Pengertian Seni: Mendalami Makna dari Pendapat Para Ahli

pengertian seni, melacak makna dan perbandingan pendapat ahli

Pengertian seni secara umum dapat diartikan: Seni adalah aktivitas manusia untuk menciptakan berbagai produk/artefak rupa, pertunjukan atau pendengaran yang mengekspresikan keahlian teknis, kearifan atau unsur ekstrinsik lain dari perupa itu sendiri agar dapat diapresiasi dan memberikan output/nilai estetis dan atau hal lain.

Definisi seni adalah polemik yang tidak pernah berhenti sepanjang waktu. Seni adalah bidang keilmuan sosial yang tidak memiliki patokan eksak. Perlu diingat bahwa pencarian lebih lanjut mengenai pengertian seni membutuhkan kajian studi khusus melalui filsafat seni. Tapi kita dapat mengeksplorasi definisi-definisi seni beradasarkan berbagai pendapat yang telah mapan dan menggunakan cara-cara umum terlebih dahulu untuk mendapatkan pijakan awal dalam pencarian. Pengetahuan mendasar tentang pengertian seni diperlukan agar perkembangan seni tetap terarah berdasarkan temuan hakikat seni oleh para penyumbangnya dari masa ke masa. Berikut adalah beberapa pendapat pengertian seni menurut para ahli dan filsuf.

  1. Seni menurut Plato dan Rousseau adalah hasil peniruan alam dengan segala seginya.
  2. Aristoteles mengungkapkan bahwa seni adalah harus dinilai sebagai suatu tiruan, yakni tiruan dunia alamiah dan dunia manusia. Berbeda dengan Plato, Aristoteles tidak memaksudkanya sekedar “tiruan belaka” menurutnya seni harus memiliki keunggulan “falsafi” yakni bersifat dan bernada “universal”.
  3. Seni menurut Leo Tolstoy adalah ungkapan perasaan pencipta yang disampaikan kepada orang lain agar mereka dapat merasakan apa yang dirasakan pelukis.
  4. Seni menurut Thomas Munro adalah alat buatan manusia untuk menimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lain yang melihatnya.
  5. Seni menurut Brade adalah pemanfaatan budi dan akal untuk menghasilkan karya yang membahagiakan jiwa spiritual manusia.

Pengertian Seni menurut Clive Bell

Clive Bell adalah filsuf seni klasik modern yang terkenal melalui gagasan significant form (bentuk bermakna), Bell merupakan filsuf yang dipengaruhi jalur pemikiran plato tentang bentuk indah yang seolah-olah berada di luar bentuk karya itu sendiri. Menurutnya, semua system estetik dimulai dari pengalaman pribadi subjek tentang terjadinya emosi yang khas. Jika seseorang menatap karya seni, dalam dirinya akan timbul perasaan atau emosi yang khas, yang tidak sama dengan perasaan sehari-hari seperti marah, senang, sedih dan lain-lain. Perasaan emosi tersebut disebut emosi estetik. Setiap karya seni yang baik/berhasil akan membangkitkan perasaan emosi estetik tersebut.

Pengertian Seni menurut Leo Tolstoi

Leo Tolstoi (1828-1910) adalah sastrawan Rusia terkemuka yang terkenal melalui tulisan essainya yang berjudul Apakah Seni? (What is art?). Tolstoi tidak menyetujui pendapat sederhana bahwa seni adalah aktivitas manusia yang menghasilkan sesuatu yang indah. Bagi Tolstoi seni membangkitkan perasaan yang pernah dialami oleh dirinya sendiri, dan dengan berbagai bahasa komunikasi dari gerakan, garis, warna, suara, atau bentuk yang diungkapkan dengan kata-kata, menyampaikan perasaan tersebut pada orang lain yang mungkin pernah merasakan hal yang sama juga; curahan hati. Hal itu disebut aktivitas seni. Hal yang tidak dapat dikomunikasikan melalui dialog sehari-hari disampaikan secara sadar melaui tanda-tanda eksternal tertentu dan diserahkan pada penerimanya yang sebetulnya pernah memiliki perasaan atau pengalaman yang sama.

Menurut Tolstoi perasaan yang diekspresikan seniman itu beragam, dapat berupa perasaan yang kuat atau perasaan yang lemah, perasaan yang penting dan perasaan yang tidak berarti, perasaan baik dan perasaan buruk. Perasaan tersebut dapat meliputi perasaan kagum, perasaan cinta tanah air, perasaan gembira, perasaan bangga dan megah, perasaan humor, tentram dan lain-lain. Semua jenis perasaan tersebut diterima lewat indera manusia yang memberikannya suatu pengalaman seni.

Tiga syarat Utama Seni menurut Tolstoi

Tolstoi memberikan tiga syarat utama untuk mengekspresikan perasaan atas pengalaman seni, yaitu:

  1. Nilai ekspresi bergantung pada besar-kecilnya kepribadian seniman. Tolstoi menggunakan istilah individualitas seniman. Makin menonjol individualitasnya, makin kuat daya pengaruh pada penerimanya. Individualitas menekankan bobot sikap jiwa seniman.
  2. Nilai ekspresi bergantung pada besar-kecilnya kejelasan, kejernihan perasaan yang diungkapkannya. Seniman mendasarkan diri pada perasaan universal manusia, sehingga penerima seni dapat menemukan kembali perasaan yang sebenarnya telah dikenalnya juga, tapi mungkin jarang dirasakan.
  3. Nilai seni bergantung pada besar-kecilnya kejujuran seniman. Syarat ketiga inilah yang terpenting.

Pengertian Seni menurut Susanne K. Langer

Langer adalah filsuf seni Amerika yang tidak setuju pada pendapat semua seni itu sama, hanya materialnya yang berbeda. Prinsip-prinsipnya sama, teknik yang dilakukannya semua analog (mengalir). Prinsip seperti itu disebut menjerumuskan dan tidak benar. Prinsip seni yang berlaku secara umum memang ada, tapi tidak banyak/tidak cukup. Langer menyebutkan adanya tiga prinsip, yaitu ekspresi, kreasi dan bentuk seni.

Menurut Langer karya seni adalah bentuk ekspresi yang diciptakan bagi persepsi kita lewat indera dan pencitraan, dan yang diekspresikan adalah perasaan manusia. Pengertian perasaan disini adalah dalam lingkup yang luas, yaitu sesuatu yang dapat dirasakan, sensai fisik, penderitaan dan kegembiraan, gairah dan ketenangan, tekanan pikiran, emosi yang kompleks yang berkaitan dengan hidup manusia. Seperti Tolstoy, Langer juga menolak ekspresi perasaan berupa perasaan subjektif seniman pribadi. Seorang penulis tragedy tidak harus mengalami lebih dahulu kematian anggota keluarganya. Atau seorang penyair yang melukiskan seseorang yang patah hati tidak harus mengalami dahulu patah hati. Subjektifitas adalah ilusi, semua orang mungkin pernah sam-sama mengalami perasaan tersebut.

Melacak Pengertian Seni

Pengertian seni selalu meninggalkan banyak pertanyaan. Seperti jika seni memberikan output berupa nilai estetis atau hal lain, apakah berarti produk seni itu sendiri bukan yang utama dalam karya seni? Jika seni itu berupa nilai, berarti penilaian individu akan sangat relatif, lalu apakah sah hal yang subjektif tersebut untuk dinilai atua bahkan bahkan dikritik? Jika nilai adalah poros utama seni, berarti seni bisa jadi dianggap tidak ada keberadaannya tanpa individu / publik yang mampu mengerti nilai yang diberikan oleh seni. Untuk itu mari kita lacak seni melalui berbagai aspek yang dapat menjadikannya ‘ada’.

Seni di Luar Wujudnya

Kegiatan berkesenian menghasilkan atau meninggalkan produk/artefak rupa yang berwujud. Tetapi, yang disebut seni bukan hanya produknya itu sendiri, sebab seni juga mengandung nilai diluar benda/artefaknya sendiri. Seperti yang dijelaskan oleh Jakob Sumardjo “Apa yang disebut ‘seni’ memang merupakan suatu wujud yang terindera. Karya seni merupakan sebuah benda atau artefak yang dapat dilihat, didengar, atau dilihat dan sekaligus didengar (visual, audio dan audio-visual), seperti lukisan, music, dan teater. Tetapi, yang disebut seni itu berada di luar benda seni sebab seni itu berupa nilai. Apa yang disebut indah, baik, adil, sederhana, dan bahagia itu adalah nilai. Apa yang oleh seseorang disebut indah dapat tidak indah bagi orang lain.”(Jakob Sumardjo, 2000: 45). Darisini kita dapat menarik kesimpulan bahwa selain benda/tampilan fisiknya sendiri, seni terdapat pada nilai diluar fisik itu sendiri.

Nilai Seni

Nilai adalah tanggapan individu terhadap sesuatu (seni) berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya masing-masing. Tanggapan individu akan memberikan kualitas nilai tertentu sesuai dengan nilai-nilai seni yang dikenal dan dialami oleh individu tersebut. Sehingga seni menjadi sangat subjektif terhadap individu yang menilainya. Tentu saja hal ini baru terjadi kalau benda seni itu memang mengandung atau menawarkan nilai-nilai objektifnya.

Relasi Seni

Penelitian antropologis disuatu Negara Afrika menunjukkan bahwa nilai-nilai seni baru muncul jika penanggap seni memiliki pengalaman dan pengetahuan yang dikandung oleh benda seni. Karya Beethoven diputar di depan anak-anak Afrika yang sekolah setara SMU, dan ternyata beberapa anak dapat menikmati musik itu. Tetapi, ketika karya musik yang sama diputar di depan penduduk pedesaan yang belum pernah berhubungan dengan budaya Barat, banyak yang tidak bisa menilai apakah musik itu memberikan suasana sedih atau gembira.

Seni baru ada jika terjadi dialog saling memberi dan menerima antara subjek seni (penanggap) dengan objek seni (benda seni). Inilah yang dimaksud dengan relasi seni. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak paham terhadap seni. Apakah mereka selamanya tidak dapat menjadi publik seni?

Pentingnya Edukasi Seni

Edukasi menjadi hal yang penting agar orang-orang yang belum mengerti seni dapat menjadi apresiator seni. Selain itu seni juga dapat diterima tanpa edukasi apabila jika wujud seni cukup populer, ringan dan mudah dipahami oleh kebanyakan masyarakat. Bukankah seharusnya seni dibuat sepopuler mungkin agar dapat menjamah seluruh kalangan masyarakat? Betul, hal itu sudah tidak dapat dibantah lagi, tapi dalam kasus tertentu terdapat beberapa karya seni yang tidak akan dimengerti oleh publik umum, seperti karya eksperimental, atau karya seni murni lain pada umumnya.

Karya seni seperti ini juga sangat penting untuk dipahami dan diapresiasi walaupun belum aplikatif untuk diterapkan pada masanya. Karya-karya seni rupa murni hari ini ingin terus mengeksplorasi berbagai pengalaman-pengalaman baru yang dapat digali dari kekayaan khazanah seni; riset untuk masa depan seni. Dibutuhkan jembatan khusus agar masyarakat umum dapat memahami pekerjaan seniman yang membuat karya yang sulit dimengerti ini. Selain itu perputaran ekonomi juga dibutuhkan untuk mendanai berbagai kebutuhan karya eksperimental itu.

Medan Seni/Art World

Dapat ditarik kesimpulan bahwa seni baru hadir setelah terjadi relasi antara subjek dan objek seni. Itupun belum cukup, seni harus didukung oleh berbagai individu/lembaga yang dapat menyokong kegiatan seni. Seni membutuhkan berbagai kesepakatan dan kerjasama antara sejumlah pemeran seni seperti seniman, kurator, galeri, kolektor, publik seni dan lain-lain. Inilah yang disebut dengan medan seni rupa. Seni tidak dapat berjalan atau dianggap ada tanpa adanya medan seni.

Hal ini sangat penting untuk dipahami agar seniman dapat mengerti bahwa meskipun seni tidak memiliki aturan, atau pakem. Seni subjektif nilainya bukan berarti seni tidak memiliki standar. Untuk menciptakan karya seni yang bahkan tidak memiliki fungsi nyata, bukan berarti seniman dapat meracau tanpa melihat standar-standar tertentu. Karena pada akhirnya, karya seni tersebut harus melewati medan seni rupa jika ingin dianggap ada.

Masih banyak hal yang dapat dibicarakan lebih jauh mengenai topik yang tidak pernah ada habisnya ini. Seniman berhak untuk menggunakan dan atau membuat pengertian seninya sendiri. Walaupun pada akhirnya semua harus dapat dipertanggungjawabkan ketika dihadapkan pada medan seni.

Referensi

  1. Sumardjo, Jakob. 2000. Filsafat Seni. Bandung: Penerbit ITB.
  2. Tolstoy, Leo. 1996. What is Art?. Cambridge: Hackett Publishing.
  3. edu .OUTLINE of TOLSTOY’S WHAT IS ART?. Minnesota State University Moorhead site, Diakses 27 Januari 2018. http://web.mnstate.edu/gracyk/courses/phil%20of%20art/tolstoy.outline.htm#deft
  4. Graham, Gordon. 1997. Philosophy of the Arts. Repository KNC India, Diakses tanggal 2018-01-22, http://www.knc.edu.in/wp-content/uploads/2016/07/Philosophy-of-the-Arts-Gordon-Graham.pdf

 

Bagikan Artikel Ini:

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas