Sejarah seni rupa Indonesia adalah salah satu kisah yang membanggakan sekaligus menghanyutkan. Bagaimana tidak, salah satu peradaban tua yang maju ini berkali-kali di interfrensi keberadaannya oleh budaya asing. Namun masyarakat Nusantara juga mengandalkan penyerapan dan akulturasi dari budaya luar untuk bisa berkembang dengan cepat. Sehingga sejarah kita mengalami ekuilibrium budaya yang akhirnya membuncah setelah kedatangan Islam dan kolonialisme Eropa.

Pengertian Sejarah dan Fungsinya

Sebelum membahas sejarah seni rupa Indonesia, sebaiknya kita memosisikan diri terlebih dahulu terhadap salah satu definisi sejarah yang ajeg. Mengapa? karena kesalahpahaman terhadap pemahaman sejarah sendiri dapat membuat kita tidak mampu benar-benar menyerap pembelajaran di dalamnya. Meskipun selalu diusahakan sebagai suatu fakta ilmiah, sejarah tidak selamanya benar.

Sejarah tetap memiliki kekurangan dari ilmu non eksak lainnya, yakni tidak dapat benar-benar mencapai suatu hukum pasti (seperti hukum newton) yang dapat memvalidasi kebenaran suatu hal dalam berbagai waktu dan konteks. Mungkin salah satu idiom yang paling terkenal mengenai sejarah adalah “sejarah ditulis oleh pihak yang menang”. Ya, karena itulah kini sejarah merupakan suatu upaya untuk mencari kebenaran peristiwa yang terjadi dengan membandingkan berbagai sumber dan bahkan versi sejarah lalu mengambil kesimpulan terbaik dari apa yang sesungguhnya terjadi.

Sejarah adalah pengetahuan mengenai peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau dalam kurun waktu tertentu. Kejadian sejarah tersebut dapat diamati melalui bukti-bukti tertulis, dokumentasi dialog maupun saksi bisu seperti artefak. Selain itu, peristiwa sejarah juga dapat mencatat berbagai konteks lain yang lebih luas seperti budaya suatu masyarakat dalam disiplin ilmu turunannya; antropologi.

Dalam perkembangannya, sejarah kini banyak menggunakan disiplin Ilmu Bandingan untuk memastikan akurasi sumber yang diperoleh. Ilmu bandingan ini disebut sangat efektif dan efisien untuk memastikan kebenaran suatu hal hingga disiplin ilmu lainnya seperti seni dan sastra kini banyak menggunakannya pula karena terpengaruhi oleh ilmu sejarah.

Mengapa harus menggunakan bandingan? karena seperti pada kebiasaan peradaban manusia umumnya, dokumentasi sumber sejarah biasanya ditulis oleh pihak yang unggul di masanya. Sehingga sumber sejarah menjadi tidak objektif dan berpihak terhadap yang unggul atau menang. Membandingkan antar sumber menjadi hal yang krusial untuk mendapatkan kebenaran yang sejati.

Jadi apa itu Sejarah Seni Rupa? Dapat disimpulkan bahwa sejarah seni rupa adalah berbagai upaya pencarian dan pengetahuan mengenai peristiwa, artefak, hingga kebudayaan seni rupa yang terjadi dan berkembang di masa lalu dalam kurun waktu tertentu. Sementara itu, pengertian seni rupa sendiri dapat dilihat disini.

Fungsi dan Manfaat Sejarah

Berbagai peristiwa yang telah terjadi di masa lampau adalah kenyataan yang tidak dapat diubah. Dengan demikian, peristiwa yang telah terjadi tersebut merupakan salah satu bagian dari kenyataan yang sedang kita hadapi sekarang. Sementara itu peristiwa yang terjadi pada waktu yang akan datang merupakan kenyataan yang dapat direncanakan dari sekarang.

Masa lampau, masa sekarang, dan masa depan merupakan rangkaian berkaitan yang erat satu sama lain. Keterkaitan rangkaian itulah yang mendorong manusia untuk mempelajari sejarah. Kita dapat menggunakan sejarah sebagai salah satu referensi untuk membentuk rencana menghadapi masa depan. Artinya, mempelajari sejarah juga merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan di masa kini pula.

Pembagian Periodisasi Sejarah Seni Rupa Indonesia

Masyarakat nusantara tidak memiliki tradisi pencatatan sejarah yang amat kuat. Apalagi catatan teks historis mengenai sejarah seni rupa. Bahkan sebagian besar sumber teks sejarah Indonesia harus digali dari dokumentasi pemerintahan kolonial Belanda. Karena alasan itu pula, artefak-artefak sejarah seni rupa Indonesia sendiri merupakan material yang sangat penting sebagai sumber sejarah. Para arkeolog memegang peranan sangat penting untuk menguak sejarah seni rupa Indonesia. Selain itu, para antropolog (peneliti kebudayaan) juga menjadi sumber utama dalam pengetahuan sejarah seni rupa Indonesia.

Maka dari itu, salah satu hal yang dilakukan sebelum membahas sejarah seni rupa Indonesia adalah menentukan jenis periodisasi yang ingin dibahas. Apakah kita akan membahas sejarah Indonesia berdasarkan pertumbuhannya atau kita akan melihat periodisasi berdasarkan ciri peninggalannya (kacamata arkeologi)?

Intinya, kita dapat menyusun linimasa perkembangan seni rupa Indonesia berdasarkan pertumbuhan, atau ciri peninggalannya seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

Periodisasi Sejarah Seni Rupa Indonesia berdasarkan Pertumbuhannya

Berdasarkan pertumbuhan atau perkembangan zamannya, periodisasi sejarah seni rupa indonesia dapat dibagi menjadi beberapa zaman berikut ini.

  1. Zaman prasejarah
    Sejak permulaan adanya manusia dan kebudayaan sampai kira-kira abad ke-5 Masehi. Zaman ini dapat dibagi menjadi beberapa Zaman yaitu: zaman batu tua (Paleolitikum), zaman batu tengah (Mesolitikum), dan zaman batu muda (Neolitikum).
  2. Zaman logam
    Meliputi: zaman perunggu; dan zaman besi. Zaman tembaga tidak ditemukan di Asia, termasuk di Indonesia.
  3. Zaman purba
    sejak datangnya pengaruh India, yakni pada abad-abad pertama tarikh Masehi sampai lenyapnya kerajaan Majapahit (sekitar 1500 M).
  4. Zaman madya
    Sejak datangnya pengaruh Islam di Indonesia, yakni menjelang akhir zaman Majapahit sampai akhir abad ke-19.
  5. Zaman baru
    Sejak masuknya anasir-anasir Barat dan teknologi modern Indonesia, yakni kira-kira tahun 1900 Masehi sampai saat ini.

Periodisasi Sejarah Seni Rupa Indonesia Berdasarkan Ciri Peninggalannya

Sementara itu, berdasarkan peninggalan artefaknya, periodisasi sejarah seni rupa Indonesia dapat dibagi menjadi beberapa periodisasi di bawah ini.

  1. Seni rupa Prasejarah
  2. Seni rupa Hindu-Budha
  3. Seni rupa Islam
  4. Seni rupa modern

Dari perbedaan kedua periodisasi di atas dapat dilihat dengan jelas bagaimana beberapa istilah sejarah dalam sejarah seni rupa akan saling berkaitan atau berkontradiksi satu sama lain antara periodisasi berdasarkan peninggalan dan pertumbuhan zaman. Di sini akan dibahas sejarah seni rupa Indonesia berdasarkan urutan ciri peninggalannya, namun tidak akan mengabaikan konteks zaman-nya juga.

Sejarah Seni Rupa Indonesia

Sebelumnya, Eropa dianggap sebagai pelopor seni rupa karena ditemukannya berbagai benda seni kuno di sana. Namun kemudian pernyataan tersebut diragukan, karena beberapa temuan benda dan karya seni yang lebih tua di benua Afrika dan Asia Tenggara. Salah satu temuan karya tertua itu adalah lukisan di gua Sulawesi yang berada di Indonesia.

Hingga saat ini diperkirakan lukisan gua tersebut adalah lukisan tertua di dunia. Penjelasan tersebut sejalan dengan apa yang akan kita bahas pertama disini, yaitu Seni Rupa Prasejarah.

Sejarah Seni Rupa Prasejarah

Pembagian seni rupa prasejarah di Indonesia dibedakan atas dua periode, yaitu zaman batu dan zaman perunggu. Pembabakan tersebut didasarkan atas kemampuan teknik dan teknologi masyarakat prasejarah tersebut. Terutama dalam menciptakan alat-alat yang diperlukan dalam mendukung kelangsungan hidupnya.

Hal ini ditunjukkan dengan bukti artefak-artefak yang mereka tinggalkan. Zaman batu atau disebut juga zaman Megalitik yang terdiri dari:

  1. zaman batu tua (Paleolitik),
  2. zaman batu tengah (Mesolitik), dan
  3. zaman batu muda (Neolitik).

Kehidupan Zaman Prasejarah

Manusia hidup di masa Prasejarah dalam jangka waktu yang sangat panjang. Pada masa ini hidup manusia belum terlalu bergantung ke peralatan (gawai) seperti sekarang. Namun manusia sudah mulai membuat alat-alat yang dapat membantu menjalani kehidupnya di dunia.

Tentunya, alat-alat yang dibuat masih sederhana dan menyerupai bentuk bahan mentahnya. Misalnya alat untuk mencari umbi-umbian sebagai bahan makanan atau alat untuk berburu. Alat-alat tersebut dibuat menggunakan batu yang di pecahkan, tulang binatang yang diasah, dsb.

