Budi daya ikan konsumsi merupakan suatu upaya untuk menyediakan ikan dalam memenuhi kebutuhan pangan sumber protein ikan selain dari kegiatan penangkapan ikan. Kebutuhan pangan sumber protein dari ikan semakin hari mengalami peningkatan, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya kandungan gizi ikan. Hal ini merupakan peluang bagi pengembangan budi daya ikan konsumsi.

Budi daya ikan konsumsi dapat dikembangkan pada perairan laut, payau maupun tawar. Pengembangan perikanan budi daya disesuaikan dengan kondisi geografis wilayah setempat. Pada daerah dataran tinggi dan rendah dibudidayakan ikan air tawar. Budi daya ikan air payau dikembangkan pada daerah pantai, muara sungai atau rawa payau. Budi daya ikan laut dikembangkan pada daerah laut yang terlindungi ombak dan gelombang seperti teluk, selat, dan perairan dangkal.

Oleh karena itu, setiap daerah di Indonesia mempunyai komoditas ikan budi daya unggulan yang berbeda. Hal itu tentunya berdasarkan dari kondisi geografis wilayah setempat. Contoh ikan konsumsi yang dibudidayakan di Indonesia antara lain: gurami, bawal, nila lele, belut, kerapu, dan bandeng. Berikut akan dipaparkan berbagai uraian mengenai budi daya ikan konsumsi, dimulai dari pembahasan komoditas atau kebutuhan pasar ikan konsumsi yang umumnya diminati di Indonesia.

Komoditas Ikan Konsumsi

Masyarakat Indonesia telah lama menggemari dan mengonsumsi ikan sebagai salah satu lauk favorit. Tentunya, ikan yang dikonsumsi di sini juga sangat beragam. Oleh karena itu, komoditas atau kebutuhan ikan untuk konsumsi juga dapat dibedakan dengan ikan yang berasal dari air tawar, payau, dan laut.

Mengetahui komoditas ikan yang akan dibudayakan adalah hal penting karena setiap teknik budi daya ikan konsumsi berbeda satu sama lain, tergantung dari jenis ikannya. Berikut adalah berbagai jenis ikan disertai deskripsi mengenai bentuk, dan cara membudidayakannya.

Ikan Air Tawar

Budi daya ikan konsumsi dari air tawar didominasi oleh ikan mas, lele, patin, nila, dan gurami. Selain jenis-jenis ikan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, juga banyak dikembangkan jenis ikan lain seperti belut dan nilem.

Ikan mas

Ikan mas  atau Cyprinus carpio L merupakan jenis ikan konsumsi yang sangat dikenal hampir di seluruh Indonesia. Penyebaran ikan mas yang begitu luas ke berbagai tempat didukung oleh cara pembudi dayaan yang relatif mudah dan sifatnya yang tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan. Nama ikan mas mempunyai sebutan berbeda di tiap daerah, seperti ikan mas, tombro, masmasan (Jawa Tengah dan Jawa Timur), ikan rayo atau ikan ameh (Sumatra Barat).

Ikan mas berbadan agak memanjang, pipih dan lunak. Habitatnya adalah perairan yang tidak terlalu dalam dan deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan ini hidup pada ketinggian sampai 600 meter dpl (di atas permukaan laut). Pakan ikan mas antara lain, tumbuhan air, dan binatang renik. Pakan utamanya tumbuhan yang tumbuh di dasar perairan.

Pemijahan ikan mas dapat dilakukan sepanjang tahun dan tidak tergantung musim. Pembenihan ikan mas biasa dilakukan selama 2-3 minggu untuk benih siap didederkan. Pembesaran ikan mas dilakukan saat benih sudah berukuran 5 cm – 8 cm yang berasal dari hasil pendederan. Pembesaran ikan mas dilakukan 3 cm – 4 cm bulan sesuai ukuran ikan yang menjadi tujuan panen. Selama pembesaran, ikan diberi pakan tambahan berupa pelet. Pemberian pakan dilakukan pagi, siang dan sore, sedikit demi sedikit agar pakan tidak tenggelam ke dasar perairan/kolam.

Nila

Ikan Nila atau Oreochromis nilotica adalah salah satu jenis ikan air tawar yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Ikan ini memiliki berbagai keunggulan, dengan varietas unggul yang dihasilkan antara lain, nila merah, nila gift, nila gesit, dan nila nirwana. Nila dapat dibudidayakan di berbagai wadah seperti kolam air tenang, kolam air deras dan sawah.

Bentuk badan ikan nila pipih ke samping, warna tubuh umumnya putih kehitaman dan merah sehingga dikenal sebagai nila hitam dan nila merah. Nila dapat dibudidayakan di dataran rendah sampai pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Pakan nila berupa plankton dan tumbuh-tumbuhan lunak seperti hydrilla dan ganggang sutera. Nila dapat diberi makanan tambahan berupa pakan buatan.

Untuk pembesaran, sebaiknya dilakukan selama 4 bulan – 5 bulan sampai ukuran ikan mencapai 8 cm – 12 cm. Padat penebaran benih di kolam terpal antara 15 – 20 ekor/m2 , dengan kedalaman air 80 cm – 100 cm. Nila diberi pellet sebanyak 2% – 4% dari bobot biomassa ikan dan diberikan 3 – 5 kali per hari.

Lele

Ikan Lele atau Clarias sp memiliki bentuk tubuh memanjang, berkulit licin dengan kepala pipih, mulutnya berada di ujung (terminal) dengan empat pasang sungut, sirip ekor dan perut membundar. Lele mempunyai senjata yang sangat ampuh dan berbisa, berupa sepasang patil yang berada di sebelah depan sirip dada. Selain sebagai senjata, patil juga dapat dipergunakan untuk melompat dari kolam atau berjalan di atas tanah (walking catfish).

Lele dapat hidup di semua perairan air tawar, di sungai yang airnya tidak terlalu deras seperti danau, waduk, rawa, serta genangan kecil. Lele mempunyai alat pernapasan tambahan yang disebut labirin, terletak di bagian depan rongga insang. Alat tersebut memungkinkan untuk mengambil oksigen langsung dari udara, sehingga lele dapat tahan hidup di perairan yang airnya mengandung sedikit oksigen.

Pakan ikan lele berupa pakan alami dan buatan. Pakan alami seperti cacing, kutu-kutu air, jentik-jentik (larva), dan siput kecil. Lele termasuk jenis karnivora (pemakan daging), pakan buatan yang baik adalah yang banyak mengandung protein hewani. Lele hidup dengan baik di dataran rendah sampai daerah perbukitan yang tidak terlalu tinggi. Pertumbuhan lele agak lambat apabila suhu tempat hidupnya terlalu dingin. Lele dipanen pada umur 3 hingga 4 bulan dengan berat rata-rata 200 gram/ekor.

Patin

Ikan Patin (Pangasius. sp) termasuk kelompok ikan catfish, yang dapat hidup di perairan dengan kandungan oksigen relatif rendah. Patin sangat responsif terhadap pakan buatan serta memiliki pertumbuhan yang cepat, sehingga termasuk jenis ikan yang berukuran besar.

Warna tubuh ikan patin bagian punggung keabu-abuan atau kebiru-biruan dan bagian perut putih keperak-perakan, ukuran kepala relatif kecil dengan mulut terletak di ujung agak ke bawah. Pada mulut patin terdapat dua pasang sungut pendek yang berfungsi sebagai peraba. Di sirip punggung terdapat 1 jari-jari keras yang berubah menjadi patil yang besar dan bergerigi. Pada sirip dada juga terdapat 1 jari-jari keras yang juga berubah menjadi patil.

Patin merupakan ikan omnivora atau pemakan segala namun cenderung menjadi karnivora (pemakan daging). Di alam, patin makan ikan-ikan kecil, cacing, serangga, biji-bijian, tumbuh-tumbuhan, rumput-rumputan, dan udang kecil. Dalam pemeliharaan, patin dapat diberi pakan buatan.

Gurami

Gurami (Osphyrenemus gouramy) di kalangan pecinta menu masakan dikenal sebagai “ikan mewah” dengan harga jual tinggi dan citarasa yang tinggi. Daging ikan gurami renyah dengan sedikit duri. Gurami banyak dibudidayakan di pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatra. Sebutan ikan gurami beragam di setiap daerah yakni gurame atau gurami di Jawa, kalau atau kaloi (Sumatra) dan kala atau kalui (Kalimantan).

Gurami berkembang dengan baik di daerah dataran rendah, ketinggian lokasi yang cocok untuk budi daya mulai dari 0 – 800 m dpl, dan suhu 24o C s.d 28o C. Ikan Gurami peka terhadap suhu rendah, sehingga tidak produktif dibudidayakan di daerah suhu rendah. Gurami memijah pada umur 2-3 tahun, produktivitas telur meningkat di musim kemarau. Telur gurami akan menetas dalam selang waktu 10 hari. Gurami menyukai perairan yang jernih, tenang, dan tidak banyak mengandung lumpur.

Gurami termasuk jenis ikan omnivora (pemakan tumbuhan dan daging). Tumbuhan yang biasa dimakan yaitu azolla, kangkung, dan daun talas, dengan pakan buatan tambahan berupa pellet. Pemberian pakan dilakukan sebanyak-banyaknya. Pembesaran ikan gurami menggunakan benih dengan berat minimum 100 g/ekor. Pembesaran dilakukan sampai berat ikan gurami minimal 500 gram, atau lebih sesuai keinginan konsumen. Waktu yang diperlukan untuk mencapai 500 g/ekor yaitu sekitar 6 bulan, sedangkan untuk mencapai berat 1 kg/ekor membutuhkan waktu sekitar 9 bulan.

Ikan Air Payau

Ikan air payau adalah ikan yang hidup pada air yang boleh dikatakan merupakan berada dalam kondisi tengah antara air laut dan air atar. Jenis ikan air payau yang biasa dikembangkan di Indonesia adalah sebagai berikut.

Bandeng

Ikan Bandeng atau Chanos chanos adalah ikan air payau yang cukup terkenal dan mudah didapatkan, dagingnya putih, seratnya halus dan rasanya gurih. Bandeng memiliki badan memanjang seperti torpedo, dengan sirip ekor bercabang dan termasuk sebagai ikan perenang cepat. Kepala bandeng tidak bersisik, mulut kecil terletak di ujung, rahang tanpa gigi, dan lubang hidung terletak di depan mata. Mata diliputi oleh selaput bening (subcutaneus). Warna badan bandeng putih keperak-perakan dengan punggung biru kehitaman.

Bandeng digolongkan jenis ikan herbivora karena memakan fi toplankton. Pada budi daya bandeng konsumsi, benih bandeng dapat ditebar dengan kepadatan tinggi. Benih ukuran berat rata-rata 50 gr/ ekor atau panjang 7 cm -10 cm dapat ditebar 500 ekor/m3 . Ukuran konsumsi akan mencapai berat rata-rata 450 g/ekor setelah dipelihara selama 4 bulan.

Udang Windu

Udang windu merupakan jenis udang konsumsi air payau, badan terdiri atas 13 ruas, dan seluruh tubuh ditutupi oleh rangka luar yang disebut dengan istilah eksoskeleton. Jenis udang ini aktif bergerak dan mencari makan pada suasana yang gelap atau redup. Udang windu mempunyai sifat kanibal, yaitu memangsa sesama jenis yang lemah kondisinya. Udang berganti kulit secara periodik, udang muda lebih sering berganti kulit dibandingkan udang dewasa. Proses ini memberikan kesempatan kepada udang untuk tumbuh lebih besar.

Pakan alami berupa ganggang dan binatang renik di dasar tambak, seperti cacing kecil, larva serangga, larva kerang dan ganggang. Pakan buatan sangat penting diberikan, namun harus dipilih pelet yang tidak mudah hancur dalam waktu 24 jam karena cara makan udang yang tergolong lambat.

Ikan Air Laut

Beberapa budi daya ikan konsumsi yang hidup di air laut yang biasa dikembangkan di Indonesia adalah sebagai berikut.

Kakap Putih

Kakap putih atau Lates calcarifer mempunyai toleransi cukup besar terhadap kadar garam dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air payau dan kawin di air laut). Sifat-sifat inilah yang menjadikan ikan kakap putih dapat dibudidayakan di laut maupun tambak air payau.

Kakap putih mempunyai bentuk tubuh memanjang, gepeng, batang sirip ekor lebar, mata berwarna merah cemerlang, mulut lebar sedikit serong dengan geligi halus. Badan atas penutup insang terdapat lubang kuping bergerigi, sirip punggung dengan 3 jari-jari keras dan 7 – 8 jari-jari lemah serta memiliki bentuk sirip ekor bulat.

Benih ikan yang sudah mencapai ukuran 50 – 70 gram/ekor dari hasil pendederan, selanjutnya dipelihara dalam keramba dengan padat tebar 50 ekor/m3 . Pembesaran dilakukan selama 5 – 6 bulan dan selama periode tersebut dilakukan pengelolaan terhadap kebersihan keramba dan pemantauan terhadap ikan secara berkala, guna menghindari sifat kanibalisme. Pemanenan dilakukan setelah ikan mencapai ukuran kurang lebih 500 gram/ekor, dengan membutuhkan waktu 5 – 6 bulan.

Kerapu

Ikan Kerapu (Epinephelus sp) yang dikenal dengan sebutan ‘‘groupers’’ merupakan salah satu komoditas perikanan dengan nilai jual sangat tinggi di pasar domestik maupun internasional. Kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan, karena pertumbuhannya cepat, dapat diproduksi massal untuk memenuhi permintaan pasar, serta dapat dipasarkan dalam keadaan hidup.

Bentuk tubuh kerapu yaitu moncong panjang memipih dan menajam; gigi pada bagian sisi terdiri atas 3 atau 4 baris, terdapat bintik putih cokelat pada kepala, badan dan sirip, bintik hitam pada bagian dorsal dan posterior. Habitat benih ikan kerapu terutama jenis kerapu macan adalah pantai yang ditumbuhi algae genus Reticulata dan Gracilaria sp. Pada tahap dewasa, kerapu hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar perairan pasir berlumpur. Kerapu termasuk jenis ikan karnivora, dan cara makannya “mencaplok” satu persatu pakan yang diberikan. Pakan yang paling disukai yaitu krustasea (rebon, dogol dan krosok), juga jenis ikan-ikan kecil (tembang, teri dan belanak).

Laju pertumbuhan kerapu bebek dapat mencapai 1 – 1,3 gram/ hari sedangkan kerapu macan 2,5 – 3 gram/hari. Kerapu bebek yang dipelihara dengan berat awal 1,3 gram dan panjang total 4 cm, akan mencapai berat 400-500 gram selama 12 bulan – 14 bulan, sedangkan kerapu macan dapat dipanen pada bulan ke 7 dengan berat lebih kurang lebih 500 gram.

Sarana dan Peralatan Budi Daya Ikan Konsumsi (Pembesaran)

Keberhasilan usaha budi daya ikan konsumsi sangat tergantung pada ketersediaan sarana produksi yang memadai. Oleh karena itu, sebelum memulai budi daya ikan konsumsi, kita perlu mengetahui sarana produksi apa yang dibutuhkan. Sarana produksi budi daya ikan konsumsi meliputi bahan, alat, serta wadah budi daya yang akan dipaparkan pada berbagai uraian di bawah ini.

Bahan Budi Daya Ikan Konsumsi

Bahan budi daya ikan konsumsi terdiri dari benih, pakan, pupuk (nutrisi tambahan), air, kapur, dan obat-obatan.

Benih

Benih ikan yang unggul diperoleh dari induk yang unggul. Ukuran benih untuk pembesaran ikan konsumsi sangat beragam, tergantung jenis ikan yang akan dibudidayakan. Benih gurami berukuran minimal 100 gram, ikan mas 5 cm – 8 cm, nila 8 cm – 12 cm dan lele 5 cm – 8 cm. Benih yang sehat memiliki ciri-ciri bergerak aktif, tidak cacat, dan memiliki sisik yang utuh. Di bawah ini diperlihatkan contoh benih lele dan gurami. Pilihlah benih sesuai ukuran untuk tujuan pembesaran. Cari benih yang berkualitas baik, yakni: bergerak aktif benih tersebut berkualitas baik kondisi fisik yang normal, serta kulit ikan/sisik tidak lepas.

Hal yang perlu diperhatikan saat penebaran benih adalah kepadatan pada tiap meter persegi wadah. Kepadatan ini ditentukan oleh jenis ikan dan sistem budi daya pembesaran yang dilakukan (ekstensif, semi intensif dan intensif). Penebaran benih harus dilakukan dengan hati-hati, lakukan penebaran benih pada pagi atau sore hari. Hal ini dilakukan agar benih yang ditebar tidak mengalami stres sehingga meminimalkan tingkat kematian. Pada proses penebaran dilakukan proses aklimatisasi dengan tujuan agar ikan dapat melakukan adaptasi suhu. Berikut adalah langkah-langkahnya.

  1. Isi plastik dengan air dan benih ikan, lalu biarkan terapung di permukaan air selama 10 menit.
  2. Masukkan air kolam ke dalam plastik sedikit demi sedikit agar mudah beradaptasi dengan kondisi air kolam/aklimatisasi.
  3. Biarkan benih keluar dengan sendirinya atau dikeluarkan pelan-pelan dari kemasan benih/plastik.

Pakan

Pakan memegang peranan penting dalam budi daya pembesaran (ikan konsumsi). Dengan manajemen pakan yang baik, pertumbuhan ikan dapat mencapai ukuran sesuai target. Jenis pakan yang digunakan adalah pakan alami dan buatan.

  1. Pakan alami berasal dari lingkungan disekitar perairan berupa jasad mikroorganisme akuatik. Contoh pakan alami yaitu fitoplankton, zooplankton, dan bentos.
  2. Pakan buatan dibuat dari berbagai campuran bahan baku hewani dan nabati dengan memperhatikan kandungan gizi, sifat dan ukuran ikan yang mengonsumsi pakan tersebut.

Pakan menentukan keberhasilan budi daya pembesaran ikan konsumsi. Berdasarkan jenis pakan yang digunakan, proses pembesar dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

  1. Pembesaran ikan secara ekstensif yaitu teknik pembesaran ikan yang hanya mengutamakan pakan alami yang terdapat dalam kolam budi daya. Pada pola pembesaran ini kesuburan perairan akan sangat menentukan tumbuhnya pakan alami. Cara pembesaran ini dapat dilakukan pada kolam tergenang dan di sawah.
  2. Pembesaran ikan secara semi intensif yaitu pembesaran ikan yang lebih mengutamakan pakan alami yang terdapat pada kolam dan dengan tambahan pakan buatan yang tidak lengkap dari kandungan gizinya seperti dedak. Pembesaran dilakukan di kolam air tenang.
  3. Proses pembesaran ikan secara intensif yaitu teknik pembesaran ikan yang dalam proses pemeliharaannya mengandalkan pakan buatan dan tambahan pakan alami.

Pemberian pakan harus memperhatikan kebutuhan, waktu dan caranya. Berikan pakan sedikit demi sedikit agar dapat dimakan habis sebelum tenggelam ke dasar kolam. Gunakan pakan yang aman, hindari pemberian pakan berupa bangkai karena kurang aman terhadap ikan dan dikhawatirkan memberikan efek samping pada ikan yang akan dikonsumsi.

Pakan diberikan sesuai perkembangan ikan di mana ukuran pakan buatan dapat di sesuaikan dengan besarnya mulut ikan. Banyaknya pakan ditentukan dari bobot ikan secara keseluruhan atau pakan diberikan sesuai target panen yang diinginkan, jumlah pakan buatan yang diberikan selama sehari berkisaran 0,3% – 0,5% dari bobot tubuh ikan atau bobot target panen.

Pupuk

Pupuk diperlukan untuk untuk pemupukan tanah dasar kolam yang bertujuan untuk meningkatkan kesuburan kolam, memperbaiki struktur tanah dan menumbuhkan fitoplankton serta zooplankton sebagai pakan alami.

Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk alami/kandang dan buatan.

  1. Pupuk alami/kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan sapi, kerbau, itik, dan ayam yang sudah dikeringkan.
  2. Pupuk buatan berupa bahan-bahan kimia yang dibuat di pabrik yang berguna untuk menyuburkan tanah tambak/kolam. Jenis pupuk buatan yang dapat digunakan adalah urea, ZA, TSP, KCL, dan NPK.

Air

Air mempunyai peranan penting dalam budi daya ikan. Sebagai media budi daya, air memiliki persyaratan tertentu agar ikan dapat tumbuh dengan baik. Pengelolaan kualitas air merupakan cara pengendalian kondisi lingkungan air di dalam kolam budi daya sehingga dapat memenuhi persyaratan hidup biota budi daya (ikan, udang, dan plankton).

Agar ikan dapat tumbuh dengan optimal, maka kondisi lingkungan kolam pembesaran harus disesuikan dengan kebutuhan ikan. Air yang memenuhi kriteria yang baik untuk pertumbuhan/budi daya hewan dan tumbuhan tingkat rendah yaitu adanya pertumbuhan plankton sebagai indikator untuk budi daya ikan.

Kualitas air dapat diukur dari: pH, suhu, salinitas, dan kecerahan. Kisaran pH 6-8, suhu 25o C – 32o C, salinitas 0 ppt – 5 ppt (air tawar), 6 ppt – 29 ppt (air payau) dan 30 ppt – 35 ppt (air laut), kecerahan terlihat dari jumlah cahaya matahari yang dapat menembus badan air.

Kapur

Kapur digunakan untuk mempertahankan kestabilan keasaman pH tanah dan air sekaligus memberantas hama penyakit. Jenis kapur yang digunakan bermacam-macam di antaranya kapur pertanian (kalsit dan dolomite) serta kapur aktif.

Obat-obatan

Kegiatan budi daya ikan konsumsi terkadang akan mengalami kendala, salah satu kendala beratnya adalah serangan hama dan penyakit yang dapat mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan biota budi daya. Obat-obatan dapat diberikan untuk pencegahan dan penanggulangan hama dan penyakit, bisa jenis alami dan buatan.

Jenis obat alami berasal dari ekstrak tumbuhan (tembakau, akar tuba, kipait dan daun pepaya). Sedangkan obat buatan berasal dari zat kimia yang harus larut dalam air dan tidak mempunyai pengaruh besar terhadap kualitas air kolam. Artinya bahan kimia tersebut hanya mematikan sumber penyakit (bukan ikan) serta mudah terurai.

Peralatan

Peralatan dari budi daya ikan konsumsi sangatlah beragam dan sangat tergantung pada jenis ikan konsumsi yang dibudidayakan. Beberapa peralatan umum yang harus dimiliki dalam membudidayakan ikan apapun meliputi: penggaris, serokan/jaring untuk mengambil ikan, alat sortir, timbangan, dan tudung saji.

Wadah Budi Daya Ikan Konsumsi

Lokasi budi daya ikan konsumsi menentukan pemilihan jenis wadah budi daya yang tepat, Wadah budi daya merupakan tempat untuk memelihara ikan. Dalam budi daya ikan terdapat beberapa jenis wadah yang digunakan, antara lain kolam, bak, akuarium, dan jaring terapung/keramba jaring apung. Berikut penjelasan berbagai jenis wadah budi daya ikan konsumsi.

Kolam

Kolam adalah lahan yang dibuat untuk menampung air dalam jumlah tertentu sehingga dapat digunakan untuk pemeliharaan/ membesarkan ikan dan atau hewan air lainnya. Berdasarkan pengertian teknis, kolam merupakan suatu perairan buatan yang luasnya terbatas dan sengaja dibuat agar mudah dikelola dalam hal pengaturan air, jenis hewan budi daya dan target produksinya. Terdapat 3 sistem budi daya ikan yang biasa dilakukan di kolam, meliputi:

  1. Tradisional/ekstensif, kolam yang digunakan adalah kolam tanah yaitu kolam yang keseluruhan bagiannya terbuat dari tanah;
  2. Semi intensif, kolam yang digunakan adalah kolam yang bagian dinding dan pematangnya terbuat dari tembok, sedangkan dasar kolamnya terbuat dari tanah.
  3. Intensif, kolam yang keseluruhan bagiannya terbuat dari tembok.
  4. Selain berdasarkan sistem budi dayanya, jenis kolam ditentukan berdasarkan proses budi daya dan fungsinya. Jenis kolam yang dibuat yaitu kolam pemijahan, penetasan, pemeliharaan/ pembesaran, dan pemberokkan induk.

Kolam pemeliharaan ikan dapat dibedakan menjadi kolam pendederan dan kolam pembesaran. Kolam untuk pembesaran sebaiknya tanah dasar yang subur jika dipupuk dapat menumbuhkan pakan alami yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan ikan konsumsi.

Desain kolam dapat berbentuk persegi, persegi panjang, lingkaran, trapesium, segi tiga bahkan bentuk tidak beraturan. Hal tersebut disesuaikan dengan kondisi lahan dan lokasi. Bentuk kolam yang umum digunakan adalah persegi dan persegi panjang.

Pematang kolam dibuat untuk menahan massa air di dalam kolam agar tidak keluar. Jenis tanah untuk pematang harus kompak dan kedap air agar pematang tidak mudah bocor. Dasar kolam dan saluran air dibuat miring ke arah saluran pembuangan air.

Saluran air dibuat keliling (ceren) dan tegah (kamalir). Saluran air ini dibuat miring ke arah saluran pembuangan air. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengeringan kolam dan pemanenan ikan. Pintu air pada kolam terdiri dari pintu masuk dan keluar yang terpisah.

Bak

Bak adalah wadah budi daya ikan yang dapat digunakan untuk usaha budi daya. Wadah berupa bak digunakan sesuai dengan usaha budi daya dengan bahan pembuatan terbuat dari plastik/terpal, fiber dan beton. Desain dan konstruksi bak pada dasarnya hampir sama dengan kolam. Desain dan konstruksi bak terpal/plastik banyak digunakan dalam kegiatan budi daya ikan konsumsi. Hal ini dilakukan untuk menyiasati lahan yang terbatas dan kemudahan dalam proses pemeliharaan ikan konsumsi.

Desain dan konstruksi bak terpal/plastik disesuaikan dengan beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni sebagai berikut.

  1. Jenis ikan konsumsi yang akan dibudidayakan.
  2. Tahapan budi daya pembenihan atau pembesaran.
  3. Keseimbangan antara volume air dan penyangga bak harus kuat.
  4. Dasar peletakan untuk bak terpal/plastik harus rata agar tidak mudah bocor. Hal ini bisa dilakukan dengan meratakan tanah terlebih dahulu kemudian diberikan sekam.
  5. Ukuran bak disesuaikan dengan ketersediaan lahan.
  6. Distribusi air dan pengeluaran limbah produksi.
  7. Adanya jalur panen dan akses pengelolaan ikan.

Akuarium

Akuarium merupakan wadah budi daya ikan yang terbuat dari bahan kaca. Kata akuarium berasal dari bahasa latin yaitu aqua yang artinya air dan area yang artinya ruang. Jadi akuarium merupakan ruangan terbatas berisi air dan ikan yang dapat diawasi dan dinikmati. Fungsi akuarium selain sebagai wadah budi daya juga dapat dimanfaatkan untuk pengonsumsi ruangan yang dapat dinikmati keindahan ikannya.

Bentuk akuarium yang biasa digunakan adalah bentuk segi empat, trapesium, segi enam, segi delapan, elips, dan botol. Akuarium bentuk apa yang sering kamu temui? Setelah mengetahui bentuknya hal yang perlu diperhatikan adalah ukuran ketebalan kaca berkisar antara 3 mm – 16 mm. Ukuran ketebalan kaca untuk dasar akuarium sebaiknya ditambah 1 mm – 2 mm. Semakin besar ukuran akuarium maka semakin tebal ukuran kaca.

Keramba jaring apung dan keramba jaring tancap

Keramba jaring apung merupakan wadah budi daya di perairan umum. Budi daya ikan dengan keramba merupakan alternatif budi daya yang sangat potensial bisa dikembangkan, mengingat daerah perairan di Indonesia yang sangat luas. Perairan yang bisa dimanfaatkan termasuk perairan darat dan laut. Jenis wadah yang bisa digunakan untuk membudi dayakan ikan dengan keramba adalah jaring apung, jaring tancap, dan keramba yang terbuat dari bambu.

Konstruksi wadah jaring apung terdiri dari dua bagian yaitu kerangka dan kantong jaring.

  1. Kerangka berfungsi sebagai tempat pemasangan kantong jaring dan tempat lalu lalang orang memberi pakan dan panen.
  2. Kantong jaring apung berfungsi sebagai tempat pemeliharaan ikan.

Jaring apung secara sederhana bisa dibuat dari bambu. Keramba jenis ini biasa digunakan di aliran air sungai atau selokan dengan arus air yang cukup besar.

Perlu memperhitungkan konstruksi wadah secara baik dan benar agar diperoleh wadah budi daya yang mempunyai masa pakai yang lama. Persyaratan teknis yang harus diperhatikan ialah sebagai berikut.

  1. Arus air, diusahakan tidak terlalu kuat namun tetap ada supaya terjadi pergantian air dan oksigen dengan baik, serta dapat menghanyutkan sisa makanan dan kotoran. Tingkat kesuburan, jenis perairan yang baik untuk digunakan dalam budi daya ikan di jaring apung adalah perairan dengan tingkat kesuburan rendah hingga sedang. Tingkat kesuburan tinggi berpengaruh buruk terhadap ikan karena kandungan oksigen pada malam hari relatif rendah.
  2. Bebas dari pencemaran, adanya penambahan benda/materi ke dalam perairan dapat menimbulkan perubahan kualitas air sehingga mengurangi fungsinya.
  3. Kualitas air, perairan yang dipilih harus memiliki kualitas air yang memenuhi persyaratan untuk pertumbuhan ikan.
  4. Konstruksi keramba jaring apung terdiri dari kerangka, pelampung, pengikat, jangkar, kantong jaring, pemberat, tali nilon, dan tambang.

Persiapan Wadah Budi Daya Ikan Konsumsi

Setelah mengetahui dan mengamati jenis, desain dan konstruksi wadah budi daya, tahap selanjutnya adalah menyiapkan wadah untuk budi daya ikan konsumsi. Persiapan wadah budi daya kolam meliputi pengeringan dasar kolam, perbaikan pematang, pengolahan dasar kolam, perbaikan saluran air masuk dan keluar, pemupukan, pengapuran, dan pengisian air kolam.

  1. Perbaikan pematang, bertujuan mencegah kebocoran air kolam sehingga tetap stabil. Perbaikan pematang dilakukan pada kolam tanah dan pada kolam tembok dilakukan perawatan dan pengecekan keretakan.
  2. Pengolahan dasar kolam, dilakukan pada dasar tanah dengan cara dicangkul. Tanahnya dibolak-balik dan dikeringkan sampai betul-betul kering dengan tujuan mempercepat proses penguraian.
  3. Pengeringan dasar kolam bertujuan untuk mematikan hama dan penyakit yang dapat menimbulkan kematian dan keracunan.
  4. Pengapuran, dilakukan dengan tujuan untuk menstabilkan keasaman tanah dan air kolam serta membunuh bibit penyakit. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur pertanian atau kapur aktif.
  5. Pemupukan, dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kesuburan kolam, menumbuhkan fitoplakton dan zooplankton sebagai pakan alami, dengan jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk kamung dan buatan saat pemupukan kondisi kolam sudah diairi kurang lebih 20 cm. f)
  6. Pengisian air kolam dilakukan sampai batas yang diinginkan dan dibiarkan kurang lebih 4-7 hari sebelum ikan ditebar. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan pakan alami dengan sempurna. Ketinggian kolam tergantung jenis kolam. Bahkan untuk usaha pemeliharaan ikan, maka tinggi kolam berkisar 1 m – 1,25 m.

Pemeliharaan Ikan Konsumsi (Contoh Budi Daya Ikan Lele)

Berikut adalah contoh cara melakukan budi daya ikan konsumsi jenis lele. Ikan lele merupakan ikan konsumsi yang mudah dibudidayakan di kolam, bak terpal/plastik dengan tempat terbatas. Berikut adalah beberapa tahapan yang dapat dilakukan untuk pemeliharaan ikan konsumsi.

Perencanaan

Berikut ini diuraikan tahapan pembuatan wadah budi daya ikan konsumsi. Pilihan bak terpal/plastik hanya salah satu contoh yang dapat diaplikasikan pada lahan luas maupun sempit.

  1. Menentukan jenis ikan konsumsi yang akan dibudidayakan.
  2. Menentukan dan persiapan wadah yang akan digunakan untuk budi daya ikan konsumsi. Desain dan konstruksi wadah budi daya ikan konsumsi.
  3. Menentukan jadwal kegiatan budi daya.
  4. Menyiapkan kebutuhan sarana alat dan bahan.
  5. Menentukan tugas individu.

Menyiapkan Sarana Produksi

Sarana produksi atau alat dan bahan yang dibutuhkan dalam melakukan budi daya ikan lele adalah sebagai berikut.

Bahan

  1. Benih ikan lele berukuran 5-8 cm
  2. Pakan ikan alami dan buatan, serta pakan tambahan
  3. Obat-obatan
  4. Vitamin atau probiotik

Alat

  1. Timbangan
  2. Penggaris
  3. Alat sortir/baskom grading
  4. Saringan/seser

Proses Budi Daya Pembesaran Ikan Konsumsi jenis Lele

Pembesaran ikan lele dilakukan sampai ukuran konsumsi. Ukuran lele siap konsumsi adalah 150 gram – 200 gram/ekor. Lama waktu budi daya 2,5 bulan – 3 bulan. Pada saat pemeliharaan ikan konsumsi dilakukan pengontrolan dilakukan untuk mengecek pertumbuhan ikan sesuai dengan umurnya. Pengontrolan dilakukan dengan sampling ikan dari kolam pada umur tertentu kemudian diamati dan dianalisa sesuai pertumbuhannya.

Grading dilakukan untuk mengklasifikasikan ikan berdasarkan ukuran agar ikan yang cenderung kerdil tidak dimangsa oleh ikan yang lebih besar. Sortasi adalah cara pemilihan ikan dilihat dari ukuran pertumbuhan dan kesehatan. Ikan yang sakit perlu dipisahkan agar tidak menularkan penyakit pada ikan lainnya. Lakukan pengamatan dan pengontrolan dengan baik dan seksama sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat untuk keberhasilan budi daya.

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Prakarya SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Gabung ke Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.