Kepribadian merupakan rangkaian perilaku kompleks yang membentuk watak khas seseorang. Dalam hidupnya, manusia mengalami dinamika kehidupan sebagai akibat dari beragamnya kehidupan individu dan sosial seseorang. Adakalanya kehidupan seseorang akan tenteram, gembira, namun tak jarang diiringi pengalaman pahit yang membuat gelisah, frustrasi, dan sebagainya. Proses mental, stimulus lingkungan, dan berbagai respons yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari juga amatlah beragam.

Dari waktu ke waktu, berbagai dinamika tersebut akan membuat seseorang memiliki rekam jejak yang akan membentuk kepribadiannya. Namun demikian, generalisasi yang secara empiris dan valid untuk menentukan bagaimana kepribadian terbentuk tidak mudah dibuat atau diformulasikan.

Oleh karena itu, mempelajari kepribadian merupakan hal yang menarik. Selain itu, saat mempelajari teori kepribadian, dinamika pengetahuan mengenai diri kita sendiri juga secara otomatis akan bertambah. Hal ini karena hakikatnya manusia adalah makhluk yang tumbuh berkembang dengan kepribadian yang menyertai setiap langkah dalam hidupnya. Berikut adalah beberapa pemaparan mengenai kepribadian mulai dari pengertian, hingga teori-teori para ahli yang menaunginya.

Pengertian Kepribadian

Kepribadian adalah gambaran cara seseorang bertingkah laku terhadap lingkungan sekitanya, yang terlihat dari kebiasaan berpikir, sikap, minat, serta pandangan hidupnya (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 161). Istilah kepribadian berasal dari kata Bahasa Inggris, yakni “personality”. “Personality” sendiri berasal dari kata latin “persona” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang.

Menurut para pakar psikoanalisis, kepribadian adalah pengutamaan alam bawah sadar (unconscious) yang berada di luar sadar, yang membuat struktur berpikir diwarnai oleh emosi. Mereka beranggapan, perilaku seseorang sekedar wajah permukaan karakteristiknya, sehingga untuk memahami secara mendalam kepribadian seseorang, harus diamati gelagat simbolis dan pikiran yang paling mendalam dari orang tersebut (Minderop, 2010 dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 162). Mereka juga percaya bahwa pengalaman masa kecil individu bersama orang tua telah membentuk kepribadian kita.

Selanjutnya, menurut Widiastuti (2016) kepribadian menurut psikologi bisa mengacu pada pola karakteristik perilaku dan pola pikir yang menentukan penilaian seseorang terhadap lingkungan. Kepribadian dibentuk oleh potensi sejak lahir yang dimodifikasi oleh pengalaman budaya dan pengalaman unik yang memengaruhi seseorang sebagai individu.

Kepribadian menurut Para Ahli

Sementara itu, beberapa ahli lain memiliki pendapatnya masing-masing mengenai pengertian kepribadian. Beberapa pengertian kepribadian menurut para ahli di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Menurut Gordon W. Allport, Kepribadian itu adalah kesatuan organisasi yang dinamis sifatnya dari sistem psikofisi individu yang menentukan kemampuan penyesuaian diri yang unik sifatnya
  2. May berpendapat bahwa kepribadian merupakan perangsang atau stimulus sosial bagi orang lain. Cara orang lain mengadakan reaksi terhadap saya, inilah merupakan kepribadian saya. Jadi pendapat orang lainlah yang menentukan siapa dan bagaimana saya ini. Dengan demikian diriku ini menjadi pengaruh atau stimulus bagi orang lain.
  3. Morton Prince berpendapat bahwa selain disposisi azali yang ada dibawa sejak lahir, Kepribadian juga dipengaruhi oleh disposisi-disposisi psikis lainnya yang diperoleh melalui pengalaman.
  4. Warpen menyatakan bahwa kepribadian adalah segenap organisasi mental dari manusia pada semua tingkat dari perkembangannya. Ini mencakup setiap fase karakter manusiawinya, intelek, tempramen, keterampilan, moralitas dan segenap sikap, yang telah terbentuk sepanjang hidupnya. Jadi mencakup seluruh kemampuan manusia dan segenap pengalaman sepanjang kehidupannya.
  5. Menurut Prescott Lecky, kepribadian adalah kesatuan skema dari pengalaman, merupakan organisasi nilai yang sesuai cocok satu sama lainnya.
  6. Linton mengungkapkan bahwa kepribadian merupakan kumpulan dari proses-proses psikologis dan keadaan atau kondisi yang bersangkutan dengan individu.
  7. Liberty dan Piegler berpendapat bahwa kepribadian merupakan cara hidup atau gaya keseluruhan tingkah laku individu yang ditunjukkan dalam bentuk, sikap, watak, nilai kepercayaan, motif, dan sebagainya (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 162-163).

Tipe-Tipe Kepribadian

Jung, seorang ahli penyakit jiwa dari Swiss mengklasifikasikan kepribadian menjadi dua arah. Kepribadian pertama adalah kepribadian yang lebih menonjol keluar dirinya sendiri yang disebut extrovert, dan kepribadian ke dalam dirinya yang disebut introvert.

Tipe Kepribadian Dua Arah

Penggolongan tipe kepribadian ekstrovert-introvert ini didasarkan pada perbedaan respons, kebiasaan, dan sifat-sifat yang ditampilkan oleh individu dalam melakukan hubungan interpersonal, selain itu tipe kepribadian juga menjelaskan posisi kecenderungan individu yang berhubungan dengan reaksi atau tingkah lakunya (Widiantari dan Herdiyanto, 2013 dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 170).

  1. Introvert
    Menurut Eysenck, orang introvert lebih menyukai aktivitas yang tidak menarik dan cenderung membosankan, mereka lebih menyukai aktivitas rutin mereka dengan orang-orang yang sama. Orang yang introvert lebih menarik diri dan menghindari riuh-rendah situasi di sekelilingnya yang dapat membuatnya kelebihan rangsangan. Pribadi introvert memiliki sembilan trait, yaitu: tidak sosial, pendiam, pasif, ragu, banyak pikiran, sedih, penurut, pesimis, penakut.
  2. Eysenck
    Sementara itu, kepribadian ekstrovert adalah kebalikan dari introvert dan memiliki sembilan trait kepribadian ekstrovert, yaitu: sosiabel, lincah, aktif, asertif, mencari sensasi, riang, dominan, bersemangat, dan berani. Karakter introvert cenderung menyendiri, sedangkan ekstrovert cenderung suka berkelompok (Widyaningrum dan Puspitadewi, 2016).

Tipe Kepribadian Model Big Five Personality

Model lima faktor (five factor model) digagas oleh Costa & McRae pada tahun 1992, dan merupakan suatu usaha untuk mengidentifikasi, memprediksi dan menjelaskan perilaku dalam mengembangkan respons pada suatu situasi atau pada orang lain.

Meskipun tampak lebih kompleks dari Model Dua Arah, Model Lima Besar Kepribadian ini dibangun dengan pendekatan yang lebih sederhana. Namun demikian, macam jenis atau kategorisasi kepribadian ini memiliki angka reliabilitas dan validitas yang lebih stabil hingga seseorang menjadi dewasa.

Prosedur yang dipergunakan oleh para peneliti untuk menentukan kepribadian ini adalah dengan mencoba menemukan unsur mendasar dari kepribadian dengan menganalisis kata-kata dalam penyusunan sistem skala yang dipergunakan oleh subjek peneliti dalam 5 komponen utama yang menyelubunginya. Komponen tersebut terdiri dari atas:

  1. neurotisme (neuroticsm),
  2. ekstraversi (extraversion),
  3. keterbukaaan terhadap pengalaman (openness to experience),
  4. keramahan (agreeableness), dan
  5. sikap hati-hati (conscientiousness).

Dari kelima faktor tersebut, manusia cenderung memiliki salah satu faktor kepribadian sebagai faktor dominan yang akan mempengaruhi seseorang dalam memberikan respons terhadap suatu situasi atau orang lain. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing jenis kepribadian menurut Costa & McRae (dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 173-176).

