Teks cerita fantasi adalah salah satu varian teks narasi yang memiliki tema imajinasi dan fantasi sebagai plot utamanya. Berikut adalah beberapa contoh teks cerita fantasi dengan berbagai tema seperti: sihir, persahabatan, dan cermin ajaib yang merupakan kisah fantasi dekonstruksi dari “Rama dan Shinta”.

Cerita Fantasi tentang Sihir

Sihir Nina

Orientasi

Alangkah beruntungnya Nina memiliki keluarga idaman yang sangat menyayanginya kali ini. Keluarga barunya benar-benar memperlakukannya bak anak kandung satu-satunya yang mereka miliki. Nina telah lama berpindah-pindah keluarga karena keluarga yang mengadopsinya selalu tiba-tiba melepaskannya. Panti asuhan bahkan sempat bertanya-tanya akan tersebut. Mereka bahkan sempat mempertanyakan apakah Nina adalah anak yang nakal? Karena keluarga yang mengadopsinya selalu beralasan tidak sanggup, atau bahkan ketakutan untuk mengasuh Nina.

Komplikasi

Namun sekarang sudah tak habis pikir. Karena ia telah berbahagia dengan keluarga barunya lebih dari dua tahun ini. Setelah merenungkan masa lalunya, nina tak kuasa menahan bersin. Saat ia bersin, butiran percikan cahaya keemasan keluar dari hembusan mulutnya. Nina kaget melihatnya dan semakin terkejut melihat topi yang dikelilingi percikan cahaya itu kini melayang dihadapannya. “Lho, Nina sudah bisa menyihir sambil bangun ya sekarang” ucap ibu tirinya yang tiba-tiba berada di samping Nina.

Resolusi

“Lho, mama kok tiba-tiba muncul sih?’ tanya Nina. “Tebak…”,  jawab ibunya. “Apa? Nina bahkan tidak tahu apa yang mama omongin soal sihir-sihiram tadi” balasnya.  “Kamu penyihir, mama juga penyihir” “ah mama ngomong apa sih” “ga percaya? Nanti kita belajar bareng-bareng ya” balas mama nina sambil tiba-tiba menghilang meninggalkan serbuk keemasan yang Nina keluarkan saat bersin tadi.

Nina makin tidak paham apa yang sebenarnya terjadi dengan topi itu. Ia menggaruk-garuk kepalanya sambil bergumam dalam hati “kenapa sih ini”. “Besok mama jelasin ya nin, sekarang mama  sibuk menyelesaikan pesanan tetangga” Nina kaget lagi, karena suara mama terdengar di dalam pikirannya. “Ngga kok, mama ga bisa baca pikiran kamu, mama cuma bisa ngomong, yang lain juga begitu”.

Cerita Fantasi tentang Persahabatan

Bola Persahabatan

Orientasi

Lapangan ini adalah saksi bisu atas apa yang terjadi sepuluh tahun lalu. Tahun di mana aku masih duduk si bangku SMP dan tak kenal lelah untuk bermain bola di sini. Tentunya bersama teman-temanku, teman yang menemukan tempat tersendiri di dalam hatiku. Bagaimana pun aku akan melupakan masa naif itu, dimana kami dengan angkuhnya menantang para murid SSB yang terkadang bermain di sini. Tak usah diceritakan lagi bagaimana hasilnya. Melawan anak-anak komplek yang disebut-sebut lebih manja dari anak kampung saja kami tetap kalah. Tapi itu bukan inti dari permainan ini. Permainan yang tak sengaja membawa kami pada peristiwa langka itu. Peristiwa yang pada saat kami kecil saja kami tidak mempercayainya. Anak-anak se-halu kami saja tak sanggup mencernanya.

Komplikasi

Kejadiannya bermula di saat kami memutuskan untuk mencari lapangan baru. Tidak ada alasan khusus, kami hanya ingin mencari suasana baru. Selain itu, salah satu teman kami berkata bahwa ia menemukan tempat bagus untuk bermain bola. Tapi, lapangan itu berada di sebrang hutan belantara yang jarang dilewati warga. Tepatnya, lapang tersebut merupakan lembah diantara dua gunung yang mengapit desa kami.

Setelah berjalan selama beberapa jam, akhirnya kami tiba di sana. Lapangan ini memang tampak menjanjikan. Belum lagi pandangan yang asri mengelilingi sekitar pula. Rumputnya mungkin agak sedikit terlalu lebat, tapi tak jadi halangan bagi bola plastik yang kami bawa. Namun di sana kami malah asyik bereksplorasi. Karena kawasan tersebut masih asing bagi kami. Kemudian, bola yang kami bawa tiba-tiba menggelinding dengan cepat. Aku pun mengejarnya, tapi bola itu meluncur dengan kencang, sulit untuk menyamainya. Setelah beberapa saat berlari, aku baru tersadar akan satu hal yang janggal. Area ini datar, tidak mungkin bola itu dapat menggelinding sendiri. Akhirnya aku berhenti berlari dan seketika, bola itu pun berhenti bergerak.

Keringat dingin menetes di dahiku. Aku lantas menegok ke belakang dan tidak ada siapa-siapa disana. Entah kemana kawan-kawanku berada. Kali ini, hawa di sekitarki terasa berbeda. Angin sepoy sepoy yang berhembus tenang berubah menjadi angin kering yang menusuk dadaku. Aku kembali melohat bola itu dan tampak Dani, sedang berusaha mengambil bola itu. Disusul oleh tepukan tangan di bahu sebelaj kananku yang membuatku terkaget. “Den, tadi ga ada yg nendang bola kan?” Tanya temanku. “Ngga” balasku singkat. “Ketiup angin kali ya?” “Iya” balasku singkat lagi sambil menahan kengerian yang ku alami.

Ia pun lantas setengah menariku bersama dengan kawanku yang lain. Sementara itu, Dani juga sudah berhasil mengambil bola dan bergabung bersama kami. “Mau kemana dan?” Tanyaku. Kali ini Dani diam, dia hanya terus menarik tanganku sambil memboyongku ke arah timur, arah kebalikan dari arah bola itu meluncur. Kami semua tak berhenti berlali kecil hingga tiba di batas tepian hutan yang telah kami lewati sebelumnya. Entah mengapa, bahkan suasana hutan belantara yang gelap ini terasa lebih nyaman jika dibandingkan dengan lapang itu.

Resolusi

Setelah berjalan setengah perjalanan menuju pulang, akhirnya Dani bergeming. “Bagus ya den tadi tempatnya”. ” Iya sih, tapi…” “Tapi mistis? Hehe, ngga apa-apa kok den, ga usah takut” “Tapi kan kamu tadi liat sendiri, itu bola meluncur sendiri”. Lantas Dani sambil tersenyum berkata “Selama kita bareng ga bakal ada kejadian apa-apa den, santai aja”.

Tanpa pikir panjang aku lalu membalas perkataan itu dengan tawa kecil sambil bergumam “mau jadi anime lu dan”. Sontak semua kawanan kami pun tertawa mendengarnya.

Contoh Cerita Fantasi Cinta dan Keluarga

Cermin Ajaib

Orientasi

Pagi itu Sinta sedang malas-malasnya untuk bangun dan bersiap ke sekolah. Karena semalam pekerjaan rumahnya baru ia selesaikan sekitar pukul 11 malam. Ia baru mampu membuka sebelah mata dan mengintip jam weker. Namun seketika perhatiannya teralihkan oleh handphonenya yang berkedip. Ia mengambilnya lalu menemukan bahwa ternyata Rama telah membalas pesan Whatsappnya. Saat itu pula Sinta tiba-tiba beranjak dari kamarnya dan lekas bersiap untuk berangkat ke sekolah.

Hal tersebut sebetulnya tidak mengherankan. Karena, diam-diam, selama ini, Rama adalah tambatan hati Sinta. Ia mengidolakan Rama karena Rama adalah anak yang ramah, sopan, dan berprestasi di sekolah. Meskipun masih duduk di bangku kelas 10 SMA, sinta sudah mulai belajar berdandan. Meskipun begitu, dandanan yang ia kenakan tidak berlebihan dan lebih berlandaskan menjaga kesehatan wajah saja. Jadi, salah satu persiapannya ke sekolah adalah dengan mengaplikasikan lip gloss ke bibirnya.

Namun, pagi itu, ia tidak dapat menemukan cermin kecil yang biasa ia gunakan untuk berdandan. Ia pun terus mencari hingga akhirnya berpapasan dengan ibunya yang sedang sibuk di dapur. “Ma…, Mama liat cermin bedak Sinta ga?” Tanya Sinta. “Nggak, sinta… Ini sudah terlalu siang lho, kenapa kamu belum berangkat juga, nanti telat” balas ibunya. “Iya ma, tapi kan Sinta belum pake lip gloss”. “Pake cermin di lemari kamu aja sin” “ngga bisa ma, ga keliatan, mesti deket” balas Sinta sambil mengeliuh. “Ya udah pake cermin bedak mama aja, kamu ambil sendiri di kamar mama, di meja rias”.

Komplikasi

Sinta lantas beranjak ke kamar ibunya dan segera menghampiri meja rias. Saat menghampirinya, Sinta melihat sederetan peralatan make up. Namun, ia tidak menemukan cermin bedak kepunyaam ibunya. Ia akhirnya mencoba mencarinya di laci meja itu. Ia menemukan cermin kecil yang agak kusam dan tampak terlihat sudah berumur. “Nah, ini aja deh, bisa” gumamnya dalam hati.

Namun, ketika ia bercermin, bukan wajahnya yang nampak. Sinta sontak kaget dan membalikkan cermin itu ke atas meja. Jantungnya berdebar kencang dan sedikit nafasnya berpacu tak terkendali. “Mungkin cuma salah liat” ia berusaha menenangkan pikirannya di dalam hati. Tak lama dengan sedikit keraguan ia membalikkan cermin itu lagi. Kali ini, ia benar-benar memfokuskan pandangannya pada cermin. Namun, ternyata sekali lagi ia melihat sosok lain yang berada di cermin itu. Seorang pria dengan wajah muram dengan alis tebal dan berpenampilan sedikit sangar. Ya, Sinta mengenali sosok itu. Ia adalah teman sekolahnya, pria yang justru kebalikan dari Rama. Ia kurang menyukai sosok pria itu karena pendiam dan selalu menyorotkan pandangan tidak ramah pada siapapun. Ia adalah Rahwana.

Resolusi

“Sin, Sinta… Kamu kenapa sayang?” Terdengar suara ibunya mendekat. Wajar saja jika ibunya khawatir, karena bunyi cermin yang tadi dihentakan Sinta ke meja cukup keras. Ibunya lantas melihat Sinta yang sedang bercermin dengan wajah ketakutan dan penasaran. “Kok pake cermin itu Sin” tanya Ibunya. Sinta masih tidak bergerak dan belum menghiraukan pertanyaan ibunya. “Oh, kamu bisa liat juga ya, kamu liat siapa sin?” Kali ini Sinta membalasnya “Lho, mama tau? Sinta liat Rahwana ma, temen sekolah” balas Sinta makin keheranan. “Oh, ternyata kamu udah kenal ya, ya baguslah” balas ibunya “Hah? Maksudnya gimana ma?” jawab sinta sambil menyipingkan matanya.

“cermin itu pusaka keluarga kita sin, nenek kamu sih nyebutnya cermin jodoh” balas ibunya sambil tertawa kecil. “Hah? Sejak kapan kita punya beginian ma, lagian.. ga mungkin Rahwana ma, Sinta ga suka sama dia, malah agak kekih” jawabnya. “Namanya jodoh siapa yang tau sin” “Ngga ah, ga mau!” tegas Sinta. “Ah lagian kamu masih SMA, mana tau soal gituan, masih belum umur!” balas mamanya. “Ih tapi ga mungkin, Rahwana itu orangnya jutek banget, diajak ngobrol juga susah, mana kasar lagi, ga ada lembut-lembutnya ke cewek ma” balas Sinta. “Kamu kenal sama dia sin? Maksudnya, bener-bener tau isi hati sama sifatnya gimana?” “Boro-boro, kan kata Sinta juga diajak ngobrol aja susah”. “Ya sudah kalau begitu, jangan menilai seseorang dari sikapnya saja, belum tentu seseorang yang sikapnya dingin seperti itu memiliki hati yang buruk”.

Sinta lalu tertegun sejenak merenungkan perkataan ibunya tersebut. Namun, tak lama ia kembali sadar bahwa persoalan pokok kali ini bukanlah soal Rahwana apalagi jodohnya. “Lho tapi kok mama punya cermin gini sih? Ini beneran? Ga ada layarnya kan?” Tanya Sinta sambil meraba-raba bagian belakang cermin itu. “Itu belum seberapa sin, masih banyak pusaka lain yang kamu bakal lebih kaget liatnya” balas ibunya sambil mengedipkan matanya.

Gabung ke Percakapan

2 tare

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *