruhi oleh pengubah majemuk yang meliputi faktor sikap, motivasi, dan temperamen di samping kemampuan kognitif semata.

Produk kreativitas menekankan bahwa apa yang dihasilkan dari proses kreativitas adalah sesuatu yang baru, orisinal, dan bermakna. Selain itu, kreativitas merupakan manifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya.

Asal Kreativitas

Apakah yang mendorong seseorang dapat menjadi insan kreatif serta produktif dalam menghasilkan suatu produk kreatif? Tidak ada yang dapat mengingkari bahwa kemampuan-kemampuan dan ciri-ciri kepribadian seseorang yang kreatif dipengaruhi oleh faktor pendidikan dan lingkungan, seperti keluarga, sekolah, dan alam sekitarnya. Manusia dilahirkan sebagai secarik kertas putih yang akan ditulisi oleh lingkungannya hingga pada masa tertentu mampu mengisi sebagian besar oleh tangannya sendiri.

Bagaimana lingkungan dan pendidikan mampu memengaruhi kreativitas seseorang? Lingkungan dan pendidikan dapat berfungsi sebagai pendorong, stimulus, dalam pengembangan kreativitas. Contoh sederhananya, saat di sekolah kita terpaksa mengerjakan tugas. Hal tersebut akan mendorong kita untuk mampu produktif dan tidak hanya berleha-leha saja. Orang tua, dan teman-teman juga akan membuat kita tetap semangat untuk terus ikut berpacu belajar bersama.

Kreativitas adalah karakteristik pribadi berupa kemampuan untuk menemukan, melakukan, atau menciptakan sesuatu yang baru dan bermakna (Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 89). Tanda kreativitas adalah sebagai kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberi gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.

Pada pengembangannya, kreativitas sangat terkait dengan aspek empat P, yaitu:

  1. pribadi,
  2. pendorong,
  3. proses, dan
  4. produk

Kreativitas akan muncul dari hasil adanya interaksi pribadi yang unik dengan lingkungannya. Kreativitas adalah sebuah proses merasakan, mengamati, dan membuat dugaan tentang adanya kekurangan masalah, menilai dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasilnya (Munandar. 2002, hlm. 39).

Analisis Musik

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, analisis musik tidak berarti menjelaskan komposisi karya seseorang. Analisis musik justru lebih cenderung memerhatikan prinsip-prinsip yang universal atau setidaknya mencari rumusan konsep menyeluruh untuk menjelaskan makna, gramatika, dan mekanisme karya musik serta menemukan nilai estetis musik.

Apa itu prinsip-prinsip atau unsur universal dari musik? Musik merupakan bagian dari dunia bunyi. Artinya musik adalah pengungkapan ide melalui seni yang didasarkan pada pengorganisasian bunyi atau suara menurut waktu. Unsur dasar musik berupa :

  1. irama,
  2. melodi, dan
  3. harmoni.

Adapun unsur lainnya berupa gagasan, sifat, dan timbre yang juga didukung oleh unsur ekspresi yang disusun secara indah. Keindahan akan lebih terasa oleh adanya jalinan nilai-nilai estetis yang selaras dan artistik. Untuk melihat keindahan dalam seni musik, maka diperlukan suatu kreativitas, salah satunya adalah dengan melakukan analisis.

Melalui fenomenologi atau filsafat yang mencari makna terdasar dari suatu hal, kita mengetahui bahwa adanya produk karya musik, baik musik tradisi, klasik, modern, maupun kontemporer di dalamnya tidak dapat terlepas dari sebuah kreasi penataan unsur-unsur musik beserta elemen-elemennya. Musik tercipta dan dibangun oleh keterpaduan substansi unsur-unsur irama, melodi, harmoni, bentuk/struktur yang dikemas oleh kualitas musik, yaitu unsur ekspresi yang meliputi tempo, dinamika, timbre, dan kekuatan volume atau intensitas suara. Inilah yang dianalisis dalam suatu karya seni musik.

Analisis Makna Musik Kreasi

Selain itu, kita juga dituntut untuk mampu menafsirkan makna yang terdapat di dalamnya. Karl Seashore, seorang ahli psikologi musik berpendapat, bahwa musik memiliki makna sebagai pesona jiwa yang merupakan alat yang dapat membuat seseorang gembira, sedih, semangat, galau, sesal, penuh harapan, riang, tenang, dan damai. Bahkan musik dapat membawa kita seolah-olah mengangkat pikiran serta ingatan kita melambung tinggi sehingga emosi kita melampaui diri sendiri, seolah berada di gelombang di laut lepas.

Musik adalah sebagai pengungkapan gagasan melalui bunyi atau suara yang unsur dasarnya berupa irama, melodi, dan harmoni dengan pendukung lainnya berupa bentuk gagasan, sifat, dan warna bunyi (timbre). Namun, dalam penyajiannya sering berpadu dengan unsur-unsur lainnya seperti bahasa, gerak atau warna. (Soeharto, 1992, hlm. 86).

Simbol Musik

Seni musik merupakan simbolisasi pencitraan dari unsur-unsur musik dengan substansi dasarnya suara dan nada atau notasi. Notasi sebagai salah satu elemen musik merupakan simbol musik utama yang berupa nada-nada. Melalui notasi kita dapat menunjukkan secara tepat tinggi rendahnya nada. Nada ditulis dengan simbol. Simbol musik itu dinamakan not.

Pada simbol musik daerah Sunda, notasi identik dengan sebutan Titilaras. Titilaras merupakan unsur yang pertama kali mewarnai seni karawitan. Soepandi (1975), menyebutkan titi adalah nada atau not, laras adalah merupakan susunan nada-nada yang sudah ditentukan jumlah dan swarantaranya dalam satu gembyang. Gembyang identik dengan istilah oktaf dalam musik barat.

Selain laras, dalam karawitan Sunda yang menjadi ciri dan karakter dari wujud musik dikenal adanya sebutan surupan. Surupan adalah tinggi rendahnya nada atau suara yang disusun berurutan, baik pada oktaf kecil maupun oktaf besar dengan jumlah nada dan interval tertentu yang dalam musik Barat disebut dengan tangga nada (Kusumadinata, 1925 dalam Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 92).

Raden Machjar Angga Kusumadinata adalah seorang tokoh karawitan Sunda yang menciptakan notasi daminatila pada tahun 1924 dan notasi tersebut lebih disebarluaskan pada kegiatan pembelajaran seni karawitan di daerah Jawa Barat berawal sekitar tahun 1925.

Hingga kini, notasi daminatila masih dipergunakan oleh kreator-kreator Sunda dalam mengarsipkan karya musiknya khususnya untuk seni karawitan baik sekar (vokal) maupun gending (instrumen). Banyak istilah dan simbol musik yang digunakan untuk sebutan nada. Misalnya:

  1. Nada tonal, yaitu nada-nada diatonis untuk musik barat;
  2. Nada modal, yaitu nada-nada pentatonis untuk musik daerah. Simbol musik yang berupa nada-nada ada yang ditulis dengan angka, huruf, dan juga not balok.

Unsur-Unsur Musik

Unsur-unsur musik yang dapat dipilah untuk diamati dalam melakukan analisis seni musik meliputi irama, melodi, harmoni, bentuk/struktur lagu, dan ekspresi. Berikut adalah penjabaran dari masing-masing unsur musik.

Pola Irama

Pola irama ialah bentuk susunan tertentu panjang pendek bunyi dan diam. Setiap bentuk lagu mempunyai pola-pola irama (Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 100). Irama sebuah lagu terdiri atas beberapa pola irama. Pola irama dapat sama atau berupa pengulangan atau dapat pula berbeda sedikit bahkan bisa sangat berbeda.

  1. Pola irama yang sama disebut pola irama rata, yaitu bentuk pola irama yang susunan panjang pendek bunyinya terbagi rata/sama atas pulsanya.
  2. Pola irama tidak sama panjang disebut pola irama tidak rata, yaitu bentuk pola irama yang susunan panjang pendek bunyinya tidak terbagi rata/tidak sama pulsanya.
  3. Pola irama yang berulang-ulang disebut ostinato irama, yaitu bentuk pola irama yang dibunyikan atau terdengar berulang-ulang.

Pola Melodi

Melodi adalah susunan rangkaian nada (bunyi dengan getaran teratur) yang terdengar berurutan berirama, dan mengungkapkan suatu gagasan (Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 104). Melodi disebut juga untaian nada-nada tunggal yang dikenali sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh.

Sebetulnya, melodi lebih mudah dikenal dari pada didefinisikan. Sebuah melodi mempunyai bagian awal, pergerakan nada-nada, dan bagian akhir. Melodi mempunyai arah, bentuk, dan kesinambungan. Gerakan naik dan turun nada-nada melodi menimbulkan kesan ketegangan dan penyelesaian.

Melodi yang bergerak dalam interval-interval yang kecil dinamakan melodi melangkah, sedang yang bergerak dalam interval besar dinamakan melodi melompat. Di samping naik dan turun berupa langkah- langkah dan lompatan, melodi dapat juga berupa pengulangan nada-nada yang sama. Beberapa elemen dalam unsur melodi, antara lain: tangga nada, sistem nada, jenis nada, sifat nada, kunci nada, dan interval nada.

Harmoni

Harmoni atau panduan nada ialah bunyi nyanyian atau permainan musik yang menggunakan dua nada atau lebih, yang berbeda tinggi nadanya dan kita dengar serentak. Dasar harmoni ini adalah trinada atau akor. Akor merupakan salah satu elemen musik sedangkan elemen lainnya seperti kaden dan interval.

Trinada atau akor ialah bunyi gabungan tiga nada yang terbentuk dari salah satu nada dengan nada terts dan kuinnya, atau dari salah satu nada dengan tertsnya dan berikutnya terts dari nada yang baru, sehingga dikatakan juga terts bersusun. Akor diberi nomor dengan angka romawi sesuai dengan tingkat kedudukan nada dasarnya dalam tangga nada. Angka romawi besar menunjukan trinada/akor mayor dan angka romawi kecil menunjukkan trinada/akor minor.

Bentuk dan Struktur Lagu

Bentuk atau struktur lagu adalah susunan serta hubungan antara unsur-unsur musik dalam suatu lagu sehingga menghasilkan suatu komposisi atau lagu yang bermakna. Dasar pembentukan lagu ini mencakup pengulangan suatu bagian (repetisi), pengulangan dengan macam-macam perubahan (variasi, sekuen), atau penambahan bagian baru yang berlainan atau berlawanan (kontras), pengulangan tersebut selalu memperhatikan keseimbangan antara pengulangan dan perubahannya. Untuk memudahkan pengertian kita, struktur musik ini dapat diperbandingkan dengan struktur bahasa yang sudah kita kenal.

Elemen dari unsur bentuk dan struktur musik antara lain:

  1. wujud,
  2. motif,
  3. sekuen,
  4. repetisi,
  5. variasi, dan
  6. kontras (Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 108).

Ekspresi

Dalam musik, ekspresi adalah ungkapan pikiran dan perasaan yang mencakup semua nuansa seperti tempo, dinamik, dan warna nada. Unsurunsur pokok musik, dalam pengelompokan frase (phrasing) yang diwujudkan oleh seniman musik atau penyanyi, disampaikan kepada pendengarnya.

Menurut Jamalus (1992 dalam Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 108) elemen-elemen dari unsur ekspresi dalam musik adalah sebagai berikut.