Extraversion (X1)

Ekstraversi merupakan tipe kepribadian yang mengukur jumlah dan intensitas interaksi interpersonal, tingkat aktivitas, kebutuhan untuk didukung, kemampuan untuk berbahagia. Dalam berinteraksi mereka akan cenderung memegang kontrol dan keintiman. Ekstraversi dicirikan dengan perilaku seperti antusiasme yang tinggi, senang bergaul, energik, tertarik dengan banyak hal, ambisius, pekerja keras dan ramah dengan orang lain serta dominan dalam lingkungannya.

Individu yang memiliki skor tinggi pada tipe ini mereka cenderung mampu bersosialisasi, aktif, suka bicara, berorientasi pada hubungan dengan manusia, optimis, menyukai kegembiraan, dan setia sedangkan individu yang memiliki skor rendah mereka cenderung pendiam, tenang, tidak gembira, menyendiri, berorientasi tugas, pemalu, dan pendiam.

Conscientiousness (X2)

Tipe ini merupakan tipe kepribadian yang menilai kualitas orientasi individu kontinum mulai dari lemah lembut sampai antagonis di dalam berpikir, perasaan dan perilaku. Orang yang dengan tipe ini mempercayai orang lain, percaya hal terbaik dari orang lain, dan jarang mencurigai adanya tujuan yang tersembunyi. Mereka mempercayai orang lain, sehingga mereka melihat diri mereka pun sebagai orang yang dapat dipercaya, yang ditandai dengan keterusterangan mereka namun sering kali rasa percaya diri mereka cenderung menurun ketika menghadapi konflik karena mereka tidak suka berkonflik dengan orang lain. Individu yang memiliki skor tinggi pada tipe ini mereka cenderung berhati lembut, percaya, suka menolong, mudah memaafkan, mudah tertipu, dan terus terang.

Openness to Experience (X3)

Tipe ini merupakan tipe kepribadian yang menggambarkan individu yang menilai usahanya secara proaktif dan penghargaan terhadap pengalaman demi kepentingannya sendiri. Menilai bagaimana ia menggali sesuatu yang baru dan tidak biasa. Individu dengan keterbukaan terhadap pengalaman memiliki ciri mudah toleransi, mudah menyerap informasi, fokus, kreatif, imajinatif, dan berpikir luas (Costa & McRae, 1992).

Neuroticism (X4)

Neurotisme menggambarkan ketidakstabilan emosi individu, individu yang mudah stress, memiliki ide yang tidak realistik, menginginkan sesuatu secara berlebihan dan coping response yang maladaptif. Mereka kesulitan dalam menjalin hubungan dan berkomitmen, mereka juga memiliki rasa percaya diri yang rendah. Individu dengan tipe ini mudah mengalami kecemasan, depresi, khawatir, marah, dan memiliki kecenderungan emotionally reactive.

Individu yang memiliki skor tinggi pada tipe ini mereka cenderung khawatir, gugup, emosional, tidak aman, tidak cukup, cenderung tertekan, bersedih sedangkan individu yang memiliki skor rendah mereka cenderung tenang, rileks, tidak emosional, aman, merasa puas, dan tabah cenderung sinis, kasar, curiga, tidak kooperatif, pendendam, kejam, lekas marah, dan suka memanipulasi. Dengan karakteristik ini, tidak jarang dari mereka akan menghindari sebuah konflik.

Agreeableness (X5)

Tipe ini merupakan tipe kepribadian yang menilai kemampuan individu di dalam organisasi, ketekunan dan motivasi untuk mencapai tujuan. Individu dengan tipe ini merupakan individu yang rasional, berpusat pada informasi, dan secara umum berpikir bahwa mereka adalah orang yang kompeten.

Mereka yang memiliki skor tinggi pada tipe ini biasanya dikenal oleh teman-temannya sebagai individu yang pandai mengatur, mengorganisasikan sesuatu, tepat waktu, dan ambisius sedangkan individu yang memiliki skor rendah pada tipe ini cenderung tidak memiliki tujuan, tidak dapat diandalkan, pemalas, tidak peduli, lemah, lalai, lemah dalam kemauan, dan suka bersenang-senang (Kusumastuti, 2018, dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 176).

Permasalahan Kepribadian

Gangguan kepribadian adalah berbagai gangguan pribadi seseorang dengan ciri memiliki perilaku yang menyimpang dari norma-norma budaya, maladaptive (tidak mampu beradaptasi) sehingga menyebabkan fungsi kehidupan tidak baik, tidak fleksibel. Masalah kepribadian ini terhitung cukup umum terjadi pada masa remaja atau awal masa dewasa. Hal ini karena pada usia ini masalah-masalah kepribadian sering bermunculan begitu luas dan kompleks. Beberapa permasalahan kepribadian yang terjadi adalah sebagai berikut.

  1. Gangguan Kepribadian Paranoid
    Gangguan kepribadian paranoid ditandai oleh ketidakpercayaan terhadap orang lain dn kecurigaan yang terus-menerus bahwa orang di sekitar kita memiliki motif jahat. Orang dengan gangguan ini cenderung memiliki kepercayaan yang berlebihan pada pengetahuan dan kemampuan mereka sendiri dan biasanya menghindari hubungan dekat.
  2. Gangguan Kepribadian Skizoid
    Menurut David & Neale dalam Warsah & Daheri (2021, hlm. 177) individu dengan gangguan kepribadian skizoid tidak memiliki keinginan dan tidak dapat menikmati hubungan social, serta tidak memiliki teman dekat. Orang dengan gangguan ini tampak tidak menarik karena tidak memiliki kehangatan terhadap orang lain dan cenderung untuk menjauhkan diri.
  3. Gangguan Kepribadian Scizotypal
    Banyak ahli yang percaya bahwa gangguan kepribadian schizotypal mewakili skizofrenia ringan. Kelainan ini ditandai oleh cara berpikir dan memahami yang aneh, dan individu dengan gangguan ini sering mencari isolasi dari orang lain. Mereka kadang-kadang percaya bahwa mereka memiliki kemampuan indra keenam atau bahwa mereka terhubung melalui cara-cara tertentu dengan berbagai kejadian yang (sebenarnya) tidak terhubung sama sekali dengan mereka. Mereka umumnya berperilaku eksentrik dan mengalami kesulitan berkonsentrasi untuk jangka waktu yang lama. Perkataan mereka biasanya rumit dan sulit untuk diikuti.
  4. Gangguan Kepribadian Antisosial
    Kepribadian antisosial bukanlah disebabkan keterampilan interpersonal yang buruk, malah bisa jadi seseorang dengan gangguan ini pandai bersosialisasi. Gangguan kepribadian antisosial disebabkan oleh kurangnya hati nurani. Orang dengan gangguan ini rentan terhadap perilaku kriminal, percaya bahwa korban-korban mereka lemah dan pantas dimanfaatkan. Antisosial cenderung untuk berbohong dan mencuri. Sering kali, mereka ceroboh dengan uang dan mengambil tindakan tanpa berpikir tentang konsekuensinya. Mereka sering agresif dan jauh lebih peduli dengan kebutuhan mereka sendiri dari pada kebutuhan orang lain.
  5. Gangguan Kepribadian Borderline
    Gangguan kepribadian borderline ditandai oleh ketidakstabilan suasana hati dan perasaan rendah diri. Orang dengan gangguan ini rentan terhadap perubahan mood yang terusmenerus dan kemunculan rasa marah. Sering kali, mereka kan marah pada diri merka sendiri, menyebabkan luka pada tubuh mereka sendiri. Ancaman dan tindakan bunuh diri biasa ditemui pada penderita borderline. Individu dengan Borderline Personality Disorder berpikir dengan cara yang sangat hitam-putih dan sering kali sarat konflik dan ketegangan dalam berhubungan. Mereka juga cepat marah ketika harapan mereka tidak terpenuhi.
  6. Gangguan Kepribadian Histrionik
    Gangguan ini ditandai oleh perilaku yang bermacam-macam, yaitu dramatis, emosi yang meluap-luap. Seseorang dengan gangguan kepribadian ini sering terdapat tidak mampu mempertahankan hubungan yang mendalam dan berlangsung lama. Mereka juga menunjukkan perilaku mencari perhatian yang tinggi.

Referensi

  1. Warsah, I., Daheri, M. (2021). Psikologi: suatu pengantar. Yogyakarta: Tunas Gemilang Press.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *