Kerajaan Tarumanegara: Sejarah, Kejayaan, Silsilah, Keruntuhan, dsb

kerajaan-tarumanegara-sejarah-kejayaan-keruntuhan-lokasi-silsilah-lengkap

Tarumanegara merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia (kedua setelah Kutai). Berikut adalah pembahasannya mulai dari pendiri, peninggalan, letak (lokasi), kehidupan sosial, politik, ekonomi, masa kejayaan hingga penyebab keruntuhannya berdasarkan sumber terpercaya dan pustaka referensi terlampir.

Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia setelah Kerajaan Kutai. Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada abad 4-7 masehi atau 358M (berdasarkan naskah wangsakerta). Kerajaan ini didirikan oleh Jayasingawarman yang datang dari India setelah kalah berperang di sana.

Tarumanegara juga meninggalkan banyak peninggalan seperti halnya kerajaan lain. Namun, yang menarik adalah kerajaan ini juga disebutkan dalam sumber sejarah negeri lain, yakni di Cina. Rasanya cukup pas jika kita memulai kisahnya dari pendirinya terlebih dahulu.

Pendiri Kerajaan Tarumanegara

Purwadi (2014, hlm. 37) mengungkapkan bahwa berdasarkan naskah wangsakerta, Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358. Dalam naskah itu, dikatakan pada abad ke-4 Masehi nusantara didatangi oleh sejumlah pengungsi dari India yang mencari perlindungan akibat terjadi peperangan besar di sana.

Umumnya pengungsi tersebut berasal dari daerah kerajaan Palawa dan Calankaya di India. Salah satu rombongan pengungsi tersebut dipimpin oleh seorang Maharesi yang bernama Jayasingawarman.

Ketika telah mendapatkan persetujuan dari raja Jawa Barat (Dewawarman VIII, raja Salakanagara) maka mereka membangun tempat pemukiman baru di dekat sungai Citarum. Pemukiman tersebut disebut Tarumadesya (desa Taruma).

Sepuluh tahun berjalan ternyata desa ini banyak didatangi oleh orang-orang, sehingga Tarumadesya menjadi besar. Pada akhirnya wilayah yang hanya setingkat desa tersebut berkembang menjadi kota (nagara).

Lambat laun kota tersebut semakin menunjukkan perkembangan yang pesat, sehingga Jayasingawarman membentuk kerajaan yang dinamakan Tarumanagara.

Letak Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara terletak di Jawa Barat (tanah Sunda), di antara sungai Citarum dan Cisadane. Para ahli membuat perkiraan tersebut berdasarkan prasasti-prasasti peninggalan Tarumanegara yang ditemukan di sekitar sana.

Saptika (2011, hlm. 5) mengungkapkan bahwa kerajaan Tarumanegara atau kerajaan Taruma adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dan berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke 4 hingga abad ke 7 masehi.

Dari namanya, Tarumanegara diambil dari kata taruna yang diperkirakan berkaitan dengan kata tarung yang artinya nila. Kata tarung digunakan sebagai nama sungai di Jawa Barat, yaitu sungai Citarum. Kebanyakan para ahli memperkirakan pusat kerajaan Tarumanegara berada di dekat kota Bogor.

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan ini banyak meninggalkan berbagai peninggalan yang menjadi bukti bahwa kerajaan ini pernah berdiri. Peninggalan mencakup prasasti, topeng emas, dsb. Menariknya lagi, nama kerajaan ini semat disebutkan dalam peninggalan dokumen atau naskah bersejarah di negeri Cina .

Prasasti Kerajaan Tarumanegara

Salah satu peninggalan kerajaan ini adalah tujuh prasasti tarumanegara. Prasasti ditemukan di tempat-tempat yang berbeda namun tidak terlalu jauh satu sama lain. Berikut adalah beberapa prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara.

Prasasti Ciareteun

Pada prasasti ini ditemukan ukiran laba-laba dan telapak kaki serta sajak beraksara palawa dalam bahasa Sanskerta. Berdasarkan pembacaan oleh Poerbatjaraka dalam (Hardiati, 2010, hlm.50) prasasti ini berbunyi:

Ini (bekas) dua kaki, yang seperti kaki Dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Sang Purnavarman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.

prasasti-ciareteun-peninggalan-kerajaan-tarumanegara
Prasasti Ciareteun, peninggalan Kerajaan Tarumanegara.

Prasasti Jambu (Koleangkak)

Seperti namanya, prasasti ini ditemukan di kawasan perkebunan jambu, bukit Pasir Koleyangkak, Leuwiliang, Kabupaten Bogor atau 30 Km setelah bagian barat Bogor. Prasasti ini juga disebut Prasasti Koleangkak atau Pasir Jambu.

