Komposisi dalam fotografi erat kaitannya dengan bagaimana pengambilan sudut pandang, penyusunan objek atau pengarahan model dalam mengisi frame suatu foto yang dipotret. Komposisi akan menentukan keseimbangan, kemenarikan, ekspresi, makna, hingga point of interest yang diberikan oleh suatu foto. Oleh karena itu, komposisi dapat dikatakan menjadi salah satu faktor penentu terbesar dalam berhasil atau tidaknya suatu foto untuk menangkap dan menyampaikan maksud yang ingin dituju.

Namun demikian, sebetulnya komposisi fotografi tumpang tindih dengan unsur dan prinsip seni rupa atau nirmana. Hal tersebut karena untuk mencapai komposisi yang baik, diperlukan pemahan terhadap unsur unsur seni rupa dan penerapan prinsip seni rupa yang apik. Karena itu sangat disarankan untuk memahami unsur unsur seni rupa terlebih dahulu sebelum menyelami teknik komposisi fotografi. Setelahnya, kita dapat membaca berbagai prinsip yang menaunginya, sehingga kita dapat menyusun unsur rupa berdasarkan panduan untuk membuatnya tampak indah.

Baca juga: Prinsip prinsip seni rupa dan desain

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, komposisi yang dimaksud di sini adalah teknik framing yang akan langsung menerapkan beberapa prinsip seni rupa jika kita mengaplikasikannya pada karya. Contoh utama dari manfaat komposisi ini, akan terlihat dengan jelas ketika diaplikasikan pada fotografi.

Aturan Komposisi Dasar

Aturan komposisi adalah aturan dasar untuk memulai, lalu menghindari kesalahan umum yang biasa terjadi saat menyusun tata letak gambar. Aturan ini telah terbukti dan teruji dari masa ke masa selalu hadir dan diterapkan pada karya para old master. Selain lukisan, aturan-aturan tersebut juga selalu tampak pada komposisi fotografi.

Salah satu contoh aturan teknisnya adalah menempatkan posisi bagian-bagian yang menarik dari gambar di dekat pertemuan garis horizontal dan vertikal yang membagi gambar menjadi tiga bagian (rule of thirds). Rule of thirds adalah penyederhanaan golden ratio, yaitu algoritma/formula/rumus matematis alam yang memberikan keindahan dan keseimbangan pada berbagai obyek alamiah; bunga, corak kupu-kupu, kerang, dan lain-lain. Penjelasan teknik-teknik tersebut akan dibahas lebih lanjut dibawah.

Fungsi Komposisi Fotografi

Memulai pemotretan atau sketsa desain / seni rupa dengan aturan-aturan dasar komposisi akan memudahkan kita untuk mendapatkan cetak biru ideal bagi karya yang sedang kita garap untuk kemudian dikembangkan, bisa jadi caranya adalah dengan memberontak dari aturan dasar tersebut. Pengaplikasian aturan aturan komposisi dalam pemotretan spontan akan memberikan pilihan hasil foto yang beragam tanpa memberikan hambatan yang terlalu berat.

Teknik Komposisi Fotografi

Berikut ini adalah beberapa teknik komposisi yang umum dipaparkan dalam komposisi fotografi.

Rule of Thirds/Aturan Sepertiga Bidang

Membagi porsi subyek gambar menjadi tiga bagian, baik secara horizontal maupun vertikal, sehingga akan tercapai keseimbangan diantara unsur-unsur yang kita susun dalam satu frame, misal: 30% langit, 30% laut, 30% pasir secara horizontal. Jika menemukan subyek yang menarik pada garis vertikal: pohon kelapa, coba posisikan pada sepertiga bagian dari tiga garis vertikal yang ditarik.

Ilustrasi rule of third / aturan sepertiga bidang, komposisi fotografi dan seni rupa

Rule of Odds/Aturan Keganjilan

Sesuatu yang berjumlah ganjil biasanya akan tampak lebih menarik dan dinamis. Rule of third juga menggunakan angka ganjil untuk membagi proporsi gambar karya secara umum. Angka genap tampak lebih tidak menarik untuk subyek yang natural karena memberikan kesan simetris. Sementara keganjilan akan memberikan kesan yang lebih alami karena ketidaksimetrisannya. Kenaturalan menjadi sangat penting dalam media rupa yang sejatinya sudah tidak natural, karena seni rupa hanyalah rekaan alam, cerminan sosial atau buah pemikiran perupanya sendiri.

rule of odds/aturan keganjilan, komposisi fotografi dan seni rupa

Garis (maya) dalam Komposisi Fotografi

Mengaplikasikan unsur garis pada komposisi dapat memberikan berbagai kelebihan pada karya yang kita garap. Secara umum semua jenis garis dapat diaplikasikan, suasana/perasaan yang ditimbulkan oleh garis masih sama dengan penjelasan mengenai garis pada unsur unsur seni rupa.

Garis Karakter
Lurus Horizontal Tenang, positif
Lurus Vertikal Kokoh, kaku, tegas
Lengkung Fleksibel, harmonis, feminim
Diagonal Dinamis, berenergi, Tegang

Lurus / Horizontal

Memberikan kesan yang tenang, akan menjadi transisi yang baik bila diterapkan dengan benar. Penggunaan garis horizontal umumnya terjadi pada komposisi yang mengaplikasikan rule of thirds atau golden ratio. Dalam fotografi pemandangan, garis ini dapat dengan mudah didapatkan dari hamparan rumput yang luas.

Lurus / Vertikal

Kokoh, seimbang dan akan menghilangkan gangguan lain yang tidak perlu dari point of interest. Dalam fotografi alam, garis vertikal dapat dengan mudah didapatkan dari pepohonan yang menjulang tinggi. Sementara itu dalam cityscape photography, kita bisa mendapatkan garis vertical dari gedung-gedung.

Diagonal

Pengaplikasian garis diagonal akan memberi kesan pergerakan yang cepat, dinamis. Penggunaan garis diagonal lebih menarik perhatian dari horizontal, karena itu tidak cocok untuk menghasilkan suasana yang tenang. Garis diagonal juga akan mengarahkan mata pemirsa dengan cepat pada subyek utama (penekanan utama, focus point, emphasis). Dalam komposisi fotografi, garis diagonal dapat memberikan kesan kedalaman lapangan agar foto tampak semakin berdimensi. Kita bisa mendapatkan garis diagonal dari jalan raya lurus yang diambil dari sudut pandang tertentu untuk memberikan perspektif yang dalam.

Lengkung

Menggunakan garis lengkung akan lebih memancing karya tampak lebih kaya dan berirama. Garis lengkung memberikan arahan mata yang lebih mengalir dibandingkan diagonal, membuatnya lebih cocok ntuk karya yang lebih banyak memiliki detail penunjang dari point of interest. Lengkungan adalah garis yang banyak digunakan dalam beauty photography. Model perempuan dapat diarahkan untuk berpose membentuk S untuk mendapatkan lengkungan yang kuat.

Framing/Pembingkaian

Membingkai adalah teknik untuk menarik perhatian pada subyek dengan memanfaatkan bagian/unsur lain dari komposisi sebagai bingkai(maya) pada penakanan utama (POI, emphasis) karya.

framing/pembingkaian dalam komposisi fotografi dan seni rupa

Terkadang mungkin mengatur komposisi fotografi atau karya seni mungkin terasa terlalu ruwet dan membelenggu kreativitas. Hal itu wajar, karena teori tidak harus selalu diterapkan pada saat praktik, tidak ada aturan absolut dalam menyusun karya seni.

Pada akhirnya mungkin aturan aturan teknik komposisi akan ditinggalkan dengan sendirinya oleh seorang seniman yang telah berpengalaman. Beberapa orang juga mungkin telah mendapatkan insting alamiah untuk menyusun komposisi yang estetis. Tetapi dengan mengerti dan mengetahui aturan tersebut akan memperkaya pemikiran kita di era seni rupa yang telah melampaui keutamaan estetika ini.

Referensi

  1. Handoko, Aran 2016. Repository UNY Yogyakarta. Komposisi dalam Fotografi. Diakses tanggal 15 Januari 2018, http://.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Aran%20Handoko,%20S.Sn.%20M.Sn./Komposisi%20Dalam%20Fotografi%20FOTOGRAFI%202.pdf
  2. Levoy, Marc 2009. Stanford University Computer Graphic Laboratory Site. Composing Good Photographs. Diterbitkan tahun 2009, Diakses tanggal 23 Januari 2018, https://graphics.stanford.edu/courses/cs178-09/lectures/comp…

Gabung ke Percakapan

2 tare

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.