Asesmen kompetensi siswa atau lebih tepatnya asesmen kompetensi minimum (AKM) merupakan evaluasi kompetensi dasar yang diperlukan oleh murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri baik dari segi literasi atau numerasi. AKM adalah salah satu rangkaian pengganti Ujian Nasional. Meskipun masih melibatkan penilaian yang dilakukan melalui tes, hasilnya tidak akan dijadikan patokan kelulusan siswa.

Pengganti Ujian Nasional

Sebagai pengganti ujian nasional, asesmen kompetensi nasional tidak menggunakan tes sebagai penentu utama dari keberhasilan pendidikan siswa. Hanya sebagian siswa saja yang akan menjalani rangkaian asesmen ini. Evaluasi ini juga dilakukan bukan pada tingkat akhir, melainkan pada tingkat menengah, misalnya pada kelas 8 di bangku SMP. Sekali lagi, hasil dari tesnya sendiri tidak menentukan kelulusan siswa.

Hasil tes asesmen kompetensi minimum hanya digunakan sebagai evaluasi mengenai tingkat keberhasilan pengembangan kapasitas diri para siswa. Evaluasi tersebut kemudian akan digunakan sebagai data yang akan diolah untuk menentukan berbagai strategi, pengembangan, dan kebijakan yang dibutuhkan dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia.

Latar Belakang

Mengapa ujian nasional dihapuskan dan digantikan oleh rangkaian evaluasi ini? Menteri Kemdikbud Nadiem Makarim menyatakan bahwa ini merupakan salah hal yang harus dilakukan untuk mencapai programnya yang disebut dengan merdeka belajar.

Mas Menteri menyatakan bahwa ujian nasional sangat rentan dengan ketidakadilan terhadap siswa. Ujian tertulis yang berdasarkan atas kemampuan kognitif siswa tidak mampu menjamin keberhasilan seseorang. Menurut beliau, tidak adil jika pembelajaran siswa selama bertahun-tahun di sekolah hanya diserahkan pada tes akhir yang belum tentu menjadi patokan utama bagi kapasitas diri murid.

Selain itu, sifat ujian nasional yang harus di drill (dilatih) memberikan ketimpangan sosial terhadap siswa yang berada di taraf ekonomi mengengah ke bawah. Mengapa? Karena mereka tidak mampu untuk membayar les. Sedangkan les diketahui merupakan salah satu drill atau pelatihan untuk menghadapi ujian nasional yang sangat efektif.

Rangkaian Asesmen Nasional

Di dalam asesmen nasional, terdapat tiga instrumen utama yang digunakan, yakni:

  1. Asesmen kompetensi minimum
  2. Survei karakter
  3. Survei lingkungan belajar

Berikut adalah penjelasan mengenai ketiga instrumen tersebut.

Asesmen Kompetensi Minimum

Asesmen kompetensi minimum adalah tes yang akan dikerjakan oleh sebagian siswa pada tingkat mengengah jenjang pendidikan yang sedang dijalankan (e.g: kelas 8 untuk SMP). Berbeda dengan ujian nasional, soal yang diberikan tidak akan secara implisit berdasarkan apa yang telah dipelajari di mata pelajaran.

Soal yang diberikan hanya akan mengukur komptensi mendasar yang jauh lebih umum. Terdapat dua kompetensi mendasar yang akan diukur dalam asesmen kompetensi minimum, yakni:

  1. Kemampuan literasi, yang berarti berbagai kemampuan dalam menganalisis dan memahami konsep serta esensi pengetahuan yang terkandung dalam suatu bacaan.
  2. Kemampuan numerasi, merupakan kemampuan keterampilan dasar penghitungan dan mengidentifikasi serta menganalisis nilai yang bersifat numerik (angka/diagram/statistik).

Kedua kompetensi mendasar di atas, akan dinilai melalui beberapa indikator yang sama, yakni:

  1. Keterampilan berpikir logis dan sistematis
  2. Keterampilan bernalar menggunakan konsep serta pengetahuan yang telah dipelajari
  3. Keterampilan memilah dan mengolah informasi

Soal Asesmen Kompetensi Minimum

Lalu seperti apa soal yang akan diberikan pada sebagian siswa tingkat mengengah ini? Soal akan menyajikan masalah-masalah dengan berbagai konteks yang diharapkan mampu diselesaikan oleh siswa menggunakan kompetensi literasi dan numerasi yang dimilikinya. Artinya, tidak akan ada soal yang mengevaluasi penguasaan konten mata pelajaran.

AKM akan mengukur kompetensi secara mendalam dan mendasar. Evaluasi ini ingin mengetahui bagaimana kemampuan pemahaman siswa dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, hingga merefeleksikan berbagai pengetahuan yang selama ini mereka pelajari.

Contoh Soal Asesmen Kompetensi Minimum

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah contoh soal asesmen kompetensi minimum.

Soal Literasi

Perhatikan Teks di Bawah ini

Ironi Konsumsi Ikan di Indonesia. Kenapa?

Potensi sumber daya ikan di Indonesia selama ini dikenal sangat melimpah. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, potensi sumber daya ikan saat ini sudah mencapai 9,9 juta ton. Selain itu, potensi luas lahan budidaya ikan juga mencapai 83,6 juta hektare. Namun, dari semua potensi tersebut, minat masyarakat untuk mengonsumsi ikan sebagai lauk masih harus terus ditingkatkan.

Konsumsi masyarakat Indonesia terhadap ikan masih terbilang rendah. Rata-rata tingkat konsumsi ikan di Indonesia baru mencapai 41 kilogram (kg) per kapita per tahun. Meski mengalami kenaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya di 37-38 kg per kapita per tahun, tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan negara tetangga seperti malaysia (70 kg per kapita per tahun) dan Singapura (80 kg per kapita per tahun), bahkan kalah telak dengan Jepang (mendekati 100 kg per kapita per tahun).

Beberapa hal yang menjadi penyebab masih rendahnya tingkat konsumsi ikan di Indonesia, diantaranya adalah: 1). Kurangnya pemahaman masyarakat tentang gizi dan manfaat ikan bagi kesehatan dan kecerdasan, 2). rendahnya suplai ikan akibat kurang lancarnya distribusi, 3). Belum berkembangnya teknologi pengolahan dan atau pengawetan ikan sebagai bentuk keanekaragaman dalam ikut memenuhi kebutuhan masyarakat. (Sumber: dok. Kemdikbud).

Manakah pernyataan di bawah ini yang merupakan fakta atau opini terkait dengan teks di atas.

Pernyataan Jawaban
Tingkat konsumsi ikan di Indonesia jauh lebih rendah dari negara tetangga.
Pendistribusian ikan tidak berjalan baik.
Pengolahan maupun pengawetan ikan masih tertinggal.
Potensi ikan di Indonesia hampir mencapai 10 juta ton.

Jawaban:

Fakta adalah hal nyata yang memiliki landasan data empiris (teralami dan terdokumentasi). Sementara opini masih berupa sekedar pendapat atau pemikiran seseorang saja. Oleh karena itu, jawaban soal ini adalah:

Pernyataan Jawaban
Tingkat konsumsi ikan di Indonesia jauh lebih rendah dari negara tetangga. Fakta, karena terdapat data konsumsi ikan di Indonesia, yakni 37-38 kg per kapita per tahun yang lebih rendah dari data konsumsi Negara tetangga: malaysia (70 kg per kapita per tahun)
Pendistribusian ikan tidak berjalan baik. Opini
Pengolahan maupun pengawetan ikan masih tertinggal. Opini
Potensi ikan di Indonesia hampir mencapai 10 juta ton. Fakta, karena angka tersebut merupakan angka yang dihimpun oleh KKP.
Soal Numerasi

Perhatikan gambar di bawah ini

Sampah anorganik lebih lama terurai dibandingkan dengan sampah organik. Waktu dekomposisi popok sekali pakai lebih lama dari plastik, namun kurang dari kulit sintetis. Berapa waktu dekomposisi yang mungkin dari popok sekali pakai?

  1. 100 tahun
  2. 250 tahun
  3. 375 tahun
  4. 475 tahun
  5. 575 tahun

Jawaban:

Perhatikan data pada diagram batang di atas!

  • Waktu dekomposisi sampah plastik adalah 400 tahun. Jika diketahui waktu dekomposisi popok sekali pakai lebih lama dari plastik, maka waktu dekomposisi popok akan lebih dari 400 tahun.
  • Waktu dekomposisi sampah kulit sintetis adalah 500 tahun. Jika diketahui waktu dekomposisi popok sekali pakai kurang dari kulit sintetis, maka waktu dekomposisi popok akan kurang dari 500 tahun.

Jadi, waktu dekomposisi popok berkisar antara 400 tahun sampai 500 tahun.

Perhatikan pilihan jawaban di atas, nilai yang berkisar di interval 400 dan 500 adalah pilihan D, yaitu 475 tahun. Jadi, jawaban yang tepat adalah D.

HOTS

Jika diperhatikan, keduanya masih menggunakan prinsip HOTS atau high order thinking skill yang akan menuntut siswa untuk berpikir lebih keras dalam menyelesaikannya. Perbedaannya hanyalah adalah soal tersebut tidak spesifik memuat suatu konten mata pelajaran.

Selain itu, siswa juga diharapkan dapat memberikan jawaban yang jauh lebih jujur dan sesuai dengan kenyataan. Mengapa? karena tidak adanya tuntutan untuk menyelesaikannya sebagai syarat kelulusan.

Survei Karakter

Lalu bagaimana dengan survey karakter? Seperti namanya, straight to the point. Survei ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana perkembangan karakter siswa selama menjalani pembelajarannya di sekolah. Caranya? Tentunya dengan memberikan lembar survey yang harus di isi oleh siswa.

Pendidikan karakter adalah hal utama yang biasanya lebih dikhawatirkan oleh seorang guru. Kompetensi dasar, kemampuan kognitif, dan keluwesan soft skill murid tidak akan berguna tanpa karakter positif yang menyokongnya.

Survei Lingkungan Belajar

Sama seperti survei lainnya. Hanya saja, survei ini dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana kualitas proses belajar mengajar dari sisi lingkungan yang menunjangnya. Tentunya hal tersebut akan menyangkut civitas sekolah sendiri. Mulai dari staff pengajar, tenaga tata usaha, fasilitas, dan berbagai penunjang lingkungan pembelajaran lainnya.

Kelebihan dan Kelemahan Asesmen Nasional

Asesmen kompetensi semacam ini sebetulnya telah diterapkan oleh banyak Negara lain. Final exam telah banyak ditinggalkan oleh Negara-negara maju dengan alasan yang serupa dengan Mendikbud Nadiem Makarim.

AKM sendiri misalnya, tes tersebut sebetulnya serupa dengan asesmen PISA (Programme for Internasional Student Assessment). Asesmen  PISA juga dilakukan pada responden pelajar dari berbagai belahan dunia untuk mengukur kemampuan literasi dan numerasi siswa.

Hanya saja, kita belum mengetahui sepenuhnya bagaimana dampak penghilangan ujian nasional terhadap siswa di Indonesia. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa Penghapusan ujian akhir dapat menimbulkan masalah dalam berkurangnya kesigapan siswa. Namun, di sisi lain siswa juga menjadi lebih rileks dan terhindar dari stress yang membuat pengalaman belajar mereka jauh lebih baik.

Petunjuk terakhir dari ketidaan final exam yang menentukan kelulusan siswa sejauh ini terus memperlihatkan dampak positif dan membawa dunia pendidikan pada taraf yang lebih tinggi. Untuk diketahui, tugas atau proyek akhir seperti skripsi dan skripsi penciptaan dinilai jauh lebih baik untuk mengetahui hasil pembelajaran seseorang.

Hal tersebut tentunya dapat dan telah dilakukan pula di pendidikan menengah seperti di SMK. Meskipun langkah ini masih terhitung kontroversial dan tampak menantang, namun jalan yang terbuka sangatlah tampak positif dan menjanjikan. Perkara kelemahannya yang dapat mengurangi tingkat kesigapan siswa dapat dikurangi melalui PTS, UAS, dan kuis-kuis yang bisa diberikan oleh sekolah secara mandiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *