Pengertian Teks Narasi

Teks narasi adalah jenis teks yang berisi cerita yang disampaikan melalui alur peristiwa yang disusun secara kronologis atau kausalitas atau sebab-akibatnya. Teks ini merupakan salah satu jenis teks yang memiliki banyak turunan. Turunan tersebut meliputi teks cerita fantasi, teks fabel, teks cerita sejarah, berita dalam bentuk narasi, dsb.

Pernyataan tersebut sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh tim Kemdikbud (2017, hlm. 194) bahwa apa itu teks narasi adalah teks yang mencakup semua jenis tulisan atau lisan yang mengandung unsur cerita. Bahkan, di luar jenis-jenis teks turunan lainnya, dalam kehidupan sehari-hari pun kita tes terlibat dengan cerita. Misalnya, berbincang dengan teman sambil menceritakan suatu kejadian adalah kegiatan bercerita pula yang berarti, sebetulnya kita sedang bernarasi secara lisan.

Kemudian, Tim Kemdikbud (2017, hlm. 50) menambahkan bahwa narasi merupakan cerita fiksi yang berisi perkembangan kejadian atau peristiwa. Maksudnya, cerita tersebut disampaikan secara berurutan mulai dari latar belakang hingga puncak kejadian.

Sementara itu, Okke (2015, hlm. 52) menyatakan bahwa narasi adalah serangkaian peristiwa yang terjadi pada seorang tokoh (manusia, binatang, tanaman, atau benda) bisa peristiwa nyata, meskipun disebut fiktif. Ditandai dengan adanya hubungan waktu, peristiwa disusun secara kronologis.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa teks narasi adalah teks yang menyampaikan cerita berupa rangkaian peristiwa yang terjadi pada suatu tokoh mulai dari latar belakang terjadinya peristiwa hingga puncak peristiwa dan penyelesaiannya.

Struktur Teks Narasi

Teks narasi terdiri dari beberapa bagian yang membentuknya menjadi suatu teks utuh dan berbeda dengan teks yang lain. Secara umum Kosasih (2016, hlm. 300-302) mengatakan bahwa struktur narasi terbagi menjadi beberapa bagian, yang meliputi:

  1. Pengenalan situasi cerita (exposition, orientasi),
    pada bagian ini, penulis mulai memperkenalkan tokoh, dan hubungan antartokoh, hingga menata adegan yang akan membawa mereka pada alur peristiwa.
  2. Pengungkapan peristiwa,
    bagian struktur narasi ini menyajikan peristiwa awal yang menimbulkan berbagai masalah, pertentangan, atau kesukaran-kesukaran bagi para tokohnya.
  3. Menuju konflik (rising action),
    terjadi peningkatan keterpurukan, kehebohan, atau perhatian kegembiraan, hingga kemunculan berbagai situasi yang menyebabkan bertambahnya kesukaran tokoh menuju puncak konflik.
  4. Puncak konflik (turning point),
    puncak konflik atau disebut juga dengan klimaks adalah bagian narasi yang paling menghebohkan atau mendebarkan, di mana kisah sedang berada pada puncak konfliknya.
  5. Penyelesaian (evaluasi, resolusi),
    bagian ini mengulas seluruh penjelasan atau penilaian mengenai sikap atau nasib yang menimpa tokoh-tokoh nya setelah mengalami puncak konflik pada bagian klimaks.
  6. Koda,
    Bagian ini merupakan bagian opsional yang berupa komentar terhadap keseluruhan isi cerita yang sebagai penutup kisah.

Unsur Unsur Teks Narasi

Keraf (2010, hlm. 45) menyatakan bahwa narasi  terdiri atas beberapa unsur pembentuknya pula. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut ini.

  1. Tema, yang merupakan pokok pembicaraan dan dasar atas pengembangan kisah yang diceritakan oleh penulis.
  2. Latar, yakni waktu, lingkungan sosial, dan tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan.
  3. Penokohan, yaitu bagaimana watak dan penggambaran tokoh yang terdapat dalam karangan narasi.
  4. Alur, merupakan pola atau rangkaian tindak-tanduk peristiwa atau kejadian yang berusaha memecahkan konflik dalam narasi.

Ciri Ciri Teks Narasi

Seperti teks lainnya, narasi memiliki beberapa ciri khusus yang membedakannya dengan genre teks lain. Menurut (Keraf, 2010, hlm. 136) ciri-ciri dari narasi adalah sebagai berikut.

  1. Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan dan dirangkai dalam urutan waktu tertentu.
  2. Berusaha menjawab pertanyaan: apa yang sedang terjadi?
  3. Terdapat konfik, karena narasi dibangun oleh suatu alur cerita dan alur tersebut tidak akan membosankan jika tidak ada konflik.

Selain itu, Semi (2013, hlm. 31) mengungkapkan beberapa ciri teks narasi lainnya sebagai berikut.

  1. Berupa cerita atau kisah mengenai peristiwa hingga pengalaman penulis.
  2. Kejadian atau peristiwa dari cerita yang disampaikan dapat berupa peristiwa nyata atau sebatas imajinasi hingga gabungan keduanya.
  3. Narasi disusun berdasarkan konflik, tanpanya alur akan menjadi kurang menarik.
  4. Mengandung nilai estetika
  5. Menekankan susunan alur secara kronologis.

Sementara itu, Tim Kemdikbud (2017, hlm. 50) menyatakan bahwa ciri umum teks narasi adalah sebagai berikut.

  1. Narasi memiliki cerita yang berisi perkembangan kejadian atau peristiwa.
  2. Rangkaian peristiwa dalam cerita teks narasi digerakkan dengan hukum sebab-akibat. Cerita berkembang dari tahap pengenalan (apa, siapa, dan di mana kejadian terjadi), timbulnya pertentangan, dan penyelesaian/akhir cerita. Rangkai n cerita ini disebut alur.
  3. Teks narasi memiliki tokoh dengan wataknya yang mengalami rangkaian peristiwa.
  4. Narasi memiliki tema atau ide pokok yang menjadi pusat pengembangan cerita secara keseluruhan
  5. Memiliki amanat yang berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan dan sifatnya harus disimpulkan dari isi cerita (tidak disampaikan secara langsung).

Fungsi Teks Narasi

Berdasarkan tujuan dan manfaat yang dapat dirasakan ketika menulis atau membaca teks narasi, fungsi dari teks ini adalah sebagai berikut.

  1. Mengisahkan suatu cerita melalui rangkaian alur cerita dan unsur-unsur lainnya.
  2. Dalam tipe teks narasi tertentu, teks berfungsi untuk memperluas pengetahuan pembaca atau pendengarnya akan suatu hal (teks sejarah, berita berbentuk narasi, dsb).
  3. Penghantar amanat atau pesan sosial melalui perwatakan tokoh dan berbagai kejadian yang terjadi di dalamnya.
  4. Menjelaskan secara terperinci mengenai suatu peristiwa hingga pembahasan sebab-akibatnya pula.

Kaidah Kebahasaan Teks Narasi

Setiap jenis teks pasti memiliki kaidah atau ciri khusus kebahasaan yang digunakan tidak terkecuali teks narasi. Kosasih (2016, hlm. 305) mengungkapkan bahwa kaidah kebahasaan narasi adalah sebagai berikut.

  1. Banyak menggunakan kalimat yang bermakna lampau.
  2. Cenderung banyak menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu atau biasa disebut dengan konjungsi kronologis.
  3. Menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu tindakan.
  4. Kaya akan kata kerja yang menunjukkan kalimat tidak langsung sebagai cara menceritakan tuturan seorang tokoh yang dibawakan oleh penulis.
  5. Menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh (kata kerja mental).
  6. Biasanya, penulis berperan langsung sebagai orang pertama dan terlibat dalam cerita yang bersangkutan, sehingga akan banyak menggunakan kata orang pertama dalam menyampaikan ceritanya, seperti: aku, saya dan kami.
  7. Bisa juga penulis hanya menjadi orang ketiga, sehingga berperan sebagai pengamat. Oleh karena itu, tulisan akan banyak menggunakan kata ganti orang ketiga seperti: dia, mereka,

Jenis Teks Narasi

Tentunya jika kita membicarakan jenis teks narasi, terdapat banyak genre teks yang bergantung pada teks narasi dalam penyampaiannya. Jenis-jenis genre tersebut sesederhana:

  1. Teks cerita fantasi
  2. Teks cerita sejarah
  3. Teks fabel
  4. Teks hikayat
  5. Cerpen
  6. Novel, dsb.

Namun, jika kita menarik pembagian pada akar dari wacana (teks) narasi, menurut Keraf, (2010, hlm. 136-138) teks narasi dibedakan menjadi dua jenis utama yang akan dipaparkan pada penjelasan di bawah ini.

1. Narasi Ekspositoris (Narasi Informasional)

Narasi Ekspositoris merupakan narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat mengenai suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan pembaca lewat kisahnya. Pada narasi ekspositoris, penulis menceritakan suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya.

Pelaku yang ditonjolkan biasanya hanya satu orang dan dikisahkan mulai dari awal sampai saat ini atau hingga akhir kehidupannya. Karangan narasi ini diwarnai oleh eksposisi, maka berbagai ketentuan eksposisi juga berlaku di sini. Ketentuan tersebut meliputi penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta, dan bersifat objektif.

Intinya, narasi ekspositoris memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Memperluas pengetahuan.
  2. Menyampaikan informasi suatu peristiwa.
  3. Didasarkan pada penalaran untuk mencapai kesepakatan rasional.
  4. Bahasanya condong ke bahasa informatif sehingga menitikberatkan kata-kata denotatif.

2. Narasi Sugestif (Narasi Artistik)

Narasi sugestif adalah narasi yang berusaha untuk menggambarkan suatu maksud hingga seolah-olah pembaca atau pendengar melihat dan merasakannya sendiri. Narasi ini juga biasanya berusaha untuk memberikan suatu amanat secara tidak langsung.

Berbeda dengan narasi ekspositoris, tujuan jenis narasi ini adalah memberikan makna atas peristiwa atau kejadian sebagai suatu pengalaman, bukan memperluas pengetahuan. Ciri-ciri narasi sugestif adalah:

  1. Menyampaikan makna.
  2. Melibatkan imajinasi.
  3. Penalaran berfungsi sebagai alat penyampaian makna.
  4. Bahasanya cenderung figuratif sehingga menitikberatkan kata-kata konotatif.

Contoh Teks Narasi

Contoh teks narasi beserta strukturnya yang memiliki kaidah kebahasaan sebagaimana mestinya dapat di lihat pada link berikut ini:

Contoh Teks Narasi Beserta Strukturnya (Bermacam Tema)

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Buku Siswa Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. Keraf, Gorys.(2010). Argumentasi dan narasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  3. Kosasih, E. (2016). Jenis-jenis teks. Bandung: Yrama Widya.
  4. Okke, Z., Basoeki, A. (2015). Teori wacana. Jakarta: Penaku.
  5. Semi, M. Atar. (2013). Kritik Sastra. Jakarta: Angkasa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *