Pengertian Fragmen

Fragmen adalah cuplikan atau petikan sebuah cerita dari lakon yang dipentaskan, baik di atas panggung maupun di sarana pementasan lainnya (Tim Kemdikbud, 2017, hlm. 97). Fragmen juga sering disebut sebagai pementasan teater dengan durasi yang singkat. Pementasannya hanya terdiri dari beberapa adegan inti saja dengan jalan cerita yang relatif sederhana.

Fragmen dapat dijadikan sebagai pentas sederhana pada suatu pertunjukan teater. Sebetulnya, pertunjukan teater biasanya menggunakan naskah drama yang cukup panjang dengan banyak babak, ataupun adegan.

Sebelum memainkan naskah teater yang panjang dan cukup rumit, sebagai latihan permulaan atau persiapan pada lakon yang panjang, biasanya seorang aktor atau aktris dapat memainkan cuplikan adegan yang diambil dari sebuah naskah teater yang sudah ada ataupun membuat naskah sendiri.

Pementasannya pun tidak perlu di atas panggung teater besar yang biasa dipakai oleh grup-grup teater. Bahkan para pemain teater professional juga biasa meragakan fragmen di tempat-tempat kecil seperti ruangan sanggar atau rumah salah satu anggotanya sendiri. Terkadang beberapa pementasan fragmen juga dilakukan di ruangan kecil kampus sekolah dengan penonton terbatas. Oleh karena itu, latihan meragakan fragmen juga dapat dilakukan di mana saja, termasuk sesederhana di depan kelas.

Jika fragmen adalah cuplikan pendek dari lakon seni teater yang dipentaskan, lantas apa itu seni teater sendiri? Dalam arti luas teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak, sedangkan arti sempit teater yang merujuk pada karya seni adalah kisah hidup manusia yang ditampilkan di atas pentas, disaksikan oleh penonton (Tim Kemdikbud, 2017, hlm. 97). Media ungkap yang digunakan pada seni teater adalah percakapan, gerak, dan laku (akting) dengan atau tanpa dekorasi, didasarkan pada konsep, naskah yang lengkap dengan diiringi ilustrasi musik, nyanyian maupun gerakan.

Teknik Menulis Naskah Fragmen

Naskah merupakan salah satu bahan untuk bermain teater. Karakter dan tokoh semua tertulis di dalam naskah. Alur cerita atau plot tertulis dengan jelas pada sebuah naskah, sehingga memudahkan bagi pemain dan sutradara untuk menafsirkan watak yang diinginkan pengarang.

Lalu dari mana alur cerita suatu naskah fragmen teater lahir? Tentunya, da seseorang yang mengarangnya. Pengarangan dapat berdasarkan hal nyata, atau benar-benar imajinasi, maupun berdasarkan karya naskah sebelumnya. Sumbernya banyak dan sangat beragam. Namun, terdapat satu inti utama yang selalu dimiliki oleh semua teks cerita, yaitu konflik.

Dasar lakon drama adalah konflik manusia. Apa itu konflik? konflik adalah pertentangan yang terjadi antara satu tokoh dengan tokoh lainnya, baik yang bersifat pertentangan batin maupun fisik. Seluruh perjalanan drama dijiwai oleh konflik tokoh-tokohnya, baik itu tokoh protagonis (tokoh utama) maupun tokoh yang bertentangan dengan tokoh protagonis, yakni antagonis.

Konflik juga dapat terjadi pada satu orang, misalnya seseorang yang mengalami pertentangan antara idealismenya dengan kebutuhan hidupnya sendiri. Namun meskipun konflik adalah dasar utamanya, konflik tidak dapat muncul begitu saja. Konflik harus berdasarkan orientasi yang tepat agar lebih terasa dan memuat tema yang jelas juga agar dapat tersampaikan dengan baik.

Menurut Tim Kemdikbud (2017, hlm. 108) terdapat beberapa langkah untuk menciptakan naskah fragmen yang baik, yakni dengan menentukan tema, alur cerita, adegan, dan dialog-dialog tokoh yang akan dipaparkan di bawah ini.

Menentukan Tema

Tema merupakan langkah awal dalam menyusun naskah drama. Mengapa? Karena tema merupakan ide dasar dari keseluruhan naskah. Pesan pengarang yang ingin disampaikan, akan diketahui melalui tema. Pengarang dapat menentukan tema cerita seperti persahabatan, kasih sayang, kepahlawanan, pengorbanan, ketulusan, dan perjuangan.

Menentukan Alur Cerita

Alur adalah jalan cerita dari tema yang sudah dipilih. Alur merupakan rangkaian cerita yang disusun dari awal sampai akhir sehingga terbentuk cerita yang jelas dan utuh. Tahap penyusunan alur akan terlihat masalah-masalah yang terjadi, seperti tempat kejadian peristiwa, tokoh-tokoh yang mengisi cerita. Baik tokoh utama maupun tokoh-tokoh penentang juga tokoh-tokoh lain sebagai pendukung cerita.

Menyusun Adegan

Setelah rangkaian cerita didapat dengan utuh, dilanjutkan dengan menyusun adegan-adegan yang akan ditampilkan dalam setiap babak. Setiap adegan cerita, akan diketahui urutan tokoh-tokoh yang akan tampil. Begitu pun dalam adegan dipilih peristiwa atau kejadian mulai tahap pengenalan sampai kejadian paling menarik sebagai puncak.

Membuat Dialog-Dialog Tokoh

Drama berbeda dengan karya sastra yang lain. Perbedaan yang paling mencolok adalah dibangun berupa dialog-dialog antartokoh. Dialog-dialog tiap tokoh harus menyesuaikan dengan karakteristik tokoh yang dibuat. Misalnya, tokoh orang tua tentu bahasa dan tingkah lakunya berbeda dengan anak sekolah.

Dialog tokoh ini juga di tentukan oleh latar belakang lingkungan masing-masing karakter. Contohnya, orang dari daerah berbeda gaya bahasanya dengan orang dari perkotaan dan lingkungan lain. Dialek atau gaya bahasa tiap tokoh yang berasal dari tiap suku bangsa juga akan berbeda dan mempunyai keunikan masing-masing. Hal yang demikian sebaiknya dapat tergambar pada naskah secara keseluruhan, sehingga naskah drama menjadi unik dan menarik untuk dimainkan dalam pertunjukan teater.

Teknik Dasar Akting Teater

Tentunya sama seperti pementasan seni teater, meragakan fragmen juga membutuhkan pengetahuan dan latihan beberapa teknik dasar akting teater. Istilah akting sendiri tentunya sudah tidak asing dan sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya seseorang akan dikatakan berakting jika melakukan tingkah laku yang berbeda dari biasanya, atau bertingkah laku menirukan tingkah laku orang lain.

Namun apa sebenarnya yang dimaksud dengan akting? Secara umum sebetulnya pemaparan di atas sudah dapat dikatakan akting. Namun, secara khusus, pengertian akting dalam teater adalah perwujudan peran sesuai dengan karakter yang diinginkan oleh naskah dan sutradara baik secara fisik maupun psikis (Tim Kemdikbud, 2017, hlm. 97).

Peran yang dimainkan oleh actor harus sesuai tuntutan tokoh. Jika aktingnya berlebihan, maka  bisa mengakibatkan over acting sehingga peran menjadi berlebihan. Selain itu, aktor juga tidak boleh under acting sehingga kekuatan aktingnya kurang. Oleh karena itu, kemauan akting adalah modal besar yang harus dimiliki oleh pemain teater.

Lalu sebetulnya dari mana seorang aktor atau aktris  mendapatkan modal akting tersebut? Modal akting adalah pengalaman hidup sehari-hari, baik pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain yang ditampilkan kembali di depan penonton. Untuk menampilkan akting yang baik diperlukan latihan yang tekun dan disiplin. Menurut Tim Kemdikbud (2017, hlm. 98 – 104) latihan teknik dasar akting itu meliputi olah tubuh, olah vokal, dan olah rasa yang akan dipaparkan masing-masing penjelasannya di bawah ini.

Olah Tubuh

Tubuh adalah elemen paling dasar dalam bermain teater. Hal itu karena tubuh menjadi pusat perhatian utama penonton pada saat seorang aktor teater berakting di atas panggung. Tubuh merupakan penyampai bahasa simbol dan isyarat dalam bermain teater. Caranya adalah melalui gestur tubuh sehingga mencerminkan karakter atau watak tokoh yang sedang diperankan. Oleh karena itu, fleksibilitas gerak tubuh merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh pemain teater. Latihan olah tubuh diarahkan untuk mendukung kemampuan pemain dalam mewujudkan akting yang baik.

Sebelum latihan, hal utama yang harus dilakukan pada latihan olah tubuh adalah melakukan latihan dalam kondisi bugar, segar, dan menyenangkan. Agar tidak menjemukan, biasanya para aktor membuat semua latihan tersebut seperti permainan yang dapat dilakukan dengan gembira bersama-sama. Mulai dengan meregangkan seluruh persendian dan otot tubuh, gerakkan dari bagian kepala sampai bagian kaki, atau bisa dibalik dari kaki sampai kepala.

Bagian Kepala

Contoh latihan olah tubuh pada bagian kepala berdasarkan petunjuk berikut ini. Lakukanlah gerakan kepala ke kiri-ke kanan secara teratur, setelah itu berputar penuh kemudian berganti arah sebaliknya. Lakukan secara berulang sampai dirasakan cukup. Efek yang akan terasa ringan otot bagian kepala.

Bagian Tangan

Latihan pada tangan ditujukan untuk mengolah persendian, kekuatan otot dan kelenturan otot tangan. Pengolahan gerak tangan lebih bervariasi karena dapat dilakukan ke segala arah. Tangan dapat dilakukan lurus ke atas, ke samping, ke depan, memutar telapak tangan, melentikkan jarijari tangan, serta gerakan lainnya.

Bagian Badan

Bagian badan meliputi bagian perut, dada dan punggung. Pengolahan ketiga bagian badan ini memiliki peran penting bagi seorang pemain teater karena merupakan bagian yang memberikan efek pada sikap tubuh peran. Latihan yang dilakukan pada bagian badan ini dapat dilakukan menggerakkan dan melenturkan badan ke depan dengan membungkuk, ke belakang dengan menekuk pada bagian perut sehingga tubuh melengkung k e belakang.

Bagian Pinggul

Bagian pinggul juga penting untuk diolah agar gerakan tubuh lebih lentur dan fleksibel. Pada bagian pinggul, gerakan tubuh dapat dilakukan ke samping, ke depan, dan membungkuk.

  1. Rasakan bagian-bagian torsomu, menjadi berat atau menjadi ringan.
  2. Rasakan pergerakan bagian pinggul dan torsomu menjadi bisa bergerak bebas.

Bagian Kaki

Kaki memiliki peran penting. Kekuatan kaki perlu dilatih sehingga kita dapat tetap tegak berdiri di atas panggung. Berdiri di atas satu kaki merupakan salah satu latihan keseimbangan tubuh. Latihkan berbagai pose dengan tumpuan pada kaki. Seperti pose pohon yang kokoh menjulang tinggi, batu karang yang menahan ombak, dan berbagai pose dengan personifikasi alam.

Olah Suara

Seorang pemain teater harus memiliki kemampuan mengolah suara yang baik. Suara merupakan faktor penting karena sebagai penyampai pesan kepada penonton. Penguasaan intonasi, diksi, artikulasi. Setiap kata yang diucapkan harus jelas dan wajar sesuai dengan tuntutan karakter tokoh yang diperankan. Seorang aktor perlu latihan olah suara dengan tahapan-tahapan tertentu. Latihan olah suara dapat dilakukan dengan mengucapkan kata vokal seperti a, i, u, e, o sesuai dengan bentuk mulut. Cara untuk melatih olah suara dapat dilakukan dengan cara di bawah ini.

  1. Bentuk mulut waktu mengucapkan “a”, seperti mama, papa, nama, dada.
  2. Bentuk mulut waktu mengucapkan i, seperti kata kiki, lili, siri, pipi.
  3. Coba bentuk mulut waktu mengucapkan e,seperti dede, tere, tele, lele.

Dalam latihan olah suara, terutama yang berhubungan dengan membaca naskah atau puisi, kita harus memperhatikan pula tekanan kata, jiwa kalimat, tempo, dan irama. Berikut penjelasannya.

  1. Tekanan kata
    Maksudnya, tekanan pada kata tertentu yang perlu ditonjolkan dalam suatu kalimat untuk suatu kepentingan. Contoh berikut ini yang digarisbawahi adalah kata yang perlu mendapatkan penekanan. Penekanan kata dari kalimat untuk menonjolkan isi perasaan dan pikiran dari kalimat itu.
      1. Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring.
      2. Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring.
      3. Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring.
      4. Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring.
      5. Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring.
      6. Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring.
  2. Jiwa kalimat
    Jiwa kalimat merupakan usaha atau teknik menghidupkan kalimat dengan bantuan emosi suara. Latihkan kata ”apa” dengan perasaan yang berbeda-beda.
      1. (sedih) Apa?
      2. (gembira) Apa?
      3. (marah) Apa?
      4. (benci) Apa?
      5. (malas) Apa?
      6. (gairah) Apa?
      7. (mengharap) Apa?
      8. dan seterusnya.
  3. Tempo dan irama
    Tempo dan irama adalah pengolahan suara dengan memperhatikan dinamika, artinya suara yang dihasilkan tidak monoton tetapi bervariasi. Latihan mengucapkan kata dan kalimat dengan berbagai irama yang berbeda, cepat, lambat, tegas, dan mendayu-dayu.

Olah Rasa

Akting pada dasarnya menampilkan keindahan dan keterampilan seorang aktor dalam mewujudkan berbagai pikiran, emosi, perasaan, dan sosok peran yang sedang dimainkan sesuai dengan karakter. Aktor harus memiliki kemampuan untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri. Tentu hal itu bisa terjadi kalau mampu berkonsentrasi mengolah rasa, dan emosi. Untuk itu seorang pemain teater perlu berlatih konsentrasi, perasaan, dan emosi dengan latihan olah rasa.

Latihan Konsentrasi

Latihan konsentrasi adalah latihan memusatkan pikiran kita pada suatu objek sesuai dengan tujuan. Misalnya, pikiran fokus pada hafalan naskah, lawan main, dan pada permainan di atas panggung. Pikirannya tidak terbagi dengan berbagai hal yang lain.

Lakukan latihan permainan konsentrasi, dua orang berhadapan, satu orang ditugaskan untuk diam tanpa emosi, sementara kawanmu berusaha menggoda sekuat tenaga bahkan sampai lawannya tertawa. Lakukan sebaliknya, atau permainan konsentrasi memandang benda tertentu tanpa boleh bicara, sementara teman lain tiba-tiba mengganggu dengan bunyi-bunyian, atau mengajak bicara dan mengajak pergi tergodakah? Kalau masih tergoda masih belum konsentrasi, coba lagi dengan permainan yang lain.

Latihan Imajinasi

Latihan imajinasi adalah latihan mengolah daya khayalmu, seolah-olah hal itu terjadi saat ini dan kita benar-benar merasakannya. Jenis latihan ini bisa dilakukan sendiri-sendiri atau berimajinasi bersama. Caranya adalah dengan melakukan permainan imajinasi, misalnya kita berimajinasi pergi berpetualangan ke hutan belantara, mendaki puncak yang tinggi, menuruni jurang yang curam dan bertemu dengan berbagai binatang baik yang jinak maupun yang buas. Menemukan juga berbagai situasi seperti air terjun yang menyegarkan, pohon yang tumbang, kehujanan atau pun merasakan gunung yang akan meletus.

Pada saat latihan, kita dapat menentukan suasana-suasana yang berbeda. Sehingga imajinasi kita akan menjadi lebih beragam. Kita juga bisa menentukan suasana dengan berbagai situasi, seperti saat kota-kota, di laut, dan di sawah.

Latihan Ingatan Emosi

Latihan ingatan emosi adalah latihan mengingat-ingat lagi berbagai emosi yang pernah kita atau orang lain alami lengkap dengan emosinya. Seperti melihat orang sedih, gembira, marah, kecewa, ragu-ragu, putus asa, kegelian, lucu, tertawa terbahak-bahak dan berbagai emosi lainnya. Kemudian, emosi-emosi itu ditampilkan satu persatu saat latihan sehingga akan tampak dalam ekspresi wajah dan tubuh. Ingat-ingat dan tampilkanlah salah satu emosi tersebut dan temanmu akan melihat ekspresimu dengan menarik. Cari lagi bentuk-bentuk atau buat sendiri permainan-permainan tentang konsentrasi, imajinasi, dan ingatan emosi sehingga latihan teatermu menjadi kreatif juga menyenangkan.

Referensi

  1. Tim Kemdikbud. (2017). Seni Budaya VII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.