Agresi merupakan perilaku individu yang sering terjadi ketika ia berhadapan dengan suatu kepentingan. Hal tersebut karena agresi dapat menjadi salah satu alat untuk mencapai keinginan dalam kepentingan tersebut. Namun demikian agresi merupakan perilaku yang akan memberikan pengaruh sosial negatif. Bahkan menurut Tremblay & Archer (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 23) secara umum setiap perilaku yang merugikan atau menimbulkan korban pada pihak orang lain dapat disebut sebagai perilaku agresif.

Tentunya jika kerugian atau korban terjadi karena hal yang tidak disengaja tidaklah termasuk pada perilaku agresi. Perbuatan agresif adalah perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain. Agresi merupakan hal yang sejatinya sudah jelas merugikan semua pihak namun masih menjadi kenyataan sosial yang akan terjadi. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memahami perilaku agresi agar mampu menghindari dan mengontrol agresivitasnya.

Pengertian Agresi

Agresi adalah perilaku yang dimaksudkan untuk melukai orang lain baik secara fisik ataupun psikis (Rahman, 2018, hlm. 197). Artinya agresi tidak selalu berbentuk fisik, bahkan kenyataan sosialnya lebih sering terjadi dari verbal terlebih dahulu. Perilaku agresi dipengaruhi oleh afeksi atau perasaan yang menutupi atau menghalau kemampuan kognitif seseorang.

Dengan demikian selain ditunggangi oleh kepentingan, agresi juga dapat dilakukan tanpa tujuan apa pun sebagai akibat dari kemampuan kognitif yang terhambat karena perasaan yang terlalu meluap-luap. Seperti yang diungkapkan oleh Aronson dkk (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 21) bahwa perilaku agresi adalah tingkah laku yang dijalankan oleh individu dengan maksud melukai atau mencelakakan individu lain dengan atau tanpa tujuan tertentu.

Sementara itu menurut Bandura (dalam Tim Penulis FP UI, 2018, hlm. 146) apa itu agresi adalah perilaku bermaksud untuk melukai atau merugikan orang lain yang dihasilkan dari proses belajar sosial melalui pengamatan terhadap dunia sosial. Artinya, perilaku agresi tidaklah dengan sendirinya muncul dalam diri seseorang, seseorang akan melakukan agresi karena mencontoh dari model di lingkungannya sendiri. Contohnya, anak-anak yang melihat model orang dewasa agresif secara konsisten akan menjadi lebih agresif bila dibandingkan dengan anak-anak yang melihat model orang dewasa non-agresif.

Lebih lanjut Berkowitz (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 21) perilaku agresi adalah suatu bentuk usaha atau perilaku yang sengaja dilakukan untuk melukai atau menghancurkan secara fisik maupun psikologis orang lain yang berbentuk usaha paksaan atau suatu upaya mempertahankan kekuasaan, dominasi, atau status sosial seseorang. Beberapa upaya untuk mempertahankan kekuasaan, dominasi, hingga status sosial tersebut adalah beberapa contoh nyata dari kepentingan yang menunggangi suatu perilaku agresi.

Dapat disimpulkan bahwa agresi adalah bentuk usaha atau perilaku yang sengaja dilakukan untuk melukai orang lain baik secara fisik dan psikis, baik berdasarkan tujuan seperti menjaga suatu kepentingan, maupun tanpa tujuan.

Faktor-Faktor Penyebab Agresi

Menurut Sears dkk; Aronson dkk (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 24-26) terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan perilaku agresi yang di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Faktor Proses Belajar
    Yaitu mekanisme utama yang menentukan perilaku agresif manusia adalah proses belajar masa lalu. Bayi yang baru lahir menunjukkan perilaku agresif yang sangat impulsif, tetapi pada masa dewasa manusia akan mengendalikan dorongan impuls agresinya secara kuat dan hanya merupakan perilaku agresif dalam keadaan tertentu.
  2. Faktor Penguatan
    Saat pembentukan suatu perilaku, penguatan sangat berperan penting. Bila perilaku tertentu diberi ganjaran, kemungkinan besar individu akan mengulangi perilaku tersebut di masa yang akan datang, dan bila perilaku itu diberi hukuman, kecil kemungkinan bahwa ia akan mengulanginya.
  3. Faktor Norma Sosial
    Jika isyarat yang menimbulkan agresi muncul, rasa marah cenderung berubah menjadi agresi. Tetapi bila isyarat yang menekan agresi muncul, rasa marah tidak akan menimbulkan perilaku agresi. Isyarat yang dikaitkan dengan pengungkapan agresi dan isyarat yang dikaitkan dengan penekanan agresi diatur dengan baik oleh norma sosial yang dipelajari untuk situasi tertentu. Dengan kata lain norma sosial merupakan hal yang penting untuk menentukan kebiasaan agresi apa yang akan dipelajari.
  4. Faktor Biologis
    Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresi, yaitu faktor gen, faktor sistem otak dan faktor kimia berdarah. Faktor-faktor biologis tersebut meliputi: a) Gen, berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur penelitian yang dilakukan terhadap binatang, mulai dari yang sulit sampai yang paling mudah amarahnya, faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan mudah marah dibandingkan dengan betinanya; b) Sistem otak yang terlibat dalam agresi ternyata dapat memperkuat atau mengendalikan agresi; c) Kimia darah, khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan faktor keturunan mempengaruhi perilaku agresi.
  5. Faktor Belajar Sosial
    Dengan menyaksikan perkelahian dan pembunuhan meskipun sedikit pasti akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan untuk meniru model kekerasan tersebut.
  6. Faktor lingkungan
    Perilaku agresi disebabkan oleh beberapa factor yang menyelubungi lingkungan seseorang yang di antaranya meliputi: a) Kemiskinan, jika seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami peningkatan; b) Anonimitas, jika seseorang anonim atau tidak diketahui identitasnya, ia cenderung berprilaku semaunya sendiri, karena ia merasa tidak lagi terikat dengan norma masyarakat dan kurang bersimpati pada orang lain seperti yang terjadi di dunia maya dan media sosial; c) Suhu udara yang panas dan kesesakan memiliki dampak terhadap tingkah laku sosial berupa peningkatan agresivitas.
  7. Faktor Amarah
    Marah merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktivitas sistem saraf parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang biasanya disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin myata-nyata atau salah atau juga tidak.

Jenis/Tipe Agresi

Berkowitz (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 27) membedakan agresi ke dalam dua jenis utama, yakni:

  1. Agresi Instrumental (Instrumental Aggression), yakni agresi yang dilakukan oleh organisme atau individu sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan tertentu;
  2. Agresi Benci (Hostile Aggression) yaitu agresi yang dilakukan semata-mata sebagai pelampiasan keinginan untuk melukai atau menyakiti, atau agresi tanpa tujuan selain intuk menimbulkan efek kerusakan, kesakitan atau kematian pada sasaran atau korban.

Sementara itu menurut Moyer (1976) tipe-tipe agresi adalah sebagai berikut.

  1. Agresi Predatori
    Agresi yang dibangkitkan oleh kehadiran objek alamiah (mangsa). Biasanya terdapat pada organisme atau spesies hewan yang menjadikan hewan dari spesies lain sebagai mangsanya.
  2. Agresi antarjantan
    Yakni agresi yang secara tipikal dibangkitkan oleh kehadiran sesama jantan pada suatu spesies. Dalam hubungannya dengan manusia, maka agresi ini sering terjadi dalam konflik maskulinitas.
  3. Agresi ketakutan
    Agresi yang dibangkitkan oleh tertutupnya kesempatan untuk menghindar dari ancaman.
  4. Agresi tersinggung
    Yaitu agresi yang dibangkitkan oleh perasaan tersinggung atau kemarahan, respon menyerang muncul terhadap stimulus yang luas (tanpa memilih sasaran), baik berupa objek-objek hidup maupun objek-objek mati.
  5. Agresi Pertahanan
    Agresi yang dilakukan oleh organisme dalam rangka mempertahankan daerah kekuasaannya dari ancaman atau gangguan spesiesnya sendiri. Agresi pertahanan ini disebut juga agresi teritorial.
  6. Agresi Maternal
    Yakni agresi yang spesifik pada spesies atau organisme betina (induk) yang dilakukan dalam upaya melindungi anak-anaknya dari berbagai ancaman.
  7. Agresi Instrumental
    Agresi yang dipelajari, diperkuat (reinforced) dan dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Dampak Agresi

Telah dibahas sebelumnya bahwa agresi akan menghasilkan kerugian baik pada pelaku maupun korban yang menjadi perilaku agresi tersebut. Selain itu, agresi yang dilakukan berturut-turut dalam jangka lama, apalagi jika terjadi pada anak-anak atau sejak masa kanak-kanak, maupun saat masa dewasa dapat mempunyai dampak pada perkembangan kepribadian.

Agresi berturut-turut akan menimbulkan kecenderungan untuk represi (menyimpan dalam bawah sadar) pengalaman-pengalaman traumatik tersebut. Agresi itu pun dapat berlanjut dari generasi ke generasi. Orang tua yang agresif cenderung mempunyai anak yang agresif terhadap orang lain dan anaknya pula (Cappell & Heiner, 1990 dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 31).

Mengontrol Agresi

Bagaimana caranya untuk mengendalikan perilaku agresi? Menurut Aronson & Akert (dalam Mulyadi dkk, 2016, hlm. 41)  cara, teknik, hingga langkah-langkah konkret yang dapat diambil untuk mencegah kemunculan atau berkembangnya tingkah laku agresi itu adalah     penanaman modal, pengembangan tingkah laku non agresi, dan pengembangan kemampuan memberikan empati yang di antaranya dapat dilakukan melalui beberapa cara berikut ini.

  1. Penanaman Moral
    Penanaman modal merupakan langkah yang paling tepat untuk mencegah kemunculan tingkah laku agresi. Penanaman moral ini akan berhasil apabila dilaksanakan secara berkesinambungan dan konsisten sejak usia dini di berbagai lingkungan dengan melibatkan segenap pihak yang memikul tanggung jawab dalam proses sosialisasi.
  2. Pengembangan Tingkah Laku Non Agresi
    Untuk mencegah berkembangnya tingkah laku agresi, yang perlu dilakukan adalah mengembangkan nilai-nilai yang mendukung perkembangan tingkah laku non agresi, dan menghapus atau setidaknya mengurangi nilai-nilai yang mendorong perkembangan tingkah laku agresi.
  3. Pengembangan Kemampuan Memberikan Empati
    Pencegahan tingkah laku agresi bisa dan perlu menyertakan pengembangan kemampuan mencintai pada individu-individu. Adapun kemampuan mencintai itu sendiri dapat berkembang dengan baik apabila individuindividu dilatih dan melatih diri untuk mampu menempatkan diri dalam dunia batin sesama serta mampu memahami apa yang dirasakan atau dialami dan 42 diinginkan maupun tidak diinginkan sesamanya. Pengembangan kemampuan memberikan empati merupakan langkah yang perlu diambil dalam rangka mencegah berkembangnya tingkah laku agresi.

Referensi

  1. Mulyadi, S., Rahardjo, W., Asmarany, A.I, Pranandari, K.(2016). Psikologi sosial. Jakarta: Penerbit Gunadarma.
  2. Rahman, A.A. (2014). Psikologi sosial integrasi pengetahuan wahyu dan pengetahuan empirik (cetakan ke-4). Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
  3. Tim Penulis Fakultas Psikologi UI. (2018). Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *