“Seni telah mati” adalah percakapan yang telah lama terjadi di kalangan seniman dan filsuf selama beberapa dekade terakhir. Pernyataan ini memercikkan banyak respons dan polemik dari semua kalangan.

Mungkin tidak sekontroversial “tuhan telah mati” dari Nietzsche. Namun, hal ini tentunya cukup mengguncangkan beberapa kelompok masyarakat tertentu, terutama penikmat seni dan senimannya sendiri.

Mengapa pernyataan ini dapat terbesitkan oleh para cendekia? Alasan sederhananya adalah seni telah mengalami peleburan pada berbagai bidang kehidupan manusia. Bela diri adalah seni, marketing adalah seni, pemrograman adalah seni, matematika adalah seni; seni telah mati.

Lantas apakah pendapat tersebut benar atau setidaknya dapat dibuktikan pengaruhnya dalam kehidupan manusia? Sulit untuk memastikannya. Tetapi, paling tidak kita dapat mengerucutkannya pada dua pendapat utama. Langkah yang paling bijak dalam menyikapinya adalah dengan mengambil salah satu posisi berikut.

Sisi Optimis

Ya, seni telah mati dan melebur dengan berbagai hal sehari-hari di bumi. Namun bukankah itu adalah hal yang positif? Saat ini pendapat itu masih relevan. Salah satu wujudnya adalah bagaimana batasan seni murni dan seni terapan (desain) kini telah kabur.

Seni murni dapat meminjam berbagai hal sehari-hari yang biasa dinaungi oleh desain seperti toilet, asbak, komputer, kaleng minuman, dan sebagainya. Sementara rancangan logo suatu perusahaan dapat mengambil berbagai filosofi dan simbolisme yang biasa dimuat oleh karya seni murni.

Memang benar hal itu membuat seni pudar dan kehilangan eksistensinya sebagai produk adiluhung yang biasa digantung di museum, galeri, atau bangunan institusi kelas atas lainnya. Namun bukankah hal tersebut adalah suatu kemajuan dalam mengurangi kesenjangan sosial?

Dahulu, seni hanya dapat dinikmati dan dapat dijamah oleh kalangan tertentu saja. Kini, ia ada di mana saja, bahkan dalam kemasan mi instan yang harganya hanya 2.500 rupiah dan bisa didapatkan di mana saja, termasuk di warung kecil pojokan di pedalaman.

Kaum butuh tani juga dapat merasakan keeksklusifan dijamah oleh brand ternama yang sengaja menyasar mereka agar merasa terkait dan terikat untuk menggunakan merek tertentu. Taruh saja contohnya adalah merek rokok yang sama, meskipun contohnya agak kurang menunjukkan dampak positif.

Namun, intisarinya adalah kini mereka mampu merasakan bagaimana dibuai dan dimanjakan oleh rasa kefamiliaran tanpa intimidasi bahwa rokok yang harus mereka hisap adalah rokok ternama di kalangan pemuda kota yang harganya  bisa jadi dua kali lipat atau lebih dari apa yang biasa mereka hisap.

Kini, citra yang dihasilkan dari desain dan kemasan yang sengaja dirancang untuk menjamah kaum ekonomi lemah dapat mereka rasakan. Namun, rasanya hal itu kurang membantu mereka, terutama dalam hak kesejahteraan yang setara dengan masyarakat yang berada di kota.

Kalimat tersebut juga membawa kita pada posisi kedua yang dapat diambil dalam menyikapi fenomena seni telah mati, yakni sisi pesimis.

Sisi Pesimis

Lagu populer yang tidak bermuatan, sinetron yang tidak mendidik, dan influencer yang memperlihatkan berbagai sisi glamor dunia memang dapat dikategorikan seni pula. Namun bukankah seni seharusnya membebaskan? Dan bukan mengekang penikmatnya dalam ilusi yang tidak berarti?

Di sinilah puncak kesedihan akan gugurnya seni terjadi. Belasungkawa para tokoh penyokongnya juga sudah seakan tidak berarti. Seni yang dulunya membebaskan, mencerahkan, bahkan mengedukasi, kini telah menjadi pusat hiburan yang membelenggu penikmatnya menjadi mati.

Seni telah mati, dan kita yang telah membunuhnya. Kita yang telah membiarkan berbagai citra merk populer dan mahal merasuki lalu menganggapnya seni. Kita yang memiliki pandangan berbeda pada merek tidak terkenal dan membuatnya tidak dibeli. Kita yang membiarkan algoritma machine learning menganggap click bait dan konten tidak bermutu adalah hal yang diinginkan oleh seluruh masyarakat di pelosok negeri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *