Apresiasi karya seni rupa 3 dimensi memiliki banyak kesamaan dengan apresiasi seni dua dimensi. Berbeda dengan karya dua dimensi yang berdimensi tidak sama dengan kehidupan kita, karya 3 dimensi memiliki dimensi yang sama dengan alam. Hal tersebut tentunya memiliki keuntungan tersendiri, di mana kita akan merasa lebih familiar dan terkait dengan karya 3 dimensi. Namun terkadang hal tersebut justru mengurangi daya apresiasi kita terhadap karya 3 dimensi.

Apresiasi karya seni rupa 3 dimensi justru terkadang membutuhkan penghayatan lebih karena berisiko kurang memancing imajinasi. Oleh karena itu, terkadang seniman akan dengan sengaja membuat berbagai gaya yang melepaskan berbagai kemiripan karyanya dengan alam. Misalnya, dengan tidak mengecat karya patung mereka dengan warna yang realistis, agar mendapatkan perhatian lebih sebagai suatu objek seni dan tidak terasa seperti objek sehari-hari.

Mengapresiasi Karya Seni Rupa 3 Dimensi

Lantas bagaimana sebetulnya langkah untuk melakukan apresiasi karya seni rupa 3 (tiga) dimensi? Sebetulnya, perkara ini hampir sama saja dengan cara mengapresiasi karya seni rupa dua dimensi. Hanya saja, terdapat dimensi lain yang dapat kita jamah pada karya ini. Dimensi z yang tidak ada pada karya dua dimensi menjadi tonjolan utama dalam mengapresiasi karya seni rupa 3 dimensi.

Dimensi ini memungkinkan kita melihat karya seni rupa tiga dimensi dari berbagai sudut. Kita dapat melingkarnya dan setiap sudut pandang akan berbeda. Misalnya, kita mampu melihat bagian depan, samping, atau bagian belakang suatu patung. Bahkan dalam beberapa karya kita bisa saja masuk ke dalamnya, seperti pada karya instalasi yang melibatkan suatu ruangan dalam karyanya.

Beberapa karya juga memungkinkan kita untuk menyentuhnya, meskipun kebanyakan museum akan melarangnya jika karya yang dipajang berupa patung. Namun, dalam beberapa kesempatan kita justru dipersilakan dan bahkan diminta untuk menyentuh bagian tertentu, terutama sesuatu yang dapat dikendalikan seperti tombol interaktif, menulis sesuatu pada karya, dsb.

Langkah Apresiasi Seni Rupa 3 Dimensi

Berbagai hal tersebut menambah dimensi yang harus kita jelajahi pula dalam upaya mengapresiasi karya seni rupa tiga dimensi. Namun, sebelum menyentuh berbagai dimensi baru tersebut, apresiasi karya seni rupa 3 dimensi tetap mengharuskan kita untuk mengenali dan memahami berbagai struktur dasarnya terlebih dahulu. Hal itu karena dengan menganalisis satu-persatu struktur dan unsur yang membangun suatu karya akan memungkinkan kita melakukan berbagai evaluasi terhadap karya secara menyeluruh.

Beberapa pertanyaan yang harus dijawab agar kita mampu melakukan apresiasi karya seni rupa 3 dimensi meliputi:

  1. Bahan yang digunakan dalam berkarya seni rupa tiga dimensi tersebut?
  2. Dapatkah kita mengidentifikasi teknik yang digunakan dalam berkarya seni rupa tiga dimensi tersebut?
  3. Alat apa yang digunakan dalam berkarya seni rupa tiga dimensi itu?
  4. Apa saja unsur-unsur rupa yang terdapat pada karya seni rupa tiga dimensi tersebut?
  5. Objek apa saja yang ada pada karya seni rupa tiga dimensi tersebut?
  6. Bagaimanakah penataan unsur-unsur rupa pada karya seni rupa tiga dimensi tersebut?
  7. Apakah karya seni rupa tiga dimensi tersebut memiliki fungsi benda pakai?
  8. Karya seni rupa tiga dimensi seperti apa yang paling menarik untuk kita? (Tim Kemdikbud, 2017, hlm. 30)

Pada akhirnya agar dapat melakukan apresiasi karya seni rupa 3 dimensi, kita juga harus mengetahui berbagai konsep, dan aspek dari penciptaan seni rupa tiga dimensi itu sendiri. Pengetahuan tersebut dapat kita mulai dari mengenal jenis, tema dan fungsi karya seni tupa tiga dimensi yang akan dipaparkan pada beberapa uraian di bawah ini.

Jenis, Tema dan Fungsi Karya Seni Rupa Tiga Dimensi

Menurut Tim Kemdikbud (2017, hlm. 30) seperti karya seni rupa dua dimensi, berdasarkan fungsinya, karya seni rupa tiga dimensi juga dibedakan menjadi:

  1. karya yang memiliki fungsi pakai (seni rupa terapan/applied art); dan
  2. karya seni rupa yang hanya memiliki fungsi ekspresi saja (seni rupa murni – fine art/pure art).

Perbedaan fungsi pada sebuah karya seni rupa ditentukan oleh tujuan pembuatannya. Karya seni rupa sebagai benda pakai yang memiliki fungsi praktis dibuat dengan pertimbangan daya guna bagi kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, karya seni rupa terapan akan dibuat seberguna dan senyaman mungkin namun tetap tampak indah.

Oleh karena fungsi terapan atau fungsi praktis (pakai) sebuah karya seni rupa adalah aspek utama yang harus diperhatikan, maka dalam pembuatan karya seni rupa ini seorang perupa atau dalam konteks seni rupa terapan lebih sering dipanggil sebagai seorang desainer, akan mempertimbangkan aspek tersebut sebelum menambahkan unsur lainnya. Sebaliknya karya seni rupa murni hanya akan menciptakan karya seindah atau semenggugah mungkin dengan memperhatikan setiap rincian detail yang menaunginya.

Tema Seni Rupa Tiga Dimensi

Karya seni rupa tiga dimensi juga dapat dikategorikan berdasarkan temanya. Seorang perupa akan memilih tema tertentu sebagai bagian dari konsep berkaryanya. Dengan penentuan tema, seorang perupa akan memilih objek dan medium berkaryanya. Tema yang sama dari beberapa orang perupa sangat mungkin diungkapkan dengan gaya, objek, dan medium yang berbeda. Karya seni rupa tiga dimensi dengan tema yang sama dapat ditampilkan melalui seni patung, seni instalasi, maupun seni bangunan.

Unsur Seni Rupa Tiga Dimensi

Karya seni rupa tiga dimensi juga memiliki unsur-unsur rupa seperti warna, garis, bidang, dan bentuk, seperti karya seni rupa dua dimensi. Terdapat beberapa unsur lain seperti unsur penelusuran dan unsur sentuhan (haptic) pada karya seni rupa tiga dimensi. Berbagai unsur seni rupa tambahan untuk seni rupa 3 dimensi dapat di simak pada tautan di bawah ini.

Baca juga: Nirmana 3d (Trimatra); Menjelajahi Dimensi Ketiga

Selain digunakan dan diatur sedemikian untuk memperindah bentuknya, unsur rupa pada karya seni rupa tiga dimensi ini dapat saja memiliki makna simbolis. Berbagai makna simbolis tersebut mungkin saja berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Hal itu karena setiap daerah atau masyarakat memiliki konvensi atau persetujuan mengenai simbol akan sesuatu yang berbeda. Ambil contoh warna putih berarti suci di tanah Sunda, namun di Sulawesi warna putih dapat berarti warna dengan asosiasi negatif seperti kematian.

Nilai Estetis Karya Seni Rupa Tiga Dimensi

Tentunya sebagai salah satu jenis karya seni, seni rupa 3 dimensi juga memiliki nilai estetis. Nilai estetis pada sebuah karya seni rupa dapat bersifat objektif dan subjektif.

Nilai Estetis Objektif

Suatu nilai estetis yang bersifat objektif berarti memandang keindahan karya seni rupa pada wujud karya seni itu sendiri yang tampak secara kasat mata. Dalam pandangan objektif ini, nilai estetis atau keindahan sebuah karya seni rupa tersusun dari :

  1. komposisi yang baik,
  2. perpaduan warna yang sesuai,
  3. penempatan objek pas sehingga tampak seimbang dan membentuk kesatuan, dan sebagainya.

Keselarasan dalam menata unsur-unsur visual inilah yang mewujudkan sebuah karya seni rupa secara objektif.

Nilai Estetis Subjektif

Berbeda halnya dengan nilai estetis yang bersifat subjektif, keindahan tidak hanya pada unsur-unsur fi sik yang ditangkap oleh mata secara visual, tetapi ditentukan oleh selera orang yang melihatnya. Contohnya, ketika kita melihat sebuah karya seni rupa, kita mungkin tertarik pada apa yang ditampilkan dalam karya tersebut dan merasa senang untuk terus melihatnya bahkan ingin memilikinya. Namun orang lain belum tentu merasakan hal yang sama. Bisa jadi orang lain justru kurang tertarik pada karya tersebut dan lebih tertarik pada karya lainnya.

Perbedaan inilah yang menunjukkan bahwa nilai estetis sebuah karya seni rupa dapat bersifat subjektif. Dalam ranah yang subjektif, perupa dan penikmatnya harus berada pada zona kesukaan yang sama agar dapat berhasil. Hal ini yang menyebabkan mengapa banyak bermunculan suatu komunitas seni yang khusus mendiskusikan dan berkarya dengan gaya, bahan, dan bahkan medium yang spesifik.

Berkarya Seni Rupa Tiga Dimensi

Salah satu karya seni rupa tiga dimensi adalah patung. Karya seni patung memiliki berbagai ragam dan jenis yang tersusun dari berbagai medium pula. Terdapat patung yang terbuat dari batu, kayu, logam, bahkan bahan limbah yang didaur ulang.

Untuk berkarya seni rupa tiga dimensi sebetulnya tahapan yang dilalui masih sama dengan berkaya seni rupa dua dimensi. Di bawah ini adalah beberapa langkah berkarya seni rupa tiga dimensi seperti yang disampaikan oleh Tim Kemdikbud (2017, hlm. 40) sebagai berikut.

  1. Mencari dan menemukan ide yang akan dibuat patung
  2. Membuat sketsa
  3. Memilih alat dan bahan yang akan digunakan untuk membuat patung
  4. Berkarya patung sesuai dengan sketsa, alat dan bahan yang telah dipilih

Cobalah agar tidak melewatkan salah satu dari empat langkah sederhana tersebut. Hal itu karena langkah-langkahnya mungkin memang sederhana, tetapi setiap poin tersebut memiliki tingkat kesulitan teknis yang justru jauh dari sederhana. Oleh karena itu, pastikan tidak melewatkan satu langkah pun untuk mempermudah prosesnya.

Sebagai catatan akhir berkarya juga dapat menambah kemampuan apresiasi seni rupa 3 dimensi pula. Mengapa? karena kita akan merasakan langsung seperti apa sulitnya dalam membuat karya seni rupa 3 dimensi. Inilah mengapa beberapa profesi seni non seniman seperti kurator, pemilik galeri, kritikus seni, dan profesi seni lainnya terkadang menyepatkan waktu untuk mencoba sendiri berkarya layaknya seperti seorang seniman.

Referensi

  1. Tim Kemdikbud. (2018). Seni Budaya XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.