Sistem peredaran darah manusia adalah berbagai fungsi untuk mengedarkan darah ke seluruh tubuh yang dilakukan melalui kerja sama berbagai organ yang memiliki tugas dan fungsinya masing-masing. Kita semua pasti telah mengetahui apa itu darah secara umum. Suatu ketika dalam beberapa kejadian yang tidak mengenakan mungkin kita pernah terjatuh dan sedikit terluka sehingga mengeluarkan darah.

Namun sebetulnya mengapa saat kita terluka tubuh kita mengeluarkan darah? Apa fungsi dari darah? Mengapa tubuh kita membutuhkan darah? Berikut adalah kumpulan penjelasan mengenai sistem peredaran darah mulai dari fungsi, struktur, organ, cara kerja, gangguan dan penanggulangannya.

Darah

Darah adalah jaringan pengikat yang berwujud cair dan tersusun atas dua komponen utama yaitu plasma dan elemen seluler, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah atau disebut juga dengan trombosit (Tim Kemdikbud, 2017, hlm. 281).

Darah tersusun atas 55% plasma darah dan 45% sel-sel darah. Secara normal, lebih dari 99% sel-sel darah tersusun atas sel darah merah (eritrosit) dan sisanya tersusun oleh sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit).

Plasma Darah

Plasma darah tersusun atas 91,5% air (H2 O) dan 8,5% zat-zat terlarut. Zat-zat terlarut itu tersusun dari protein dan zat-zat lain. Protein-protein yang terlarut dalam plasma antara lain:

  1. albumin,
  2. fibrinogen, dan
  3. globulin yang sering disebut sebagai protein plasma.

Zat-zat lain yang terlarut dalam plasma darah meliputi sari makanan, mineral, hormon, antibodi, dan zat sisa metabolisme (urea dan karbon dioksida).

Sel Darah Merah

Sel darah merah berbentuk bulat pipih dengan bagian tengahnya cekung (bikonkaf), dan tidak memiliki inti sel. Warna merah pada sel darah merah disebabkan adanya hemoglobin (Hb) dalam sel darah merah. Hemoglobin merupakan suatu protein yang mengandung unsur besi.

Hemoglobin dalam eritrosit berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel-sel seluruh tubuh dalam bentuk oksihemoglobin dan mengangkut karbon dioksida dari sel-sel tubuh ke paru-paru dalam bentuk karbaminohemoglobin.

Oksihemoglobin

Sel darah merah adalah unsur paling banyak yang terdapat dalam darah, yang berjumlah 1 mm3 atau kurang lebih terdapat 4-5 juta sel darah merah dalam satu tetes darah. Ketika dalam paru-paru, hemoglobin dalam sel darah merah mempunyai daya ikat yang tinggi terhadap oksigen, sehingga akan mengikat oksigen membentuk kompleks oksihemoglobin. Persamaan reaksi kimianya adalah:

Karbaminohemoglobin

Ketika sel darah merah berada dalam jaringan tubuh, daya ikat hemoglobin terhadap oksigen berkurang, sehingga oksigen terlepas dari hemoglobin menuju sel-sel tubuh. Sebaliknya, saat berada dalam jaringan tubuh, daya ikat hemoglobin terhadap karbon dioksida tinggi. Karbon dioksida berikatan dengan hemoglobin membentuk karbaminohemoglobin. Persamaan reaksi kimianya adalah:

Sel darah merah yang mengandung karbaminohemoglobin selanjutnya menuju paru-paru. Di dalam paru-paru karbon dioksida dilepaskan untuk dikeluarkan dari tubuh.

Sel darah merah dibentuk di dalam sumsum merah tulang. Namun, selama dalam kandungan, sel darah merah dibentuk dalam hati dan limpa. Sel darah merah hanya berusia sekitar 100 – 120 hari. Sel yang telah tua akan dihancurkan oleh sel makrofag di dalam hati dan limpa. Selanjutnya, di dalam hati, hemoglobin dirombak, kemudian dijadikan bilirubin (pigmen empedu).

Sel Darah Putih (Leukosit)

Sel darah putih memiliki bentuk yang tidak tetap atau bersifat ameboid dan mempunyai inti. Jumlah sel darah putih tidak sebanyak jumlah sel darah merah, setiap 1 mm3 darah mengandung sekitar 8.000 sel darah putih. Fungsi sel darah putih adalah untuk melawan kuman/bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh, baik melalui fagositosis maupun dengan membentuk antibodi.

Apabila dalam darah terjadi peningkatan jumlah leukosit, maka kemungkinan terjadi infeksi di bagian tubuh. Jika jumlah leukosit sampai di bawah 6.000 sel per 1 mm3 darah disebut sebagai kondisi leukopenia. Jika jumlah leukosit melebihi normal (di atas 9.000 sel per 1 mm3 ) disebut leukositosis.

Berdasarkan ada tidaknya butir-butir kasar (granula) dalam sitoplasma leukosit, leukosit dapat dibedakan menjadi granulosit dan agranulosit. Leukosit jenis granulosit terdiri atas eosinofil, basofil, dan netrofil. Agranulosit terdiri atas limfosit dan monosit.

Keping Darah (Trombosit)

Bentuk trombosit beraneka ragam, yaitu bulat, oval, dan memanjang. Trombosit tidak berinti dan bergranula. Jumlah sel pada orang dewasa sekitar 200.000 – 500.000 sel per 1 mm3 darah. Umur dari keping darah cukup singkat, yaitu 5 sampai 9 hari. Keping darah sangat berhubungan dengan proses mengeringnya luka, oleh karena itu keping darah sering disebut sebagai sel darah pembeku.

Proses Pembekuan Darah oleh Trombosit

Sesaat setelah bagian tubuh terluka, trombosit akan pecah karena bersentuhan dengan permukaan kasar dari pembuluh darah yang luka. Di dalam trombosit, terdapat enzim trombokinase atau tromboplastin.

Enzim tromboplastin akan mengubah protrombin (calon trombin) menjadi trombin karena pengaruh ion kalsium dan vitamin K dalam darah. Trombin akan mengubah fibrinogen (protein darah) menjadi benang-benang fibrin. Benang-benang fibrin ini akan menjaring sel-sel darah sehingga luka tertutup dan darah tidak menetes lagi.

Jantung dan Pembuluh Darah

Organ yang berperan dalam melakukan peredaran darah adalah jantung dan pembuluh darah. Berikut adalah pemaparan dari keduanya.

Jantung

Jantung adalah organ yang berperan memompa darah agar dapat mengalir ke seluruh tubuh. Organ jantung terdiri atas 4 ruangan, yaitu serambi (atrium) kiri dan serambi (atrium) kanan serta bilik (ventrikel) kiri dan bilik (ventrikel) kanan.

Serambi jantung terletak pada bagian atas, sedangkan bilik jantung terletak di sebelah bawah. Darah dari seluruh tubuh, akan masuk pertama kali ke serambi kanan, sehingga darah dalam serambi kanan banyak mengandung CO2 .

Dari serambi kanan, darah akan melewati katup trikuspidalis menuju bilik kanan. Katup ini berfungsi agar darah tidak dapat kembali ke serambi kanan. Darah yang ada dalam bilik kanan, dipompa oleh bilik kanan melewati arteri pulmonalis menuju paru-paru agar CO2 dalam darah terlepas dan terjadi pengikatan O2 .

Selanjutnya darah dari paru-paru mengalir melalui vena pulmonalis menuju serambi kiri, sehingga darah dalam serambi kiri banyak mengandung O2 . Darah dari serambi kiri turun melalui katup bikuspidalis menuju bilik kiri. Bilik kiri akan memompa darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh aorta.

Mengapa jantung dapat memompa darah? Karena jantung terdiri atas dinding-dinding otot yang dapat berkontraksi secara tak sadar (otonom) karena dikendalikan oleh saraf otonom. Di dalam jantung terdapat syaraf khusus yang disebut dengan pacu jantung (pacemaker) yang diperankan oleh nodus sinoatrial. Pacu jantung itulah yang berperan dalam mengatur irama detak jantung.

Pembuluh Darah

Pembuluh darah dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yakni pembuluh nadi (arteri), pembuluh balik (vena), dan pembuluh kapiler.

  1. Pembuluh nadi atau arteri merupakan pembuluh darah yang mengalirkan darah keluar jantung, sedangkan vena mengalirkan darah masuk ke dalam jantung. Arteri berisi darah yang mengandung oksigen, kecuali pembuluh arteri pulmonalis.
  2. Pembuluh balik atau vena berisi darah yang banyak mengandung karbon dioksida, kecuali vena pulmonalis.
  3. Ujung arteri dan vena bercabangcabang menjadi pembuluh-pembuluh kecil yang disebut pembuluh kapiler. Pada pembuluh kapiler inilah terjadi pertukaran gas oksigen dan gas karbon dioksida antara darah dengan jaringan tubuh.

Untuk lebih memahami pembuluh arteri dan vena, berikut adalah perbedaan pembuluh arteri dan vena.

Pembeda Arteri (Pembuluh Nadi) Vena (Pembuluh Balik)
Tempat : Agak tersembunyi di dalam tubuh Dekat dengan permukaan tubuh, tampak kebiru-biruan
Dinding Pembuluh : Tebal, kuat, elastis Tipis dan tidak elastis
Aliran Darah : Meninggalkan Jantung Menuju jantung
Denyut : Terasa Tidak terasa
Katup : Satu pada pangkal jantung Banyak di sepanjang pembuluh darah
Darah yang keluar : Darah memancar Darah tidak memancar

Peredaran Darah pada Manusia

Peredaran darah manusia dikategorikan sebagai peredaran darah tertutup karena darah selalu beredar di dalam pembuluh darah. Setiap beredar, darah melewati jantung dua kali sehingga disebut peredaran darah ganda. Pada peredaran darah ganda tersebut dikenal peredaran darah kecil dan peredaran darah besar.

Peredaran darah kecil adalah peredaran darah yang dimulai dari jantung (bilik kanan) menuju ke paru-paru kemudian kembali lagi ke jantung/serambi kiri (gambar 1-5). Peredaran darah besar merupakan peredaran darah dari jantung (bilik kiri) ke seluruh tubuh kemudian kembali ke jantung lagi/serambi kanan (gambar 6-10).

Frekuensi Denyut Jantung

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi frekuensi denyut jantung. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah jenis kelamin dan aktivitas tubuh, dan beberapa hal yang akan disampaikan di bawah ini.

Kegiatan atau Aktivitas Tubuh

Seseorang yang melakukan aktivitas memerlukan lebih banyak sumber energi berupa glukosa dan oksigen jika dibandingkan dengan orang yang tidak melakukan aktivitas atau bersantai bahkan tiduran. Untuk memenuhi kebutuhan sumber energi dan oksigen tersebut, maka jantung harus menyesuaikan kecepatan memompa darah menjadi lebih cepat.

Jenis Kelamin

Pada umumnya perempuan memiliki frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan laki-laki. Dalam kondisi normal, denyut jantung perempuan berkisar antara 72-80 denyutan/menit, sementara itu denyut jantung laki-laki berkisar antara 64-72 denyutan/menit.

Suhu Tubuh

Semakin tinggi suhu tubuh maka semakin cepat frekuensi denyut jantung. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan proses metabolisme, sehingga diperlukan peningkatan pasokan O2 dan pengeluaran CO2 .

Umur

Pada janin (jabang bayi), denyut jantung dapat mencapai 140-160 denyutan/ menit. Semakin bertambah umur seseorang, semakin rendah frekuensi denyut jantungnya. Hal tersebut berkaitan erat dengan makin berkurangnya proporsi kebutuhan energinya.

Komposisi Ion

Berdenyutnya jantung secara normal, tergantung pada keseimbangan komposisi ion di dalam darah. Ketidakseimbangan ion, dapat menyebabkan ketidaknormalan denyut jantung sehingga berbahaya bagi jantung.

Gangguan atau Kelainan pada Sistem Peredaran Darah dan Cara Mencegahnya

Penyakit jantung adalah salah satu penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di seluruh dunia. Selain itu, penyakit stroke yang dapat melumpuhkan tubuh dan menimbulkan berbagai penyakit komplikasi lainnya adalah peristiwa yang terjadi karena adanya gangguan pada sistem peredaran darah dan masih berkaitan erat dengan jantung pula.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita semua untuk memelihara kesehatan jantung dan sistem peredaran darah untuk menghindari berbagai penyakit berbahaya yang menaunginya. Berikut adalah beberapa penyakit pada sistem peredaran darah manusia beserta cara mencegah dan menanggulanginya.

Jantung Koroner

Penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kematian, baik di negara maju maupun negara berkembang. Penyakit jantung koroner terjadi jika arteri koronaria tidak dapat menyuplai darah yang cukup ke otot-otot jantung. Arteri koronaria merupakan pembuluh darah yang menyuplai nutrisi dan oksigen ke otot-otot jantung. Kondisi ini dapat terjadi karena arteri koronaria tersumbat oleh lemak atau kolesterol.

Jika otot-otot jantung tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen, maka otot jantung tidak dapat berkontraksi, sehingga jantung tidak dapat berdenyut. Gejala dari penyakit jantung koroner antara lain dada terasa sakit, sakit pada bagian lengan dan punggung, napas pendek dan kepala pusing.

Bagaimana cara mencegah terjadinya penyakit jantung koroner? Berikut adalah beberapa cara untuk mencegahnya.

  1. Melakukan olahraga dan istirahat yang teratur. Berolahraga tidak harus berat yang terpenting adalah teratur. Istirahat yang cukup sangatlah penting untuk menjaga kesehatan secara umum.
  2. Menjaga pola makan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan dengan makan secara teratur, menyesuaikan jumlah kalori yang masuk ke tubuh sesuai dengan kebutuhan, serta menyeimbangkan komposisi nutrisi.
  3. Menghindari minuman beralkohol. Minuman beralkohol dapat memicu terjadinya gangguan pada sistem peredaran darah.
  4. Menghindari atau menghentikan kebiasaan merokok. Perokok mempunyai peluang terkena stroke dan jantung koroner sekitar dua kali lipat lebih tinggi dibanding dengan bukan perokok.
  5. Menghindari stres berlebih. Stres berlebih dapat menyebabkan naiknya tekanan darah dan meningkatnya denyut jantung sehingga akan menyebabkan kerusakan dinding pembuluh darah.
  6. Menjaga berat badan dalam kondisi ideal. Obesitas (berat badan berlebih) dapat meningkatkan risiko terkena serangan stroke sebesar 15%. Selain itu, obesitas juga dapat menyebabkan terjadinya hipertensi dan penyakit jantung.

Stroke

Stroke adalah penyakit yang terjadi karena kematian pada jaringan di otak yang disebabkan karena kurangnya asupan oksigen di otak. Hal ini terjadi karena pembuluh darah pada otak tersumbat oleh lemak atau kolesterol ataupun salah satu pembuluh darah di otak pecah.

Karena penyebab penyakit stroke sama dengan penyebab penyakit jantung, maka cara dan usaha yang dapat kita lakukan untuk mengurangi risiko terkena stroke juga sama dengan usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena penyakit jantung koroner.

Varises

Varises adalah suatu penyakit yang terjadi karena keadaan pembuluh darah balik (vena) mengalami pelebaran dan terpuntir. Gangguan ini biasanya terjadi di daerah kaki. Untuk menghindari penyakit ini kita dapat memperhatikan beberapa upaya di bawah ini.

  1. Ketika tidur sebaiknya tungkai dinaikkan (kurang lebih 15-20 cm). Aktivitas ini sebaiknya dilakukan setelah kamu melakukan perjalanan jauh atau melakukan aktivitas yang melelahkan.
  2. Menghindari berat badan berlebih.
  3. Menghindari berdiri terlalu lama.
  4. Berolahraga secara teratur seperti berjalan, berenang, dan senam.
  5. Menghindari memakai sepatu dengan hak tinggi.

Anemia

Anemia merupakan gangguan yang disebabkan karena kekurangan hemoglobin atau kekurangan sel darah merah. Apabila kadar hemoglobin dalam darah rendah dapat menyebabkan tubuh kekurangan oksigen sehingga tubuh akan terasa lesu, kepala pusing, dan muka pucat.

Anemia dapat terjadi karena terganggunya produksi eritrosit. Kondisi ini terjadi karena tubuh kekurangan zat besi. Anemia juga dapat disebabkan karena terjadinya pendarahan yang hebat. Anemia dapat terjadi pada saat perempuan sedang mengalami menstruasi. Setiap terjadi menstruasi tubuh seorang perempuan akan kehilangan darah dalam jumlah cukup banyak, yaitu sebanyak 50 – 80 mL dan zat besi sebesar 30 – 50 mg.

Anemia dapat dihindari dengan cara mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi, mengonsumsi makanan bergizi, dan jika diperlukan mengonsumsi suplemen penambah zat besi.

Hipertensi dan Hipotensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi ketika tekanan darah berada di atas 120/80 mmHg. Gejala penderita hipertensi antara lain sakit kepala, kelelahan, pusing, pendarahan dari hidung, mual, muntah, dan sesak napas.

Hipertensi dapat disebabkan karena arteriosklerosis (pengerasan pembuluh darah), obesitas (kegemukan), kurang olahraga, stres, mengonsumsi minuman beralkohol atau yang banyak mengandung garam, lemak, dan kolesterol.

Penderita hipertensi yang disebabkan karena obesitas harus menurunkan berat badannya, sehingga mencapai berat badan ideal. Cara menghindarinya adalah dengan olahraga teratur dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol, makanan tinggi lemak dan kolesterol, rokok, serta mengurangi stres.

Sementara itu, penyakit hipotensi terjadi jika tekanan darah kurang dari 120/80 mm Hg. Oleh karena itu, hpotensi disebut juga dengan tekanan darah rendah. Seseorang yang mengalami tekanan darah rendah umumnya akan mengeluhkan keadaan sering pusing, sering menguap, penglihatan terkadang dirasakan kurang jelas (berkunang-kunang) terutama sehabis duduk lama lalu berjalan, keringat dingin, merasa cepat lelah tak bertenaga, detak/denyut nadi lemah, dan tampak pucat.

Berikut ini ada beberapa cara untuk mengatasi hipotensi:

  1. Minum air putih dalam jumlah yang cukup banyak antara 8 hingga 10 gelas per hari,
  2. mengonsumsi minuman yang dapat meningkatkan tekanan darah seperti kopi,
  3. mengonsumsi makanan yang cukup mengandung garam, dan berolahraga dengan teratur.

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Ilmu Pengetahuan Alam SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *