Ketika melihat lukisan mungkin pernah terlintas dipikiran kita: Apa yang membuat karya seni bagus atau buruk? Potret wanita cantik atau pemandangan mungkin terlihat jelas keindahannya, tapi bagaimana dengan lukisan abstrak? Beberapa karya seni mungkin nampak jelas keindahannya, tingkat kemiripan sempurna, teknik menggambar hebat yang terlatih selama bertahun-tahun.

Namun bagaimana ketika kita melihat karya seni yang terlihat “tidak berteknik” dan sepertinya anak kecil pun dapat melakukannya tetapi dibanderol dengan harga yang fantastis? Apa yang membuat karya itu mendapatkan penghargaan yang luar biasa, sementara yang tampak hanyalah coretan warna-warni yang tampak tidak teratur.

Salah satu yang menjadi patokan utama masyarakat biasanya adalah kemiripan dan keindahan dari karya seni tersebut. Kenyataannya, hal tersebut hanyalah beberapa poin dari penilaian karya seni yang objektif. Hal itu pula yang menggiring banyak orang keliru dan menjadikan selera sendiri untuk menentukan karya yang bagus, karena bagus atau indah itu tidak memiliki patokan yang sama untuk setiap individu.

“Cantik itu relatif” mungkin adalah salah satu idiom yang cukup relevan dengan fenomena ini. Cantik telah lama dibangun di bawah alam sadar kita semua dan tampak memiliki ciri-ciri yang sama tetapi sebetulnya tidak. Menyadari hal tersebut para pelaku Seni Rupa tidak hanya bergerak mengeksplorasi cantik atau indah berdasarkan subjektivitas yang memberikan ilusi absolut tersebut. Mereka justru mengeksplorasi berbagai potensi keindahan lain di luar konvensi masyarakat.

Indah / Bagus Bukan Patokan Utama

Menilai berdasarkan selera kita sebetulnya sah-sah saja, tetapi ketika hanya memandang karya seni secara subjektif, banyak hal lain yang akan kita lewatkan. Apalagi jika kita memiliki kepentingan terhadap karya tersebut. Misalnya, karya tersebut akan digunakan untuk cover buku yang kita tulis.

Namun kemudian muncul pertanyaan: bagaimana cara memastikan bahwa karya yang akan kita gunakan sebagai cover buku dapat diterima dengan baik oleh masyarakat umum? Apakah karya tersebut memiliki impact yang positif untuk kepentingan kita? atau justru malah memberikan dampak negatif ? Karena alasan itu pula kita harus dapat membedakan karya seni yang baik dan buruk dengan cara yang objektif.

Karya Seni Rupa yang Baik

Tanpa menggali makna “bagus” atau “indah” melalui filsafat atau estetika dan teori lainnya, ada beberapa cara mudah untuk menjawab pertanyaan kita. Hal terpenting adalah kita dapat menilai karya tersebut secara objektif. Kita juga tidak akan terlalu membahas kemampuan teknis seniman seperti tingkat kemiripan gambar atau keindahan subjek, karena hal tersebut juga dapat memicu kekeliruan penilaian. Penilaian suatu karya seni rupa dapat dilakukan dengan beberapa cara di bawah ini.

Perhatikan Komposisi

Komposisi yang dimaksud disini adalah susunan unsur-unsur (elemen) yang dapat memancarkan kesan kesatupaduan, irama, dan keseimbangan dalam suatu karya sehingga karya itu terasa utuh, jelas, dan memikat. Terkadang makna komposisi tumpang tindih dengan Prinsip-prinsip Seni Rupa, padahal terdapat teknik khusus yang berbeda dari prinsip seni rupa untuk mengcompose(merangkai) karya.

Baca juga: Komposisi Fotografi dan Hubugannya dengan Seni Rupa

komposisi fotografi dan hubungannya dengan seni rupa

Lihat dengan seksama komposisi karya tersebut. Apakah frame atau ruang karya telah dimanfaatkan dengan baik oleh seniman tersebut. Bagaimana penempatan suatu obyek/subyek memancing kita untuk terus memandangi karya tersebut? Apakah ada ruang bernafas untuk mata kita saat kita sedang memandangi karya tersebut?

Keseimbangan adalah salah satu prinsip yang dapat kita perhatikan ketika menilai komposisi yang baik dari karya seni. Sama seperti masakan, rasio antara asin, manis, dan pedas harus seimbang agar menjadi sedap di lidah. Masakan yang terlalu pedas hanya akan membuat lidah kita terbakar dan masakan yang kurang garam akan menjadi hambar.

Hal itu berlaku juga untuk karya seni yang baik, terlalu banyak warna mencolok akan merusak komposisi tersebut. Sebaliknya, jika warna kurang variatif beresiko membuat karya tersebut menjadi membosankan. Untuk mencapai komposisi yang baik unsur-unsur seni (elemen seni) harus ditakar sedemikian rupa sehingga mencapai kesatuan yang menarik.

Unsur / Elemen

Tanpa melihat kemiripan gambar (mirip atau tidaknya potret seseorang yang dilukis oleh seniman) Perhatikan setiap elemen yang terdapat pada karya: garis, bentuk, warna. Bagaimana berbagai elemen-elemen tersebut berinteraksi? Apakah ada hal menarik yang terjadi dari berbagai susunan elemen tersebut?

Misalnya: Kedinamisan garis tebal memberikan energi lebih terhadap karya, sapuan cat tipis memberikan kesan melankolis terhadap pandangan kita. Beberapa unsur seni rupa dapat menjadi bahasa komunikasi yang unik.

Lihat juga bagaimana kecerdasan seniman menggunakan unsur tersebut pada karyanya. Misalnya:

  1. Unsur warna digunakan dengan sederhana namun dapat mewakili cahaya,
  2. Gelap-terang (tone) disusun sedemikian rupa agar menghasilkan suasana yang kelam namun artistik,
  3. Bentuk dan ruang digunakan sebagai visual effect hingga dapat menipu mata; gambar dua dimensi nampak seperti tiga dimensi ketika dimanipulasi oleh susunan ruang dan gempal bahkan tanpa bentuk atau goresan tangan yang akurat.

Untuk lebih jelas kita dapat mempelajari hal ini secara utuh pada: prinsip seni rupa yang membahas berbagai prinsip yang dapat diterapkan untuk membuat elemen atau komposisi yang baik.

Baca juga: Prinsip-prinsip Seni Rupa dan Desain

Kemampuan studi terhadap elemen dan prinsip seni rupa juga akan memudahkan kita untuk mengapresiasi karya abstrak yang cenderung lebih sulit untuk dimengerti oleh kebanyakan orang. Elemen Seni Rupa adalah salah satu fundamental pengetahuan seni yang penting untuk dipelajari agar dapat melakukan Kritik Seni Rupa secara utuh.

Kritik Lukisan Abstrak: Cara Memahami Lukisan Abstrak: Kajian Seni di Luar Alam Dunia

Isi / Muatan

Apakah terdapat suatu makna yang dapat ditarik dari karya tersebut? Suasana apa yang terasa saat kita memandanginya. Jika sesuatu pada karya tersebut berhasil memicu dan menggugah kita, maka ada nilai tambah untuk karya tersebut. Selain menghasilkan keindahan visual, suatu karya seni juga dapat menghasilkan keindaha atau hiburan tekstual berupa pesan sosial, kisah, hingga ekspresi dan pendapat pribadi dari senimannya.

Isi adalah suatu hal (biasanya pesan) yang dibawa oleh karya. Isi yang baik biasanya  tidak memaksakan ideologi tertentu (menggurui) melainkan hanya bersifat memicu pesan yang multi tafsir sehingga memberikan ruang opini dan imajinasi sendiri bagi para penikmatnya. Perlu diingat bahwa tidak semua karya seni disisipkan pesan tetapi bukan berarti tidak berisi.

Terkadang beberapa seniman menolak untuk melibatkan kepentingan diluar seni dalam karya mereka agar tetap objektif. Untuk mempelajari isi lebih lanjut diperlukan lintas disiplin yang mungkin kebanyakan akan mempertemukan kita dengan keilmuan sastra dan psikologi. Semiotika adalah disiplin ilmu yang paling tepat untuk memulai mengkaji isi, selain itu Teks (teori sastra kontemporer) adalah salah satu teori yang akan membantu kita lebih memahami isi.

Bukan Hanya Bagus atau Jelek

Setelah melihat tiga poin diatas dapat disimpulkan bahwa karya seni yang baik bukan berarti hanya melihat bagus atau jeleknya suatu karya. Jangan hanya menilai dari keindahannya saja, tapi lihat tiga aspek tersebut, barulah kita dapat menyimpulkan dan mungkin menambahkan poin subjektif sendiri jika diperlukan.

Beberapa karya seni mungkin membutuhkan lebih dari beberapa aspek di atas agar dapat kita pahami dan nilai dengan objektif. Karya seni yang lebih rumit untuk di apresiasi terkadang membutuhkan banyak pisau analisa lintas disiplin untuk di kaji. Pada beberapa konteks, tiga aspek diatas mungkin saja tidak relevan, tetapi masih dapat dijadikan rule of thumb (aturan dasar berdasarkan pengalaman) untuk memulai apresiasi.

Selain agar dapat melakukan penilaian, meluangkan waktu sejenak untuk melihat karya seni secara objektif akan memberikan pengalaman yang lebih kaya dan bermakna. Berbagai hal yang selama ini kita abaikan akan terlihat dengan jelas dan memberikan kepuasan lebih.

Referensi / Daftar Pustaka

  1. Sunaryo, Aryo. 2000. Nirmana, Buku Paparan Perkuliahan Mahasiswa. Semarang: UNNES
  2. Sanyoto, Sadjiman Ebdi. 2005. Dasar-dasar Tata Rupa & Desain. Yogyakarta: Arti Bumi Intaran.

Gabung ke Percakapan

2 tare

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.