Pengertian Perhatian

Menurut Dakir (dalam Makmun, 2017, hlm. 154) perhatian adalah keaktifan peningkatan kesadaran dalam pemusatannya kepada suatu hal baik di dalam maupun di luar diri kita. Peningkatan kesadaran itu adalah respons atau reaksi terhadap suatu stimulus. Perhatian adalah reaksi umum yang menyebabkan bertambahnya aktivitas daya konsentrasi, terhadap pengamatan, pengertian, dan sebagainya dengan mengesampingkan yang lain dari pada itu (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 145).

Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang di tujukan kepada sesuatu atau sekumpulan objek. Artinya, individu juga dapat mencurahkan perhatian dan konsentrasinya pada banyak objek sekaligus dalam satu waktu. Seperti yang diungkapkan oleh Siryabrata (dalam 2017, hlm. 154) bahwa perhatian adalah perumusan tenaga psikis yang tertuju pada suatu objek atau objek yang banyak.

Dengan demikian objek yang dicakup oleh perhatian tidak hanya bersifat tunggal atau satu objek saja, tetapi melainkan bisa sekumpulan objek. Oleh karena itu, banyak ahli yang menyimpulkan bahwa perhatian adalah proses menyeleksi. Proses penyeleksian dalam perhatian disebut sebagai inhibisi dan apersepsi.

  1. Inhibisi adalah perhatian dengan pembatasan kesadaran yang terhadap satu titik sentral atau pada satu objek, dan menyingkirkan hal-hal yang tidak perlu.
  2. Sedangkan apersepsi adalah usaha menampilkan hal-hal yang perlu Dan berkaitan dengan objek yang diminati.

Proses Berperhatian

Perhatian sangat dipengaruhi oleh perasaan dan suasana hati, serta ditentukan oleh kemauan. Sesuatu yang dianggap luhur, mulia, dan indah akan sangat memikat perhatian. Sebaliknya, sesuatu menakutkan atau mencekam juga dapat memikat perhatian. Hal yang tidak akan menarik perhatian adalah segala sesuatu yang membosankan, sepele, dan terus-menerus berlangsung.

Dalam praktiknya, perhatian seolah-olah lebih menonjolkan fungsi pikir, sementara minat seolah-olah lebih menonjolkan fungsi rasa, padahal, kenyataannya, apa yang menarik minat kita menyebabkan kita berperhatian (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 147).

Dapat disimpulkan bahwa perhatian adalah proses mental kognisi yang ditandai oleh bertambahnya aktivitas daya konsentrasi, terhadap pengamatan, pengertian, dan sebagainya dengan mengesampingkan yang lain untuk memusatkan konsentrasinya pada satu atau banyak hal sekaligus tergantung pada proses penyeleksian yang terjadi yang dapat disebabkan oleh banyak faktor, termasuk sesuatu yang menarik minat individu.

Meningkatkan Perhatian

Kartini Kartono (1984, hlm. 60 dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 147) mengemukakan bahwa perhatian itu tidak hanya berhubungan dengan pengamatan, melainkan juga berhubungan dengan fungsi-fungsi jiwa yang lain seperti pikiran (kognisi), perasaan (afeksi), dan kemauan (motivasi). Dari sini dapat dipahami bahwa memerhatikan (menaruh perhatian) itu adalah mengarah kepada mempersiapkan diri untuk melakukan pengamatan terhadap satu objek atau terhadap pelaksanaan suatu perbuatan.

Menurut Warsah & Daheri (2021, hlm. 147-149) terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi  agar perhatian seorang individu bisa mendapatkan manfaat sebanyak-banyaknya, yakni perhatian seseorang harus melakukan tiga aspek perhatian yang meliputi inhibasi, apersepsi, dan adaptasi yang akan dijelaskan sebagai berikut.

Inhibisi

Inhibisi adalah pelarangan atau penyingkiran isi kesadaran yang tidak diperlukan, atau menghalang- halangi masuk ke dalam lingkungan kesadaran. Misalnya, kita sedang bergiat bersiap diri untuk menempuh ujian. Agar perhatian kita tetap terarah pada tugas ujian, maka hendaknnya ada inhibisi, artinya segala apa yang mungkin mengganggu harus dicegah jangan sampai masuk ke dalam pikiran kita.

Apersepsi

Apersepsi adalah pengerahan dengan sengaja semua isi kesadaran, termasuk tanggapan, pengertian dan segala aspek yang bersesuaian atau berhubungan dengan objek pengertian itu sendiri. Tujuannya agar proses mental kita lebih memahami objek yang menjadi sasaran.

Sementara itu, Chatib (2016 dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 148) lebih mendefinisikan apersepsi sebagai pemberian stimulus khusus di awal pembelajaran guna memperoleh perhatian siswa. Stimulus khusus di sini dapat berupa cerita motivasi, pengulangan materi sebelumnya, sekilas info ataupun berita kondisi aktual.

Chatib mendefinisikan apersepsi yang diaplikasikan pada kegiatan pembelajaran, dan merupakan contoh sempurna untuk memperlihatkan apa itu apersepsi.

Meskipun definisi keduanya terdengar berbeda, namun mengarah pada esensi yang sama. Pada intinya persepsi merupakan persiapan mental dan pengetahuan agar kita mampu mengerahkan perhatian dengan lebih baik dan efisien dalam rangka penyerapan objek atau teks yang sedang diperhatikan dengan lebih maksimal.

Adaptasi

Dalam konteks perhatian, adaptasi adalah penyesuaian diri terhadap suatu hal yang akan diperhatikan. Misalnya, dalam gejala perhatian, organ-organ kita baik jasmani maupun rohani yang diperlukan untuk menerima objek harus bekerja dengan sungguh-sungguh. Dalam memperhatikan sesuatu, organ-organ kita menjadi giat menyesuaikan diri dengan objek/tujuan.

Adaptasi merupakan suatu problema yang perlu dipecahkan ketika seseorang ataupun sekelompok orang berkomunikasi dengan pihak lain yang berbeda budaya. Misalnya, Proses adaptasi antarbudaya merupakan proses interaktif yang berkembang melalui kegiatan komunikasi individu pendatang dengan lingkungan sosial budayanya yang baru.

Jika ketiga syarat tersebut (inhibisi, apersepsi, dan adaptasi) dapat dipenuhi, maka perhatian seseorang terhadap sesuatu akan berjalan dengan jauh lebih baik tanpa adanya gangguan yang berarti.

Macam-Macam Perhatian

Perhatian memiliki beragam jenis yang di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Perhatian spontan dan disengaja.
    Perhatian spontan disebut pula perhatian asli atau perhatian langsung adalah perhatian yang timbul dengan sendirinya oleh karena tertarik pada sesuatu dan tidak didorong oleh kemauan. Sementara itu perhatian disengaja adalah perhatian yang timbulnya di dorong oleh kemauan karena adanya tujuan tertentu.
  2. Perhatian statis dan dinamis.
    Perhatian statis adalah perhatian yang tetap terhadap sesuatu. Sementara itu, perhatian dinamis adalah perhatian yang mudah berubah-ubah.
  3. Perhatian konsentratif dan distributif.
    Perhatian konsentrasi adalah perhatian yang hanya ditujukan kepada suatu objek (masalah) tertentu. Sementara itu, perhatian distributif merupakan perhatian yang dibagi-bagi pada beberapa arah sekaligus.
  4. Perhatian sempit dan luas.
    Perhatian sempit artinya seseorang dengan perhatian sempit mudah memusatkan perhatiannya pada suatu objek spesifik, sebaliknya individu dengan perhatian luas kesulitan mengarah pada suatu spesifik.
  5. Perhatian fiktif (melekat) dan fluktuatif.
    Perhatian fiktif (melekat) adalah perhatian yang dapat melekat lama. Sementara itu, perhatian fluktuatif adalah perhatian yang berubah-ubah lekatannya atau hanya melekat pada yang dirasa penting saja (Warsah & Daheri, 2021, hlm. 149-150).

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Perhatian

Menurut Warsah & Daheri, 2021, hlm. 151-153) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perhatian yang di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Pembawaan
    Adanya pembawaan tertentu yang berhubungan dengan objek yang direaksi, maka sedikit atau banyak akan timbul perhatian terhadap objek tertentu.
  2. Latihan dan Kebiasaan
    Meskipun dirasa tidak ada bakat pembawaan tentang sesuatu bidang, tetapi karena hasil dari pada latihan/kebiasaan, dapat menyebabkan mudah timbulnya perhatian terhadap bidang tersebut.
  3. Kebutuhan
    Adanya kebutuhan tentang sesuatu memungkinkan timbulnya perhatian terhadap objek tersebut. Kebutuhan merupakan dorongan, sedangkan dorongan itu mempunyai tujuan yang harus dicurahkan kepadanya. Demi tercapainya sesuatu tujuan, di samping perhatian juga perasaan dan kemauan memberi dorongan yang tidak sedikit pengaruhnya. Kebutuhan ini dapat seperti yang diungkapkan dalam teori kebutuhan Maslow yang meliputi: kebutuhan fisiologis (makan/minum), rasa aman, dicintai, harga diri, dan aktualisasi diri.
  4. Kewajiban
    Di dalam kewajiban terkandung tanggung jawab yang harus di penuhi, entah kewajiban itu cocok atau tidak, menyenangkan atau tidak. Maka demi terlaksananya suatu tugas, apa yang menjadi kewajibannya akan dijalankan dengan penuh perhatian. kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan, harus (sesuatu yang harus dilaksanakan).
  5. Keadaan jasmani
    Sehat tidaknya jasmani, segar tidaknya badan sangat mempengaruhi perhatian kita terhadap sesuatu objek. f. Suasana jiwa Keadaan batin, perasaan, fantasi, pikiran dan sebagainya sangat mempengaruhi perhatian kita, mungkin dapat membantu juga dapat menghambat.
  6. Suasana di sekitar
    Adanya bermacam perangsang di sekitar kita, seperti kegaduhan, keributan, kekacauan, temperatur, sosial ekonomi, keindahan dan sebagainya dapat mempengaruhi perhatian kita.
  7. Kuat tidaknya perangsang dari objek itu sendiri
    Berapa kuatnya perangsang yang bersangkutan dengan objek perhatian sangat mempengaruhi perhatiaan kita (Danarjati, 2013 dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 153).

Referensi

  1. Makmun, Khairani. (2017). Psikologi Belajar. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
  2. Warsah, I., Daheri, M. (2021). Psikologi: suatu pengantar. Yogyakarta: Tunas Gemilang Press.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *