Pengertian Biaya Overhead

Biaya overhead adalah biaya di luar produksi di mana biaya tersebut tidak terkait langsung dalam produksi (Nirwana & Nurasik, 2020, hlm. 44). Oleh karena itu anggaran biaya ini juga disebut sebagai biaya overhead produksi, atau biaya overhead pabrik (BOP) atau factory overhead (FOH) yang merupakan tempat di mana produksi berlangsung. Contoh biaya overhead ini meliputi biaya listrik, air, penyusutan, perawatan mesin, sewa gedung, gaji mandor, dan sebagainya.

Sementara itu menurut Yanto, dkk (2022, hlm. 59) biaya overhead pabrik adalah biaya-biaya dalam pabrik yang dikeluarkan perusahaan dalam rangka proses produksi, kecuali biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Dengan demikian dalam perusahaan manufaktur, segala biaya yang tidak berkaitan dengan bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung dalam proses produksi, diklasifikasikan biaya overhead. Meskipun begitu, sejatinya biaya overhead ini tidaklah eksklusif hanya ada pada perusahaan manufaktur saja.

Sedangkan menurut Savitri (2018, hlm. 56) biaya overhead adalah anggaran yang merencanakan beban produksi tidak langsung selama periode yang akan datang, yang meliputi rencana tentang jenis biaya tidak langsung, jumlah biaya tidak langsung dan waktu biaya tidak langsung tersebut dibebankan, yang masing-masing bagian dikaitkan dengan tempat (departemen produksi dan departemen jasa), di mana biaya tersebut terjadi.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa biaya overhead adalah tarif atau beban produksi yang tidak berhubungan langsung dengan produksinya sendiri, seperti biaya listrik, air, sewa gedung, dan sebagainya.

Jenis Biaya Overhead

Biaya overhead atau BOP dapat digolongkan menjadi beberapa jenis berdasarkan perilaku biayanya. Menurut Yanto, dkk (2022, hlm. 60) berapa jenis biaya overhead berdasarkan sifat atau perilakunya antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Biaya tetap
    Adalah biaya yang jumlahnya tidak berubah (tetap) pada berbagai tingkat produksi. Termasuk dalam biaya ini misalnya biaya depresiasi gedung, mesin, kendaraan, gaji pegawai bagian produksi.
  2. Biaya Variabel
    Adalah biaya yang jumlahnya berubah sesuai dengan jumlah produksi pada satu periode. Termasuk ke dalam biaya ini misalnya biaya bahan penolong.
  3. Biaya semi variabel
    Adalah biaya yang jumlahnya berubah tetapi tidak proporsional dengan perubahan jumlah produksi. Termasuk dalam biaya ini adalah biaya pemeliharaan, biaya tenaga kerja tidak langsung.

Sementara itu, menurut Savitri (2018, hlm. 95) jenis biaya overhead dapat digolongkan tidak hanya berdasarkan sifatnya saja, berikut adalah pemaparannya.

  1. Penggolongan biaya overhead menurut sifatnya.
    Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya-biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik dikelompokkan menjadi beberapa golongan beriku ini: a) Biaya bahan penolong; b) Biaya reparasi dan pemeliharaan; c. Biaya tenaga kerja tidak langsung; d) Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap; e) Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu; f) Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai.
  2. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dalam hubungan dengan perubahan volume produksi.
    Biaya overhead pabrik dibagi menjadi tiga golongan, yakni: a) Biaya overhead pabrik tetap; b) Biaya overhead pabrik variabel; c) Biaya overhead semi-variabel.
  3. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut hubunganya dengan Departemen.
    Biaya overhead pabrik di bagi menjadi dua macam, yaitu: a) Biaya overhead pabrik langsung departemen; B) Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Biaya Overhead

Menurut Nirwana & Nurasik (2020, hlm. 44) dalam melakukan penyusunan biaya overhead, hal-hal yang perlu ditentukan oleh perusahaan antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Pengeluaran biaya overhead tergantung dari jumlah produksi.
  2. Meskipun perusahaan tidak melakukan produksi maka perusahaan harus tetap menganggarkan untuk biaya sewa mesin, biaya gaji tenaga mandor, satpam bagian produksi dll.
  3. Penganggaran biaya overhead variabel perusahaan, misalnya biaya bahan bakar mesin pabrik.
  4. Menganggarkan BOP yang termasuk dalam biaya tetap dan biaya tidak tetap/variabel (semi-variabel), seperti biaya Iklan, listrik dll.

Sementara itu, menurut Yanto, dkk (2022, hlm. 60) faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun anggaran biaya overhead antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Anggaran unit yang akan diproduksi, terutama yang berkaitan dengan kualitas dan kuantitasnya dari waktu ke waktu selama periode yang akan datang.
  2. Berbagai standar yang telah ditetapkan perusahaan, misalnya standar pemakaian bahan pembantu, pemakaian listrik, dan sebagainya.
  3. Sistem pembayaran upah yang dipakai oleh perusahaan.
  4. Metode depresiasi, khususnya terhadap aktiva tetap.
  5. Metode alokasi biaya yang dipakai oleh perusahaan untuk membagi biaya- biaya yang semula merupakan satu kesatuan, menjadi beberapa kelompok biaya di mana biaya tersebut terjadi.

Penyusunan Anggaran Biaya Overhead

Nirwana & Nurasik (2020, hlm. 44) berpendapat bahwa jenis biaya overhead ini meliputi biaya tetap, biaya tidak tetap/variabel, dan biaya semi-variabel. Oleh karena itu, penyusunan biaya overhead juga haruslah menggunakan pandangan masing-masing jenis atau penggolongannya yang akan dipaparkan sebagai berikut.

  1. Penyusunan Biaya tetap (fixed cost)
    Biaya tetap adalah Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan secara tetap sampai kapasitas produksi. Contoh BOP adalah biaya penyusutan untuk mesin yang digunakan dalam produksi. Misalnya, biaya penyusutan mesin per tahun adalah Rp. 20.000.000 dengan normal produksi sebesar 10.000 unit per tahun. Sepanjang tidak melebihi kapasitas normal dalam berproduksi maka biaya penyusutan mesin untuk produksi tetap sebesar Rp. 20.000.000. Biaya tetap adalah biaya yang besarnya ditentukan oleh pihak manajemen, baik bagian pabrik atau produksi maupun manajemen puncak. Kemungkinan yang lain, biaya tetap ditentukan oleh pihak luar, misalnya ditentukan oleh pemerintah.
  2. Penyusunan Biaya Variabel (variable cost)
    Merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan berdasarkan pada kegiatan yang dilakukan dalam unit produksi. Biaya ini akan berubah-ubah seiring dengan perubahan yang terjadi pada cost object. Cost object adalah unit produksi atau aktivitas di mana biaya dihitung dan dikumpulkan. Jadi, semakin tinggi jumlah barang yang diproduksi maka semakin tinggi biaya variabelnya. Biaya yang bersifat variabel ditentukan berdasarkan tarif tertentu yang disesuaikan dengan kondisi yang akan datang.
  3. Penyusunan Biaya semi-variabel (semi-variable cost)
    Biaya semi-variabel adalah biaya yang termasuk dalam biaya biaya tetap dan biaya tidak tetap/variabel. Contoh : Biaya listrik karena biaya listrik memiliki komponen biaya tetap (berupa biaya abonemen) dan biaya variabel berupa biaya pemakaian listrik selama dipakai untuk perusahaan beroperasi. Jika pemakaian sering, maka biaya yang ditanggung perusahaan besar. Biaya yang bersifat semi variabel akan ditentukan dengan menganalisis biaya pada beberapa periode yang lalu, kemudian mengelompokkannya ke dalam biaya tetap dan biaya variabel.

Langkah-Langkah Penentuan Biaya Overhead

Menurut Savitri (2018, hlm. 97-101) penentuan anggaran tarif biaya overhead pabrik dilaksanakan melalui tiga tahap berikut ini.

1. Menyusun anggaran biaya overhead produksi

Dalam menyusun anggaran biaya overhead pabrik harus diperhatikan tingkat kegiatan (kapasitas) yang akan dipakai sebagai dasar penaksiran biaya overhead pabrik. Macam-macam kapasitas yang dapat dipakai sebagai dasar pembuatan anggaran biaya overhead pabrik yang meliputi:

  1. Kapasitas teoritis,
  2. Kapasitas normal,
  3. Kapasitas normal yang diharapkan.

2. Memilih dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk

Ada berbagai macam dasar yang dapat dipakai untuk membebankan biaya overhead pabrik kepada produk, yaitu:

  1. Satuan produk,
  2. Biaya bahan baku,
  3. Biaya tenaga kerja langsung,
  4. Jam tenaga kerja langsung,
  5. Jam mesin.

Terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih dasar pembebanan yang dipakai, meliputi:

  1. Harus diperhatikan biaya overhead pabrik yang dominan jumlahnya dalam departemen produksi
  2. Harus diperhatikan sifat-sifat biaya overhead pabrik yang dominan tersebut dan eratnya hubungan sifat-sifat tersebut dengan dasar pembebanan yang akan dipakai (Savitri, 2018, hlm. 98).

Model Pembebanan Overhad kepada Produk

Berikut ini diuraikan beberapa model dasar yang dapat digunakan untuk melakukan pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk menurut Savitri (2018, hlm. 98-101)

Satuan produk

Model ini adalah metode yang paling sederhana dan yang langsung membebankan biaya overhead pabrik pada produk. Contohnya, taksiran biaya overhead pabrik selama 1 tahun anggaran: Rp2.000.000 Taksiran jumlah produk yang dihasilkan selama tahun anggaran tersebut adalah 4.000 unit Tarif biaya overhead pabrik sebesar: (Rp 2.000.000:4.000) = Rp 500 per unit produk Jadi misalnya suatu pesanan sebanyak 200 unit akan dibebani biaya overhead pabrik sebesar Rp 500×200 = Rp100.000

Biaya bahan baku

Rumus perhitungan tarif biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut:
(Taksiran biaya overhead x 100% biaya bahan baku yang dipakai) : Taksiran biaya bahan baku yang dipakai.
Contohnya:

Taksiran biaya overhead pabrik selama 1 tahun anggaran Rp 2.000.000 Taksiran biaya bahan baku selama 1 tahun anggaran Rp 4.000.000

Tarif biaya overhead pabrik sebesar: (Rp 2.000.000 : Rp4.000.000) x 100% = 50% dari biaya bahan baku yang dipakai.

Biaya tenaga kerja

Rumus perhitungan tarif biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut:

(Taksiran biaya overhead x 100% biaya tenaga kerja langsung) : Taksiran biaya tenaga kerja langsung

Contohnya:

Taksiran biaya overhead pabrik selama 1 tahun anggaran: Rp 2.000.000 Taksiran biaya kerja langsung selama 1 tahun anggaran: Rp 5.000.000 Tarif biaya overhead pabrik sebesar: (Rp 2.000.000 : Rp5.000.000) x 100% = 40% dari biaya tenaga kerja langsung yang dipakai.

Jadi, misalnya suatu pesanan menggunakan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp20.000 (dapat dilihat pada kartu harga pokok dalam kolom biaya tenaga kerja langsung), maka pesanan ini akan dibebani biaya overhead pabrik sebesar: 40% x Rp 20.000 = Rp8.000.

Jam tenaga kerja langsung

Tarif biaya overhead pabrik di hitung dengan rumus:

Taksiran biaya overhead pabrik : Taksiran biaya tenaga kerja langsung

Contohnya:

Taksiran biaya overhead pabrik selama 1 tahun anggaran: Rp 2.000.000 Taksiran jam tenaga kerja langsung selama 1 tahun Anggaran tersebut: 2.000/jam Tarif biaya overhead pabrik sebesar: (Rp 2.000.000 : 2.000) = Rp 1.000 per jam tenaga kerja langsung.

Jadi misalnya suatu pesanan menggunakan jam tenaga kerja langsung sebanyak 200 jam (dapat dilihat pada kartu harga pokok dalam kolom biaya tenaga kerja langsung), maka pesanan ini akan dibebani biaya overhead pabrik sebesar: Rp 1.000 x 200 = Rp 200.000.

Jam mesin

Tarif biaya overhead pabrik berdasarkan jam mesin, dihitung dengan rumus:

Taksiran biaya overhead pabrik : Taksiran jam kerja mesin

Contohnya:

Taksiran biaya overhead pabrik pabrik selama 1 tahun anggaran: Rp2.000.000 Taksiran jam mesin selama tahun anggaran tersebut: 10.000 jam mesin.

Tarif biaya overhead pabrik sebesar:Rp 2.000.000 : 10.000) = Rp 200 per jam mesin Jadi misalnya suatu pesanan menggunakan jam mesin sebanyak 300 jam mesin (dapat dilihat dari laporan produksi).

Maka, pesanan ini akan dibebani biaya overhead pabrik sebesar: Rp 300 x 200 = Rp 60.000

Referensi

  1. Savitri, E. (2018). Penganggaran perusahaan.Yogyakarta: Pustaka Sahila.
  2. Nirwana, N.Q.S.,& Nurasik. (2020). Perencanaan dan penganggaran bisnis. Sidoarjo: Umsida Press.
  3. Yanto, E., Nurfitriana., Ijma. (2022). Konsep dasar penganggaran perusahaan. Bandung: Penerbit Widina.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *