Menyanyi dengan satu suara atau bernyanyi unisono adalah aktivitas yang dapat dilakukan oleh siapa pun. Menyanyi dengan satu suara sering disebut juga dengan menyanyi unisono. Namun, perlu menjadi catatan bahwa bisa jadi menyanyi secara unisono tidak dapat dilakukan seorang diri, tetapi dilakukan oleh sekumpulan orang dengan satu suara.

Ya, satu suara, bukan penyanyinya yang satu. Intinya bernyanyi dengan satu suara merupakan pengertian dari bernyanyi unisono.  Saat menyanyi unisono secara bersama, dibutuhkan kerja sama dan saling peduli agar suara yang ditimbulkan menjadi harmonis.

Bernyanyi Secara Unisono

Lalu seperti apa cara bernyanyi secara unisiono? sesederhana menyanyi biasa, bentuk bernyanyi ini merupakan bentuk bernyanyi yang paling sederhana. Sementara itu jika kita ingin bernyanyi dengan beberapa suara perlu koordinasi dan ketelatenan masing-masing penyanyi untuk membawakannya. Oleh karena itu kita dapat bernyanyi unisono pada lagu apa pun, termasuk lagu daerah.

Mengapa lagu daerah? karena warisan budaya Indonesia sangatlah beraneka ragam. Sebagai contohnya, lagu-lagu daerah adalah kekayaan dan warisan budaya Indonesia yang sangat berharga. Warisan budaya Indonesia dapat dikelompokkan menjadi :

  1. Warisan alam,
    contohnya meliputi: Taman Nasional Ujung Kulon di Banten, Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur, Taman Nasional Leuser di Aceh;
  2. Cagar alam atau situs,
    meliputi: Candi Borobudur dan Prambanan, Situs manusia purba di Sangiran; dan
  3. Karya tidak benda,
    contohnya adalah tari Saman dari Aceh.

Ya, lagu-lagu daerah di Indonesia juga merupakan warisan karya tidak benda atau karya tak benda. Lagu daerah yang merupakan warisan budaya dapat dinyanyikan secara unisono. Bernyanyi unisono adalah bernyanyi satu suara seperti menyanyikan melodi suatu lagu. Partitur lagu bernyanyi unisono hanya melodi pokoknya saja.

Berikut adalah beberapa contoh lagu daerah yang dapat dinyanyikan secara unisiono.

Anging Mamiri

Balelebo

Bungong Jeumpa

Teknik Vokal dan Organ Suara Manusia

Agar dapat bernyanyi dengan baik, kita harus mengetahui mengenai berbagai teknik vokal dan mengetahui kapasitas organ suara yang kita gunakan. Hal tersebut tentunya karena menyanyi dilakukan oleh manusia menggunakan organ suara. Sederhananya mengatur organ suara agar menghasilkan suara yang baik saat menyanyi adalah teknik vokal. Lengkapnya, berikut adalah uraian mengenai teknik vokal.

Teknik Vokal

Kita telah sering mendengar mengenai Teknik Vokal pada kehidupan sehari-hari, apalagi di ajang pencarian bakat di televisi. Istilah-istilah teknik vokal sering kita dengar muncul dari komentar dewan juri pada acara tersebut. Istilah-istilah teknik vokal meliputii:  kejelasan ucapan, kebenaran pemenggalan ucapan pada kalimat lagu (frasering), sikap dalam bernyanyi, dan kemampuan menyanyikan nada tinggi dan rendah. Menurut Tim Kemdikbud (2017, hlm. 35) berikut adalah beberapa teknik vokal yang harus diperhatikan pada saat bernyanyi.

  1. Artikulasi adalah cara pengucapan kata demi kata yang baik dan jelas.
  2. Phrasering adalah aturan pemenggalan kalimat yang baik dan benar sehingga mudah dimengerti dan sesuai dengan kaidahkaidah yang berlaku.
  3. Intonasi adalah tinggi rendahnya suatu nada yang harus dijangkau dengan tepat.

Teknik Pernapasan

Teknik pernapasan juga merupakan salah satu kuncian agar kita dapat bernyanyi dengan baik. Jangankan bernyanyi, berujar atau berbicara saja sebetulnya kita telah melakukan teknik pernapasan sederhana. Cobalah bicara sambil menarik napas panjang, apakah kita dapat melakukannya? Tentu tidak.

Pernapasan dalam teknik vokal dikelompokkan menjadi tiga, yakni pernapasan dada, pernapasan perut, dan pernapasan diagrfragma. Berikut adalah penjelasan masing-masing teknik pernapasan menurut Tim Kemdikbud (2017, hlm. 35-36).

Pernapasan Dada

Pernapasan dada dilakukan dengan cara mengisi udara dalam paru-paru bagian atas. Jenis pernapasan ini sangat pendek dan tidak cocok digunakan dalam vokal. Dalam pernapasan dada, bagian tubuh yang mengembang adalah dada. Pernapasan dada biasa dipakai untuk menghasilkan nada-nada rendah. Namun, kelemahannya adalah penyanyi akan mudah kehabisan napas.

Pernapasan Perut

Pernapasan perut dilakukan dengan cara membuat perut berongga besar sehingga udara luar dapat masuk. Terdengar lebih baik dari pernapasan dada? Sayangnya pernapasan ini juga kurang efektif untuk bernyanyi, karena udara dapat keluar dengan cepat, sehingga paru-paru menjadi lemah dan cepat letih. Dalam pernapasan perut, bagian tubuh yang mengembang adalah perut. Jenis pernapasan ini dapat menghasilkan suara sangat keras. Namun, pernapasan perut tidak begitu baik digunakan dalam bernyanyi.

Pernapasan Diafragma

Saat diafragma menegang atau lurus rongga dada dan rongga perut menjadi longgar dan volume menjadi bertambah. Volume yang bertambah ini mengakibatkan tekanan berkurang sehingga udara dari luar dapat masuk ke paru-paru dan napas yang dikeluarkan dapat diatur secara sadar oleh diafragma dan otot-otot bagian samping kiri.

Pernapasan diafragma adalah teknik pernapasan yang paling cocok untuk bernyanyi karena dapat mengambil napas dengan banyak dan mengeluarkan secara perlahan-lahan serta teratur. Dalam pernapasan diafragma udara ditarik sedalam mungkin dan disimpan dalam diafragma. Kemudian, udara dikeluarkan secara perlahan sewaktu bernyanyi. Pernapasan ini memungkinkan kita menghasilkan suara murni dengan napas yang panjang.

Berlatih Vokal

Selain mengetahui teknik vokal dan teknik pernapasan yang tepat, bernyanyi, termasuk menyanyi satu suara tentunya harus dilatih. Pada kenyataannya, menyanyi adalah suatu keterampilan dan hanya dapat dikuasai dengan maksimal melalui cara berlatih.

Latihan vokal dapat dilakukan sambil menyanyi, yaitu dengan melakukan eksplorasi lagu model. Lagu model adalah lagu yang sudah dikenal dan digunakan untuk mengenal konsep elemen musik. Lagu model tersebut dinyanyikan dengan cara mengubah nada dasar secara berturut-turut naik dan turun.

Menjaga Kondisi Organ Suara

Bernyanyi merupakan aktivitas yang sering dilakukan dan didengar dalam kehidupan sehari-hari. Pada hakikatnya, semua orang dapat bernyanyi karena suara atau vokal merupakan unsur utama dalam bernyanyi. Kita mendapatkan anugerah yang luar biasa saat bisa bersuara karena sebagian orang tidak dapat bersuara (tuna rungu). Rasa syukur dapat kita diwujudkan dengan melakukan hal positif menggunakan anugerah tersebut, seperti sesederhana mengucapkan perkataan yang baik kepada semua orang.

Berbicara atau bersuara juga bernyanyi memerlukan pernapasan yang baik. Untuk itu, kita memiliki tanggung jawab, serta motivasi kuat untuk menjaga alat-alat pernapasan dengan melakukan hidup sehat. Ini berarti jangan melakukan hal-hal yang dapat merusak kesehatan pernapasan seperti merokok.

Referensi

  1. Tim Kemdikbud. (2017). Seni Budaya VII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Gabung ke Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *