Frustasi adalah gejala jiwa yang dapat muncul karena tidak terpenuhinya suatu kehendak (konasi) pada seorang individu. Sebagai akibatnya, seseorang akan kehilangan motivasinya dalam menggapai suatu hal. Salah satu penyebab utama terjadinya frustasi adalah karena motif seseorang terganggu oleh suatu konflik. Oleh karena itu, motif, motivasi, frustasi, dan konflik sangatlah berkaitan erat satu sama lain.

Mempelajari apa itu frustasi dan konflik akan menjadi salah satu kuncian bagi kita untuk memperdalam pengetahuan mengenai gejala konasi sebagai proses mental manusia. Selain itu, dengan memahami frustasi dan konflik secara objektif secara otomatis kita juga mampu menjadi pribadi yang lebih resisten terhadap permasalahan tersebut sehingga dapat memiliki motivasi sehat.

Pengertian Frustasi

Frustasi adalah perasaan kecewa yang didapatkan karena suatu kehendak atau tujuan seseorang tidak tercapai sebagai akibat dari ketidakpahaman mengapa kehendak atau tujuan itu tidak tercapai (Saleh, 2018, hlm. 133). Ketidakpahaman mengapa tujuan itu tidak dapat tercapai adalah kunci utama dari penyebab frustasi. Akibatnya, individu merasa tidak memiliki jalan keluar dari permasalahannya, sehingga berhenti memiliki keinginan (motivasi) untuk menyelesaikannya.

Dalam mencapai tujuan, seorang individu haruslah memiliki kehendak untuk melakukannya. Namun bahkan ketika tujuan itu telah dikejar oleh kehendak dan motivasi yang tinggi, seseorang pada akhirnya akan mengalami berbagai kendala. Saat kendala menyebabkan tujuan tidak tercapai itulah, frustasi atau rasa kecewa dapat terjadi.

Selain kehilangan motivasinya, individu yang mengalami frustasi juga dapat mengalami depresi, merasa bersalah, menjadi cemas, takut, dan pengalaman afeksi negatif lainnya. Saat seperti inilah kecerdasan emosional menjadi hal penting yang harus terus diasah untuk menanganinya.

Individu yang mampu mengendalikan emosinya dengan baik disebut cerdas secara
emosional. Kecerdasan emosional merujuk pada kompetensi emosi seperti kemampuan untuk membangun motivasi, mengatasi frustasi, mampu berempati pada orang lain, serta
menjaga keseimbangan antara akal pikiran dan perasaan. Pada seseorang yang memiliki kecerdasan emosional, rasa frustasi atau kecewa tidak akan menghambatnya dalam berpikir secara objektif.

Penyebab Frustasi

Hampir dapat dikatakan bahwa kecerdasan emosional merupakan kunci utama untuk mengatasi frustasi. Hal ini karena kendala besar yang menghambat tujuan itu akan selalu hadir dalam suatu kondisi mental dan konteks lingkungan yang terbaik sekali pun. Hal tersebut mengantar kita pada penyebab atau faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan frustasi. Beberapa penyebab frustasi lainnya adalah sebagai berikut.

  1. Dari lingkungan, misalnya norma sosial yang ada ini merupakan kendala bagi kehendak seseorang untuk melakukan aktualisasi diri. Dalam keadaan tersebut, seseorang dapat mengalami frustasi karena lingkungannya tidak mampu menerima kehendaknya.
  2. Kompetensi, kemampuan, atau keterampilan yang ada dalam diri individu tidak
    sesuai dengan porsi tujuannya, sehingga ia tidak dapat menggapainya.
  3. Konflik antara motif-motif yang ada, dua motif atau lebih muncul berbarengan dan membutuhkan pemenuhan atau pemecahan (Saleh, 2018, hlm. 133).

Konflik

Konflik adalah berbenturannya suatu kehendak atau motif. Tentunya konflik ini dapat disebabkan oleh banyak hal, tergantung dari jenisnya sendiri. Beberapa jenis konflik tersebut Menurut Kurt Lewin (dalam Saleh, 2018, hlm. 134) ada tiga macam, yakni sebagai berikut.

  1. Approach-approach conflict
    Konflik ini timbul karena adanya dua motif atau lebih yang kesemuanya mempunyai nilai positif bagi individu yang bersangkutan, dan individu mengadakan pemilihan di antara motif-motif yang ada.
  2. Avoidance-avoidance conflict
    Konflik ini timbul karena individu menghadapi dua atau lebih motif dan semuanya mempunyai nilai negatif bagi individu yang bersangkutan, individu tidak boleh menolaknya, harus memilih salah satu motif yang ada.
  3. Approach-avoidance conflict
    Merupakan konflik yang timbul karena individu menghadapi objek yang mengandung nilai positif dan negatif, hal ini dapat menimbulkan konflik pada individu yang bersangkutan.

Saat individu menghadapi konflik, ada beberapa kemungkinan respons yang dapat diambil oleh individu bersangkutan. Beberapa respons tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Pemilihan atau penolakan
    Terjadi apabila mengandung nilai yaang positif atau negatif bagi individu yang bersangkutan.
  2. Kompromi
    Terjadi apabila individu dapat mengambil respons yang bersifat kompromis, misal ingin belajar, tetapi juga ingin bekerja, maka bisa dilaksanakan kedua-duanya.
  3. Ragu-ragu (bimbang)
    Terjadi apabila individu diharuskan memilih atau menolak antara dua motif, maka kadang-kadang terjadi kebimbangan, dalam mengambil keputusn ini individu harus mempertimbngkan dan memeriksa secara teliti segala aspek dari hal tersebut. Keputusan yang diambil harus bersifat rasional, objektif namun tetap keluar dari lubuk hati (subjektif) dari kata hati individu yang bersangkutan.

Untuk menghadapi konflik yang dapat menyebabkan frustasi, seseorang diharapkan memiliki kepribadian yang baik. Kepribadian adalah penyesuaian diri ,yaitu suatu proses respons individu, baik yang bersifat perilaku maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional ,frustasi dan konflik, serta memelihara
keseimbangan, antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan norma dan lingkungannya (Warsah & Daheri, 2021, hlm.12).

Referensi

  1. Saleh, A.A. (2018). Pengantar psikologi. Makassar: Penerbit Aksara Timur.
  2. Warsah, I., Daheri, M. (2021). Psikologi: suatu pengantar. Yogyakarta: Tunas Gemilang Press.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *