Pengertian Majas Alusio

Majas alusio adalah gaya bahasa yang menggunakan sesuatu untuk menyatakan sesuatu yang lain melalui kesamaan antar manusia, peristiwa, atau tempat yang sudah diketahui orang banyak seperti dalam legenda, pribahasa, atau sampiran yang sudah lazim diketahui dan digunakan masyarakat.

Contoh berbagai tokoh, legenda, pribahasa atau sampiran yang sudah lazim diketahui masyarakat adalah sebagai berikut.

Jenis Kemiripan Alusio Makna Sebenarnya
Pribahasa Lebih besar pasak daripada Tiang Lebih banyak upaya atau uang yang harus dikeluarkan daripada keunggulan atau keuntungan yang didapatkan.
Tokoh Legenda Malin Kundang Durhaka kepada orang tua sendiri.
Tokoh Bill Gates Ahli komputer / Pengusaha berbasis teknologi informasi yang sukses di dunia / Pendiri Microsoft.
Legenda/Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih Kisah ibu yang jahat terhadap Bawang Putih dan hanya selalu membela Bawang Merah.
Peristiwa Sejarah Tahun 98 Terjadi krisis ekonomi, pergolakan reformasi Indonesia, tragedi kemanusiaan terhadap demonstran
Tokoh Gilang Ramadhan Penabuh Drum legendaris Indonesia
Tokoh Legenda Sangkuriang Legenda mengenai seseorang yang berusaha membuat perahu dalam satu malam (sebelum terbit matahari).
Tokoh Cerpen/Film Dilan Seorang siswa SMA yang nakal namun tetap tahu batasan, setia kawan dan menghormati perempuan.
Relasi Cerpen/Film Dilan & Milea (Ya, tidak hanya tokohnya saja, namun relasi atau peristiwa umum juga dapat digunakan sebagai majas alusio). Pasangan dalam kisah romantis remaja dan pergolakan persahabatannya di sekolah.
Film Keluarga Cemara Kisah mengenai keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi (sederhana) namun tetap menerima, bahagia dan berhasil membangun keluarga yang baik.

Contoh Majas Alusio dalam Kalimat

Setelah mempelajari berbagai hal yang dapat digunakan dalam majas alusio, berikut adalah contoh nyata penggunaannya dalam suatu kalimat berdasarkan berbagai kemungkinan peribahasa dan sampiran yang dapat digunakan di atas.

  1. Kalau harganya ditawar terus-menerus seperti ini, daganganku lebih besar pasak daripada tiangnya.
  2. Turuti apa kata Ibumu nak, jangan sampai kamu khilaf seperti Malin Kundang.
  3. Melihat kesuksesan aplikasi Gojek, Sepertinya suatu saat nanti Nadiem Makarim akan menjadi Bill Gates
  4. Semenjak ibunya meninggal Ratih merasa ia adalah Bawang Putih, padahal ibu Tirinya sangat baik sekali.
  5. Dampak ekonomi dari Pandemi COVID-19 diperkirakan akan lebih buruk dari krisis ekonomi 98 jika kita tidak melaksanakan protokol kesehatan dengan baik.
  6. Gilang Ramadhan akan bangga melihat aksi drummer cilik yang sempat viral di Youtube.
  7. Tugas berat seperti ini harus kuselesaikan sebelum besok pagi, memangnya Aku Sangkuriang?
  8. Senakal-nakalnya anak itu, pada akhirnya ia tetap menghormati Guru dan Orang tua seperti Dilan.
  9. Serasi sekali calon pengantin itu, bagaikan Dilan dan Milea.
  10. Kisah keluarga mahasiswa yang berhasil mendapatkan bidik misi di Universitas Indonesia itu bagaikan Keluarga Cemara.

Pengertian Majas Alusio Menurut Para Ahli

Menurut Keraf (2010, hlm. 141) majas alusio adalah gaya bahasa yang menciptakan acuan sebagai usaha untuk menyugestikan kesamaan antar orang, tempat, atau peristiwa.

Masih dalam nada yang sama, Rusmanto (2003, hlm. 87) menjelaskan bahwa alusio adalah gaya bahasa yang menunjuk secara langsung kepada peristiwa, tokoh, tempat, atau karya sastra. Maksudnya, sesuatu yang digantikan ini itu tidak hanya disebut “mirip” atau “seperti” saja, melainkan benar-benar ditunjuk langsung atau digantikan oleh sesuatu yang lain. (Sesukses Bill Gates diganti menjadi: ia akan menjadi Bill Gates).

Tujuan penunjukan langsung tersebut tentunya untuk memanfaatkan kemiripan atau korelasinya dalam mengungkapkan arti yang sebenarnya ingin diutarakan. “Penunjukkan langsung” ini pula yang menjadi kata kunci perbedaan majas alusio dengan majas metonimia

.

Dapat disimpulkan bahwa majas alusio merupakan gaya bahasa yang menciptakan suatu acuan untuk menyugestikan kesamaan suatu hal melalui penunjukkan langsung pada simbol yang sudah lazim diketahui oleh masyarakat baik itu dari peristiwa, tokoh, tempat, atau karya sastra.

Referensi

  1. Keraf, Gorys. (2010). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  2. Rusmanto, W.E (penyuntingan). (2003). Bahasa Indonesia “Kualifikasi Sementara Surakarta”. Surakarta: Tim Penyusun MGPD Bahasa Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.