  1. Tempo atau tingkat kecepatan musik, sering disebut kecepatan gerak pulsa dalam lagu dengan gerak lambat, sedang, dan cepat. Sebagai contoh tempo sedang (andante, moderato), tempo cepat (mars, allegro), dan tempo lambat (adagio, largo).
  2. Dinamik atau tingkat volume suara atau keras lunaknya suara/bunyi, misalnya tanda untuk tingkat volume suara keras forte dengan simbol (f), fortissimo dengan simbol (ff), dinamik lemah atau lunak dilambangkan dengan piano dengan simbol (p), pianissimo dengan simbol (pp), dan crescendo dengan simbol (<), decrescendo dengan simbol (>).
  3. Timbre atau disebut dengan warna nada yang dihasilkan bergantung pada bahan sumber suara, serta gaya atau cara memproduksi nadanya. 4. Frase yang sering disebut kalimat lagu, biasanya setiap satu kalimat yang dimaksud dibatasi dengan simbol koma (,) selain itu, koma juga berfungsi untuk bernapas.
  4. Frase yang sering disebut kalimat lagu, biasanya setiap satu kalimat yang dimaksud dibatasi dengan simbol koma (,) selain itu, koma juga berfungsi untuk bernapas.
  5. Karakter suara, penggolongan suara, intensitas suara, atau bunyi.
  6. Gaya (style) suara/bunyi, sebuah cara dalam melakukan penampilan/ sikap.
  7. Modulasi, proses pemindahan suatu tangga nada ke tangga nada lain dalam sebuah lagu.
  8. Transposisi, pemindahan tangga nada dalam memainkan, menyanyikan, atau menuliskan sebuah lagu dari tangga nada aslinya tetapi lagunya tetap sama. Gunanya untuk menyesuaikan wilayah nada dengan wilayah suara penyanyi atau wilayah nada alat yang akan digunakannya.

Nilai Estetis Seni Musik

Bermacam-macam karya seni musik lahir dan berkembang di negeri tercinta ini, mulai dari musik vokal dalam bentuk lagu yang berupa nyanyian, sampai pada musik instrumen yang ditimbulkan dari suara alat yang berupa instrumental. Semua karya musik itu memiliki nilai estetis.

Secara konseptual Lomax (1957 dalam Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 112) menyatakan bahwa musik lebih dititikberatkan pada sesuatu kegiatan yang bernilai, yaitu musik sebagai refl eksi dari nilai dan perilaku dalam budaya sebagai satu kesatuan dalam mengisi fungsi sosial.

Efek utama dari musik itu sendiri adalah memberikan sesuatu pada pendengar akan perasaan aman, karena ia melambangkan tempat lahir, kepuasan masa kanak-kanaknya, pengalaman agamisnya, kesenangan dalam kehidupan masyarakat, kepahitan pengalaman batin, dan pembentukan kepribadian.

Menurut Melalatoa (2000, hlm. 2 dalam Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 112) nilai yang terdapat dalam sistem budaya di Indonesia khususnya di bidang pendidikan meliputi nilai pengetahuan, nilai religi, nilai sosial, nilai ekonomi dan nilai seni. Nilai merupakan suatu konsep abstrak yang dipandang baik dan bernilai, yang digunakan sebagai acuan tingkah laku dalam kehidupan.

Nilai estetis dalam seni merupakan untaian mutiara yang artistik, dapat mendekatkan manusia pada nilai-nilai keindahan. Keindahan yang identik dengan estetis, dapat terlukiskan dalam bentuk karya seni musik. Keindahan yang mau dicapai dalam seni musik didukung oleh unsur pokok musik dan unsur penunjangnya, seperti sastra lagu dan media ungkapnya. Sastra lagu menunjang daya untuk membangun nilai estetis dari jalur bahasa dan komposisi melodi nada-nada dari jalur lagu. Keduanya harus menyatu, bersama, dan berperan seimbang menuju apa yang dihasratkan pencipta.

Referensi

  1. Munandar,utami. (2002). Kreativitas dan keberbakatan. Strategi mewujudkan potensi kreatif dan bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  2. Soeharto, m. (1995). Kamus musik. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana Indonesia.
  3. Soepandi, atik. (1975). Teori dasar karawitan. Bandung: Asti Bandung.
  4. Tim Kemdikbud. (2018). Seni Budaya XII, semester 1. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.