Kehidupan manusia pada masa ini juga belum sepenuhnya menetap, mereka masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya tergantung pada situasi dan kondisi setempat atau biasa disebut dengan istilah nomaden. Jika tempat tinggal mereka sudah tidak subur lagi atau buruan di sana habis, maka mereka akan pindah dan mencari tempat tinggal baru.

Tempat singgah yang digunakan di masa ini hanyalah sebatas gua atau dataran terbuka yang terbebas dari ancaman binatang buas. Di masa nomaden ini sering terjadi hal yang tidak diinginkan, terutama untuk anak-anak dan wanita.  Sering di temukan rangka manusia yang terpisah jauh dari temuan lainnya, yang berarti adalah beberapa korban dalam perjalanan jauh ketika berpindah.

Sayangnya manusia prasejarah belum mampu membuat rumah sebagai tempat tinggal tetap yang aman. Sehingga pada umumnya mereka tinggal di gua untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Ketika mulai menetap di gua inilah, aktivitas manusia dalam membuat berbagai karya juga mulai bertambah, seiring kebutuhan yang meningkat untuk menciptakan alat-alat pertanian sederhana, ritual, dsb. Pada akhirnya manusia mulai menemukan logam dan mengetahui cara mengolahnya. Bahkan lama-kelamaan logam mulai menggeser kedudukan batu, yang pada akhirnya hanya berfungsi sebagai benda pusaka saja dan kehilangan nilai praktis.

Karya Seni Rupa Prasejarah

Salah satu peninggalan yang paling kuno dari kesenian Indonesia adalah lukisan pada dinding gua-gua, seperti yang ditemukan di Papua, di Kepulauan Kei dan Seram hingga di Sulawesi Selatan. Lukisan-lukisan tersebut antara lain berupa cap telapak tangan dan telapak kaki, gambar-gambar manusia yang sederhana, gambar-gambar binatang seperti babi hutan, cecak, kadal, kura-kura, kerbau, dan lain sebagainya.

Di beberapa gua di Indonesia yang telah disebutkan di atas terdapat bahkan terdapat gambar telapak tangan dengan jari terpotong (tidak utuh). Ada pula gambar seekor binatang yang tampak sedang diburu dengan menggunakan tombak. Van Heekeren, seorang arkeolog yang meneliti gua-gua di dekat Maros Sulawesi Selatan menyatakan bahwa lukisan babi hutan tertombak panah maupun ratusan  gambar tangan yang terdapat di sana diduga telah ada sejak tahun 2000 sebelum Masehi, bersamaan dengan berkembangnya kebudayaan Toala.

Sedangkan pakar lain seperti Dr. Josef Roder yang melakukan penelitian di daerah Papua menemukan lukisan-lukisan disana telah ada dari sejak 1000 tahun sebelum Masehi. Beberapa diantaranya bahkan baru dibuat 3-4 abad yang lalu.

Beberapa peninggalan artefak terpenting dari seni rupa prasejarah Indonesia antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Kriya batu: Kapak genggam
  2. Kriya tanah liat / gerabah (Mesolitik-Neolitik)

    Contoh karya seni rupa prasejarah indonesia
    Contoh karya seni rupa prasejarah indonesia

  3. Lukisan dinding gua (Mesolitik-Megalitik)

    Lukisan prasejarah di Gua Sulawesi: Orang sedang berlayar di laut. .Seni Rupa Indonesia dalam Masa Prasejarah, Soedarso Sp.
    Lukisan prasejarah di Gua Sulawesi

  4. Bangunan megalitik (menhir, dolmen, sarkopak).

    contoh dolmen prasejarah
    contoh dolmen prasejarah

  5. Ragam hias prasejarah yang menyatu dengan benda kriya
Peninggalan Seni Rupa Prasejarah di Sulawesi Selatan

Salah satu peninggalan tertua di Indonesia bahkan di dunia berada di Sulawesi Selatan, tepatnya di Leang Timpuseng. Hasil penelitian yang dilakukan oleh kerjasama Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Makassar, BPCB Makassar, University of Wollongong dan Universitas Griffith sepanjang tahun 2011-2013 menunjukkan bahwa stensil tangan yang berada di sana berumur 39.900 tahun. Di sana juga ditemukan lukisan babirusa betina yang usianya tidak kalah tua, yaitu 35.400 tahun.

Contoh seni rupa prasejarah Stensil/Cap tangan di gua sulawesi
Contoh seni rupa prasejarah Stensil/Cap tangan di gua sulawesi
Tradisi Megalitik

Tradisi megalitik muncul setelah adanya tradisi bercocok tanam, atau masa neolitik. Biasanya bangunan megalitik dipergunakan sebagai sarana pemujaan. Pemujaan tersebut didasarkan atas kepercayaan mengenai adanya hubungan antara yang hidup dengan yang mati. Manusia prasejarah mempercayai adanya pengaruh kuat dari roh orang yang telah meninggal terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman.

Oleha karena itu jasa dari seorang kerabat yang telah meninggal seringkali diabadikan dengan mendirikan bangunan batu besar, yang kemudian dianggap sebagai medium penghormatan (ritual), tempat bersemayam roh dan sekaligus sebagai lambang si mati (Wahyono dkk., 1991, hlm. 29).

Bentuk-bentuk bangunan megalitik tersebut berupa menhir, meja batu, dll. Bentuk-bentuk peninggalan monumental megalitik di Indonesia diwarnai oleh batu yang berkaitan dengan pemujaan maupun upacara-upacara penguburan. Walaupun tradisi ini sudah hampir punah, namun beberapa daerah di Indonesia seperti Nias, Toraja, Flores, dan Sumba masih menjalankannya.

Contoh Karya seni zaman Perunggu

Gelombang perpindahan kedua dari daratan Asia ke Nusantara pada 500 tahun sebelum Masehi membawa serta kebudayaan perunggunya ke tempat tinggal mereka yang baru. Hal ini meninggalkan banyak peninggalan sejarah seni rupa baru di Indonesia. Peninggalan artefaknya antara lain sebagai berikut.

  1. Kria Perunggu/Seni Dongson (genderang perunggu)
  2. Kapak perunggu
  3. Patung perunggu
  4. Ragam hias Prasejarah/Tradisi pada karya perunggu
Gong nekara selayar, contoh benda seni perunggu prasejarah
Gong nekara selayar, contoh benda seni perunggu prasejarah
Ciri-ciri seni rupa prasejarah Indonesia

Untuk mempermudah pemahaman karya seni di zaman ini sebaiknya kita mengetahui ciri-ciri dari objek seni yang ditemukannya. Adapun ciri-ciri tradisi seni hias Indonesia yang bersumber dari seni  prasejarah itu sendiri antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Kecenderungan untuk menggunakan bentuk flora dan fauna yang menimbulkan kesan dekoratif sesuai dengan lingkungannya yang agraris.
  2. Menampilkan bentuk-bentuk ornamen geometri (meander, swastika, tumpal, pilin, pilin berganda, lingkaran, dan sebagainya).
  3. Kecenderungan menampilkan motif-motif hias perlambangan (simbolis) sesuai dengan pandangan hidup religi yang masih kosmis-magis.
  4. Kecenderungan pada penggunaan warna dasar sesuai dengan lingkungan alam dan pandangan kepercayaan.

Sumber inspirasi yang banyak dimanfaatkan sebagai objek seni antara lain burung sebagai lambang roh manusia yang telah meninggal. Bagi masyarakat Dayak burung Enggang dianggap sebagi lambang dunia atas. Binatang reptil juga banyak digunakan, seperti buaya, kadal, ular, kura-kura dianggap sebagai lambang dunia bawah.

Kemudian,  binatang lainnya adalah kuda, kerbau, dan gajah sebagai kendaraan roh orang yang telah meninggal. Kerbau juga dapat disebut sebagai lambang kesuburan, dan penolak bala. Berbagai ciri seni hias prasejarah ini menjadi dasar dari tradisi seni Indonesia yang berpengaruh pada zaman berikutnya, yaitu periode Hindu-Budha atau bisa di sebut zaman klasik.

Sejarah Seni Rupa Klasik (Hindu-Budha)

Berdasarkan  peninggalan arkeologisnya, zaman klasik di Indonesia dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu:

  1. Zaman Klasik Tua yang berkembang antara abad ke-8—10 M, dan
  2. Zaman Klasik Muda yang berkembang antara abad ke-11—15 M.

Kedua zaman itu berkembang di berbagai wilayah nusantara, termasuk Jawa, Sumatera dan Bali, namun bukti arkeologi dalam zaman Klasik Tua banyak didapatkan di wilayah Jawa tengah. Karena itu terkadang beberapa ahli menyebut zaman klasik ini juga dengan Zaman Jawa Tengah.

Penyebutan itu sebetulnya kurang tepat. Seperti yang telah dibahas di atas bahwa pembagian zaman harus berdasarkan pada kronologi waktunya, bukan banyak temuannya. Pembagian Zaman Klasik yang didasarkan pada kronologi peninggalan tersebut untuk memperluas cakupan kajian, jadi tidak melulu bicara tentang tinggalan di Jawa bagian tengah atau timur belaka (Munandar 1995, hlm. 108).

Perkembangan Zaman Seni Rupa Klasik Indonesia

Masa Sejarah (Paskasejarah, lawan dari Prasejarah) di Indonesia dimulai setelah ditemukannya bukti prasasti-prasasti awal (bertarikh sekitar abad ke-4 M) ditemukan di wilayah Kutai, Kalimantan Timur yang menyebut nama raja Mulawarman dan Jawa bagian barat yang menyebutkan Kerajaan Tarumanagara dengan rajanya Purnnawarmman.

Prasasti-prasasti itu menggunakan aksara Pallava dengan bahasa Sansekerta (Suleiman, 1974, hlm. 14—15);  sedangkan nafas keagamaan yang terkandung dalam prasasti-prasasti tersebut bercorak Veda kuno, masih belum memuja Trimurti. Dalam masa sejarah itulah pengaruh kebudayaan India mulai datang dan berkembang secara eksklusif di beberapa bagian Nusantara.

Namun kedepannya pengaruh kebudayaan India awal yang menyebarkan ajaran Veda-Brahmana tersebut tampak kurang diminati lagi oleh masyarakat nusantara. Runtuhnya kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat juga ikut mempengaruhi hal ini.

Tidak ada lagi yang meneruskan ritual Veda Kuno yang didominasi oleh kaum Brahmana. Justru muncul kerajaan baru yang bernafaskan Hindu Trimurti di wilayah Jawa Tengah pada abad ke-8 M. Kerajaan itu adalah Mataram Kuno yang membangun Prasasti Canggal pada tahun 732 M.

Dalam prasasti itu dinyatakan nama raja yang menitahkan pembangunan prasasti, yaitu Sanjaya. Nafas keagamaan yang cukup kentara dalam prasasti itu adalah Hindu-saiva, karena bait-baitnya banyak memuliakan Siva Mahadeva (Poerbatjaraka 1952, hlm. 53—55).

Bersamaan dengan masuknya pengaruh Hindu-saiva, datang pula pengaruh agama Buddha dari aliran Mahasanghika (Mahayana) ke tengah-tengah masyarakat Jawa Kuno. Akhirnya di Jawa bagian tengah antara abad ke-8—10 M berkembang 2 agama besar, yaitu Hindu-saiwa (Hindu-saiva) dan Buddha Mahayana yang berasal dari India.

Dalam perkembangannya banyak dihasilkan berbagai bentuk kesenian, seni yang masih bertahan hingga sekarang adalah bukti-bukti seni rupa yang berupa arca dan relief serta dan karya arsitektur bangunan suci.

Karya Seni Rupa Zaman Klasik (Hindu-Budha)

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, karya seni rupa zaman klasik Hindu-Budha didominasi oleh arsitektur religi dan ragam hias dindingnya. Ragam hias yang paling umum digunakan adalah padma teratai. Padma dapat melambangkan tahta dewa tertinggi, terbentuknya alam semesta, kelahiran Budha, kebenaran utama, tempat kekuatan hayati dan suci bagi kaum Yogin dan rasa kasih. Bentuk hias lain yang dominan adalah sebagai berikut.

  1. Swastika yang melambangkan daya dan keselarasan jagad raya.

    contoh swastika di pura goa lawah bali
    contoh swastika di pura goa lawah bali. wikipedia.

  2. Kalamakara yang terdiri dari Kala yang melambangkan waktu, dan Makara yang berupa makhluk seperti buaya.

    contoh karya seni rupa klasik indonesia: kalamakara
    contoh karya seni rupa klasik indonesia: kalamakara, indonesiaasisee.

  3. Kinnara, berwujud manusia setengah burung yang merupakan anggota dari kelompok dewa penghuni langit.

Pengaruh zaman Hindu-Budha dalam bidang seni rupa sangat kental dalam bidang arsitektur, khususnya arsitektur pada bangunan candi. Candi di Indonesia dibedakan menjadi candi Hindu dan candi Budha.

  1. Candi Hindu,
    Arsitektur candi Hindu Indonesia memiliki gaya yang mirip hingga dengan gaya India Selatan. Misalnya Candi Syiwa Lara Jonggrang di Jawa Tengah. Candi tersebut melukiskan penafsiran masyarakat (atau setidaknya perancangnya) mengenai keadaan setempat yang terperinci, hingga ke berbagai tempat pemujaan agama Hindu yang menunjukkan ciri Syiwaisme.

    Peninggalan seni rupa hindu, candi prambanan
    Peninggalan seni rupa hindu, candi prambanan

  1. Candi Budha,
    Bangunan candi Budha, seperti Candi Borobudur, tidak memiliki gaya yang mirip dengan gaya India. Borobudur terdiri atas sepuluh tingkat konsentris. Enam tingkat paling bawah dirancang sebuah bidang persegi, sementara empat tingkat di atasnya merupakan stupa utama berbentuk lingkaran.

    candi borobudur (budha). formasimediaindonesia.
    candi borobudur (budha). formasimediaindonesia.

Seni Hias Pra-Islam

Selain kebudayaan dan ragam hias yang dihasilkan dari akulturasi India, masyarakat nusantara juga telah memiliki kebudayaan ragam hias khas yang tidak datang dari India, seperti kain batik. Awal pembuatan batik sudah dimulai sejak zaman prasejarah, kain simbut dari Priangan adalah contoh batik asli yang dibuat dari bahan kanji ketan sebagai penutup kain (Yudoseputro, 1986, hlm. 96, Djumena, 1990, hlm. 86-87, Anas, 1997, hlm. 15-16).

Sebutan batik yang paling tua terdapat dalam sebuah naskah Sunda yang ditemukan di selatan Cirebon dan bertanggal 1440 Saka/1518 M (Lombard, 1996, hlm. 193). Kata batik belum disebut di sana, tetapi yang ada adalah kata tulis  yang sejak itu lazim dipakai untuk pembubuhan malam ke atas kain.

Selain itu disebut-sebut nama teknis dari sembilan motif, yang beberapa diantaranya terus muncul dari masa ke masa. Istilah  batik untuk pertama kali disebut dalam tulisan Eropa di Daghregister di Batavia, tertanggal 8 April 1641.

Teknik batik dapat dengan cepat menyebar di Jawa karena tekniknya berasal dari pesisiran dan pelabuhan. Batik masuk ke kerajaan Mataram, kemudian berkembang dan dibudayakan di Cirebon, Pekalongan, Yogya, Solo, dsb. Di ibukota-ibukota Jawa bagian tengah, motif dan warna batik selalu mengikuti kaidah-kaidah yang ketat. Sebaliknya di pesisir batik terus menerus diperbaharui dan mengikuti selera khas dari pengerajinnya.

Sejarah Seni Rupa Madya (Pengaruh Islam)

Pengaruh Islam terhadap seni rupa Indonesia terjadi dari hasil perdagangan yang dimulai sejak abad ke-11. Para pedagang dari Gujarat, India, adalah yang diketahui yang paling berpengaruh besar dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia. Mereka membangun permukiman di sepanjang Pantai Timur Sumatra dan Aceh. Selanjutnya pusat-pusat kebudayaan Islam dibangun secara bertahap di Demak dan Jepara.

Islam memberikan pengaruh kebudayaan yang besar terhadap seni rupa nusantara. Salah satu pengaruh terbesarnya adalah pandangan retrospektif terhadap kebudayaan-kebudayaan nusantara sebelum dipengaruhi oleh Zaman Klasik hingga ke Prasejarah. Motif-motif binatang dan yang berhubungan dengan kepercayaan manusia perlahan berkurang.

Hal ini disebabkan oleh usaha para pemeluk Islam untuk menyebarkan agamanya di Indonesia dihadapkan dengan permasalahan budaya masyarakat nusantara dari kepercayaan sebelumnya masih kentara. Ragam hias nusantara digantikan oleh pola hias bentuk-bentuk alam. Beberapa pengaruh terbesar Islam pada seni rupa Indonesia adalah sebagai berikut.

Pola hias bentuk-bentuk alam

Pada zaman madya kegemaran menggunakan motif hias yang bersumber pada ragam hias geometris dan ragam hias tumbuhan hadir kembali di masyarakat nusantara. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sebetulnya ragam hias geometri dan alam sudah dikenal sejak zaman prasejarah.

Namun, pada zaman Islam semacam di revive atau dikampanyekan ulang menggunakan pendekatan retrospektif terhadap budaya yang dianggap lebih Islami daripada kepercayaan-kepercayaan masyarakat nusantara sebelumnya. Motif ini selalu muncul kembali dalam perkembangan seni dekoratif Indonesia dengan pola dan susunan yang baru.

Pada masa Islam motif-motif hias geometri ini terus berkembang, sebagai bentuk penerus tradisi seni hias zaman Hindu-Budha maupun sebagai hasil pengembangannya. Hal tersebut tampak jelas pada ornamen batik yang berkembang pesat pada masa Islam.

Adanya ragam hias motif tumbuhan yang sudah lama dikenal di Indonesia sangat mudah dipahami, karena lingkungan alam Indonesia yang kaya dengan tumbuhan selalu menjadi sumber daya cipta para seniman untuk berkarya. Sesuai dengan kosmologi bangsa Indonesia, maka jenis tumbuhan yang hadir sebagai hiasan  memiliki arti perlambangan.

Pada masa Hindu-Budha arti perlambangan ini disesuaikan  dengan ikonografi dalam kesenian Hindu dan Budha. Pada masa Islam nilai-nilai perlambangan tersebut tetap dipelihara dan dikembangkan terus dalam menentukan desain ornamental melalui pandangan yang baru.

Pahatan Makam

Batu nisan gaya Gujarat ditemukan di Samudera Pasai (Aceh Utara) dan Gresik. Pahatan yang digunakan berbeda dengan pahatan yang biasa ditemukan di nusantara sebelumnya. Sama seperti pola hias yang kembali banyak menggunakan bentuk-bentuk alam. Terkadang kaligrafi Islam juga digunakan.

Arsitektur gaya Islam Indonesia

Arsitektur masjid Indonesia berbeda dengan yang ditemukan di negara Islam lainnya. Masjid lama dibangun dengan mengikuti prinsip dasar bangunan kayu, dan disertai dengan pembangunan pendapa di bagian depan. Akulturasi budaya nusantara dan islam tampak jelas disini.

Selain itu juga biasanya masjid di Indonesia memiliki atap tumpang yang memberikan ventilasi, dan disangga oleh deretan tiang kayu. Masjid-masjid tersebut terdapat di Cirebon, Banten, Demak, dan Kudus. Bagian dalamnya dihiasi berbagai pola hias bentuk-bentuk alam seperti bunga, dedaunan, pola geometris dan kaligrafi.

masjid wapaue, salah satu masjid tertua di Indonesia
masjid wapaue, salah satu masjid tertua di Indonesia

Kaligrafi

Kaligrafi nusantara sangat dipengaruhi oleh Islam, khususnya kaligrafi Arab. Berbagai benda yang biasa digunakan untuk upacara adat di Indonesia di masa ini juga sering dihiasi oleh kaligrafi. Berbagai senjata seperti belati, tombak, dan pedang juga sering dihiasi kaligrafi.

Istana juga kini dihiasi oleh kaligrafi. Wayang juga sering dihiasi oleh kaligrafi untuk menyamarkan bentuk manusianya. Arab gundul juga sempat menjadi aksara yang cukup dominan digunakan sebagai tulisan sehari-hari masyarakat nusantara.

Batik Islam

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, batik sebetulnya telah ditemukan dari masa prasejarah. Namun pada Seni Rupa Madya inilah perkembangannya mulai melaju pesat. Karena berkembang pada masa ini pula, batik juga ikut dipengaruhi oleh budaya islam.

Ragam hias ilmu ukur yang sering dijumpai pada atik seperti tumpal, banji, meander, swastika dan motif pilin mulai ditinggalkan. Digantikan oleh  motif flora seperti bunga, bentuk buah, dan dedaunan.

Sejarah Seni Rupa Modern Indonesia

Pada masa ini, Indonesia masih terbentuk sebagai koloni Belanda dan masih bernama Hindia-Belanda. Perjalanan seni rupa modern Indonesia terbata-bata di bawah penjajahan VOC. Meskipun begitu program kolonialisasi Belanda berhasil mencetak setidaknya satu orang yang diketahui merintis seni rupa di negeri ini. Periode itu kemudian menstimulus periode seni rupa modern lainnya. Periode-periode seni rupa modern tersebut adalah sebagai berikut.

Periode Perintis (1826-1880)

Perkembangan periode perintis diawali oleh seniman legendaris Indonesia, Raden Saleh. Berkat pengalamannya dan pendidikan melukisnya di luar negeri seperti di Belanda, Perancis, dan Jermania ia dapat merintis kemunculan seni rupa Modern di Indonesia. Lukisannya bernafaskan aliran Romantisisme. Aliran yang sedang berkembang pesat di masa itu. Biografi dan contoh karya Raden Saleh dapat disimak disini.

Periode Indonesia Jelita (Mooi Indie)

Masa ini merupakan kelanjutan dari periode perintis, setelah berakhirnya periode perintis karena meninggalnya Raden Saleh. Nama besar yang muncul di periode ini adalah Abdullah Surio Subroto dan diikuti oleh anak-anaknya, Sujono Abdullah, Basuki Abdullah dan Trijoto Abdullah. Pelukis Indonesia lainnya juga ikut bermunculan seperti Sunoyo, Suharyo, Pringadi, Henk Ngantung, Wakidi, dll. Periode ini disebut dengan masa Indonesia Jelita karena Senimannya banyak melukiskan tentang kemolekan atau keindahan alam Hindia-Belanda.

Karya penting Periode Indonesia Jelita:
  1. Abdullah SR: Pemandangan di sekitar Gn. Merapi, Pemandangan di Jawa Tengah, Dataran Tinggi di Bandung
  2. Pringadi, melalui lukisan Pelabuhan Ratu
  3. Basuki Abdullah: Pemandangan, Gadis sederhana, Pantai Flores, Gadis Bali

Contoh lainnya dapat dipelajari melalui: biografi dan contoh karya lukis Basuki Abdullah di sini.

Periode PERSAGI

Pada periode ini, Indonesia sedang berjuang untuk mendapatkan hak kemerdekaannya dari Belanda. Pergolakan di segala bidang pun terjadi, begitu pula dalam bidang kesenian yang sedang berusaha mencari ciri khasnya, yaitu Seni Rupa Indonesia. Salah satu seniman besar yang dikenal memiliki kontribusi tinggi adalah S. Sdjojono. Ia merasa tidak puas dengan periode seni Jelita yang serba indah, karena dianggap bertolak belakang dengan kejadian yang melanda tanah air.

Sebagai langkah pergerakannya S. Sudjojono dan Agus Jayasuminta bersama rekan-rekannya yang lain mendirikan PERSAGI (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia). Persagi bertujuan untuk mengembangkan seni rupa di Indonesia dengan mencari gaya Indonesia asli. Konsep persagi itu sendiri adalah semangat dan keberanian, bukan sekedar keahlian melukis, melainkan melukis dengan tumpahan jiwa.

Karya-karya penting PERSAGI:
  1. Sudjojono: Di depan kelambu terbuka, Cap Go Meh, Jongkatan dan Bunga kamboja
  2. Agus Jayasuminta: Barata Yudha, Arjuna wiwaha, Dalam Taman Nirwana
  3. Otto Jaya: Penggodaan, Wanita impian
seni rupa modern indonesia di depan kelambu terbuka oleh Soedjojono. lukisanku.id
seni rupa modern indonesia di depan kelambu terbuka oleh Soedjojono. lukisanku.id

Periode Pendudukan Jepang

Kegiatan seni rupa pada masa ini didominasi oleh kelompok Keimin Bunka Shidoso. Kelompok ini membawa misi propaganda pembentukan kekaisaran Asia Timur Raya yang di inisiasi oleh Jepang. Kelompok ini didirikan oleh tentara Dai Nippon dan dibantu oleh seniman Indonesia seperti Agus Jayasuminta, Otto Jaya, Subanto, Trubus, Henk Ngantung.

Namun masyarakat kita juga tidak berhenti berjuang sendiri, kelompok asli Indonesia mendirikan PUTRA (Pusat Tenaga Rakyat), tokoh-tokoh yang mendirikan kelompok ini adalah tokoh empat serangkai yaitu: Ir. Sukarno, Moh. Hatta, KH. Dewantara dan KH. Mas Mansyur. Seniman yang khusus menangani bidang seni lukis adalah S. Sudjojono dan Affandi. Pelukis yang ikut bergabung dalam PUTRA diantaranya adalah: Hendra Gunawan, Sudarso, Barli, Wahdi, dll.

Periode Akademi (1950)

Periode ini memulai pengembangan seni rupa Indonesia melalui pendidikan formal. Lembaga Pendidikan yang bernama ASRI berdiri tahun 1948 kemudiaan secara formal tahun 1950 Lembaga tersebut mulai membuat rumusan-rumusan untuk mencetak seniman-seniman dan calon guru seni rupa di Indonesia. Pada tahun 1959 di Bandung dibuka program Seni Rupa ITB, kemudian dibuka jurusan pendidikan seni rupa disemua IKIP (Institut keguruan dan ilmu pendidikan) diseluruh Indonesia.

Periode Seni Rupa Baru

Di sekitar tahun 1974 muncul kelompok baru dalam seni lukis yang dipelopori oleh Jim Supangkat, S. Prinka, Dee Eri Supria, dkk. Kelompok ini menampilkan gaya baru dalam seni lukis Indonesia yang terpengaruh oleh keilmuan seni modern barat. Kelompok ini berusaha untuk membebaskan diri dari batasan-batasan seni rupa yang telah ada.  Konsep kelompok ini adalah:

  1. Tidak membedakan disiplin seni
  2. Menghilangkan sikap seseorang dalam mengkhususkan penciptaan seni
  3. Mendambakan kreatifitas baru
  4. Membebaskan diri dari batasan-batasan yang sudah mapan
  5. Bersifat eksperimental

Referensi

  1. Soedarso SP. (1990/1991). Seni Rupa Indonesia dalam Masa Prasejarah
  2. Soekmono. (1993). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1, 2, 3 Yogyakarta: Kanisius.
  3. Munandar, A.A. & Yulianto, K. (1995). Research Report: Arsitektur Gua sebagai Sarana Peribadatan dalam Masa Hindu-Buddha. Depok: Universitas Indonesia.
  4. Yudoseputro. (1986). Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia. Bandung : Angkasa
  5. Djumena, Nian S. 1990. Batik Dan Mitra (Batik And Its Kind). Jakarta: Djambatan
  6. Anas, Biranul. 1997. Indonesia Indah “Batik” Buku ke-8. Jakarta: Yayasan Harapan Kita, BP3 Taman Mini Indonesia Indah.

Join the Conversation

2 Comments

  1. Saya baru mengetahui begitu banyak karya seni rupa di Indonesia tercinta ini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *