Teori gestalt adalah teori kejiwaan yang menyatakan manusia memersepsi suatu hal secara keseluruhan atau utuh terlebih dahulu tanpa memperhatikan bagian-bagian kecil atau elemen pembentuknya. Suatu perspektif yang melihat keutuhan atau keseluruhan yang utuh tersebut disebut sebagai suatu “Gestalt”.

Seperti yang diungkapkan oleh Saleh (2018, hlm. 14) bahwa gestalt adalah aliran psikologi yang menolak ajaran elementisme dari Wundt dan berpendapat bahwa gejala kejiwaan (khususnya persepsi) haruslah dilihat sebagai keseluruhan yang utuh, yang tidak terpecah-pecah dalam bagian-bagian dan harus dilihat sebagai suatu “Gestalt”. Perbedaan utama dari Gestalt dari aliran lainnya adalah psikologi gestalt menitikberatkan pada proses-proses sentral seperti sikap, ide, dan harapan untuk mewujudkan tingkah laku atau perilaku manusia.

Pengertian Gestalt

Kata gestalt sendiri berasal dari bahasa jerman, yang dalam bahasa inggris berarti form, shape, configuration, whole (Fauzi, 1997, hlm. 26); dalam bahasa Indonesia berarti “bentuk” atau “konfigurasi”, “hal”, peristiwa”, “pola”, “totalitas”, atau “bentuk keseluruhan” (Diraguganarsa, 1996; Sarwon, 1997 dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 38). Tokoh-tokoh dari aliran ini adalah M. Wertheimer (1880 – 1943), K. Kofka (1886 – 1941) dan W. Kohler (1887 – 1967).

Menurut teori gestalt, seseorang memersepsi sesuatu yang primer adalah keseluruhannya atau gestalnya, sedangkan bagian-bagiannya adalah hal sekunder. Dengan demikian, meskipun teori gestalt menyatakan bahwa manusia memersepsi suatu hal secara utuh, namun bukan berarti ia juga tidak dapat memersepsinya secara terpisah, terutama saat ia melakukan analisis atau setidaknya menggunakan pemikiran kritisnya untuk melihat suatu hal.

Psikologi gestalt adalah aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas, data-data dalam psikologi gestalt disebut sebagai phenomena (gejala). Phenomena adalah data yang paling dasar dalam psikologi gestalt. Dalam hal ini psikologi gestalt sependapat dengan filsafat phenomonologi yang mengatakan bahwa suatu pengalaman harus dilihat secara netral. Dalam suatu phenomena terdapat dua unsur yaitu objek dan arti. Objek merupakan sesuatu yang dapat dideskripsikan, setelah tertangkap oleh indera, obyek tersebut menjadi suatu informasi dan sekaligus kita telah memberikan arti pada objek itu.

Perkembangan Teori Gestalt

Aliran psikologi gestalt diperkirakan tumbuh berbarengan bersama aliran behavorisme Amerika. Gestalt adalah kata dalam bahasa Jerman yang sering diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris sebagai “form” atau “configuration” yang dapat diartikan sebagai “bentuk” atau “konfigurasi. Aliran di umumkan pertama kali oleh max Wertheimer pada tahun 1912.

Tokoh-tokoh lainnya yang ikut menyuarakan aliran ini adalah Kurt Koffa (1886-1941) dan Wolfgang Kohler (1887-1967). Mereka kemudian pindah ke Amerika, karena sebagai keturunan yahudi mereka jadi sasaran kejaran NAZI. Teori yang mereka ajukan adalah bahwa dalam pengamatan atau persepsi suatu situasi, rangsangan ditangkap secara keseluruhan.

Ekseperimen “Gestalt” yang pertama adalah tentang pengamatan gerakan. Jika beberapa lampu diletakan berderet dan dinyalakan berganti-ganti dengan cepat, maka kita tidak akan melihat lampu-lampu itu menyala berganti-gantian, melainkan kita akan melihat sebuah sinar yang bergerak. Eksperimen lainya di lakukan oleh Wolfgang Kohler, dengan keranya yang bernama Sultan.

Selanjutnya, aliran gestalt berkembang lebih lanjut, antara lain melalui tokoh bernama Kurt Lewin (1890 – 1947), yang membawa aliran ini ke Amerika Serikat bahkan hingga melahirkan aliran baru yang dinamakan psikologi kognitif. Aliran ini merupakan perpaduan antara aliran behaviorisme yang pada tahun 1940- an itu sudah ada di Amerika Serikat dengan aliran Psikologi Gestalt yang dibawa oleh K. Lewin.

Prinsip Gestalt

Prinsip gestalt merupakan sumbangan terbesar dari aliran yang amat berpengaruh baik pada ilmu psikologi secara umum, maupun pada bidang-bidang keilmuan dan terapan lainnya. Pertama, gestalt menganggap bahwa Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. Setiap perceptual field memiliki organisasi, yang cenderung dipersepsikan oleh manusiasebagai figure and ground. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia, bukan keterampilan yang dipelajari. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk oleh individu.

Selain itu, salah satu prinsip gestalt yang paling berpengaruh dalam ilmu pengetahuan adalah prinsip pengorganisasian. Hal ini tentunya sejalan dengan teori gestalt yang tidak hanya melihat suatu hal berdasarkan elemen-elemennya saja, akan tetapi kita juga melihat suatu hal secara keseluruhan dan mungkin melakukan pengorganisasian-pengorganisasian tertentu saat memersepsinya. Prinsip-prinsip pengorganisasi gestalt tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Principle of Proximity,
    berarti unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
  2. Principle of Similarity,
    menyatakan bahwa individu akan cenderung memersepsikan stimulus yang sama sebagai suatu kesatuan. Kesamaan stimulus itu bisa berupa persamaan bentuk,warna, ukuran dan kecerahan.
  3. Principle of Objective Set,
    menyatakan bahwa organisasi terbentuk berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya.
  4. Principle of Continuity,
    menunjukkan bahwa kerja otak manusia secara alamiah melakukan proses untuk melengkapi atau melanjutkan informasi meskipun stimulus yang didapat tidak lengkap.
  5. Principle of Closure/ Principle of Good Form,
    menyatakan bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Orang akan cenderung melihat suatu obyek dengan bentukan yang sempurna dan sederhana agar mudah diingat.
  6. Principle of Figure and Ground,
    Beranggapan bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan ground (latar belakang). Prinsip ini juga menggambarkan bahwa manusia secara sengaja ataupun tidak, memilih dari serangkaian stimulus, mana yang dianggapnya sebagai figure dan mana yang dianggap sebagai ground.
  7. Principle of Isomorphism,
    menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas otakdengan kesadaran, atau menunjukkan adanya hubungan struktural antara daerah-daerah otak yang terktivasi dengan isi alam sadarnya.

Penerapan Teori Gestalt

Tidak hanya dalam psikologi umum berupa bentuk konseling dan rekrutmen sumber daya manusia saja, teori gestalt juga banyak diaplikasikan pada bidang lain, terutama pada bidang seni, desain, dan pendidikan.

Gestalt pada Pendidikan

Bidang pendidikan mengadopsi gestalt menjadi suatu prinsip-prinsip pembelajaran yang dapat membantu peserta didik untuk belajar dengan lebih efektif dan efisien. Prinsip-prinsip tersebut selanjutnya digunakan untuk mengadakan kegiatan pembelajaran atau pengajaran berdasarkan prinsip-prinsip gestalt. Menurut Sobur (2016, hlm. 234) prinsip-prinsip belajar yang mengadopsi teori psikologi Gestalt adalah sebagai berikut.

  1. Belajar dimulai dari suatu keseluruhan, kemudian baru menuju bagian-bagiannya.
  2. Keseluruhan memberi makna pada bagian-bagian.
  3. Belajar adalah penyesuaian diri terhadap lingkungan.
  4. Belajar akan berhasil apabila tercapai kematangan untuk memperoleh pengertian.
  5. Belajar akan berhasil bila ada tujuan yang berarti individu.
  6. Dalam proses belajar itu, individu merupakan organisme yang aktif, bukan bejana yang harus diisi oleh orang lain.

Gestalt pada Seni dan Desain

Gestalt memiliki beberapa prinsip dasar yang dapat diadopsi dan diaplikasikan dalam tampilan visual. Sepanjang sejarah, para seniman dan desainer telah menggunakan berbagai prinsip Gestalt dalam membuat rancangan visual yang baik. Berbagai prinsip Gestalt yang biasa digunakan dalam bidang seni dan desain antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Law of Proximity
    Prinsip proximity mengacu pada “jarak” atau “kedekatan” antar elemen visual. Elemen yang lebih dekat secara persepsi saling berkaitan jika dibandingkan dengan elemen yang terpisah. Dengan demikian, sesuatu yang berdekatan akan dianggap suatu keutuhan atau unit yang berbeda dari grup lain meskipun unsur pembentuknya sebetulnya sama.
  2. Law of Closure
    Prinsip closure menyatakan bahwa dalam elemen visual yang kompleks, kita cenderung mencari pola tunggal yang dapat dikenali. Dengan demikian, jika kita melihat gambar yang memiliki bagian yang hilang, otak kita akan mengisi bagian yang kosong sehingga kita tetap dapat mengenali pola utamanya.
  3. Law of Similarity
    Elemen-elemen visual dapat dikatakan sekelompok jika atribut-atributnya memiliki keterkaitan atau kesamaan. Atribut-atribut yang dimaksud di sini dapat berupa seperti warna, ukuran, kontras, orientasi, atau bentuk. Jika ada keterkaitan atau kesamaan atribut antar elemen maka dapat disimpulkan bahwa elemen-elemen tersebut merupakan satu kelompok.
  4. Law of Common Region
    Menurut Bradley (2014), elemen visual dianggap sebagai bagian dari grup jika berada dalam wilayah tertutup yang sama. Manusia akan mengelompokkan elemenelemen ketika elemen tersebut berada dalam wilayah yang sama. Masing-masing kelompok elemen dipisahkan dengan batasan yang jelas.
  5. Law of Continuity
    Prinsip continuity menyatakan bahwa unsur-unsur yang tersusun pada garis atau kurva dianggap lebih berhubungan daripada unsur-unsur yang tidak berada pada garis atau kurva.
  6. Law of Figure and Ground
    Prinsip figure-ground menyatakan bahwa orang secara naluriah melihat objek sebagai latar depan atau latar belakang.
  7. Ground – Law of Uniform Connectedness
    Prinsip ini menyatakan bahwa elemen saling terkait satu dengan yang lain dengan menggunakan warna, garis, frame, atau bentuk lain yang dipersepsikan sebagai satu kesatuan jika dibandingkan elemen lain yang tidak terhubung dengan cara yang sama (tidak seragam).
  8. Element Connectedness – Law of Focal Point
    Prinsip focal point menyatakan bahwa apa pun yang menonjol secara visual akan menangkap dan mempertahankan perhatian pemirsa terlebih dahulu.

Referensi

  1. Saleh, A.A. (2018). Pengantar psikologi. Makassar: Penerbit Aksara Timur.
  2. Sobur, Alex. (2016). Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah. Bandung: Pustaka Setia.
  3. Warsah, I., Daheri, M. (2021). Psikologi: suatu pengantar. Yogyakarta: Tunas Gemilang Press.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.