Pengertian Novel

Novel adalah karya prosa fiksi dengan runtutan peristiwa atau kisah kehidupan seseorang serta orang-orang disekitarnya yang panjang dan kompleks dengan menonjolkan watak dan sifat setiap tokoh atau pelaku (Kemdikbud, 2017, hlm. 109). Bukan hanya jumlah kata atau halamannya saja yang panjang, namun jangkauan penceritaan kisahnya juga luas dan rumit. Hal tersebutlah yang menjadi perbedaan mendasar jika novel dibandingkan dengan cerpen yang memiliki jangkauan kisah sempit dalam jumlah kata yang lebih sedikit.

Novel termasuk ke dalam genre teks narasi yang berarti teks yang menceritakan atau mengisahkan suatu kisah atau peristiwa. Cerita yang disampaikan bersifat fiksi atau rekaan. Namun, bukan berarti novel tidak dapat memberikan suatu isi yang bermanfaat, karena novel tetap dapat menyimpan cerminan nilai-nilai kehidupan bahkan sejarah.

Hanya saja, sejarah yang termuat tidak secara spesifik ditujuan untuk menceritakan kebenaran yang pernah terjadi. Contohnya adalah bagaimana novel “Ronggeng Dukuh Paruk” dapat memberikan gambaran umum mengenai bagaimana kondisi atau keadaan Indonesia pada tahun 1940-an.

Pengertian Novel Menurut Para Ahli

Untuk memperluas khazanah pengetahuan dan memastikan kesahihan pengertian novel, berikut adalah beberapa pengertian novel menurut para ahli.

Tarigan

Tarigan (2011) menyatakan bahwa Novel adalah suatu cerita dengan alur yang cukup panjang mengisi satu buku atau lebih yang menggarap kehidupan pria dan wanita yang bersifat imajinatif.

Nurgiyantoro

Novel merupakan karya fiksi yang dibangun oleh unsur-unsur pembangun, yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik (Nurgiyantoro, 2019, hlm. 10).

H.B. Jassin

Novel adalah suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orangorang luar biasa karena kejadian ini terlahir suatu konflik, suatu pertikaian, yang mengalihkan jurusan nasib mereka (H. B Jassin, dalam Suroto, 1989, hlm. 19).

Semi

Novel adalahsuatu jenis karya sastra yang berbentuk naratif dan berkesinambungan ditandai oleh adanya aksi dan reaksi antar tokoh, khususnya antara antagonis dan protagonist  (Semi, 1988, hlm. 36).

Abrams

Secara harfiah, mulanya novel berasal dari kata novella berarti sebuah barang baru yang kecil, dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa (Abrams dalam dalam Nurgiyantoro, 2019, hlm. 11).

Unsur Intrinsik Novel

Lalu apa yang membuat novel menjadi novel? Tentunya adalah bahwa suatu karya teks mengandung bermacam unsur yang membangun novel. Unsur utama yang menentukan novel adalah unsur-unsur yang berdiri di dalam karyanya sendiri yang disebut sebagai unsur intrinsik novel.

Unsur-unsur tersebut, menurut Tim Kemdikbud (2017, hlm. 118) terdiri dari: tokoh, alur, latar, sudut pandang, dan tema. Di bawah ini adalah penjelasan dari masing-masing unsur intrinsik novel.

Tokoh & Penokohan

Tokoh adalah para pelaku atau orang-orang yang dikisahkan dalam suatu cerita. Melanjutkan penjelasan tersebut, Nurgiyantoro (2012, hlm. 165 dalam Tim Kemdikbud, 2017, hlm. 118) menyatakan bahwa tokoh cerita ialah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya prosa fiksi yang memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.

Kemudian, Nurgiyantoro (2000, hlm. 176 dalam Tim Kemdikbud 2017, hlm. 188) juga membedakan tokoh dari tingkat penting atau tidaknya tokoh tersebut dan peranannya dalam plot/cerita. Jika dilihat dari tingkat penting atau tidaknya, Tokoh terbagi menjadi:

  1. Tokoh Utama,
    merupakan tokoh sentral atau tokoh yang paling penting peranannya dalam suatu cerita.
  2. Tokoh tambahan,
    adalah tokoh bawah atau tokoh yang tidak selalu diceritakan namun masih memiliki hubungan dan peran dengan tokoh utama.

Sementara itu, dilihat dari peran tokoh di dalam polotnya, tokoh terbagi menjadi:

  1. Tokoh protagonis,
    yang biasanya diset untuk disukai oleh pembaca karena kepentingannya dalam plot serta memiliki sifat-sifat yang menarik dan positif.
  2. Tokoh antagonis,
    yakni tokoh yang cenderung kurang disukai pembaca karena memiliki konflik dengan tokoh protagonis, tokoh ini biasanya bersifat jahat, pengecut, atau sifat negatif lainnya.

Penokohan

Unsur tokoh dalam novel juga mengandung penokohan atau teknik dan cara-cara tokoh ditampilkan. Terdapat dua cara, yakni cara analitik dan cara dramatik. Penokohan cara analitik menampilkan langsung watak tokoh dalam bentuk perincian oleh pengarang. Sedangkan cara dramatik menyampaikan watak atau sifat tokoh melalui dialog, pikiran, perasaan, hingga perbuatan dan komentar tokoh terhadap tokoh lain dalam cerita.

Alur (Plot)

Alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang disusun untuk mengisahkan suatu sebab dan akibat suatu kisah yang diceritakan dalam novel. Hal tersebut senada dengan apa yang dikemukakan oleh Tim Kemdikbud (2017, hlm. 118) bahwa alur adalah rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hubungan kausalitas (sebab akibat).

Alur adalah bagian yang dapat membangun rasa penasaran (suspense) yang mampu menyihir pembaca untuk terus membaca. Di dalam alur terdapat peristiwa yang saling bertautan atau berelasi antar peran, baik sebagai sebab maupun sebagai akibat hingga akhirnya menciptakan konflik. Di dalam alur terkandung peristiwa, konflik, dan klimaks. Berikut adalah penjelasannya.

  1. Peristiwa adalah peralihan satu situasi ke situasi yang lain. terdapat dua jenis peristiwa, yakni peristiwa fungsional yang berarti peristiwa penentu bagi perkembangan alur, peristiwa kaitan yang digunakan untuk membuat peristiwa lain masuk akal, dan peristiwa acuan yang diacu oleh tokoh.
  2. Konflik merupakan peristiwa yang memunculkan berbagai kejadian penting yang disebabkan oleh adanya interaksi antartokoh meliputi tokoh dengan masyarakat, tokoh dengan dirinya sendiri, hingga tokoh dengan tokoh lain yang memiliki perbedaan pandangan.
  3. Klimaks adalah konflik yang telah mencapai puncaknya dan tidak dapat terhindarkan. Berbagai orientasi dan konflik yang telah terbangun akan dihadapkan pada puncak masalah atau klimaks. Dapat dikatakan bahwa klimaks merupakan bagian akhir dari alur yang terdiri dari tiga bagian, yakni: awal, tengah, dan akhir.

Alur memiliki beberapa kaidah yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan alur yang baik dan menarik. Beberapa kaidah tersebut meliputi:

  1. Kemasukakalan (plausability), merupakan diterima atau tidaknya alur yang disusun oleh pembaca. Untuk mencapai kemasukakalan, setiap peristiwa dapat diperkuat oleh peristiwa kaitan.
  2. Kejutan (surprise) merujuk pada peristiwa-peristiwa yang tiba-tiba dan tidak terduga yang dialami tokoh dengan penuh ketidakpastian sehingga pembaca tergelitik, terdorong, dan termotivasi untuk membaca terhadap dampak shock yang diberikannya.
  3. Misteri (suspense) adalah suatu hal yang ditunda-tunda dan hanya diberikan sedikit bagian saja untuk memancing rasa penasaran pembaca.
  4. Keutuhan (unity) merupakan keterhubungan secara keseluruhan dari alur yang disusun. Tanpa keutuhan, suatu alur tidak akan tampak seragam dan menyatu sehingga dapat mengaburkan maksud yang dituju.

Latar atau Setting

Latar merupakan gambaran yang digunakan untuk menempatkan peristiwa dalam suatu cerita. Latar terbagi menjadi tiga bagian yang meliputi:

  1. Latar tempat, yang mengacu pada kondisi geografis atau tempat terjadi peristiwa/cerita. contohnya: Bandung, desa, perkantoran, sekolah, rumah, pasar, dsb.
  2. Latar waktu, yang berarti kapan cerita berlangsung, acuannya dapat meliputi: jam, bulan, tahun, zaman, abad, dsb.
  3. Latar sosial, yang berkaitan dengan budaya dan adat istiadat masyarakat yang menaungi kisah, hingga bagaimana cara berpikir masyarakat pada masa tertentu.

Sudut Pandang

Sudut pandang berarti “siapa” dan bagaimana cara penyampaian yang bercerita. Terdapat dua jenis sudut pandang, yakni:

  1. sudut pandang orang pertama, adalah penyampaian cerita yang dilakukan oleh seorang tokoh aku/saya secara langsung.
  2. sudut pandang orang ketiga, yakni penyampaiannya dilakukan oleh penulis (narator) yang berada di luar cerita, sehingga menggunakan: dia, mereka, nama tokoh, dsb.

Tema

Tema adalah dasar atau pokok pikiran utama dari suatu cerita. Umumnya, tema yang diangkat dalam novel meliputi berbagai kaitan kehidupan seperti: makna kehidupan, cinta, nilai sosial, agama (religius), keluarga, sejarah, psikologis, dsb.

Tema dapat memiliki sub tema atau biasa disebut dengan tema turunan. Tema utama merupakan pokok cerita yang menjadi fondasi utama penceritaan, sedangkan tema turunan menjadi penguatnya saja. Contohnya: tema religius yang diiringi oleh tema turunan cinta dalam novel “Ayat-Ayat Cinta”.

Unsur Kebahasaan Novel

Unsur atau kaidah kebahasaan novel tentunya akan banyak mengadopsi teks narasi, karena novel merupakan salah satu turunannya. Berikut adalah beberapa ciri atau unsur kebahasaan dalam novel.

  1. Karena sifatnya bercerita, maka novel akan banyak menggunakan kalimat yang bermakna lampau.
  2. Urutan peristiwa dan alur akan membuat novel cenderung menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu atau biasa disebut dengan konjungsi kronologis seperti: kemudian, selanjutnya, akhirnya.
  3. Menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu tindakan.
  4. Banyak menggunakan kata kerja yang menunjukkan kalimat tidak langsung sebagai cara menceritakan tuturan seorang tokoh yang dibawakan oleh penulis.
  5. Penggambaran tokoh dalam novel akan memuat banyak kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh (kata kerja mental).
  6. Novel dengan sudut pandang orang pertama akan banyak menggunakan kata orang pertama dalam menyampaikan ceritanya, seperti: aku, saya dan kami.
  7. Namun, dalam sudut pandang orang ketiga, novel akan banyak menggunakan kata ganti orang ketiga seperti: dia, mereka.

Cara Membuat Novel (Merancang Novel)

Sebetulnya, cara terbaik membuat novel adalah dengan mencurahkan ide awal yang kita miliki terlebih dahulu. Bisa jadi kita memiliki pengalaman menarik yang sepertinya cocok untuk dijadikan novel. Boleh dimulai juga dengan perancangan tokoh utama yang terinspirasi dari idola kita.

Curahkan dan tulis saja terlebih dahulu apapun yang kita miliki, seperti bagaimana seorang pelukis akan memulai karyanya melalui sketsa ekspresif yang tidak memikirkan benar atau salahnya guratan terlebih dahulu. Setelah itu, ikutilah langkah-langkah membuat novel menurut Tim Kemdikbud (2017, hlm. 126) di bawah ini.

  1. Tentukan tema apa yang akan diangkat dalam novel, misalnya: pendidikan, persahabatan, atau politik.
  2. Mulai rancang tokoh-tokoh yang akan dilibatkan dalam kisahnya. Tentukan peran tokoh meliputi tokoh protagonis, antagonis, dan jika diperlukan tritagonis.
  3. Susun alur yang akan disajikan, misalnya alur maju (sederhana) meliputi: orientasi, konflik, klimaks, dan resolusi. Bisa juga dilakukan alur yang rumit yang justru menampilkan konflik terlebih dahulu untuk memberikan dampak kejutan dan membuat penasaran pembaca melalui orientasi yang memberikan suspense menuju klimaks.
  4. Tentukan latar tempat, waktu, dan keadaan sosial yang akan menyelimuti kisah dalam novel.
  5. Pastikan apa amanat atau nilai positif utama yang ingin dibawakan dalam novel agar hal tersebut dapat dibawakan dengan baik lewat novel.

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Buku Siswa Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAN Kelas XII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. Nurgiyantoro, Burhan. (2019). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.
  3. Semi, Atar. (1988). Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Jaya.
  4. Suroto (1989). Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra INDONESIA untuk SMTA. Jakarta: Erlangga.
  5. Tarigan, H.G. (2011). Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa Thahar.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *