Kerajaan Kutai dapat merujuk pada dua kerajaan yang berbeda, yakni: Kutai Mulawarman/Martapura atau Kutai Kartanegara. Kutai Mulawarman adalah kerajaan Hindu-Buddha pertama di Indonesia. Sementara Kutai Kartanegara adalah kerajaan yang pada akhirnya akan menaklukan Kutai Martapura dan berubah menjadi Kesultanan Islam (Kerajaan Islam).

Sejarah Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia. Bahkan, kerajaan ini adalah kerajaan Hindu Buddha pertama di Indonesia (Kemdikbud, 2017, hlm. 87). Kerajaan ini diperkirakan telah berdiri semenjak abad ke-5 masehi atau kurang lebih 400 masehi.

Kutai tidak terletak dalam jalur perdagangan internasional di nusantara, tapi kerajaan tersebut telah memiliki hubungan dagang dengan negeri India. Melalui hubungan tersebutlah pengaruh Hindu-Budha mulai tersebar.

Salah satu yang menjadi bukti bahwa kerajaan Kutai telah mengalami hubungan dengan India adalah ditemukannya Yupa atau semacam batu yang bertuliskan bahasa Sanskerta. Sanskerta adalah bahasa Hindu asli yang menggunakan aksara palawa. Aksara tersebut telah digunakan di tanah Hindu dari sekitar 400 masehi.

Melalui temuan itu, sejarawan dapat menyimpulkan bahwa Kerajaan Kutai adalah kerajaan hindu yang tertua di Indonesia.

Letak kerajaan Kutai

Letak kerajaan Kutai diperkirakan berada di daerah Muarakaman di tepi sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sungai tersebut adalah sungai yang cukup besar dan memiliki beberapa anak sungai. Lokasi pertemuan antar sungai Mahakam dengan anak sungainya diperkirakan adalah letak Muarakaman di masa lampau.

Peta lokasi Kerajaan Kutai

Sungai Mahakam dapat dilayari dari pantai hingga masuk ke Muarakaman, sehingga sangat strategis untuk menjadi jalur perdagangan. Kemungkinan besar, itulah penyebab orang-orang dari tanah India telah hadir di sana meskipun Kutai tidak berada di jalur internasional yang telah diketahui khalayak dunia.

Peninggalan Kerajaan Kutai: Prasasti Yupa

Tujuh prasasti yupa yang merupakan peninggalan prasasti terpenting Kutai adalah kesatuan prasasti yang masing-masing dipahatkan pada sebuah tiang batu andesit (monolit) yang disebut yupa. Prasasti tersebut beraksara Pallawa Awal dalam bahasa Sanskerta dengan ciri khas aksara Pallawa yang menggunakan box head pada bagian atas aksara (Kemdikbud, 2014).

Yupa adalah tiang batu (tugu) berukuran kurang lebih 1 meter yang ditanam di atas tanah. Pada tiang batu ini terukir prasasti dari kerajaan Kutai yang dianggap msebagai sumber tulisan tertua di Indonesia. Yupa memiliki tiga fungsi utama, yaitu: 1. sebagai prasasti, 2. tiang pengikat hewan untuk upacara korban keagamaan, dan 3. lambang kebesaran raja.

Prasasti ini juga disebut dengan prasasti Kutai atau prasasti Mulawarman. Ketujuh prasasti ini ditemukan di satu lokasi yang sama di Muarakaman, daerah pedalaman sungai Mahakam di Kabupaten Kutai, Provinsi Kalimantan Timur. Berikut adalah penjelasan dan deskripsi ketujuh prasasti tersebut dalam surat keputusan Kemdikbud (2014) mengenai tujuh prasasti Yupa koleksi museum nasional sebagai kawasan cagar budaya peringkat nasional.

Prasasti Yupa I (D.2a)

Berbentuk tiang batu yupa, aksara ditulis pada sisi depan dengan bahasa sansekerta menggunakan aksara Palawa dalam 12 baris tulisan.

Isi Tulisan

Tulisan diawali dengan silsilah Raja Mulawarman yang menyebutkan bahwa Sri Maharaja Kundungga yang berputra Aswawarman mempunyai tiga orang anak. Anak yang paling terkemuka dari ketiga anaknya adalah Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat dan berkuasa. Dituliskan bahwa Mulawarman telah mengadakan upacara bahusuwamnakam (emas amat banyak) sebagai tanda peringatan selamatan tersebut maka tugu ini didirikan oleh para brahmana.

Prasasti Yupa II (D.2b)

Bentuknya masih sama, tulisan juga dipahatkan pada sisi depan namun hanya memiliki 8 baris tulisan dalam aksara palawa dan bahasa sanskerta.

Isi Tulisan

Prasasi menyebutkan bahwa Sri Mulawarman adalah raja mulia dan terkemuka dan telah memberikan sedekah sebanyak 20.000 ekor sapi kepada para kaum Brahmana. Diibaratkan bahwa Sri Mulawarman seperti api di tanah suci waprakeswara sebagai tanda kebijakan sang raja. Tugu peringatan ini juga dibuat oleh para Brahmana yang datang di tempat tersebut.

Prasasti Yupa III (D.2c)

Prasasti memiliki bentuk yang sama dengan yang lain (berupa yupa) dan memiliki 8 baris tulisan yang menggunakan aksara palawa dan bahasa sanskerta.

Isi Tulisan

Menyebutkan tentang kebaikan budi dan kebesaran Raja Mulawarman, raja besar yang sangat mulia diwujudkan dengan sedekah yang banyak sekali. Karena kebaikan itulah para brahmana mendirikan kembali yupa (tugu) ini sebagai tanda peringatan.

Prasasti Yupa IV

Memiliki profil bentuk, ukuran dan tulisan yang sama dengan ketujuh yupa yang ditemukan. Namun, tulisan sudah terhapus dan tidak diketahui isinya. bagian yang masih jelas hanyalah pahatan bentuk segiempat kecil bekas “kepala aksara” yang oleh J.G. de Casparis disebut “box-heads” (de Casparis, 1975: 86).

Prasasti Yupa V

Prasasti ini dipahatkan pada bagian sisi depan dan hanya memuat 4 baris tulisan beraksara Palawa dalam bahasa Sanskerta.

Isi Tulisan

Yupa ditulis sebagai peringatan atas dua sedekah yang telah diberikan oleh Raja Mulawarman, berwujud segunung minyak kental dan lampu dengan malai bunga.

Prasasti Yupa VI

Prasasti dipahatkan pada bagian depan dengan 8 baris tulisan beraksara Palawa dalam bahasa Sanskerta. Sayangnya bagian atas dan sisi kiri prasasti telah rusak (pecah) dan terdapat beberapa kata pada akhir baris terputus.

Isi Tulisan

Prasasti dimulai dengan seruan selamat kepada Sri Maharaja Mulawarman yang termashur, yang telah memberikan persembahan kepada kaum Brahmana berupa air, keju (ghrta), dan minyak wijen, ditambah dengan sebelas ekor sapi jantan.

Prasasti Yupa VII

Masih sama dengan ketujuh prasasti yang ditemukan di tempat itu, prasasti ini terdiri dari 8 baris aksara Palawa dalam bahasa Sanskerta. Namun, terdapat beberapa baris yang telah aus aksaranya, sehingga tidak dapat dibaca lagi.

Isi Tulisan

Sri Maharaja Mulawarman yang terkenal telah menaklukkan raja-raja lain dan menguasainya, seperti Raja Yudhistira, Diwa prakeswara, beliau menghadiahkan 40.000 (….), dan kemudian menghadiahkan lagi 30.000. Disebutkan pula bahwa terdapat penyelenggaraan upacara-upacara lainnya. Tugu tersebut dibangun oleh para Brahmana yang datang dari daerah lain.

Sebetulnya masih banyak peninggalan lainnya seperti ketopong sultan, kalung ciwa, kalung uncal, tali juwita, keris bukit kang, kelambu kuning, dsb. Namun berbagai peninggalan tersebut adalah peninggalan Kutai Kartanegara yang dianggap oleh para Sejarawan sudah menjadi kerajaan yang berbeda terutama dari sisi agama yang telah berpindah menjadi Islam.

Pendiri Kerajaan Kutai

Kerajan Kutai Martadipura (Mulawarman) didirikan oleh pembesar kerajaan Campa (Kamboja) bernama Kudungga, yang selanjutnya menurunkan Raja Asmawarman, kemudian Raja Mulawarman.

Ketiga raja tersebut merupakan raja yang paling tersohor (tertuama Mulawarman) karena berhasil membawa kerajaan ini ke masa keemasannya. Bahkan beberapa sejarawan menganggap bahwa Mulawarman adalah pendiri kerajaan Kutai karena berhasil membawakan stabilitas sosial, politik, dan ekonomi di kerajaan ini.

Dari tulisan yang tertera pada prasasti yupa peninggalan kerajaan Kutai, nama raja Kundungga diperkirakan merupakan nama asli Indonesia. Namun, generasi selanjutnya seperti Aswawarman dan Mulawarman menunjukkan nama yang telah terpengaruh dan diambil dari nama India. Upaacara yang dilaksanakan juga sudah menujukan kegiatan upacara agama Hindu.

Silsilah Kerajaan Kutai

Kerajaan ini bertahan hingga dua puluh satu generasi, nama-nama raja dari masing-masing generasi adalah sebagai berikut.

  1. Maharaja Kudungga, bergelar Anumerta Dewawarman (pendiri)
  2. Maharaja Aswarman (anak Kudungga)
  3. Maharaja Mulawarman (raja yang terkenal)
  4. Maharaja Marawijaya Warman
  5. Maharaja Gajayana Warman
  6. Maharaja Tungga Warman
  7. Maharaja Tungga Warman
  8. Maharaja Jayanaga Warman
  9. Maharaja Nalasinga Warman
  10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
  11. Maharaja Indra Warman Dewa
  12. Maharaja Sangga Warman Dewa
  13. Maharaja Candrawarman
  14. Maharaja Sri Langka Dewa
  15. Maharaja Guna Parana Dewa
  16. Maharaja Wijaya Warman
  17. Maharaja Sri Aji Dewa
  18. Maharaja Mulia Putera
  19. Maharaja Nala Pandita
  20. Maharaja Indra Paruta Dewa
  21. Maharaja Dharma Setia

Masa Kejayaan Kerajaan Kutai

Pada masa kekuasaan Raja Mulawarman Kutai mengalami zaman keemasan. Kehidupan ekonomi mengalami perkembangan yang pesat. Kejayaan ini dapat dilihat dari aktivitas ekonomi. Dalam salah satu prasasti dupa yang ditemukan dikatakan bahwa Raja Mulawarman telah melakukan upacara slametan emas yang sangat banyak.

Tidak hanya itu, bahkan diperkirakan kerajaan ini telah menjalin hubungan dagang internasional yang cukup besar. Para saudagar yang melewati jalur perdagangan internasional dari India melewati Selat Makassar, terus ke Filipina dan sampai di Cina diperkirakan biasa singgah terlebih dahulu di Kutai. Hal tersebut membuat kerajaan Kutai semakin ramai dan makmur.

Selain itu, kejayaan ini juga tampak dari adanya golongan terdidik. Golongan ini terdiri dari ksatria dan brahmana yang kemungkinan besar telah berlayar ke India atau pusat-pusat penyebaran agama Hindu lainnya di Asia Tenggara. Masyarakat golongan tersebut mendapatkan kedudukan terhormat di Kutai.

Kehidupan Kerajaan Kutai

Kehidupan kerajaan Kutai berpusat pada keunggulan letak geografisnya. Kerjaan ini berdiri di lokasi strategis yang dapat diakses dengan mudah melalui jalur maritim, hingga dapat bercocok tanam di lahan subur berkat sungai Mahakam. Berikut adalah penjelasan kehidupan Kerajaan Kutai dari beberapa aspek-aspek utamanya.

Kehidupan Sosial

Kerajaan Kutai memiliki golongan masyarakat yang mampu menguasai bahasa Sanskerta dan sudah terbiasa menulis menggunakan aksara Palawa. Namun hanya terbatas pada golongan-golongan Brahmana. Penggolongan kelas masyarakat tersebut menjadi salah satu sistem sosial di sini.

Golongan yang lain adalah Ksatria yang terdiri dari kerabat-kerabat kerajaan. Masyarakat Kutai sendiri merupakan penduduk yang masih menjunjung tinggi suatu kepercayaan asli dari leluhurnya. Kerajaan sendiri telah berdasarkan agama Hindu Syiwa dan golongan para brahmana (termasuk Mulawarman).

Kehidupan Politik

Mulawarman adalah raja yang paling disegani, namun tetap bijaksana dan murah hati. Bahkan Kudungga yang merupakan leluhurnya dapat dikatakan bukanlah pendiri Kutai karena dianggap masih terlalu banyak menggunakan konsep kerajaan yang terbatas terhadap keluarga raja saja.

Sementara itu, Mulawarman berhasil menciptakan stabilitas politik dengan cara melibatkan golongan lain di dalam kerajaan. Buktinya tertulis dalam salah satu Yupa yang ditemukan dan menyebutkan bahwa “Mulawarman adalah raja yang paling berkuasa, kuat, dan bijaksana”. Ia juga dikenal sebagai raja yang sangat dekat dengan kaum Brahmana dan rakyat.

Kehidupan Ekonomi

Kutai terletak di tepi sungai mahakam, sehingga aktivitas utama dari masyarakatnya adalah melakukan kegiatan pertanian. Selain itu, mereka juga banyak melakukan perdagangan dengan negeri luar. Mata pencaharian lain banyak dilakukan oleh masyarakat kerajaan Kutai adalah beternak sapi.

Dalam salah satu Yupa yang ditemukan tertulis bahwa Raja Mulawarman sempat memberikan hadiah sapi sebanyak 20.000 ekor kepada para brahmana. Artinya, pada abad ke-5 telah ada suatu peternakan yang sangat maju di kerajaan Kutai.

Keruntuhan Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai runtuh ketika Raja Kutai tewas dalam peperangan melawan calon Raja Kutai Kartanegara ke-13, yaitu Aji Pangenan Anum Panji Mendapa. Perlu digaris bawahi bahwa Kutai Kartanegara adalah kerajaan berbeda yang berada di Kutai Lama (Tanjung Kute).

Sumber lain mengatakan bahwa yang berhasil mengalahkan Kutai Mulawarman/ Kutai Martapura dikenal dengan nama Sultan Aji Muhammad Idris. Selanjutnya, Kutai Kartanegara memang berubah menjadi kerajaan Islam yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara. Gelar raja dan pangeran juga telah berubah menjadi Sultan.

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Sejarah Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. Kemdikbud. (2014). Surat Keputusan Mendikbud: Tujuh prasasti yupa koleksi museum nasional sebagai kawasan cagar budaya peringkat nasional. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tersedia online: https://munas.kemdikbud.go.id/ecagarbudaya/prasastiyupa279m2014.pdf
  3. Mamat Ruhimat, dkk. (2006). Ips Terpadu kelas VII Jilid 1. Jakarta: Grafindo Media Pratama.

Gabung ke Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *