Kebanyakan orang cenderung mengartikan lingkungan secara sempit, seolah-olah lingkungan hanyalah alam sekitar di luar diri manusia atau individu. Padahal, lingkungan tidak terbatas pada hal konkret yang terdapat di sekitar kita. Bentuk lingkungan dapat berupa hal yang nonfisik bahkan abstrak (berupa ide gagasan yang tidak konkret). Contohnya, suasana kehidupan di suatu tempat adalah lingkungan, nilai dan norma masyarakat adalah lingkungan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan merupakan lingkungan.

Lingkungan merupakan segala hal yang mampu merangsang seseorang sehingga mengalami perubahan atau perkembangan tingkah laku. Pengaruhnya sendiri sangatlah kuat namun seseorang yang terpengaruhi bisa jadi tidak menyadarinya sama sekali. Pernyataan tersebut menunjukkan betapa krusialnya lingkungan terhadap perubahan dan perkembangan seseorang yang menjadi hakikat pendidikan, yakni ingin memberikan perubahan tingkah laku dan sikap peserta didik sesuai dengan tujuannya.

Bahkan dalam teori belajar behavioristik, disebutkan bahwa manusia adalah homo mecanicus, yang berarti manusia berperilaku berdasarkan lingkungan, layaknya robot yang mengikuti perintah pemrogramnya, yakni lingkungannya sendiri. lingkungan dianggap menjadi stimulus, dan tingkah laku kita adalah respons terhadap stimulus tersebut.

Media pembelajaran merupakan salah satu alat krusial yang dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dan rahasianya adalah media ini mampu mengubah lingkungan. Suatu media pembelajaran yang baik mampu mengubah lingkungan pembelajaran sehingga menjadi lebih kondusif dan meningkatkan kualitas proses interaksi yang terjadi antara pendidik dan peserta didik.

Berdasarkan beberapa eksposisi di atas, rasanya dapat disepakati bahwa lingkungan memegang peranan yang amat penting dalam menyukseskan pendidikan. Lingkungan pendidikan merupakah salah satu hal yang tidak boleh dilewatkan agar kita mampu menyelenggarakan pendidikan yang lebih baik. Berikut adalah berbagai pemaparan mengenai lingkungan pendidikan, mulai dari pengertian, jenis, hingga berbagai dampak yang bisa diberikannya.

Pengertian Lingkungan Pendidikan

Secara harfiah lingkungan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mengitari kehidupan, baik berupa fisik seperti alam jagat raya dengan segala isinya, maupun berupa nonfisik, seperti suasana kehidupan beragama, nilai-nilai, dan adat istiadat yang berlaku di masyarakat, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan yang berkembang, kedua lingkungan tersebut hadir secara kebetulan, yakni tanpa diminta dan direncanakan oleh manusia (Nata, 2016, hlm. 290).

Selanjutnya, menurut Sartain (dalam Purwanto, 2017, hlm. 28) lingkungan adalah semua kondisi-kondisi dalam dunia ini yang dalam cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes kita kecuali gen-gen dan bahkan gen-gen dapat pula dipandang sebagai menyiapkan lingkungan bagi gen yang lain. Artinya, tingkah laku dapat diturunkan melalui gen di luar kondisi biologis kita. Ini juga memperkuat argumen bahwa sikap atau kepribadian seorang individu bukan atau tidak sepenuhnya diturunkan secara biologis dari orangtuanya, melainkan dari lingkungannya.

Sementara itu, Surya (2020, hlm. 34) berpendapat bahwa lingkungan adalah segala hal yang merangsang individu, sehingga individu turut terlibat dan mempengaruhi perkembangannya. Perubahan perilaku atau tingkah laku yang ditunjukkan oleh individu adalah respons dari stimulus atau rangsangan dari lingkungan tersebut. Artinya, manusia adalah lingkungannya sendiri, sehingga lingkungan amatlah penting untuk dibangun menjadi sebaik mungkin agar individu dan masyarakat yang hidup di dalamnya ikut menjadi baik.

Dapat disimpulkan bahwa lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang mencakup iklim, geografis, adat istiadat, tempat tinggal, budaya, pengetahuan, dan segala hal baik fisik maupun nonfisik yang dapat mempengaruhi tingkah laku, pertumbuhan, dan perkembangan seseorang.

Macam-Macam Lingkungan Pendidikan

Secara sadar, seorang individu akan belajar dari orangtua, anggota masyarakat lain yang dituakan, saudara, hingga individu-individu lain yang berniat secara langsung mengajarkan sesuatu padanya, termasuk guru di sekolah. Namun secara tidak seseorang juga dapat belajar dengan mendapat informasi secara insidental dalam berbagai situasi sambil mengamati kelakuan orang lain, membaca buku, menonton televisi, mendengar percakapan orang dan sebagainya atau menyerap kebiasaan-kebiasaan dalam lingkungannya (Nasution, 2014, hlm. 126).

Berdasarkan uraian di atas, kita mendapati bahwa lingkungan merupakan sumber belajar sekaligus pengajaran yang terjadi secara tidak sengaja dan dilakukan secara tidak sadar. Dari uraian di atas juga kita dapat menyimpulkan bahwa bentuk atau jenis lingkungan amatlah beragam, baik keluarga, sekolah, maupun situasi sosial masyarakat di sekitar. Berkaitan dengan hal itu, Ki Hajar Dewantoro membedakan lingkungan pendidikan menjadi tiga dan dikenal sebagai Tri Pusat Pendidikan yang meliputi:

  1. lingkungan keluarga,
  2. lingkungan sekolah, dan
  3. lingkungan masyarakat.

Berikut akan dijelaskan masing-masing lingkungan pendidikan tersebut.

Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan sosial yang paling awal yang kemudian dilengkapi dengan lingkungan pendidikan di sekolah dan lingkungan masyarakat secara lebih luas. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa perilaku manusia tidak diwariskan secara genetis. Seorang anak berperilaku seperti orangtuanya karena orangtua merupakan lingkungan terdekat dan terbanyak yang ia temui sehari-hari. Hal tersebut tentunya baru terjadi jika orangtua menjalankan perannya dengan baik dalam keadaan keluarga yang ideal.

Keluarga merupakan satuan terkecil dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dalam suatu masyarakat. Pada satuan keluargalah terbentuk tahap awal proses sosialisasi dan perkembangan individu (Ramayulis, hlm. 147). Keluarga adalah masyarakat alamiah yang pergaulan di antara golongannya bersifat khas atau unik dari keluarga lainnya. Dalam lingkungan keluarga, pendidikan juga berlangsung dengan sendirinya sesuai dengan tatanan pergaulan khas yang berlaku di dalamnya.

Dengan kata lain, setiap individu (terutama anak) akan mendapatkan penyesuaian perkembangan pertama yang nantinya akan dikembangkan di masyarakat maupun di sekolah. Terdapat beberapa karakteristik yang akan memengaruhi penyesuaian diri ini, yaitu:

  1. Susunan keluarga,
    menyangkut besar kecilnya keluarga, siapa yang lebih berkuasa, jumlah anak, perbandingan anak perempuan, dan laki – laki, dsb;
  2. Peranan,
    yakni bagaimana peranan sosial yang dimainkan oleh setiap anggota keluarga yang dipengaruhi oleh sikap dan harapan orang tua terhadap anaknya, faktor umur, jenis kelamin, dsb;
  3. Keanggotaan kelompok,
    yaitu sejauh mana anggota keluarga merasakan sebagai bagian dari kelompok;
  4. Kohesi keluarga,
    yaitu kekuatan pertautan (ikatan) antara anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya (Surya, 2020, hlm. 180).

Berbagai aspek tersebut akan berpengaruh besar pada bagaimana pendidikan keluarga akan berjalan. Sebagian aspek dapat dan harus dimaksimalkan untuk menunjang pendidikan di lingkungan keluarga. Sebagian lagi mungkin amatlah tergantung pada situasi dan kondisi dari keluarga itu sendiri dan mungkin tidak dapat diubah secara signifikan.

Lingkungan Sekolah

Lingkungan sekolah adalah lingkungan di mana anak berada dalam lingkungan situasi belajar dan memiliki suasana, tanggung jawab, serta kebebasan yang berbeda dari lingkungan lain. Oleh karena itu, lingkungan ini sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang kecerdasan (kognitif), keterampilan, dan kepribadian anak (afektif).

Lingkungan sekolah yang baik dapat mendukung tumbuh kembang anak untuk membentuk kedisiplinan belajar, kedisiplinan sekolah yang pada akhirnya akan tercermin pada kedisiplinannya sendiri pada lingkungan lain, termasuk lingkungan masyarakat dan industri kerja.

Menurut Sukmadinata (dalam Surya, 2020, hlm. 78), lingkungan sekolah meliputi:

  1. Lingkungan fisik sekolah, meliputi suasana sekolah (bising atau tidak, dsb), sarana dan prasarana belajar, sumber-sumber belajar, dan media belajar;
  2. Lingkungan sosial, menyangkut hubungan siswa dengan teman-temannya, guru-gurunya dan staf sekolah yang lain;
  3. Lingkungan Akademis, yaitu suasana pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler.

Lingkungan sekolah yang kondusif, baik lingkungan fisik, sosial maupun psikologis dapat menumbuhkan dan mengembangkan motif untuk bekerja dengan baik dan produktif (Surya, 2002, hlm. 78). Untuk itu, sebaiknya di sekolah diciptakan lingkungan fisik yang sangat baik yang dapat meliputi kebersihan ruangan, tata letak yang ideal, fasilitas lengkap, dan sebagainya.

Lingkungan sosial dan psikologis sekolah pun amatlah penting untuk diperhatikan. Misalnya, sekolah harus mampu menghadirkan kehidupan antarpribadi yang harmonis, kehidupan kelompok yang rukupn, kepemimpinan yang tegas dan empati, serta memastikan adanya pengawasan, bimibingan, dan kesempatan untuk maju pada setiap individu dalam suasana yang kekeluargaan.

Selain itu, lingkungan akademis harus dikondisikan karena merupakan lingkungan sekolah yang terlibat langsung dengan perkembangan potensi dan kompetensi peserta didik. Lingkungan akademis yang baik akan memastikan kegiatan belajar-megajar di sekolah berjalan dengan disiplin, tertib, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran maupun tujuan pendidikan secara umum.

Lingkungan Masyarakat

Masyarakat diartikan sebagai sekumpulan orang yang menempati suatu daerah, diikat oleh pengalaman-pengalaman yang sama, memiliki sejumlah persesuaian dan sadar akan kesatuannya, serta dapat bertindak bersama untuk mencukupi krisis kehidupannya (Hasbullah, 2015, hlm. 55). Lingkungan masyarakat merupakan lembaga pendidikan ketiga sesudah keluarga dan sekolah yang memiliki sifat dan fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan batasan yang tidak jelas dan keanekaragaman bentuk kehidupan sosial serta berjenis-jenis budaya.

Lingkungan masyarakat yang baik akan memberikan pengaruh-pengaruh yang baik pada individunya. Misalnya jika masyarakat sekitar aktif mengadakan berbagai kegiatan positif seperti kerja bakti, karang taruna, pengajian, dsb. Namun demikian, jika lingkungan masyarakat kurang ideal dan dipenuhi bermacam pengaruh negatif, tentunya hal tersebut akan berisiko memberikan pengaruh negatif pula.

Pengaruh positif dari lingkungan masyarakat adalah segala sesuatu yang membawa baik terhadap pendidikan dan perkembangan anak yaitu pengaruh-pengaruh yang menuju kepada hal-hal yang baik dan berguna bagi anak sendiri maupun baik dan berguna bagi bersama. Sedangkan pengaruh yang bersifat negatif merupakan pengaruh yang dari sisi jumlah biasanya tidak terlalu banyak, namun biasanya pengaruh negatif tersebut sangat mudah diterima oleh individu, terutama anak.

Selain itu, keterkaitan lingkungan masyarakat pada pendidikan bisa dilihat dri tiga sisi, yang antara lain adalah sebagai berikut.

  1. Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan, baik yang dilembagakan (jalur sekolah dan jalur luar sekolah) maupun yang tidak dilembagakan (jalur luar sekolah).
  2. Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan atau kelompok sosial di masyarakat, baik langsung maupun tak langsung, ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.
  3. Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by design) maupun yang dimanfaatkan (utility) (Sadullah, 2015, hlm. 89).

Referensi

  1. Hasbullah. (2015). Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.
  2. Nata, Abuddin. (2016). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
  3. Nasution. (2014). Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
  4. Purwanto, Ngalim. (2017). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  5. Sadullah, Uyoh. (2015). Pedagogik (Ilmu Mendidik). Bandung: Alfabet, 2015.
  6. Surya, Mohamad. (2020). Psikologi Guru (Konsep dan Aplikasi). Bandung: Alfabeta.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.