Isi dari tulisan yang dituliskan dalam prasasti pasir jambu adalah sebagai berikut. (Hardiati, 2010, hlm. 50)

Gagah, mengagumkan, dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya, yang termashur Sri Purnawarman, yang sekali waktu (memerintah) di Taruma dan baju zirahnya yang terkenal (warman). Tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang tapak kakinya yang senantiasa berhasil menggempur kota-kota musuh, hormat kepada pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya.”

prasasti-jambu-pasir-koleangkak
Gambar Prasasti Pasir Jambu / Koleangkak

Dapat disimpulkan bahwa isinya adalah:

“Tapak kaki ini adalah tapak kaki Sri Purnawarman raja Tarumanegara. Baginda termasyhur gagah berani, jujur dan setia menjalankan tugasnya, dan tak ada taranya. Baginda selalu berhasil membinasakan musuh-musuhnya. Baginda hormat kepada para pangeran tetapi sangat ditakuti oleh musuh-musuhnya, serta melindungi mereka yang memberikan bantuan kepadanya”.

Prasasti Pasir Awi

Ditemukan di pasir asi, Bogor. Dalam prasasti ini juga terdapat gambar telapak kaki dan tulisan ikal. Namun, sayangnya isi dari prasasti ini belum dapat disimpulkan oleh para ahli.

Prasasti pasir awi
Prasasti pasir awi, peninggalan kerajaan tarumanegara

Prasti Kebun Kopi

Prasasti kebun kopi ditemukan di kampung Muara Hilir, Cibungbulan, Bogor. Isinya tidak terlalu banyak, berikut adalah isi dari prasasti kebun kopi (Hardiati, 2010, hlm. 52):

Di sini nampak sepasang tapak kaki… yang seperti Airwata, gajah penguasa taruma (yang) agung dalam … dan (?) kejayaan.

Gambar prasasti Kebun Kopi (Kebon Kopi)
Gambar prasasti Kebun Kopi (Kebon Kopi)

Sumber lain mengungkapkan bahwa Isinya, dapat pula disimpulkan menjadi:

“telapak kaki seperti telapak kaki airawata. Airawata adalah gajah kendaraan dewa Indra. Inilah telapak kaki penguasa negara Taruma yang agung.”

Didalamnya juga diperkirakan dideskripsikan mengenai kejayaan kerajaan Taruma atau Tarumanegara/ Tarumanagara.

Prasasti Muara Cianten

Prasasti ini ditemukan di Muara Cianten, Bogor. Prasasti ini memiliki kemiripan dengan Prasasti Awi (memiliki gambar telapak kaki dan tulisan ikal). Namun, tulisan atau isinya belum dapat disimpulkan oleh para Ahli.

Prasasti Muara Cianten
Prasasti Muara Cianten

Prasasti Tugu

Prasasi ini ditemukan di Tugu, daerah Cilincing, DKI Jakarta dekat perbatasan dengan daerah Bekasi. Isinya menyebutkan :

“Dahulu sungai yang bernama candra bhaga telah (disuruh) gali oleh Maharaja Purnamarwan. Maharaja yang mulia mempunyai lengan yang kuat. Setelah sampai ke istana kerajaan yang termasyhur, sungai dialirkan ke laut.

Di dalam tahun ke-22 dari takhta yang mulia raja Purnawarman yang gemerlapan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji dari segala raja-raja.

Baginda memerintahkan pula, menggali sungai yang permai bersih jernih yang bernama gomati setelah sungai itu mengalir di tempat kediaman yang mulia Nenekda sang pendeta (sang Purnawarman).

Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik tanggal 8 paro petang bulan Phalguna dan selesai pada tanggal 13 paro terang bulan Caitra, hanya 21 hari saja sedang galian itu panjangnya 6122 tumbak. Upacara (selamatan) itu dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dikorbankan.

Diduga, penggalian untuk membuat sungai tersebut dilakukan untuk mengendalikan banjir dan membantu usaha pertanian yang diperkirakan berada di wilayah Jakarta saat ini. Sungai tersebut adalah sungai Candrabaga.

Prasasti Tugu, peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Prasasti Tugu, peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Prasasti Lebak (Cidanghiang)

Prasasti ditemukan di kampung Lebak, tepi sungai Cidanghiang, kecamatan Muncul, kabupaten Pandeglang, Banten. Oleh karena itu, terkadang prasasti ini juga disebut prasasti Cidanghiang atau prasasti Munjul. Dalam prasasti ini disebutkan:

“inilah tanda keperwiraan yang mulia Purnawarman. Baginda seorang raja yang agung dan gagah berani. Baginda seorang raja dunia dan menjadi panji sekalian raja”.

Prasasti ini juga memuat batas-batas kerajaan Tarumanegara, yakni: sebelah barat berbatasan dengan laut, sebelah selatan juga berbatas dengan laut, sebelah timur dengan sungai Citarum dan sebelah utara dengan daerah Karawang.

Prasasti lebak (Cidanghiang)
Prasasti lebak (Cidanghiang)

Situs Pasir Angin

Situs ini terletak di Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang berada pada bukit kecil di sebelah utara daerah aliran sungai Cianten yang mengalir dari selatan ke utara. Di bukit tersebut terdapat monolit setinggi 1,2 m.

Di sini, ditemukan berbagai artefak seperti: tembikar, porselin, kemarik dari bahan batuan, artefak kaca, artefak perunggu, besi, dan emas. Salah satu artefak tersebut adalah topeng emas.

Topeng emas peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Topeng emas peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Sumber Sejarah Luar Negeri

Sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara ternyata juga didapat dari berita musafir China yang bernama Fa-Hien. Musafir yang datang di Jawa pada tahun 414 M membuat catatan tentang adanya Kerajaan To-lo-mo. atau Taruma. Istilah To-lo-mo ini tentu dimaksudkan pada kerajaan Tarumanegara.

Sumber sejarah dari luar negeri didapatkan dari berita musafir China yang bernama Fa-Hien. Fa-Hien dating ke tanah Jawa pada tahun 414 M untuk membuat catatan mengenai keberadaan kerajaan To-lo-mo. Kerajaan yang di maksud ternyata mengarah pada kerajaan Tarumanegara.

Dalam catatan Fa-Hien dikatakan bahwa dalam perjalanannya menuju India, ia singgah di Yo-p’o-ti dan berdiam di sana selama 5 bulan, di sana sedikit sekali pemeluk Budha. Sementara itu, dalam kronik dinasti Tang (618-906) diungkapkan bahwa antara tahun 528-539 dan 666-669 telah dating di Cina utusan dari Kerajaan To-lo-mo (Tarumanegara).

Kehidupan Kerajaan Tarumanegara

Berikut adalah kehidupan kerajaan tarumanegara dilihat dari beberapa aspek seperti kehidupan politik, kehidupan agama, sosial-ekonomi.

Kehidupan Politik Tarumanegara

Raja Purnawarman tampaknya adalah raja yang paling berpengaruh dan disegani baik oleh rakyat maupun musuhnya. Diperkirakan bahwa Purnawarman setidaknya telah berkuasa selama 22 tahun. Ia juga berhasil membawa Tarumanegara ke masa kejayaannya. Selain itu, Purnawarman juga telah berhasil menjalin hubungan diplomatic dengan Cina.

Kehidupan Agama Tarumanegara

Agama yang dianut raja Purnawarman dan rakyatnya adalah agama Hindu Siwa, dimana kaum Brahmana memegang peranan penting dalam upacara. Sedangkan gambar telapak kaki Dewa Wisnu merupakan simbol karena Dewa Wisnu pada umumnya dihormati sebagai dewa pelindung dunia.

Tarumanegara didiominasi oleh agama Hindu Siwa, di mana kaum Brahmana memegang peranan penting dalam upacara keagamaan. Gambar telapak yang berkali-kali muncul di atas prasastinya adalah salah satu konfirmasi utamanya.

Berdasarkan berita atau jurnal Fa-Hien, di To-lo-mo (Tarumanegara) terdapat tiga agama, yakni: Hindu, Budha, dan agama nenek moyang (animisme). Rajanya memeluk agama Hindu. Sementara adanya dua agama lain menunjukkan bahwa sikap toleransi beragama telah dijunjung tinggi di Tarumanegara.

Kehidupan Ekonomi Tarumanegara

Raja Purnawarman sangat memperhatikan kemakmuran rakyatnya. Ia bahkan membangun sebuah kanal atau parit untuk kepentingan perekonomian rakyatnya yang menyangkut: irigasi, pelayaran/ perdagangan, dan menghindari bahaya banjir.

Peninggalan artefaknya juga menunjukkan ciri atau aspek kepercayaan megalitik yang telah berkembang dengan masyarakat yang cenderung memiliki mata pencaharian dengan cara bercocok tanam (Munandar, 2011, hlm.21)

Masa Kejayaan Tarumanegara

Tarumanegara mencapai puncak kejayaannya ketika dibawah pimpinan Purnawarman. Pada masa kepemrintahan Purnawarman, kekuasaan Tarumanegara diperluas dengan menaklukan berbagai kerajaan-kerajaan yang berada di sekitarnya.

Luas Kekuasaan Tarumanegara hampir sama dengan luas daerah Jawa Barat sekarang. Selain itu Purnawarman juga menyusun undang-undang kerajaan, peraturan angkatan perang, strategi dan siasat perang serta pustaka-pustaka lainnya.

Purnawarman juga dikenal sebagai raja yang memperhatikan rakyatnya. Lagi-lagi salah satu kebijakannya yang paling berpengaruh besar adalah pemindahan ibu kota ke daerah tepi pantai (lokasi yang lebih strategis) dan penggalian sungai untuk irigasi, akses maritime dan penghalau banjir.

Silsilah Kerajaan Tarumanegara

Jika diurutkan berdasarkan silsilah keluarga raja-raja yang pernah memegang tahta Tarumanegara, maka daftarnya adalah sebagai berikut.

  1. Jayasingawarman 358-382 M,
    Merupakan pendiri Tarumanegara, ia adalah seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan oleh Maharaja Samudragupta dari kerajaan Gupta. Awalnya ia hanya meminta izin untuk membangun pemukiman disana, namun pemukiman tersebut menjadi kota besar dan merupakan cikal bakal kerajaan Tarumanegara.
  2. Dharmayawarman (382-395 M)
  3. Purnawarman (395-434 M)
    Purnawarman adalah raja yang berhasil membawa kerajaan Tarumanegara ke masa keemasannya. Ia membangun ibukota baru pada tahun 397 yang letaknya lebih dekat ke pantai dan diberi nama sundapura. Nama Sunda sudah mulai digunakan pada masa ini sebagai sebutan yang lebih singkat dari ibu kota kerajaan. Pustaka Nusantara, Parwa II, Sarga 3 (hlm. 159-162) menyebutkan bahwa dibawah kepemimpinan Purnwarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Rajatapura di daerah Telu Lada, Pandeglang hingga ke Purwalingga yang kemungkinan besar sekarang adalah Purbalingga, Jawa Tengah.
  4. Wisnuwarman (434-455)
  5. Indrawarman (455-515)
  6. Candrawarman (515-535)
  7. Suryawarman (535-561)
  8. Kertawarman (561-628)
  9. Sudhawarman (628-639)
  10. Hariwangsawarman (639-640)
  11. Nagajayawarman (640-666)
  12. Linggawarman (666-669)
    Linggawarman memiliki dua putri yaitu Manasih dan Sobakancana. Putri bungsunya, Sobakancana menjadi istri Dapunta Hyang, pendiri kerajaan Sriwijaya. Sementara itu, putri sulungnya (Manasih) menjadi istri Tarusbawa yang kemudian menggantikan Linggawarman pada tahun 669.
  13. Tarusbawa (669-723 M)
    Tarusbawa adalah menantu Linggawarman yang menikah dengan Manasih. Di bawah kepemimpinannya kerajaan Tarumanegara kemudian diganti menjadi Kerajaan Sunda pada tahun 670.

Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara

Melalui sumber berita Cina dari dinasti Tang, disebutkan bahwa setelah tahun 669 M, To-lo-mo tidak pernah mengirimkan utusannya lagi kesana. Kemungkinan besar alasannya adalah karena Tarumanegara telah runtuh.

Ditemukan pula dalam prasasti Kota Kapur peninggalan Sriwijaya bahwa mereka telah menundukkan “bhumi jawa” yang sebelumnya tidak mau tunduk. Kala itu, di pulau Jawa tidak ada kerajaan lain selain Tarumanegara, maka kemungkinan besar yang di serang dan ditaklukan itu adalah Tarumanegara.

Selain itu, kenyataan juga menunjukkan bahwa sekitar akhir abad ke-7 M sejarah Jawa menjadi kabur, atau sulit untuk dicari. Baru pada tahun 732 M (abad ke-8) muncul prasasti dari raja Sanjaya yang dikenal prasasti Canggal (732 M) ditemukan di kaki gunung Wukir, Kedu Selatan, Jawa Tengah.

Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanegara, Jawa Barat berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Kemudian, lahirlah kerajaan Sunda di bawah pimpinan Tarusbawa. Sumber prasasti menyebutkan bahwa nama “Sunda” sebetulnya sudah disebutkan sebelumnya oleh Purnawarman (Sundapura, Ibu kota Tarumanegara).

Pada akhirnya, penyebab keruntuhan kerajaan ini belum dapat dipastikan dan hanya dapat mengacu pada dua sumber berbeda, yakni: 1. Kerajaan ini ditaklukkan oleh Sriwijaya, 2. Kerajaan ini mengalami integrasi lewat diplomasi (dinikahinya Putri Tarumanegara oleh pendiri Sriwijaya) dengan Sriwijaya dan berubah menjadi Kerajaan Sunda.

Referensi

  1. Hardiati, Endang Sri. (2010). Sejarah Nasional Indonesia II, Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.
  2. Munandar, Agus Aris. (2011). Profil Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Jawa Barat, dalam Khasanah Sejarah dan Buday (Edisi revisi). Bandung: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.
  3. Purwadi. 2014. Sejarah kehidupan kraton dan perkembangannya di Jawa. Yogyakarta: Media Abadi.
  4. Saptika. 2011. Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia. Jakarta: Alfabeta.

Berikan Komentar

Kembali ke Atas